Siswa Hindu Di Smp Negeri Jakarta Belajarnya

IMPLEMENTASI DAN PROBLEMA
MERDEKA Belajar – KAMPUS MERDEKA

Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. – Rektor Perserikatan Melangah (UT)


Komunita :


Kebijakan MBKM memberi keleluasaan dan kemandirian PT menjalankan Tri Dharma, merdeka  dari birokratisasi, dosen netral birokrasi, mahasiswa makmur melebarkan kedaulatan mereka, implementasi di UT ?


Prof. Ojat Darojat :

MBKM memiliki 4 program strategis. Re akreditasi bersifat otomatis, Re akreditasi yang dilakukan maka itu UT memang hanya buat program studi yang boleh ditingkatkan harkat dan peringkatnya, dan jika habis tidak perlu meregitrasi ulang kepada Lin PT, kecuali bila akan mencoba meningkatkan kelas sekiranya bermula C menjadi B tentu kita melakukan serangkaian pembenahan di internal dan kemudian menyodorkan usulan untuk re akreditasi bagi prodi yang masih rendah tersebut. Saya sangka sudah berjalan dan ada pula mekanisme yang harus ditempuh berkomunikasi dengan BAN PT.

Hak belajar 3 smester di luar prodi, UT sudah menerapkan doang belum merata pada seluruh prodi. Yunior 2 prodi ialah Agri Menggandar dan Perpustakaan. Belakang hari kita akan melihat bagaimana kelebihan dan kehilangan dari implementasi yang mutakadim kita lakukan untuk perbaikan ke depan, agar dapat dilakukan secara menular untuk prodi- prodi lainnya. Kami bagi mengambil alat penglihatan khotbah yang ditawarkan di prodi lain masih di internal UT belum untuk eksternal. Bagi musim 2022 di semester 2 akan mencekit beberapa skema, terdaftar salah satunya mencekit skema/ mata kuliah di luar UT, dan juga memulai kegiatan yang lain. Kalau tadi ada 9 kegiatan kampus merdeka, kita akan memberikan keleluasaan kepada mahasiswa, mereka akan mengambil penggalan nan mana, dan sifatnya menawarkan, tidak memaksa. UT wajib memfasilitasinya, dan akan berangkat bertambah kudrati di tahun 2022 ini. Disamping itu, UT memberi kesempatan kerjakan PT lain apabila mahasiswanya cak hendak mencekit mata kuliah secara
online
di UT. Sudah banyak yang melakukan, sebagai halnya satu PTN di Sumatera (Kota Padang) 6000 mahasiswanya mencuil mata kuliah
online
di UT, ada yang 4000 mahasiswa dan ada yang 100. Menurut saya ini solusi nan bagus sekali dari program Kemendikbud ini. Contoh, di Kota Denpasar mayoritas penduduknya beragama Hindu, sehingga mahasiswa nan masuk ke perguruan jenjang/prodi tertentu cak bagi MKDU agama Selam agak selit belit, dengan mandu menugasi mahasiswa mereka secara
online
ke UT komplikasi terpecahkan, dengan biaya nan murah dan tergapai, mereka mendapatkan kualitas pendedahan MKDU dengan baik. Kerjakan PTN juga tidak ada keharusan merekrut dosen baru lakukan manfaat MKDU tersebut. Itu yakni praktek
Recource Sharing,
sehingga tata pendidikan menjadi lebih murah dan kualitasnya menjadi baik. Contoh lain, ketika suatu PT di Bogor mengharuskan menyediakan tenaga dosen 1:40, artinya membutuhkan dosen MKDU Agama yang memadai banyak, kadang yang menjadi dosen agama galibnya beragama Selam, dan hanya bisa menjadi dosen MKDU Agama Islam. Melalui praktik
Resource Sharing
permasalahan dapat dipecahkan, rekrutmen baru dapat dihindari.

Pengenalan prodi baru, memberikan kemandirian, N domestik kontek PTN-Satker dan PTN-PKBLU belum bisa diimplementasikan, dan harus memerlukan ijin ke LLDIKTI. Kecuali buat PTN-BH, ketika mendirikan program investigasi mereka tinggal komunikasi internal dengan Majelis Pengasuh Amanah/MWA-nya, tetapi internal konteks UT misal PTN-PKBLU/Pengelolaan Keuangan Fisik Layanan Umum, ijin pembukaan prodi hijau tetap harus mengajukan kepada Kementerian, belum dapat dilaksanakan oleh PTN-Satker biasa dan PTN-PKBLU. Situasi ini sahaja dapat dilaksanakan oleh PTN-BH.

Kemudahan menjadi PTN-BH,
Saat ini semua PTN-PKBLU sedang didorong menjadi PTN-BH, termuat UT sedang melangkah kesana. Pada rembulan Desember 2022 kita sudah membubuhi capsubmit
4 dokumen nan dibutuhkan bakal usulah PTN-BH. Diantaranya, tindasan RPJP (Rencana Peluasan Jangka Panjang), barang apa yang akan dilakukan UT sejauh 15 tahun ke depan 2022-2035, dokumen evaluasi diri, dan tindasan hari transisi. Dokmuen-dokumen tersebut kita serahkan langung kepada DIKTI dan kami diberi kesempatan makanya Kemendikbud cak bagi presentasi pada tanggal 17 Maret 2022, tentang Skema ekspansi UT dari PTN-PKBLU menjadi PTN-BH.


Komunita :


MBKM bertujuan menolak mahasiswa mengamankan beragam keilmuan memasuki manjapada kerja. Apakah tafsirnya semata-mata penguasaan keterampilan teknis, dan relevan dengan tujuan pendidikan tinggi kita ?


Prof. Ojat Darojat :

Betul sekali. Kita memang berasumsi ketika perguruan tinggi mengambil 8 kegiatan inti dari MBKM memang memberikan peluang kepada mahasiswa berkompetensi dengan cara terjun langsung di pelan. Momen pertukaran peserta pasti akan sama dengan apa nan dilakukan di wadah kita, hanya mungkin suasana, kualiatas dosen dan kurikulum yang pasti berbeda. Pada aneksasi teori dan konsep masih lebih banyak, tapi di kurikulum prodi nan bersangkutan seimbang antara konsep teori yang diajarkan di papan bawah dengan mereka diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang kondusif pencapaian kompetensi tersebut. Ini sangat bergantung plong kurikulum yang dipersiapkan makanya masing-masing perguruan panjang/PT untuk pertukaran murid antar perhimpunan. Kita tahu setiap PT pasti meluangkan kurikulum yang berbeda/sebanding kepada mahasiswanya disesuaikan dengan kemampuan dan daya produksi nan dimiliki maka itu PT yang bersangkutan. Tetapi 8 aspek yang lainnya jika saya lihat n domestik kegiatan penelaahan itu, melalui membangun desa, mengajar di sekolah, bela negara dan lain sebagainya berorientasi pada kegiatan praktik membagi wawasan kepada mahasiswa, mempersiapkan mereka untuk tampil di lapangan dengan baik. Karena salah satu kelemahan di kita menentang menciptakan mahasiswa yang sukses di n domestik kelas, dengan IPK tinggi dan dituntut menghafal teori-teori dan konsep-konsep yang diberikan kepada mereka, dan ketika UAS mereka harus mendapatkan nilai yang bagus dengan IPK yang baik. Tetapi kurang periode dosen bikin memajukan kepada mereka untuk ambau hidup di masyarakat. Jadi tidak terhubung teori di pembelajaran dengan umur di mahajana, serta memberikan kesempatan/peluang bikin memahami semangat di masyarakat.


Komunita :


Bagaimana dengan “Merdeka Belajar – Transmutasi Dana Pemerintah untuk PT” memberi peluang meningkatkan kualitas, memurukkan terwujudnya lulusan memenangi, serta melahirkan talenta-bakat nan mampu bersilaju di tingkat mondial ?


Prof. Ojat Darojat :

Konversi dana untuk PT ada 3 peristiwa ini : a) Insentif berdasarkan capaian Indeks Manifestasi Terdepan bikin perguruan tingkatan area (PTN), b) Dana penyeimbang ataumatching fund untuk kerja sama dengan mitra untuk PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS), serta c) Program Kompetisi Kampus Merdeka ataucompetitive fund (cak bagi PTN dan PTS) merupakan stimulus nan diberikan oleh Kemendikbud secara berkeadilan sesuai dengan muncul kerja saban PT. Ini yaitu stimulus yang bagus mendorong PT memperbaiki kualitas pendidikan yang diselenggarakannya supaya nantinya dapat mendapatkan stimulus tersebut.

Tersapu butir a), masa ini ada 8 indikator kinerja nan sudah lalu ditetapkan Kemendikbud dan Dirjen DIKTI dan itu akan dilihat masing-masing PT seperti apa. Namun dalam konteks UT mungkin saya mengkritisi ini baik, tetapi tidak seluruhnya tepat, karena keseleo satu ukurannya dari jumlah lulusan itu ada berapa persentase yang masuk intern dunia kerja dan berapa lama periode tunggunya. Dikaitkan dengan capaian keluaran yang cepat berkarya, dalam konteks di UT, mahasiswa hampir 90 % sudah dalam posisi memiliki tiang penghidupan (pegawai intern suatu perusahaan), di instansi pemerintah, wirausahawan dan instansi swasta. Indikator yang ini mungkin dapat di review kurang, seandainya di UT pasti tinggi untuk kami, bikin PTS yang basiknya berusul STLA/SMA/ SMK mungkin boleh dilihat dan di-review
juga. Bagi kami tidak masalah mendapatkan pencahanan tapi bagaimana selepas mereka orasi di UT berakibat sreg perusahaan/instansinya internal karirnya, seperti Jabatannya naik, ataupun ini bertelur faktual intern karir mereka. Itu konteksnya lebih cocok cak bagi UT.

Untuk butir b) ini sangat bagus memberikan kesempatan PTN/PTS cak bagi membangun kerjasama kemitraan yang sangat baik dengan dunia kerja, untuk mahasiswa kita mendapatkan peluang pencahanan dan menggali kompetensi di pelan dengan para pegiat bisnis. Misalkan mereka ditugaskan oleh dosennya untuk magang di satu firma, mereka harus punya modal kerja dan modal hidup, itu juga harus diperhatikan cak agar nanti
matching fund
yang akan digelontorkan pemerintah tepat bulan-bulanan. Bakal UT dalam kerja setimpal mitra yang tak itu dengan mahasiswa dengan tempat domisili lainnya, dan umumnya mahasiswa UT sudah bersanak, dan jalinan jawatan, maka mereka bisa sandar-menyandar sesuai dengan domisili mahasiswa.

Untuk butiran c) juga dahulu bagus dan penting hendaknya mahasiswa yang berkujut dalam kegiatan-kegiatan dan adu-tanding yang dipersiapkan oleh Kemendikbud. Laksana keluar area mereka penis biaya buat kegiatan perlombaan internasional tetapi minimnya dana dari PT.


Komunita :


Segala yang dipersiapkan dan dilakukan UT mensikapi kebijakan MBKM -Transformasi Dana untuk PT ?


Prof. Ojat Darojat :

Jikalau PTS seperti Sekolah tinggi Widyatama itu silam terbiasa. Masukkan saya setiap PTS itu cak bagi memperoleh kalkulasi dari pemerintah tak refleks/ belas kasih, tapi dengan cara kompetisi. Kita harus betul-betul mempersiapkan mahasiswa cak bagi berkompetisi, enggak doang mahasiswanya tetapi juga kualitas dosen nan mendukung kegiatan MBKM dan menerimakan kesempatan yang seluas-luasnya buat mahasiswa untuk terlibat di dalam kegiatan kejuaraan tersebut sesuai dengan kapasitas mahasiswa dan kapasitas kampus. Namun yang penting bukan bisa memaksa mahasiswa dan kita sebagai PTS/PTN terbiasa kerjakan memfasilitasi dan mahasiswa yang memilih, bagi menghasilkan
learning out
yang maksimal bagi PTS/ PTN nya.


Yang kedua
, kita sebagai penyelenggara pendidikan harus benah cara kerja/author working
mudah-mudahan sampai ke capaian kerja yang optimal. Pencapaian ini yakni kontrak dengan Kementerian teknis, dengan Kemendikbud. Carter itu harus diturunkan ke sumber akar, seperti ke Konsul Rektor, Dekan, Kaprodi, dan Sekprodi. Bagaimana caranya agar boleh terjangkau, di
case cadding
oleh PTN/PTS, agar setiap Prodi dibuatkan carter dan pembagian pencapaian indikatornya, supaya setiap Prodi melibatkan mahasiswanya turut mengambil bagian sesuai dengan skema yang dirancang. Itu adalah kewajiban manejemen bermula level atas s.d level bawah, dan seluruh anasir manejemen harus terlibat. Jadi kontrak yang sudah disepakati tadi itu termasuk bagaimana pendirian mendapatkan
supporting financial
berusul Kemendikbud. Apakah
Matching Fund
dan lainnya harus menjadi bagian dari skema perencanaan tahunan yang akan kita eksekusi sepanjang tahun melanglang. Misalkan RKAT di tahun 2022 di dalam RKAT kita sepakati bersama.

Kalau UT menerapkan Prinsip SMART (Spesific: hal- hal yang secara khusus disepakati internal kontrak untuk kinerja indikator putaran yang akan dilakukan dalam musim berjalan,
Measureable: terukur dalam hal anggaran, SDM dan pula waktu nan ditentukan,
Achivable: Program yang dibuat harus bisa dicapai, tercacak dan terbentuk kendati programa kerja memungkinkan bikin boleh dicapai,
Realistic
: Disesuaikan dengan kapasitas, dan sebagai PT dengan pendedahan jarak jauh, dan disesuaikan dengan mahasiswanya dan programnya
Real
betu-betul sesuai dengan nan direncanakan, Ragil
Timely Bound: SMART goal harus terpukau waktu karena n kepunyaan tanggal berangkat dan selesai. Jika tujuan bukan dibatasi masa, bukan akan ada rasa urgensi dan, maka itu karena itu, mudah bagi Rektor untuk melakukan dominasi dan
monitoringnya). Saya kira itu nan harus dilakukan dalam eksekusi pelaksanaannya.


Komunita :


Anasir dasar “kedaulatan akademik” sebagai keharusan pengembangan rancangan akademik sudah disentuh garis haluan MBKM ?


Prof. Ojat Darojat :

Kemandirian Akademik itu menurut saya marwah yang harus kita jujung hierarki, kita fasilitasi di kampus. Kedaulatan akademik itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan berpunca Kewibawaan Akademik, bisa ditumbuhkan di PT apabila adanya kebebasan akademik yang memang memungkinkan mahasiswa bagi berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Ini belum tersentuh betul karena mahasiswa kapasitasnya berbeda-selisih, ada mahasiswa nan
fast learner
ada yang
slow learner, harusnya
learning outcome
itu disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa, Semata-mata yang terjadi lain demikian. Kalau molekul radiks Kebebasan Akademik harusnya ini disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa, risikonya
learning outnya pasti berbeda. Pengemasan Kurikulum menurut saya setiap mata ceramah yang diambil dalam satu semester itu berorientasi lega penguasaan kompetensi tertentu, jadi harus dikemas setiap semester itu
micro learning/micro credential, yang mengarah kepada capaian kompetensi tertentu. Sehingga mahasiswa tak dituntut harus 8 semester pembelajaran. Menurut saya kebebasan akademik itu harusnya serupa itu. Makara
Learning outcomenya melahirkan
skills
bagi mahasiswa, sesuai
character building
mahasiswa nan farik-selisih jadi kemampuannya pun berbeda-beda, gerendel tangkapnya juga berbeda-beda juga.


Komunita :


Harapan PT n domestik mengimpelementasikan MBKM yang bertepatan Pandemi Covid 19 ?


Prof. Ojat Darojat :

Saya taksir harapannya PT harus mengakselerasi.
Online Learning
itu bukan pilihan, tetapi ialah
Keniscayaan. Kaprikornus semua sosok waktu ini sedang diakselerasi dan diharuskan bagaimana caranya cak agar kita bisa
Moving Forward
bersumber prinsip-cara pembelajaran konvensional menuju cara pembelajaran yang intregrasikan teknologi. Sekarang kaidah-prinsip mengajar konvensional nan sudah lalu diterapan puluhan tahun sebelumnya bagi dosen-dosen tertentu akan
resistance, belaka bagaimana caranya saat ini para Rektor Universitas ataupun Pimpinan Kampus secara komitmen mengikutsertakan semua pihak di dalamnya mudahmudahan semua bersirkulasi serta merta difasilitasi agar mempunyai kemampuan mengintregrasikan teknologi di dalam proses pembelajaran. Ini adalah satu kebutuhan kasatmata pada sekarang seiring dengan
revolusi industry 4.0. Harus ada komitmen dari
Top Level Manajemen
PTN & PTS menyediakan kesempatan cak bagi semua
stakeholder
di PT tersebut moga mereka menyukseskan Acara Kemendikbud mengusung program-acara MBKM, dan program lainnya. Terakhir tugas bersama menjadikan mahasiswa menjadi SDM unggul menyambut Bonus Ilmu kependudukan hingga tahun 2025.

Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., L.L.M., Ph.D. – Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani/Unjani


Komunita :

Pada tahun 90-an cak semau program “link and match” nan diluncurkan Prof Wardiman selaku Mendikbud ?


Prof. Hikmahanto Juwana
:

Esensinya sama dengan yang saat ini, tapi jangan dilihat bermula istilah, harusnya “pamrih” dibalik itu. Kalau berbicara
“link and match” perguruan tataran jangan begitu juga “palas-palas saing”, tidak bersentuhan nantinya dengan apa yang di alun-alun.
“Link and Match”
adalah bagaimana caranya para mahasiswa bisa langsung diserap oleh industri, tapi juga harapannya dapat dimanfaatkan maka dari itu industri. Sekarang istilahnya adalah
“triple helix”, antara pemerintah, perguruan hierarki dan dunia industri, mereka boleh melakukan kerjasama.

Terlepas bermula “istilah”, kami Unjani semenjana lakukan itu semua. Saya sebagai Rektor sempat betul jangan hingga Institut ini menjadi “menara gigi anjing”. Oleh karena itu bagaimana mahasiswa kita dipersiapkan agar masuk ke dalam dunia kerja dan industri, juga memberdayakan mereka dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) buat bekerja di dalam kampus. Perumpamaan meliput sebagai media buat liputan kampus baik radio, televisi kampus, sekali lagi majalah kampus, dan mereka mendapatkan pengalaman kerja secara professional dengan pengarahan mulai sejak dosen, dan para senior-seniornya, juga dapat menjadi rekognisi bahkan menjadi SKS satu netra kuliah.
By nature
mahasiswa sejenis itu. Kalau mereka tidak diberi kesempatan lakukan mendapatkan pengalaman itu pelalah, memang belum berpikir tentang
financial. Jadi yang kita sebut
“link and match”
ataupun
“triple helix” menengah kami untuk. Sama dengan investigasi yang harus
match
dengan pemerintah, misalkan kami terjemahkan TNI AD, penelitian-penelitian yang cak semau di Unjani diarahkan berkaitan dengan dunia/industri Militer. Misal ada mahasiswa dengan dosennya ingin membentuk mobil listrik. Apabila dibuat seperti yang sudah terserah, bukan akan menjadi ponten kian, karena sama dengan kompetitor mulai sejak perguruantinggi enggak yang mewujudkan mobil setrum. Kaprikornus harapan saya mereka membuat mobil setrum dengan perbedaan dan ciri partikular Unjani, apalagi kami bekerja sebagai halnya PT PINDAD. Saya pikir dengan ide membuat mobil elektrik untuk keperluan militer. Misalkan mobil-mobil militer dengan bahan bakar petrol pastinya jarak tempuhnya sedikit dan harus pun mengisi bahan bakar. Kalau memperalat tenaga listrik maupun tenaga surya yang menghasilkan setrum akan sangat berharga dan jarak yang ditempuh akan selanjutnya ketimbang dengan otomobil korban bakar bensin. Seandainya untuk mahasiswa dan dikompetisikan pasti akan mendapatkan kredit bagus apalagi pemenang, ketimbang sekedar menjadi
follower
mulai sejak mobil listrik yang terserah.

Kami perumpamaan Jamiah pengkaji mengembangkan inovasinya akan ditunjukkan kepada industri yang sudah bermitra dengan kami bakal memproduksi secara massal. Saya akan menyampaikan kepada Bapak KASAD, kerjakan para mahasiswa dan dosen kita yang telah menjadi pengkaji. Bapak KASAD akan mendukung dengan memanggilkan pabrik besarnya sama dengan PT PINDAD, karena masih suatu liwa dengan TNI AD. Juga kami mengusulkan kepada Yayasan bikin mendirikan unit kampanye dengan pengelolaan dan kekangan dibawah kami (Rektorat). Jadi unit usaha ini memang arahnya bakal pendidikan dengan demikian yang kita ujar bagaikan
triple helix
itu berjalan.


Komunita :


Apakah kebijakan MBKM, menjawab problema di lapangan dimana dunia gerakan/dunia pabrik mengatakan lepasan PT tidak siap kerja ?


Prof. Hikmahanto Juwana :
Saya lihat dulu praktek pecah bermacam rupa Negara. Rampas contoh Amerika, disana mahasiswa S1 banyak diajarkan lain hobatan yang spesifik, istilahnya
liberal art. Mereka dapat belajar apa namun, bahkan olah ragapun terserah SKS untuk memenuhi persyaratan.

Di Jepang pengalaman dari teman-n antipoda, petatar didik harus kerja keras sejak TK, supaya masuk SD nan bagus, SMP nan bagus, SMA yang bagus, juga setelah itu timbrung Universitas yang bagus. Tapi saat di Perserikatan menurut mereka itu adalah masa-perian mereka menikmati hidup. Maka individu di Jepang, apabila sudah ikut Universitas mereka tidak belajar tapi nilainya A semua, mereka pelesiran, karena n domestik seumur usia mereka yang paling mereka nikmati adalah pada waktu di Universitas. Kenapa seperti itu? Ternyata industrinya menghendaki mahasiswa itu jikalau bisa kosong, ibarat plano takdirnya bisa masih putih asli, kendati nanti industilah yang menggaris-barut kertas kosong itu. Tapi kalau ada riuk satu Universitas di Jepang yang sangat berfikir, mereka enggak akan timbrung di ranah pabrik, tentu masuknya ke Pemerintahan, karena pemerintahan banyak sekali regulasinya, dan mereka tidak bisa melakukan inovasi. Tapi mereka nan masuk ke perusahaan swasta, disanalah mereka dibentuk, maunya sama dengan barang apa. Artinya saya mengatakan bahwa jangan dunia pabrik berhasrat seperti itu. Bahwa yang dilahirkan dari Universitas adalah mereka yang sinkron bisa siap pakai kerja, tidak akan bisa sebagai halnya itu.

Kita kan maunya mahasiswa
adjustment
ke industrinya lebih cepat maka disini pentingnya MBKM,
“Link & Match”,
dan
“Triple Helix”
privat konteks mempercepat
(fast moving). Jika saya lihat seberapa kita siapkan mahasiswa S1 langsung masuk pabrik dan langsung siap kerja, ya lain bisa seperti itu. Kecuali kalau Vokasi, memang itu keterampilan, yang diajarkan maka itu dosen itu lain teoritis atau dogma cuma memang hobatan kelincahan. Umpama saya dengan meres belakang Hukum, memangnya mahasiswa-mahasiswa saya di Fakultas Hukum sewaktu bisa membuat surat perjanjian atau akta notaris, ya tentu lain. Mereka diajarkan akan halnya perjanjian itu sendiri iya, tapi bagaimana tentang mewujudkan perjanjian ya tidak diajarkan. Cukuplah bagi mereka takhlik seorang perjanjian bagaimana? Ya sreg saat timbrung intern bumi kerja, tapi sebelum ikut ke dunia kerja Universitas tentu boleh berinisatif memerosokkan mahasiswa adv pernah bagaimana kaidah membuat perjanjian tersebut, dengan menyebut dosen nan mempunyai keterampilan seperti itu. Ataupun kita dorong mahasiswa magang di suatu maktab penasihat hukum, sehingga mereka ter-pembeberan. Nah ini nan menjadi penting dari MBKM,
“Link & Match”
dan
“Triple Helix”. Tapi juga jangan pabrik terlalu banyak menuntut/meminta lepasan Universitas langsung siap berkarya. Kini ini suka-suka kecenderungan sama dengan itu. Misalkan lulusan Syariat bintang sartan diplomat langsung ya tidak boleh. Nantinya Perguruan tinggi akan terbebani dengan indra penglihatan kuliah-mata kiluah baru, padahal mahasiswa mengambil ain orasi supaya cepat bablas. Jadi ini yang menurut saya agak abnormal pas.

Komunita : Suka-suka komunikasi antara Universitas dengan dunia pabrik/usaha bakal menemukan solusi?


Prof. Hikmahanto Juwana :
Kalau pertanyaan komunikasi, saya sebagai Rektor Unjani konsolidasi ke dalam mengasihkan pemahaman kepada para Dekan, kemudian harapan saya para Dekan bisa berkomunikasi dengan dunia industri/usaha. Saya besar perut beberapa supremsi guna-guna, dosen dan mahasiswa yaitu Fakultas.


Komunita :


Terkait pendidikan Akademik dan Vokasi. Apakah ada tren yang akademik akan divokasikan?


Prof. Hikmahanto Juwana :
Menurut saya dua hal yang berbeda. Karena kalau keterampilan mulai mahasiswa masuk musim pertama harusnya sudah lalu diajarkan tentang keterampilan. Tapi kalau masuk ke universitas memang harus banyak cerita tentang teori-teori, ilmu agama dan pemahaman mentah sesudah itu mereka silahkan kepingin ke sagur kegesitan juga boleh untuk dipraktekan di tempat mereka kerja. Tapi jika misalnya mereka cak hendak jadi peneliti atau jadi dosen itu diteruskan penataran teorinya.

Takdirnya saya mengintai di jenjang S1 itu mereka mempunyai kesempatan yang makin luas, daripada sahaja kelincahan saja. Jikalau vokasi memang harus berorientasi pada ketermapilan. Bahkan apabila di mayapada syariat ketangkasan itu kalau di Indonesia, misalnya D1, D2, D3 di vokasi. Kalau manjapada syariat di negara Amerika keterampilan itu dididik dan dia kemudian bisa bisa gelar S2. Di Amerika sekolah hukum itu tidak memberikan ilmu pengetahuan hukum kepada mahasiswanya, hanya ketangkasan buat mempraktekkan. Untuk itu dapat diambil setelah jenjang S1 dahulu. Seandainya di Indonesia yang sudah suka-suka degreenya S2 seperti Magister Kenotariatan, orientasinya adalah mengajarkan petatar didik untuk terampil dalam membuat salinan dan akta perjanjian, jadi harusnya jangan sesak banyak teorinya. Ada juga S2 profesi dan beraneka ragam macam nomenklaturnya.


Komunita :


MBKM cak semau 8 item nan harus dipersiapkan, tentunya harus cak semau transisi mindset di Unjani ?


Prof. Hikmahanto Juwana :

Waktu muncul kebijakan MBKM banyak rekan-rekan civitas bilang kita MoU dengan kampus-kampus lain. Itu kami bakal supaya mahasiswa bisa belajar di perguruan tinggi lain, tapi harusnya kita dapat menciptakan menjadikan kian berbunga itu. Risikonya saya menciptakan menjadikan kerjasama dengan dunia industri, supaya para mahasiswa dapat mengikuti program magang. Bahkan beberapa Dekan saya dorong, begitu juga Prodi Akuntansi Unjani mencari kantor kerjasama untuk akuntan di Jakarta, sehingga para mahasiswa dapat melakukan magang disana. Memang wajib masa, jadi saya kepingin mahasiswa saya lebih berkembang di tempat bukan, lebih lagi dunia internasional. Misal
Accounting Firm
berpangkal luar distrik dan mereka harus mengetahui standarnya sama dengan apa. Saya inisiasi situasi-kejadian begitu juga itu, tapi saya sekali lagi bilang, jangan pun magang diterjemahkan keluar kampus, kenapa gak di dalam kampus, dan kita pula butuh, mereka dapat bekerja dalam fakultas-fakultas.

Waktu ini sosial kendaraan menjadi sendi tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. Agar fakultas dan para Dekan memanfaatkan acara-acara/event bakal diliput mahasiswa dan nanti dimasukkan intern sosial alat angkut. Saya mengasihkan sks bikin itu kepada mahasiswa, karena mereka sudah berkarya, tidak saja dapat pengalaman tapi sekali lagi dapat sks nya. Di lingkungan kita banyak yang membutuhkan tenaga dari mahasiswa, mereka tidak kalah, apalagi generasi milenial sekarang, berbeda dengan generasi kita dahulu, kadang kita punya akal masuk untuk mendapatkan
literature, mendapatkan data informasi, jaman waktu ini era sudah lalu digital dan sangat mudah mendapatkan informasi. Hal sebagaimana ini yang terus coba kami lakukan membuka kesempatan-kesempatan untuk mahasiswa dapat terpenuhi internal kaitan kampus merdeka ini.


Komunita :


Bagaimana dengan kesiapan kurikulum di semua fakultas dan prodi?


Prof. Hikmahanto Juwana :

Tidak harus merubah kurikulum. Di luar daerah juga seperti itu, mahasiswa tidak perlu
sensitive
dan
responsive
terhadap kemauan bersumber pabrik. Kita memberikan kesadaran-pemahaman yang akan lebih memperdalam berusul pabrik mengenai kegesitan-kelincahan. Kurikulum kita mutakadim susah, terserah 5 jenis nan harus ada didalam kurikulum: 1) Nan dipesan Negara, seperti mana Agama dan Pancasila; 2) Yang menjadi pesanan Perserikatan, ciri khas universitas seperti kami Unjani dengan alat penglihatan khotbah kedisiplinan/KeAhmadYani an; 3) Yang disepakati makanya fakultas dengan fakultas lainnya,
consortium
cak bagi menentukan alat penglihatan khotbah nan harus dimiliki mahasiswa; 4) ciri distingtif yang dimiliki oleh fakultas nan berkepentingan; 5) baru sesudah itu bebas. Kita menyesuaikan dengan kebutuhan, dan yang repot dosen nan mengajar, kecuali mereka memiliki pengalaman praktek, mereka bisa menampilkan kepada mahasiswa. Tapi secara alamiah dosen lebih menekankan pada jihat teorinya daripada jihat praktiknya, sehingga seandainya ada mata ceramah yang sifatnya
practice
jangan-jangan dosennya yang tak bisa menyampaikan kepada mahasiswa. Itu yang kami cegah, jangan sebatas kurikulum terlalu
responsive
tapi yang mengajarnya enggak ada.


Komunita :


MBKM Transformasi Pendanaan bikin PT, sejauh mana dimanfaatkan sehingga bisa meluaskan aspek riset dan inovasi ?


Prof. Hikmahanto Juwana :

Tentu membantu, dan Unjani sangat kepingin mendapatkan dana tersebut apakah pendampingan atau hibah. Tentu kita coba bakal mendapatkan. Kita tahu
recources
itu terbatas artinya, kita lain beralamat diri untuk bergantung pada anggaran nan disediakan maka dari itu pemerintah. Apa yang bisa kita bakal pastinya akan dilakukan semaksimal mungkin. Kebetulan Unjani milik Angakatan Darat (AD) dan telah membuka diri, ini kami manfaatkan juga.


Komunita :


MBKM, apakah akan mengurangi makna kebebasan akademik ?


Prof. Hikmahanto Juwana :

Dalam memaknai MBKM
pertama,
jangan sampai program S1 menjadi acara Vokasi;
kedua,
kurikulum jangan terlalu
responsive
terhadap keinginan pabrik. Marwah universitas harus tegar terjaga karena kebebasan akademik yang menciptakan menjadikan universitas ki ajek berkembang. Kebebasan akademik di kampus harus suka-suka basis ilmiahnya, yang kedua tidak berpihak dan harus netral. Mungkin saja bersifat kritikan bakal pemerintah, dan masukan buat pemerintah belaka basisnya harus ilmiah,
scientific.
Jadi kebebasan berfikir bukan dengan demontransi mahasiswa. Saya kurang sekata, dan itu terbatas baik.


Komunita :


Bagaimana tetap menjaga khuluk Unjani sehubungan dengan MBKM ?


Prof. Hikmahanto Juwana :
Saya ingin tiap universitas menyodorkan ke-khas-an masing-masing. Misal Unjani dengan nuansa kepatuhan yang hierarki. Saya menyorongkan kepada Kiai KASAD membutuh tumpangan bagi ki menggarap mahasiswa yang ingin mengikuti konseptual ajar dengan kedisiplinan yang tinggi. Sehingga selain ilmu juga mendapat eksemplar asuh nan disiplin. Intensi saya dengan “link and match”, merdeka sparing mereka bisa diterima di TNI AD lagi melalui jalur ilmu, atau TNI AL atau TNI AU, serta dapat dikabulkan Institusi-Institusi Sipil dengan keluaran kedisiplinan yang tinggi.

Mahasiswa mendaftar ke suatu perguruan tinggi sebaiknya tak karena memilih universitasnya, hanya apa nan ditawarkan perserikatan. Kedepannya saya ingin mahasiswa masuk dengan ke ciri khasan dari Universitas tersebut.


Komunita :


Pesan untuk Civitas dan Teman-rival PT yang tidak ?


Prof. Hikmahanto Juwana :
U
ntuk Civitas, Dosen dan Mahasiswa, kita harus dapat mengkapitalisir segala yang menjadi strategi pemerintah, mengkapitalisir MBKM dengan tidak harus terpaku mahasiswa pupus dengan skripsi, namun bisa dengan magang di suatu perusahaan, ataupun penulisan di buku harian. Menjalin kerjasama antar jamiah untuk memunculkan ke Indonesiaan kita. Sehubungan dengan hawar Covid-19 para mahasiswa walaupun sparing secara
daring, tapi konstan dapat membuka wawasan mereka. Mendorong dosen kita untuk senantiasa meningkatkan kompetensi. Mengkapitalisasi hal tersebut harus kita lakukan.

Untuk sesama rekan, kita coba mengidentifikasi jati diri kita, kita harus boleh menunjukkan ke-istimewa-an masing-masing perguruan hierarki kita. Apa nan mengecualikan kampus saya dengan anda, agar para mahasiswa makmur melembarkan dan tahu apa yang dia memperbedakan.

Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl.

Ketua Yayasan Widyatama, Ketua muda ABP PTSI Jawa Barat


Komunita :


Bagaimana Badan Pencipta memaknai politik MBKM simultan dengan pandemi Covid-19 ?


Djoko S. Roespinoedji, S.E., Pg.Dipl. :
Pelaksanaan MBKM spontan pandemi Covid-19, maka dalam tulangtulangan mengutamakan keselamatan dan kesehatan mahasiswa dan pendidik, penelaahan secara
online
diakselerasi maupun mengalami percepatan. Sebagai Jasmani Penyelenggara, pendedahan
online
memberikan bilang
opportunity
yaitu :
pertama)
memasrahkan waktu leluasa kepada mahasiswa untuk mengatur pembelajarannya (orasi sambil bekerja, berkarya, ataupun malah mengikuti programa enggak di kampus lain ataupun lintas prodi cak bagi memperkaya disiplin aji-aji). Pembelajaran
online
dengan tetap asian pimpinan dosen membagi ruang kepada mahasiswa membekali diri secara leluasa dengan ilmu permakluman yang baik serta mengimplementasikan ilmunya di spirit masyarakat kelak, sehingga siap beradaptasi dengan dunia kerja (terutama dalam hal sikap mental dan karakternya);
kedua)
bisa meningkatkan jumlah mahasiswa, minus harus menaik sarana dan prasarana.

Semata-mata nan perlu dicermati terkait budaya teknologi digital yang berkembang pesat. Fenomena ini satu sisi mewujudkan generasi muda bisa menjadi sosok nan memiliki manifesto dan wawasan yang bertambah baik dan mumpuni, semata-mata sisi tidak loyo atau miskin dalam karakter. Dunia digital yang begitu liberal, juga mengandung konten informasi digital yang menjadikan pembentukan karakter tereliminasi. Padahal pamrih kami mahasiswa tidak hanya mempunyai kecerdasan intelektual, saja lagi mempunyai
softskill, attitude
yang baik, ter-hormat santun, manajemen krama, dan ki ajek. Karena kebutuhan SDM di firma tidak hanya yang pintar secara intelektual yang utama adalah kepribadian. Kami selaku badan penyelenggara Widyatama memberi perhatian munjung dalam aspek karakter peserta didik ini, riuk satunya indra penglihatan pidato bersama pembentukan karakter Widyatama.


Komunita :


Sepanjang mana MBKM memurukkan Badan Pembentuk meningkatkan kualitas lepasan, kualitas dosen dan kualitas kurikulum ?


Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. :
Konteks program MBKM menyorong masing-masing orang mahasiswa memiliki kebebasan memilih program “merdeka belajar”, agar mahasiswa moralistis-sopan siap menjawab tantangan industri ke depan. Sekadar terserah beberapa persyaratan ibarat pedoman yang harus dipenuhi kampus dan mahasiswa. Artinya tetap dalam kontrol dan kendali kampus sebagai penyelenggara pendidikan buat mahasiswa.

Bermula arah tata, penyelenggaraan,
outp ut
itu harus melanglang beriringan. Dukungan memang tidak lepas dari abstrak pembelajaran dan kurikulum, dosen sebagai tenaga pendidik yang memberikan transfer ilmu kepada mahasiswa harus meningkatkan kualitas diri dan mengimplementasikan sesuai kompetensi masing-masing. Dosen diharapkan bisa menjadi
lead
maupun mentor lakukan mahasiswa, serta menganjur kemelitan dan minat mahasiswa dalam pembelajaran baik di kelas bawah, maupun
online.

Intern hal kualitas kurikulum, para dosen didorong bakal aktif mengembangkan diri, dengan melakukan pengkhususan bersama mahasiswa, serta beradaptasi dengan dunia pabrik. Dosen diberikan pangsa untuk berkreasi, meng-eksplore
kompetensi, bekerjasama dengan industri, dengan pola strategi yang diatur. Belajar dari perusahaan ki akbar di luar negeri, mereka berbarengan menggandeng perguruan tinggi bagi
Research Development
untuk membangun strategi perusahaan nan baik. Sepanjang ini, banyak juga dosen Widyatama nan berkiprah di manjapada Industri, itu hal yang baik.


Komunita :


Bagaimana meningkatkan pengkajian dosen terkait Transformasi Dana untuk PT dalam program MBKM ?


Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. :
Melihat penjelajahan Widyatama, publikasi penyelidikan sudah tampak terpacu. Hal ini menunjukkan bahwa klasifikasi dosen Widyatama, enggak hanya pembelajaran saja, dosen-dosen juga bersemangat membuat riset pendalaman. Sepanjang berprogress di 3 hari keladak ini, Yayasan akan memberikan kompensasi. Harapannya riset dosen ini menjadikan dosen memiliki
opportunity
nan lain, melalui kerjasama dengan marcapada industri ataupun dengan perguruan pangkat yang lain. Idealnya, Widyatama memiliki 5-10 % dosen yang aktif dalam menolak riset dan pembaharuan-renovasi nan ada.

Nah, Transformasi Dana untuk PT dalam ketatanegaraan MBKM tentu sangat membantu kami mengamalkan percepatan dalam meningkatkan
opportunity
tak dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan sumberdaya hamba allah.


Komunita :


Harapan Badan Pelaksana menerapkan kebijakan Kemendikbud di atas ?


Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. :
Memang perlu perubahan paradigma dosen, merupakan dosen bukan sekedar pembimbing, namun bagaikan dosen dedengkot. Internal kodrat Tri Dharma, dosen harus melakukan suatu riset nan bersentuhan dengan komunitas eksternal, kemudian hasil riset dipublikasikan dalam lembaga jurnal, sehingga kemampuan dan kompetensinya diakui. Kampus Merdeka sedikitnya semakin membagi ruang lakukan itu. Tujuan Yayasan kepada civitas akademica agar lulusan Widyatama sesuai dengan kebutuhan Industri, maka dosen ataupun mahasiswa terus meng-eksplore
kemampuan dirinya, mengerjakan pengkajian investigasi yang berguna buat pembelajaran, sehingga makin diakui intektualitas dan kompetensinya.

Prof. Dr. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Sang. – Rektor Jamiah Widyatama


Komunita :

Langkah kongkrit membekali, serta mendorong dosen lebih gemuk dan demonstratif mensikapi program MBKM ?


Prof. Obsatar Sinaga


:

Widyatama mewujudkan Direktori Kepiawaian, ialah: 1) setiap fakultas harus memiliki Direktori kepakaran dosen (sesuai indra penglihatan khotbah yang diampunya), 2) kompetensi komplemen nan sesuai kebutuhan pasar. Dosen harus melek industri dan kebutuhan pasar kiranya dapat mengarahkan mahasiswa memilik hak belajar 3 (tiga) semester di luar kampus. Dosen harus beramah-tamah internal keilmuan, agar enggak gagap menghadapi situasi kampus merdeka saat memberikan didikan kepada mahasiswa menunaikan janji nasib baik belajar 3 (tiga) semesternya di atas.

Dalam kaitan di atas, dosen harus belajar dari asing kampus (dari pergaulan sosial, tempat praktik kerja mahasiswa, industri, awam). Dosen bagi kampus merdeka jangan “kurung batok”, jangan merasa diri mutakadim kebal dan bukan sebagainya, karena dinamika keilmuan adv amat cepat, progresifitas perkembangan mayapada sangat cepat, harus terakomodasi dan segera ditransfer keilmuannya. Dosen harus roboh ardi, terjun ke awam, terjun ke industri, riset, ke desa-desa, pertukaran mahasiswa, bikin menyerap apa yang cak semau di masyarakat (keadaan eksisting) bakal boleh
update
keilmuan yang mutakhir.

Prasarana akademik itu koteng kaitannya penilaian, pembimbingan, pelatihan bukan akan seperti suntuk. Sekarang harus suka-suka semacam partisipasi menyesuaikan dengan kebutuhan. Dosen harus meng
metodologi pendidikan. Pendidikan tatap durja tak pun sebuah teologi yang harus dijalankan dosen. Mungkin dosen menerimakan dengan kaidah pelancongan, menyertakan mahasiswa dalam praktik risetnya, takhlik produk seorang, menciptakan menjadikan pelatihan-pelatihan. Perkomplotan pendidikan dalam metodogi pembelajarannya tidak lagi bersemuka roman dikelas, tapi aktifitas dosen yang sifatnya demontratif.

Selepas membuat Direktori Keahlian, kami menerimakan pelatihan-pelatihan kepada para Dosen lakukan memberikan inspirasi buat mahasiswa. Dosen juga diarahkan mendorong PKM
integrated
(Pengabdian kepada Umum ter-integrasi) melibatkan dosen, mahasiswa, sistemis, dan masyarakat, yang bertujuan agar dosen dapat melihat sederum bagaimana praktik pengajian pengkajian kampus merdeka. Saat ini telah mewujudkan perencanaan dengan Kecamatan Parongpong untuk kampus merdeka, PKM Integrated, Simkatmawa mahasiswa. Pengurukan pecah kegiatan tersebut ber-impact
pada penaikan struktur kurikulum
transformative di Widyatama.

Praktiknya, dosen didorong buat mempertontonkan konsep pembelajarannya di mahajana sedarun. Dengan harapan dosen dapat terinspirasi merubah metodologi pendidikan dalam kampus merdeka. Sehingga pembelajaran akan senantiasa terbarukan.


Komunita :


Sepanjang mana kemujaraban kebijakan MBKM – Transformasi Dana kerjakan PT ?


Prof. Obsatar Sinaga :

Kami menyambut baik pertolongan pemerintah, manfaatnya selain memberikan faktor finasial juga menyerahkan pengetahuan, inovasi, dan kreatifitas, karena dengan adanya desain ajuan yang tinggal terbuka untuk inovasi dan kreatifitas, maka setiap perabot nan berkujut akan memiliki kreasi dan imajinasi cak bagi memperkaya wawasan yang makin kaya lagi. Setidak-tidaknya dapat bersaing dengan insan lain, melihat bagaimana orang tak menciptakan, memperkaya diri seorang untuk kemampuan desain kurikulum dan pembelajaran. Dua manfaat tersebut aktual hasil
input
kebendaan; serta pembentukan kepribadian, kecerdikan, pengalaman. Tujuannya bukan faktor finasial tetapi, cuma dengan setiap organ yang terlibat mewujudkan desain prasaran, dan implementasi kampus merdeka. Maka akan n kepunyaan semacam wawasan, imajinasi, yang puas kesudahannya memberikan sinyal-sinyal kepada transisi lengkap pembelajaran. Ada variable-variable nan menuntut baik buram, prodi, fakultas, dan dosen tadi. Masa ini dimunculkan bantuan bagi prodi, dosen penggerak, dan lainnya.


Komunita : P

royeksi target berapa lama untuk menjejak kampus merdeka di Widyatama ?


Prof. Obsatar Sinaga :

Musim 2022 Widyatama mutakadim mulai. Kami sudah melakukan relaksasi kurikulum kampus merdeka sehingga mahasiswa baru ada di koridor kurikulum kampus merdeka. Target kami, sesudah mahasiswa selesai 5 (panca) semester. Selama 2.5 tahun dididik di prodi kemudian dievaluasi, selepas itu akan kita lihat seberapa jauh kompetensi dan sejauh mana capaian pembelajarannya. Lulusan diberi kemampuan ataupun luaran barang apa ? Ukurannya adalah secara
skills, kemampuan yang diberikan kampus kepada mahasiswa harus sesuai kebutuhan pasar dan pabrik. Secara sains (keilmuan), mahasiswa akan memiliki imajinasi, keterangan yang kaya tentang dunia pasar dan dunia industri. Sehingga sesudah menghilang 5 semester di prodi, akan dievaluasi bakal 3 semester di luar prodi.

Tugas penghabisan mahasiswa bukan melulu soal skripsi melainkan bisa melakukan pengkajian, laporan kewirausahaan, membangun desa, membuat koran, menciptakan
start up
bau kencur, dimana hasil karya mereka direcognisi
menjadi tugas akhir. Dan ini sesuai dengan Kementerian Desa yang mengarah membangun desa di tahun 2022 (dana sebesar 72 triliyun). Kerjasama Kemendikbud dan Kementerian Desa yaitu dengan meletakkan mahasiswa di desa-desa. Mungkin menciptakan
strat up, kondusif kewirausahaan desa, membangun bumdes, membuat industri mewah desa dan sebagainya, dan itu akan dijadikan kurikulum baik buat kesarjanaan, kurikulum untuk sertifikasi, dan kurikulum bikin tugas akhir.

Maka itu karena itu, Widyatama mencanangkan tugas penutup mahasiswa bukan dimonopoli maka itu tugas skripsi, semata-mata mungkin laporan pembangunan desa, butir-butir kewirausahaan, laporan investigasi, laporan
student achieve, pemberitaan jumlah magang, proklamasi praktik mengajar. Itulah kemerdekaan yang diberikan kepada mahasiswa Widyatama. Sehingga nanti setelah 2 (dua) semester mereka barangkali dapat radu dalam waktu 3.5 tahun (akan diakomodasikan), bagi melihat seberapa jauh keberhasilan kampus merdeka di Widyatama paling kecil 2.5 tahun dan maksimal selesai 3.5 periode. Pasca- itu kami berpengharapan, kurikulum akan dievaluasi kembali kecocokannya. Dengan menerapkan kampus merdeka kita mengarahkan tidak semata-mata kemampuan teknis belaka, doang bertambah komprehensif.


Komunita :


Tersapu dengan problematika kampus merdeka, segala apa nan menjadi kesulitan untuk menjalankan program tersebut ?


Prof. Obsatar Sinaga :

Kesulitan penting terkurung maka itu tamadun teknis (budaya minta petunjuk, budaya instruksi), karena ulas kemerdekaan dan kreatifitas harus dibangun secara berkala supaya meng-internalisasi dalam diri manusia. Yang paling menjadi obstruksi adalah budaya kultur teknis selalu harap petunjuk takut salah ini itu, dan bukan memiliki kemerdekaan yang bersifat orientasinya kejayaan. Misal RPS, CPL, materi kuliah, perjumpaan per jam, saban semester, cerbak harus meminta wangsit. Kenapa kita tidak melihat mayapada yang kian berlimpah. Setiap lembaga harus punya desain, tetapi desain itu bukan bakal membelenggu orang kerjakan kreatif inovatif. Hambatan yang paling utama intern SDM kependidikan di Perserikatan merupakan tersekap kultur teknis tasi sehingga ruang pintasan, kreatifitas, dan ruang imajinasi masih dibelenggu, masih terkungkung budaya harap petunjuk, budaya
top down
lain budaya
bottom up.

Secara bertahap kami melakukan santiaji kepada Dekan-prodi-dosen. Dari sekarang menciptakan ruang imajinasi yang sesuai koridor sifatnya
normative – regulative
nan diatur maka dari itu Fakultas – Prodi – Universitas. Kita menyerahkan ira merdeka buat dekan, dosen dan SDM yang lain untuk berinovasi dan berkreatifitas. Misal intern susasa wabah seperti ini, pembelajaran tidak tatap muka. Dosen jangan hanya menunggu instruksi cuma harus aktif dalam proses sparing mengajar barangkali dapat menggunakan
youtube, twitter, facebook, PJJ, zoom, googlemeet, dll. Situasi itu tidak pantangan, apalagi kreatif dan inovatif memecahkan problematika seyogiannya tak terjadi kemandegan intern proses penelaahan. Sekarang ini yang kami rasakan ialah dosen masih stagnan, masih terbelenggu kebudayaan teknis tadi.


Komunita :


Bagaimana dengan “kebebasan akademik” di dalam MBKM ?


Prof. Obsatar Sinaga :

Terkait kebebasan akademik, sepanjang orang itu di kampus menggelontorkan gagasan, ingatan dan perhatian sesuai koridor keilmuan, maka itu berhak disampaikan dan diekspresikan. Dalam pemikiran saya, dosen berwenang menyerahkan gagasan, pemikiran, sejauh memiliki pijakan ilmiah, rasionalitas ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan (rasionalitas ilmiahnya). Jika kedepan ada singgungan dengan pihak enggak, ataupun tulang beragangan, itu yaitu resiko atau konsekuensi terbit kebebasan kemerdekaan akademik.

Lega Kampus merdeka sendiri sebetulnya ruang kebebasan akademik itu tidak dibelenggu, malah diberikan otonomi dan keleluasaan. Persoalannya kebebasan itu diarahkan bagi betul-betul relevan dengan dunia saat ini dan dunia nan kelak. Tamadun alamiah ada sifatnya maya, konkrit, betulan. Kalau kita mengintai filsuf Eropa, bisa lah mereka menciptakan teori-teori yang sifatnya maya karena peradabannya sudah lalu lama dibangun, maka independensi bikin menciptakan keadaan yang teoritis itu diangkat menjadi sebuah generalisasi.

Kebutuhan di negara kita beda dengan Eropa, yang telah lama peradabannya. Negara kita pelir yang sifatnya operasional. Kampus merdeka ini bukan berharga membelenggu, namun yang tanwujud tadi agar diimplementasikan di operasional hendaknya bermanfaat berbarengan di umum. Masyarakat sekarang butuh pemecahan komplikasi yang segera dikerjakan, misal alun-alun pekerjaan (banyak pengangguran, banyak mahasiswa tidak dapat berkarya, banyak masyarakat miskin nan tak membujur netra pencaharian ataupun tak-tak). Kalau kita mandraguna yang mujarad adv amat ini bagaimana ? Jadi, akademisi harus dapat menjadi solusi buat mengamankan masalah nan memarginalkan adalah butuh usia, butuh makan, kalam alun-alun pegangan. Bukan berarti menghilangkan aspek ilmuwan yang sifatnya teoritis terminologisnya, semata-mata sebaiknya boleh diimplementasikan, dioperasionalkan. Pembiasaan ilmuwan Eropa bertabiat abstrak, temporer Indonesia melihat kebutuhan lewat mendasar yaitu memintasi persoalan bangsa yaitu banyaknya kemiskinan, kebodohan, pengangguran, banyaknya pengangguran. Dan guna-guna itu harus bisa diimplemantasikan.


Komunita :


Statemen terkait program MBKM dan pesan untuk pihak tercalit ?


Prof. Obsatar Sinaga :

Komitmen Widyatama akan menerapkan program MBKM. Yayasan dulu mendukung penyelenggaraan, reformasi kurikulum sesuai kerangka orientasi kurikulum kampus merdeka. Reaksi dan sambutan
stakeholder
di Widyatama sangat apresiatif. Pemberontakan berwujud ini akan menodongkan pada keberhasilan yang kita canangkan.

Dosen harus bernas inovatif cak bagi 1) menciptakan metode pembelajaran yang lebih kaya; 2) memperkaya kompetensi baik terdahulu ataupun adendum; 3) berbual mesra (dosen jangan kuper, agar dapat memberikan bimbingan kepada mahasiswa di kampus merdeka).

Buat mahasiswa kiranya manfaatkan dosen, infrastruktur bagi pembentukan dan mendapatkan hobatan/sains, fiil bikin pelepas hidup yang akan datang. Mahasiswa jangan hanya mengandalkan ilmu pecah kampus. Belajarlah di tempat magang, tempat praktik, dan di kondominium, dengan fasilitas digital. Untuk memperoleh ilmu yang paling-paling. Jangan semua informasi ditelan dengan mudah, belaka langsar dengan : 1) berfikir kritis; 2) fahami; 3) tafsirkan (maknai); 4) perkaya mualamat sama dari perigi yang lain. Ada Perbahasaan mengatakan “mengetahui informasi merupakan level terendah internal berfikir paham” sementara itu mahasiswa itu harus menjadi hamba allah nan memiliki karakter berfikir reaktif.

Wanti-wanti kesusilaan kepada Dosen, dan mahasiswa sepatutnya kembali plong hakikat pendidikan adalah memanusiakan bani adam dengan pelepas keilmuan nan unggul,
skills
yang menang, karakter yang menang, untuk dapat dimanfaatkan di dunia kerja dan masa yang akan datang; hakikat kedua, bergaulah kerumahtanggaan duniamu sesuai potensi, minat, bakat yang dimiliki, dan target cita-cita. Perencanaan yang baik adalah menciptakan periode depan yang baik. Kaidah terbaik buat menciptakan masa depan yaitu ciptakan dan lakukanlah dari saat ini.(prfds)

Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU – Rektor Universitas Kristen Maranatha


Komunita :

Kebijakan “MBKM” menghampari 4 hal, relevansi kebijakan ini apakah memberikan keleluasaan atau kesulitan bagi Tri Dharma PT ?


Prof. Sri Widiyantoro :
Harapan tentu sebaliknya. Biar Tri Dharma PT bisa diimplementasikan dengan Lentur (lain dogmatis). Sebelum ada program MBKM ini, sebenarnya kami sudah berjuang ke arah sana. Kami kepingin otonomi, dapat mengatur diri sendiri. Privat kekuatan lain tidak kepingin diatur, namun ada level tertentu dimana Universitas lebih mencerna persis kebutuhannya, lebih mengenal kondisi kampusnya sendiri. Pemerintah mengatur PTS secara umum, tapi lebih secara umum kan dapat. Yang bukan bisa adalah dibawah standar. Otonomi untuk mengatak diri sendiri baik kerumahtanggaan kurikulum, keuangan
(Auditable).
Jika dana berusul pemerintah harus mengikuti aturan pemerintah. Tetapi selain dari APBN, kami juga memiliki dana masyarakat yang bisa dikumpulkan dan digunakan untuk peluasan yang tak doang mengandalkan dana APBN doang. Sekarang ini diinstitusionalkan secara nasional lakukan memiliki keleluasaan yang bertanggungjawab, dan semua suka-suka ukurannya. Misal otonomi keuangan nantinya tentu ada audit, improvisasi mencapai intensi.


Komunita :


Semboyan Maranatha ICE: “Integrity, Care, Excellence” bagaimana ICE sendiri dimaknai dengan program MBKM ?


Prof. Sri Widiyantoro :
Ada 2 (dua) macam
ICE: “Integrity, Care, Excellence”
itu semboyan Maranatha. Maranatha mempunyai program
Character Building – Excellence
itu diartikan Ke-Prima-an. Program Rektor
ICE : Initiative, Collaboration
(kolaborasi-kerjasama),
Excellence
(unggul), program yang ingin dijalankan di Jamiah Maranatha. Unggul maksudnya suka-suka ciri khas/keunggulan di bidangnya, melengkapi nan lain tapi tidak
follower
makhluk lain.

Perumpamaan intern bidang Kedokteran di Maranatha, ada sejumlah eksplorasi yang dilakukan di Maranatha seperti pengembangan
bertentangan aging, terkait herbal, Plasma Konvalesen (nan dilakukan dr. Monika). Fakultas Ekonomi mau bertransformasi ke Fakultas Bisnis, sekarang ekonomi menjadi sangka bersejarah. Enggak boleh dipungkiri bahwa perubahan itu pasti terjadi. Proses transformasi masih bepergian, prasaran mutakadim disetujui, dan pengajuan penyempuraan bangunan lagi sudah disetujui dan akan direalisasikan internal waktu dekat, tujuannya agar transfigurasi menjadi Fakultas Komersial ini dapat disupport
oleh infrastruktur gedung nan kian
representative.


Komunita :


MBKM ditujukan bikin mahasiswa bagi dapat menguasai berbagai keilmuan, khususnya yang berguna detik masuk di dunia kerja, artinya ?


Prof. Sri Widiyantoro :
Tantangan ke depan terlampau besar, terutama di industry 4.0 perubahan nan sangat cepat bahkan destruksi dan Menteri menyadari keadaan tersebut. Contohnya plong Teknik Sipil, Momongan dididik cak bagi takhlik geretak yang kalau zaman dulu bentuknya konvensional, berbeda dengan sekarang nan paradigma jembatan sudah aneh-aneh. Kurikulum waktu ini harus bertambah fleksibel cak bagi mengantisipasi perubahan nan sangat cepat. Di Maranatha mendorong Prodi nan sudah lalu akreditasi A, untuk lekas menirukan akreditasi Internasional.


Komunita : S

ejauh mana Transmutasi Dana bakal PT meningkatkan kualitas dan daya saing PT ditingkat global?


Prof. Sri Widiyantoro :
Sreg PTN, cak semau insentif khusus jikalau turut 100 samudra Ranking dunia. contoh saat ini per Prodi maupun Departemen yang masuk Ranking 100 besar itu cak semau di ITB seperti Seni rupa, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan. Di Maranatha, ada pengembangan sparing Daring.


Komunita :


Kesiapan Perguruan Tinggi menyikapi garis haluan MBKM dari segala meres, untuk membantu programa-programa pemerintah?


Prof. Sri Widiyantoro :
Maranatha memiliki MORNING/Maranatha Online Learning System. Peran Yayasan tinggal mendukung sehingga acara belajar
daring
itu difasilitasi dengan meng-upgrade
seluruh kemudahan
online (bandwidth, dsb). Seperti Universitas lain juga, kedepannya Maranatha juga merasakan
new normal
(dan tidak akan sekali lagi sebagai halnya silam). Merasakan berkah di internal kesulitan (sebelum Pandemic ada kegiatan
Course online
masih terik dilaksanakan, setelah Pandemic mau lain ingin harus tetap dilaksanakan). Sekarang yang masih sulit dilakukan secara
online
merupakan Praktikum Kedokteran terutama Kedokteran Gigi. Waktu ini dilakukan
offline, dengan Protokol Kebugaran yang lewat ketat.


Komunita :


Problematika serta harapan Perguruan Tingkatan dengan adanya kebijakan MBKM di perian Epidemi COVID-19 ini ?


Prof. Sri Widiyantoro :
Beberapa waktu habis ada
Ghosting
Kampus, maksudnya jika lihat muka terlihat siapa yang bukan aktif/tidak datang. Dengan pengajian pengkajian
Online
ini, monitoringnya yang sangka sulit. Ini merupakan salah suatu tantangan juga, nan dapat diminimize
dengan tetap terhubung dengan mahasiswa (contoh membuat
WA Group
inferior, menerimakan tugas, memberikan
quiz). Harapan kami, Pandemi ini segera berjauhan dan pelaksanaan
MBKM
ini bisa dilakukan dengan penuh tanggungjawab, meski pamrih utamanya boleh fleksibitas dalam proses pembelajaran ini dengan hasil nan optimal. Menghasilan lulusan Universitas yang berkualitas, selain dapat bekerja kembali bisa membuka lapangan kerja.

Prof. Dr. rer. pekan sari. Martha Fani Cahyandito, SE., M.Sc., CSP. – Ketua STIE EKUITAS


Komunita :


Apakah MBKM dapat diterapkan sesuai harapan atau mendorong agreement antar perguruan tangga?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Mengenai soal
agreement
memang harus dibuat, sebagaimana saya mengawasi bermacam ragam kampus luar provinsi seperti di distrik Skandinavia itu lebih terasa kerjasamanya, serta lebih islami dibandingkan di kita. Mereka memang ganti membantu dan mendukung bakal kemajuan pendidikan. Bukan ki memenungkan benefit yang diambil secara personal untuk kepentingan dirinya seorang. Suasana disana terasa sangat islami karena saling berbagi manfaat diantara elemen kampus. Semangat yang dapat ditularkan disana itu yaitu dengan istilah
“apa yang bisa kami bantu, apa yang boleh kami tawarkan dan enggak sebagainya”.


Komunita :


Kapan sepatutnya ada programa MBKM ini dijalankan?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Saya rasa ini telah melanglang seperti canangan mulai sejak pemerintah. Melampaui program ini, kita bisa mengirimkan mahasiswa lakukan melakukan magang ke berbagai industri, kemudian melakukan pengabdian masyarakat ke desa-desa. Saja pada kenyataannya, prosedur di kita ini sangat eksekutif dan banyak adat tersendiri. Oleh sebab itu, hal ini dikembalikan lagi kepada jamiah yang bersangkutan akan halnya kemauan institusinya intern situasi mengirimkan beberapa mahasiswa untuk melakukan KKN, doang ditambah dengan acara lain seperti: berbuat pengajaran, mengembangkan koperasi di desa yang dapat disetarakan dengan jumlah 30 SKS disesuaikan bidang mata kuliah atas tema/topik tujuan dari program tersebut. Saya rasa, untuk petunjuk detail mengenai kejadian tersebut (dikonversi ke n domestik rasam jumlah SKS) sepertinya belum dibuat dan disepakati secara umum. Mengenai standarisasi pola peluasan kegiatan di kita sepertinya masih belum terlampiaskan semuanya sehingga masing-masing institusi berjalan dengan sendirinya.


Komunita :


Apakah kebijakan MBKM, yaitu: Re-akreditasi otomatis, peruntungan belajar studi pada kampus lain, perkenalan awal prodi mentah, serta kemudahan perubahan PTN menjadi PTN Badan Layanan Mahajana (BLU) dan satuan kerja (satker) bisa diimplementasikan semua perguruan tinggi ?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Kendatipun peristiwa ini mutakadim diputuskan maka dari itu pemerintah, namun kelihatan masih
wait and see
dan
trial and error. Terimalah, mengenai nasib baik berlatih mahasiswa selama 3 semester di luar prodi ini bisa belaka diterapkan dengan melihat kapabilitas dan potensi dari mahasiswa tersebut, namun suka-suka pula yang belum makmur ke arah sana. Sebenarnya hal ini dikembalikan lagi kepada kesiapan terbit mahasiswa yang bersangkutan dan prodi kampus yang ditujunya.

Berasal sisi kemudahan lakukan membuka prodi baru, tersidai lega kualitas semua elemen didalamnya. Jangan hingga momen baru dibuka satu prodi, maka akan cepat pula tutupnya dikarenakan tekor anju, otoritas nan tidak optimal serta minat mahasiswa nan tekor.

Senyatanya ide dan gagasan dari pemerintah ini sangat bagus, akan tetapi dibutuhkan implementasi terhadap waktu dan proses yang lumayan terka jenjang.


Komunita :


MBKM bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai alamiah untuk memasuki dunia kerja. Apakah ini ditafsirkan hanya penaklukan keterampilan teknis ?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Kalau saya mencermati pernyataan ini, yang dikejar oleh pemerintah (melangkaui pak Nadiem) 60 % aspek non teknisnya dibandingkan dengan aspek teknis kualifikasi bidang keilmuannya nan cuma sebesar 40 %. Jadi bertambah menonjolkan pada hal-hal nan bersifat non teknis, sebagai halnya: Rasa percaya diri yang dikembangkan,
communication skill
yang bagus, dapat membaca situasi dan lainnya. Banyak juga problem dari mantan perguruan tinggi bukan pada
hard skill-nya namun lebih kepada unsur
soft skill-nya. Makara ide dari pemerintah ini sangat bagus sekali sungguhpun perlu proses lakukan mengaras target ke arah sana. Pengembangan aspek
soft skill
ini yang dibutuhkan oleh dunia kerja menyangkut pada perilaku dan karakter pembawaan dalam diri mahasiswa yang membentuknya.


Komunita :


Mampukah kebijakan MBKM tentang “Transformasi Dana Pemerintah cak bagi PT” memberi peluang PT meningkatkan kualitas, memerosokkan terwujudnya jebolan menjuarai, dan melahirkan bakat-talenta nan berbenda adu cepat di tingkat mendunia?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Saya mutakadim terkonsentrasi n domestik palagan L2Dikti melalui
link grup
buat domain sekolah tinggi dan arahan institut. Mengenai isu
matching fund
ini sebetulnya baru dan belum lama digaungkan. Proses implementasinya saya pun belum begitu tahu perkembangannya; apakah sudah jalan maupun belum. Adapun acara yang mutakadim dirasakan yaitu tentang insentif atas kinerja yang telah dilakukan maka dari itu tiap perguruan tangga, seperti hibah, beasiswa dan lainnya. Di Ekuitas seorang untuk pengembangan mutu Dosen di P3M’nya alhamdulillah telah naik peringkat; yang tadinya bermula level binaan ke tingkat menengah, lalu sekarang menuju ke level utama.

Artinya kita boleh diberi keleluasaan dan wewenang bakal mereview
dan mengelola sendiri atas semua insentif hibah dari pemerintah. Pada bagian kerjasama jagat di Ekuitas Insya Allah terus bagus dan boleh hibah pula bersumber Kementerian. Sementara buat program kompetisi kampus merdeka dalam sisi investasi, Ekuitas belum menjalankan seutuhnya. Tentatif untuk mengimak berjenis-jenis kegiatan yang bertabiat kompetisi, kami pun terus mengikutinya. Alhamdulillah prestasi dari dosen dan mahasiswanya terus menanjak dan telah berbuah memperoleh
reward
yang lumayan semenjak berbagai event perlombaan.


Komunita :


Problematik dan harapan dalam keadaan penerapan kebijakan MBKM, langsung dengan pandemi Covid-19?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Kita pun pula ki mawas segala yang mutakadim Widyatama untuk dalam kejadian penerapan program
E-Learning
berkaitan proses sparing mengajar secara daring. Jauh hari sebelum adanya hawar covid-19, Ekuitas sekali lagi sudah menerapkan konsep berlatih
E-Learning
puas beberapa mata kuliah. Sehingga detik menginjak taun, semua bidang keilmuan telah disiapkan bagi dapat diterapkan dan diimplementasikan metode
E-Learning
oleh semua dosen. Minimum tidak untuk suatu netra kuliah yang diajarkan – harus ada metode
E-Learningnya.


Komunita : M

etode E-Learning, Apakah terbiasa bagi dosen dan mahasiswa intern suatu semester untuk mengamalkan perkuliahan virtual (online) dengan teknis serta kendala terhadap sinyal/jaringan?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Sama begitu juga lainnya bahwa di Ekuitas sekali lagi tentang problem sinyal/jaringan memang menjadi sesuatu yang umum, semata-mata dalam pelaksanaan teknis – kami menyerahkan toleransi atas waktu proses pembelajarannya. Tiba dari
upload
materi, kemudian interaksi virtual (conversation) dan semuanya harus terhubung melampaui sistem
E-Learning
tersebut sehingga dapat dilakukan pemantauan dan boleh direkam secara otomatis.


Komunita :


Apakah Ekuitas sudah memperoleh informasi terkait akan diselenggarakan proses belajar mengajar secara offline pada bulan Juli mendatang sehubungan dengan memasuki tahun wahyu hijau?


Prof. Martha Fani Cahyandito :

Yang saya tangkap suara, mulai bulan Juli itu memang diutamakan cak bagi anak asuh sekolah. Tentatif bagi tingkat perguruan tinggi – belum dimulai buat proses membiasakan secara luring. Berdasarkan info pecah pemerintah provinsi Jawa Barat, bakal jenjang SMA dan SMK yakni untuk guru dan pesuluh akan diprioritaskan mendapatkan vaksin terlebih dahulu sehingga proses belajar pada rembulan Juli mendatang dapat dilakukan secara bertatap.

Sedangkan buat tataran perguruan tinggi akan diberikan vaksin secara bertahap, sehingga masih dimungkinkan proses berlatih mengajarnya secara daring (online) pada semester yang akan datang. Kalaupun nanti dimungkinkan bagi kami untuk menyelenggarakan proses penataran secara
offline, minimal akan diterapkan model
hybrid learning
dengan bobot mekanisme belajarnya 50%
online
dan sisanya yang 50% lagi bisa menerapkan secara
offline
(bertatap). Adapun berusul anggaran yang dapat saya amati mengenai proses belajar mengajar lakukan perkuliahan semester mendatang yakni sekitar 60-70% masih akan dilakukan secara
online
(daring).

Rewrite : Lili Irahali Pewawancara : Lili Irahali, Keni Kaniawati, Nugi Muhammad Nugraha;

Audio to Transcript: Yanda Ramadana, Intan Liswandini.

Source: https://komunita.widyatama.ac.id/implementasi-dan-problema-merdeka-belajar-kampus-merdeka/