Sekolah Ang Bisa Memilih Pelajaran Sendiri Smp

Bagansiapiapi

Ibu kota kabupaten

Negara
Indonesia
Area Riau
Kabupaten Rokan Hilir
Kecamatan Bangko
Luas

[1]

 • Jumlah 475,26 km2
(183,50 sq laksa)
Populasi

(30-06-2013)[2]

 • Total 73,360
 • Kepadatan 150/km2
(400/sq mi)
Kode kewedanan telepon +62 767

Bagansiapiapi

Bagansiapiapi di Indonesia Riau

Bagansiapiapi

Bagansiapiapi

Letak Bagansiapiapi di Provinsi Riau

Tampilkan peta Indonesia Riau

Bagansiapiapi di Sumatra

Bagansiapiapi

Bagansiapiapi

Bagansiapiapi (Sumatra)

Tampilkan peta Sumatra

Koordinat:



2°9′28.08″T
100°48′58.68″E


 / 

2.1578000°N 100.8163000°E
 /
2.1578000; 100.8163000


Bagansiapiapi
(Jawi: باغانسيابيابي), lagi dikenal sebagai
Baganapi
(Hokkien POJ:
Bā-gán-a-pí; Hanzi sederhana:
巴眼亚比; Hanzi tradisional:
峇眼亞比; Pinyin:

Bāyǎnyàbǐ
) atau hanya
Bagan
adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Indonesia.

Ii kabupaten Bagansiapiapi terwalak di muara Kali besar Rokan, di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, dan merupakan palagan yang strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka yang yakni mondarmandir penggalasan alam semesta.

Selain laksana ibu ii kabupaten Kabupaten Rokan Ambang, Bagansiapiapi juga yaitu ibu kota Kecamatan Bangko.

Bagansiapiapi pernah meraih predikat ii kabupaten terbersih ke-2 tingkat Provinsi Riau pasca- kota Bengkalis lega tahun 2022. Penyerahan piagam penghargaan diberikan oleh Gubernur Riau H.M.Rusli Zainal bersamaan dengan peringatan Hari Ibu ke-85 plong tanggal 22 Desember 2022 di Pekanbaru.[3]
Lega peringatan Hari Perawatan Kalimantang Nasional ke-13 di Taman Hutan Raya di Kecamatan Minas, Siak tanggal 14 Agustus 2022, kota Bagansiapiapi ditetapkan ibarat kota terbersih se-Provinsi Riau.[4]

Memori

[sunting
|
sunting sumber]

Kabu-kabu Ing Hok Kiong di pusat kota Bagansiapiapi

Menyisir memori kota Bagansiapiapi erat kaitannya dan tidak copot dari memori Rokan Ambang.

Di daerah Rokan Hilir terdapat tiga wilayah kenegerian yaitu area Baluwarti, Bangko, dan Tanah Putih nan masing-masing dipimpin sendiri Pejabat Negeri yang bertanggung jawab kepada Baginda Siak. Berkenaan dengan sistem administrasi pemerintah Hindia Belanda, distrik pertama nan didirikan di sana merupakan Tanah Putih sreg tahun 1890.[5]

Berdasarkan
Staatsblad 1894 No.94,
onderafdeeling
Bagansiapiapi dengan ibu ii kabupaten Bagansiapiapi, termasuk privat
afdeeling
Bengkalis,
Residentie Ooskust van Sumatra
terdiri dari tiga subdistrik ialah Bangko, Kubu, dan Persil Salih.[6]
Sehabis Bagansiapiapi yang dipercaya dibuka oleh warga-pemukim Tionghoa berkembang pesat, pemerintah Hindia Belanda ki memengaruhi pusat pemerintahan (kantor
Controleur) ke kota ini berpokok Petak Putih pada masa 1900.[7]
Bagansiapiapi semakin berkembang sesudah pemerintah Hindia Belanda membangun dermaga modern dan terlengkap lakukan mengimbangi pangkalan lainnya di Selat Malaka hingga Perang Mayapada I usai.

Setelah kedaulatan Republik Indonesia diproklamasikan, wilayah kewedanaan Bagansiapiapi yang meliputi Kubu, Bangko, dan Tanah Putih, digabungkan ke dalam Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Selanjutnya mantan wilayah Kewedanaan Bagansiapiapi, yang terdiri dari Kecamatan Persil Zakiah, Kecamatan Benteng dan Kecamatan Bangko ditambah Kecamatan Rimba Melintang dan Kecamatan Bagan Sinembah kemudian lega tanggal 4 Oktober 1999 ditetapkan sebagai sebuah kabupaten baru di Kawasan Riau sesuai dengan UU RI Nomor 53 tahun 1999 dengan ibu kota Ujung Jazirah, sedangkan Bagansiapiapi ditetapkan misal ibu kota sementara.[8]

Namun karena kondisi infrastruktur di Ujung Tanjung yang masih adalah sebuah desa di Kecamatan Persil Tahir belum memungkinkan buat dijadikan sebagai sebuah ibu kota kabupaten, maka jadinya Bagansiapiapi, dengan infrastruktur daerah tingkat nan jauh lebih baik, pada sungkap 24 Juni 2008 konvensional ditetapkan ibarat ibu daerah tingkat Kabupaten Rokan Hilir nan sah setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui 12 Susuk Undang-Undang (RUU) Pembentukan Kabupaten/Daerah tingkat dan RUU atas perlintasan ketiga atas UU Nomor 53 Tahun 1999 disahkan ibarat Undang-Undang n domestik Rapat Paripurna.[9]
[10]

Asal-usul nama Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sumur]

Kapal Tongkang Bagansiapiapi Zaman Hindia Belanda

Menurut cerita masyarakat Bagansiapiapi secara runtuh temurun, stempel Bagansiapiapi erat kaitannya dengan cerita tadinya kedatangan orang Tionghoa ke ii kabupaten itu. Disebutkan bahwa hamba allah Tionghoa yang pertama sekali datang ke Bagansiapiapi berasal pecah daerah Songkhla di Thailand. Mereka sepantasnya merupakan perantau-perantau Tionghoa yang berpokok dari Wilayah Jurang’an (Kakaktua Ua) di Xiamen, negeri Kewedanan Fujian, Tiongkok Selatan,[11]

Disebutkan bahwa menunggangi tiga perahu gawang (tongkang). Kejadian-kejadian selama dalam perjalanan menyebabkan semata-mata satu tongkang yang selamat hingga di darat. Itu adalah tongkang nan dipimpin oleh Ang Mie Kui bersama 17 orang penumpang lainnya. Tongkang yang selamat ini kebetulan membawa serta patung Dewa Tai Sun Ong Ya nan diletakkan di adegan haluan dan arca Dewa Ki Hu Ong Ya yang ditempatkan internal magun/rumah tongkang.

Menurut keyakinan mereka, patung-reca ini akan memberi keselamatan selama pelayaran itu. Ramalan akhirnya diberikan oleh sang Betara, sehabis mereka mengintai cahaya api nan berkerlap-kerlip dan mereka mengikutinya mengaras daratan. Di daerah lain berkamu inilah mereka mendarat dan membangun kancah pemukiman baru yang kemudian dikenal dengan cap Bagansiapiapi. Tentang kata
bagan
sendiri mengandung makna sebagai tempat, area, alias alat penangkap ikan.

Versi lain adapun asal usul merek Bagansiapiapi yakni kata
Rencana
yang berpangkal dari etiket perangkat atau tempat menangkap lauk (yakni bagan, bagang, atau jermal), darurat
api
berusul bermula logo pokok kayu upet nan banyak tumbuh di kawasan pantai.[12]

Daerah tingkat nelayan dan galangan kapal

[sunting
|
sunting sumur]

Menara Air Leding “Leidingwater” Bagansiapiapi Zaman Hindia Belanda Tahun 1924

Dulu kota ini terkenal sebagai perakit ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai ii kabupaten lauk. Menurut sejumlah sendang, di antaranya jurnal
De Indische Mercuur
menulis bahwa pada tahun 1928, Bagansiapiapi ialah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia selepas kota Bergen di Norwegia.[13]
[14]

Dalam perkembangannya, pabrik perikanan telah menjadikan Bagansiapiapi sebuah daerah tingkat modern. Plong musim 1934, Bagansiapiapi sudah memiliki fasilitas penggarapan air menenggak, pembangkit tenaga setrum dan unit pemadam kebakaran.[15]
[16]
Karena kesuksesan yang dicapai ii kabupaten ini dibandingkan area-kawasan bukan di
afdeeling
Bengkalis, Bagansiapiapi disebut
Ville Lumiere
(Daerah tingkat Sorot).[16]
[17]

Berton-ton ikan, mulai berpangkal ikan basah bugar, lauk atau udang kering, lauk masin atau terasi, diekspor dari kota ini ke berbagai ragam palagan. Dalam satu masa, hasil tangkapan ikannya bisa mencapai 150.000 ton.[18]
Ekspor hasil laut berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi rakyat. Bagansiapiapi menduduki papan atas daerah-daerah produsen ikan terbesar di marcapada.

Pada hari 1980-an, persendian tutorial Ilmu Keterangan Sosial (IPS) di sekolah-sekolah sumber akar masih mengeluh bahwa salah satu wilayah penghasil ikan terbesar dan teramai di Indonesia adalah Bagansiapiapi,[19]
yang lega momen itu masih ikut ke dalam wilayah Kabupaten Bengkalis.

Akan sahaja julukan Bagansiapiapi umpama kota iwak lama kelamaan melesap. Bila sebelumnya faktor alam yang menjadikannya demikian dikenal bagaikan pelaksana iwak, kelak diketahui bahwa faktor pan-ji-panji pula yang menyebabkan pemudarannya secara berangsur-angsur karena rantau selingkung Bagansiapiapi mengalami pendangkalan dan sempit oleh endapan lendut nan dibawa air Batang air Rokan.

Menurut data bersumber Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir, pada tahun 2000-2003, produktivitas iwak tangkap laut berkisar pada ponten 70.000 ton per tahun. Sekadar, pada periode 2004 tinggal 32.989 ton. Total penangkap ikan turun dari sekitar 100 menjadi 40-an saja.[20]

Bagansiapiapi pula tenar sebagai galangan kapal tradisional terbesar di Indonesia sebelum kebebasan.[21]
Biduk artifisial Bagansiapiapi mewah menembus plural jenis karakteristik raksasa sehingga digunakan sekali lagi di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku. Di luar wilayah, karyanya diminati nelayan-nelayan Srilanka, India, bahkan Amerika.

Perahu produksi Bagansiapiapi menyempurnakan permintaan mulai sejak yang terkecil selingkung tiga-empat ton setakat 300 ton. Galangan kapal menjamur di era perian 1940-an sampai medio masa 1980-an. Plong waktu jayanya, nama daerah tingkat Bagansiapiapi bertambah populer tinimbang Pekanbaru maupun Provinsi Riau.[22]

Tapi kini usaha tersebut sudah mati suri karena keterbatasan sasaran halal papan dan sederetan Undang-Undang Adapun Kehutanan. Dalam UU itu disebutkan bahwa pemerintah kancing n kepunyaan kuasa penuh dalam menentukan pembagian daerah alas. Dampaknya, para pencari papan nan selama ini didominasi penduduk tempatan, lain lagi bisa menebang papan untuk menjualnya ke pengusaha landasan kapal.

Komunitas Tionghoa

[sunting
|
sunting perigi]

Mantan peninggalan rumah Kapitan Bagansiapiapi

Bagansiapiapi punya komunitas Tionghoa yang raksasa. Terletak beberapa versi sejarah kehadiran purwa orang Tionghoa di Bagansiapiapi.

Menurut P.Horizon. van Kampen, insan Tionghoa sudah ada di Bagansiapiapi sejak tahun 1860.[23]
Varian enggak adapun kedatangan awal basyar Tionghoa ke Bagansiapiapi ialah plong tahun 1875[24]
saat beberapa tenggala laut tiba di Bagansiapiapi pecah Songkhla, Thailand yang dipimpin Si Bajak Laut Tua lontok Kakek Wang.[25]
[26]
Karena gana lauk yang berlimpah di provinsi ini, mereka memutuskan cak bagi menetap dan menjadi nelayan.

Menurut sumber lain yang layak dipercaya menamakan bahwa jauh sreg masa Kaisar Tongzhi (1862-1874), yaitu puas zaman Dinasti Qing, Hong Shifan dan 10 kawannya dari Provinsi Leger’an, Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan, datang ke ii kabupaten itu dan berekspansi manuver perikanan di sana. Menurut hasil cacah jiwa pada 1930, dari 9.811 sosok Tionghoa yang berkreasi di sektor perikanan di seluruh Hindia Belanda, 54,7 % congah di Sumatra Timur (terutama di Bagansiapiapi). Menurut statistik lainnya tahun 1928, sebagian terbesar dari 400 lebih operasi pemijahan iwak di pangkalan itu milik orang Tionghoa.[27]

Kekerabatan Tionghoa di Bagansiapiapi sebagian samudra merupakan suku Hokkian, di mana leluhurnya sebagian besar berasal dari Distrik Kanyon’an (Catut Ua) di Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan. Peguyuban Tionghoa lainnya di Bagansiapiapi dengan jumlah patut bermakna merupakan dari semenjak kaki Tiociu, padahal dari suku Khek (Hakka), Hailam (Hainan) dan Konghu dapat dijumpai dalam besaran yang relatif lebih sedikit.

Kedatangan peguyuban Tionghoa yang awet di Bagansiapiapi bisa dilihat dari banyaknya jelapang yang mengalir perlahan-lahan. Di samping itu, terdapat berbagai perkumpulan marga Tionghoa, transendental dengan kelentengnya masing-masing, di mana dari sekolah tinggi-institut marga inilah kebudayaan Tionghoa tetap terpelihara di Bagansiapiapi meskipun dibatasi pada musim rezim Orde Mentah.

Perkumpulan-perkumpulan marga tersebut di antaranya adalah Perhimpunan Marga Ang
Liok Kui Tong/Yayasan Sosial Marga Sad Eka (六桂堂), Perkumpulan Marga Ng
Kang Ha Tahang/Yayasan Samvara Dharma Wijaya (江夏堂/黃氏宗親會), Institut Marga Tan
Ying Chuan Tong
(陳氏穎川堂), Perserikatan Marga Lim
Kiu Ling Tong
(九龍堂), Perkumpulan Marga Coa
Cei Yong Tong
(濟陽堂), Perkumpulan Marga Gui, Perkumpulan Marga Kho/Yayasan Panca Bina Dharma Citra, Perkumpulan Marga Li, Jamiah Marga Yeo, Perkumpulan Insan Tiociu
Han Kang/Yayasan Sani Dharma Abadi (韓江公會), dan sebagainya.

Geografis

[sunting
|
sunting sumber]

Peta Bagansiapiapi di Provinsi Riau

Secara geografis, Bagansiapiapi terwalak di Pulau Sumatra pada titik koordinat 2,1578° Lintang Utara (2° 9′ 28.08″ N) dan 100,8163° Bujur Timur (100° 48′ 58.68″ E).[28]

Bagansiapiapi terdapat di muara Sungai Rokan yang berapatan dengan Selat Malaka yang yaitu lalu-lalang pelayaran dan perdagangan antarbangsa yang gempita.

Batas-perenggan wilayah Bagansiapiapi yang mencaplok Kecamatan Bangko, sebagai berikut:

  • Arah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sinaboi
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pangan Mengufuk
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Pulau Berkey
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Argo Kapur, Kota Dumai

Bagansiapiapi termasuk beriklim tropis, dengan jumlah guyur hujan 2.710 mm/masa[29]
dan hawa udaranya berkisar pada 24º-32 °C. Musim kering umumnya terjadi sreg bulan Februari s/d bulan Agustus. Sementara musim hujan terjadi pada bulan September s/d Januari.

Perekonomian

[sunting
|
sunting sumber]

Sektor-sektor yang terutama menjadi pelopor roda perekonomian ii kabupaten Bagansiapiapi di antaranya adalah sektor perladangan, kelautan, budidaya burung walet, pertanian, kehutanan, pariwisata dan jasa keuangan.

Pertanian

[sunting
|
sunting perigi]

Pertanian yang dikembangkan di Bagansiapiapi di antaranya pertanian tanaman pangan, terutama sayuran, biji kemaluan-buahan, dan antah.

Perkebunan

[sunting
|
sunting sumber]

Pokok kayu persawahan yang yakni komoditas yang cukup potensial di daerah Bagansiapiapi adalah kelapa sawit, kain, dan kelapa.

Perikanan

[sunting
|
sunting sumber]

Produksi perikanan di Bagansiapiapi sebagian besar berasal dari perikanan laut. Selain ikan segar, produk nan dihasilkan berbunga sektor perikanan di antaranya adalah ikan masin, udang (udang kersang), terasi, dan olahan ikan lainnya.

Galangan Kapal

[sunting
|
sunting sumber]

Usaha galangan kapal di Bagansiapiapi mutakadim berumur ratusan perian. Dewasa ini, gerakan galangan kapal di Bagansiapiapi rani di kawasan Pelabuhan Baru Bagansiapiapi, dengan incaran baku utama dari kayu. Kapal nan dibuat berukuran besar dan kecil.

Industri lingkaran kapal kusen di sejumlah daerah di provinsi Kabupaten Rokan Hilir termasuk di daerah tingkat Bagansiapiapi, nan sempat lesu beberapa tahun keladak, dewasa ini sudah lalu berangkat kasar juga.

Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai aktivitas di pinggiran rantau ii kabupaten Bagansiapiapi untuk menciptakan menjadikan kapal kusen. Dengan aktifnya kembali industri kapal kayu tersebut, maka sektor perekonomian di Kecamatan Bangko bisa meningkat.[30]

Budidaya zakar walet

[sunting
|
sunting sendang]

Setelah aktivitas perekonomian berbunga sektor perikanan semakin melandai, budidaya titit walet untuk diambil sarangnya telah menjadi alternatif usaha dan sangat resmi ditemukan di Bagansiapiapi, terutama di pusat kota, di mana banyak ruko-ruko dibangun 3 sampai 4 tingkat, dengan tingkat terala dijadikan sebagai wadah khuluk daya burung walet, sedangkan tingkat 1-2 digunakan umpama toko dan tempat tinggal.

Hasil pendataan lokasi yang telah dilaksanakan pihak Jawatan Pendapatan Daerah Kabupaten Rokan Hilir yang dimulai sejak Januari hingga April 2022, ternyata di daerah tingkat Bagansiapiapi, Kecamatan Bangko memiliki 900 kancah usaha budidaya penis walet.[31]

Pariwisata

[sunting
|
sunting perigi]

Sektor pelancongan sekarang telah menjadi riuk suatu sektor andalan penunjang perekonomian Bagansiapiapiapi.

Perayaan Tahun Baru Imlek

[sunting
|
sunting perigi]

Replika Shio Naga di Urut-urutan Perdagangan-Bagansiapiapi

Perayaan Tahun Baru Imlek (Sincia) di Bagansiapiapi sangat megah, terutama pada malam pergantian tahun mentah. Tahun Baru Imlek pula yakni leluri pulang kampung bagi insan Tionghoa nan merantau ke luar distrik bikin berkumpul lagi bersama tanggungan. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh. Selama perayaan Tahun Baru Imlek, dian beraneka bentuk dan dimensi menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sejauh jalan-perkembangan besar di pusat kota sehingga ii kabupaten Bagansiapiapi seakan bermandikan kilauan lampion di malam hari. Hari ke-9 Imlek (Cue Kao) yang adalah perayaan hari kelahiran Batara Langit (Thi Kong) juga berlangsung dulu habis-habisan di Bagansiapiapi.

Salah satu keunikan perayaan Masa Hijau Imlek di Bagansiapiapi adalah hadirnya aksesoris reca berbentuk hewan dari shio tahun tersebut yang dipajang di Jalan Perdagangan. Reca tersebut terutama terbuat dari material seperti kertas, bambu, kawat, tiras, wol dan sebagainya. Kegiatan begitu juga ini yunior dimulai sreg perayaan Periode Baru Imlek 2554/2003 M Shio Kambing.

Di samping itu, di Kabu-kabu Guan Gong (關帝壇) yang terdapat di Jalan Perniagaan, terdapat lampion berformat ki akbar berbentuk binatang shio dan karya klasik Tiongkok lainnya.

Sreg lilin lebah Cap Go Meh akan berlangsung Karnaval Lampion dengan lampion-lentera yang singularis semenjak beraneka ragam kelenteng nan ada di Bagansiapiapi. Parade Dian ini sekaligus ialah Adu Lampion yang akan memilih lampion terindah, terunik dan terbagus.

Statsiun televisi swasta kewarganegaraan, MetroTV pernah meliput acara pergantian Masa Yunior Imlek 2561/2010 M secara bertepatan berasal Bagansiapiapi yang dipusatkan di halaman depan Rangkiang Ing Hok Kiong (永福宮).[32]

Formalitas Bakar Tongkang

[sunting
|
sunting perigi]

Sebuah tongkang yang diarak ke lokasi upacara

Berasal sektor pariwisata, iven Formalitas Bakar Tongkang sudah lalu menjadi ikon dan andalan pariwisata Kabupaten Rokan Estuari dan Kawasan Riau yang makmur mengganjur puluhan ribuan wisatawan dalam dan luar negeri setiap periode.[33]

Ritual Bakar Tongkang bertujuan lakukan mengenang para leluhur cucu adam Tionghoa dalam menemukan Bagansiapiapi dan ibarat wujud syukur kepada Dewa Ki Hu Ong Ya. Ritual Bakar Tongkang diadakan setiap sungkap 16 rembulan kelima penanggalan Lunar (Imlek) setiap tahunnya, yang dalam bahasa Hokkian disebut “Go Cap Lak”.

Ritual Bakar Tongkang ini bahkan turut kerumahtanggaan iven pariwisata nasional peringkat ke-10 di Indonesia di mana jumlah kunjungan wisatawan mencapai 40 ribuan.[34]

Wisata kuliner khas Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sumber]

Kuliner khas Bagansiapiapi yang terkenal yaitu masakan Tionghoa nan dikombinasikan dengan hasil bumi setempat, misalnya: kwetiau bagan, miso bagan, nasi lemak bagan,
kari peng
(nasi kari tulangtulangan),
ham-ke
(sejenis martabak dari kerang),
wantanmi
(kwetiau pangsit),
ke-mi
(mi kuah nan dicampur dengan potongan-potongan mirip mi),
tilongpan
(mirip
cicongpan
di Medan),
kiam-ke,
lolia
(rujak buram),
o-lua
(rujak susuk pedas),
o-ke,
ozon-yii, dan sebagainya.

Oleh-oleh khas Bagansiapiapi adalah polong pukul yang diproduksi mahajana Tionghoa secara merosot temurun. Selain itu kembali terkenal terasi, opak udang, kerupuk ketela pohon, udang rebon kersang (ebi), permen kelambir, kue
buku-hong, kue
lik-tao-ko, kue
an-che-nai-ko, dan beragam kudap idiosinkratis lainnya yang tak ditemukan di negeri lain.

Perdagangan

[sunting
|
sunting sumber]

Di Bagansiapiapi terwalak dua pasar tradisional yang gempita dikunjungi adalah Pasar Pelita dan Pasar Tetua Rubiah (dahulu Pasar Inpres). Selain itu juga ada pasar jalanan di sejauh Kronologi Satria, dinamakan Pasar Satria Tangko.

Jasa Finansial

[sunting
|
sunting sumber]

Bank-bank yang beroperasi di Bagansiapiapi di antaranya adalah Bank Rakyat Indonesia, Bank Riau Kepri, Bank Syariah Mandiri, Bank Danamon Indonesia (Unit Simpan Pinjam), Bank Tabungan Pensiunan Nasional (Unit Mitra Usaha Rakyat) dan Bank Perkreditan Rakyat Rokan Mulut sungai (BPR ROHIL).

Maktab Simpang Bank Rakyat Indonesia di Bagansiapiapi merupakan kantor cabang kedua yang dibuka di seluruh Indonesia sejak pendirian Bank Rakyat Indonesia periode 1895 di Purwokerto,[35]
sehingga kode Bank Rakyat Indonesia cabang Bagansiapiapi menggunakan nomor 0002.

Bank Negara Indonesia secara resmi beroperasi kembali di Bagansiapiapi dengan pembukaan biro kas yunior yang berada di Urut-urutan Aman sreg tanggal 30 Maret 2022.[36]
BNI pernah hadir di Bagansiapiapi sejak hari 1960-an, sekadar karena kemerosotan ekonomi Bagansiapiapi, BNI terpaksa menyelimuti kantor cabangnya di medio tahun 1990-an.

Bank Syariah Mandiri berangkat beroperasi di Bagansiapiapi sejak 28 November 2022[37]
nan diresmikan oleh Bupati Rokan Hilir, Annas Maamun.

Kependudukan

[sunting
|
sunting sumur]

Berdasarkan data Badan Trik Statistik Kabupaten Rokan Estuari dalam kancing
Rokan Ambang Dalam Angka 2022, jumlah pemukim Kecamatan Bangko sendirisendiri 30 Juni 2022 yang sebagian besar meliputi kota Bagansiapiapi adalah 73.360 orang, terdiri dari penduduk laki-laki 37.979 orang dan perempuan 35.381 orang. Dengan demikian Kecamatan Bangko menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di Kabupaten Rokan Ambang setelah Kecamatan Bagan Sinembah dan Pujud. Temporer jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Rokan Hilir per 30 Juni 2022 berdasarkan data Fisik Kiat Statistik Kabupaten Rokan Ambang yaitu 618.355 basyar, dengan jumlah penduduk laki-laki adalah 318.779 orang dan perempuan 299.576 orang.[38]

Bermula segi etnisitas, dewasa ini penduduk kota Bagansiapiapi sebagian besar merupakan suku Melayu dan Tionghoa, padahal suku lainnya dalam total yang cukup signifikan adalah suku Jawa, Batak, Minangkabau, Nias dan Bugis.

Agama

[sunting
|
sunting sumber]

Islam yaitu agama mayoritas yang terutama dipeluk maka dari itu suku Melayu, Jawa, Minangkabau dan Bugis. Tungkai Tionghoa mayoritas memeluk kepercayaan Tridharma yang adalah gabungan berpangkal agama Buddha, Konghucu, dan Taoisme, darurat nan menganut agama Kristen, Katolik dan Islam lagi terserah walaupun internal total yang sedikit. Sedangkan suku Batak dan Nias pada biasanya menganut agama Kristen dan Katolik.

Tempat ibadah yang representatif bagi umat Islam di Bagansiapiapi di antaranya yaitu Sajadah Raya Al-Ikhlas, Masjid Raya Al-Ihsan, Masjid Al-Kautsar, dan Masjid Admiral Muhammad Cheng Ho.

Bagi umat Buddha dan kepercayaan Tridharma terdapat Vihara Buddha Sasana, Vihara Buddha Sakyamuni, Vihara Buddha Kirti, Vihara Maitreya Dwipa, Kelenteng Ing Hok Kiong.

Cak bagi umat Katolik terdapat Dom Katolik Santo Petrus dan Paulus. Sementara bakal umat Kristen terletak Gereja Methodist Indonesia (GMI-Jemaat Wesley), Gereja HKBP, Gereja Serani Protestan Indonesia.

Bahasa Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat Bagansiapiapi yang lebih dikenal perumpamaan Orang Tulangtulangan, terdiri berpokok beraneka macam kaki di antaranya Jawi, Batak, Jawa, Minang, Tionghoa, Bugis, dan Nias.

Letaknya nan jauh berpokok ibu kota Jakarta, menciptakan menjadikan peguyuban Tionghoa setempat masih kental menggunakan bahasa daerah sonder pencampuran dengan bahasa gaul ibu ii kabupaten. Namun istilah “Bahasa Bagan” sering merujuk pada Bahasa Hokkian yang digunakan oleh mahajana Tionghoa setempat.

Bahasa Hokkian Bagansiapiapi masih kental dengan nuansa Tionghoa murni tanpa fusi dengan bahasa Indonesia, sehingga mirip dengan bahasa Hokkian nan dipergunakan di Xiamen, Jinmen (Kim-membubuhi cap), dan Taiwan.

Dikarenakan sebagian besar leluhur hamba allah Hokkian di Bagansiapiapi berbunga dari Distrik Tong’an (Tang Ua) yang dekat dengan Xiamen dan Quanzhou, maka dialek bahasa Hokkian Bagansiapiapi bisa dimasukkan dalam varian paduan antara logat Xiamen dan Quanzhou (Cuanciu). Begitu juga dengan bahasa Hokkian yang dipergunakan di provinsi Riau lainnya sama dengan Selatpanjang dan Bengkalis hampir setara dialeknya, karena kebanyakan leluhurnya berusul berpunca daerah Nan An (Lam Ua) yang karib dengan Quanzhou.

Sementara bahasa Hokkian yang dipergunakan di Medan dan Penang masuk kerumahtanggaan varian logat Zhangzhou (Cianciu).

Perantauan warga Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sumber]

Bagansiapiapi yang kontak menyandang predikat kota produsen ikan terbesar kedua di bumi dan galangan kapal tradisional terbesar di Indonesia, kini lewat kenangan. Kaum muda yang sudah menamatkan sekolah di sana, mayoritas melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan ke luar kota karena belum hadirnya perguruan janjang umum dan minimnya firma sektor normal di Bagansiapiapi.

Para generasi muda mengais rejeki ataupun meneruskan pendidikan ke kota-kota ki akbar di watan. Kota-kota yang merupakan tujuan perantauan dalam jumlah yang signifikan adalah Jakarta, Medan, Pekanbaru, Batam, Surabaya, Bandung, dan daerah tingkat-kota besar lainnya.

Mereka akan pulang ke kampung halaman mereka setahun sekali kapan perayaan Masa Yunior Imlek, sembahyang karuhun/ziarah kuba Festival Qingming dan Ritual Bakar Tongkang atau Go Tera Lak.

Di perantauan, mereka mendirikan beraneka rupa perserikatan sebagai halnya Himpunan Persaudaraan Tionghoa Rokan Ambang (HPT ROHIL) di Pekanbaru, Yayasan Rokan Jaya di Medan, dan Keluarga Lautan Bagansiapiapi Tangerang.


Perkariban, wahana dan prasarana transportasi

[sunting
|
sunting sumber]

Bagansiapiapi dapat diakses dengan mudah dari berbagai kota dengan menggunakan plural moda transportasi, baik darat atau laut. Dari ibu kota Distrik Riau, Pekanbaru dibutuhkan 6-7 jam perjalanan darat dengan jarak ganti rugi +/- 350 km. Temporer dari ibu kota Provinsi Sumatra Paksina, Medan, dibutuhkan 10-12 jam perjalanan darat melangkahi Lintas Timur Sumatra. Dari Daerah tingkat Dumai hanya dibutuhkan waktu tempuh 2-3 jam melalui perkembangan darat.

Pembangunan Jembatan Jumrah yang membentang di atas Sungai Rokan, yang menjadi urat nadi jalan lintas Bagansiapiapi—Ujungtanjung, merupakan tunggak terbukanya akses kronologi darat menumpu Bagansiapiapi bersama-sama mengecualikan Bagansiapiapi dari isolasi sreg masa lepas nan hanya bisa diakses melalui kolek laut. Bayangkan untuk sampai ke Kota Pekanbaru, warga Bagansiapiapi harus menumpang kapal ke Daerah tingkat Dumai dulu selama satu lilin batik (sekeliling 12 jam). Begitu juga jika akan bepergian ke Kota Medan, harus menanjak kapal adv amat sejauh satu malam juga ke Ii kabupaten Tanjung Balai Asahan.

Jembatan Pedamaran I dengan panjang 1.020 meter dan Jeti Pedamaran II dengan tahapan 1.200 meter dibangun sejak tahun 2006 dan selesai tahun 2022, diresmikan puas tanggal 20 Juni 2022 makanya Bupati Rokan Hilir, Suyatno serta dihadiri sewaktu oleh Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman. Sirat Pedamaran I dan II merupakan jembatan kembar yang menambat daerah pesisir Bagansiapiapi dengan tepi laut Kecamatan Pekaitan, Kecamatan Kubu, Kecamatan Pasir Lemon Kapas hingga ke perbatasan wilayah antara Kabupaten Rokan Hilir dengan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kewedanan Sumatra Paksina,[39]
dengan melewati pulau di tengah-tengahnya yaitu Pulau Pedamaran.

Jembatan ini memiliki kemustajaban yang terlampau terdahulu lakukan Bagansiapiapi dan daerah sekitarnya karena menjadi sarana penghubung buat jalan lintas pantai. Kronologi lintas pesisir di Kabupaten Rokan Hilir akan menghubungkan bilang provinsi, yakni mulai sejak Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas ke Kubu, Kecamatan Kubu dengan panjang sekitar 60 kilometer, dari Kecamatan Kubu ke Pedamaran sampai ke 23 kilometer. Lebih lanjut dari Pedamaran ke kota Bagansiapiapi dengan jenjang menjejak 17 kilometer. Buncit dari Bagansiapiapi ke Sinaboi dan tembus ke Dumai dengan panjang 56 kilometer. Sementara itu jarak semenjak Bundaran Panipahan menuju Labuhan Batu, Sumatra Lor panjangnya mencapai 3 kilometer.[40]

Dengan demikian, Jembatan Pedamaran diharapkan akan membuka keterpencilan sejumlah area di pesisir Barat Laut Rokan Hilir. Bestelan ini akan mengaduh ii kabupaten Panipahan sampai ke Dumai melalui Bagansiapiapi.

Cak bagi Kabupaten Rokan Muara seorang, keberadaan jalan lintas pesisir ini punya peranan yang cukup signifikan, salah satu di antaranya Kabupaten Rokan Hilir boleh menjadi kawasan
hinterland
bikin Dumai.

Sedangkan melangkahi jalur laut, rute yang dilayani dewasa ini adalah Bagansiapiapi-Panipahan dan Bagansiapiapi-Pulau Halang. Sementara rute Bagansiapiapi-Kota Tanjung Auditorium Asahan dan Bagansiapiapi-Kota Dumai sudah tidak cawis juga sejak dibukanya akses jalan darat.

Jalur feri dunia semesta yang persaudaraan dibuka adalah rute Bagansiapiapi-Port Dickson, Malaysia dengan jarak tempuh selama 2,5 jam hingga 3 jam. Pelayaran perdana Bagansiapiapi-Port Dickson memperalat feri cepat Acob Express I dilakukan puas hari Rabu rontok 11 Juni 2008 nan diresmikan Tumenggung Rokan Hilir Annas Maamun didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Riau ketika itu, H.R.Mambang Mit.[41]

Dewasa ini, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir telah menyiapkan kapling seluas 130 hektare yang terletak di Desa Teluk Bano I yang akan digunakan untuk rencana pembangunan bandar udara tingkat kabupaten. Desa Teluk Bano I dapat ditempuh dengan mobil selingkung 30 menit dari ibu kota Rokan Mulut sungai, Bagansiapiapi.[42]

Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir telah mengantongi pembebasan pendirian Bandar Peledak (Bandara) Teluk Bano I dari Menteri Gabungan Republik Indonesia. Rencananya, tahun 2022 Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir akan berbuat pemaafan lahan yang akan dijadikan sebagai lokasi bandara dan puas tahun 2022 mendatang segera dilakukan pembangunan bandara yang terwalak di Kecamatan Bangko Pusako.[43]

Pelabuhan laut yang akan digunakan untuk terminal kargo dan penumpang juga akan dibangun di rantau Sungai Rokan di kawasan perkantoran Gangguan Enam Bagansiapiapi. Pembangunan pelabuhan laut ini diharapkan boleh merangsang masuknya investor ke Kabupaten Rokan Kuala buat menanamkan terpangkal di wilayah yang kaya akan migas, iwak, hasil perladangan serta perkebunan setelah melihat tersedianya bervariasi sarana dan prasarana di kabupaten yang berjuluk “Daerah Sewu Kubah” ini.[44]

Moda transportasi yang lazim dijumpai di Bagansiapiapi yakni becak dayung, kereta angin dayung, dan pit motor. Becak motor (angkong mesin) waktu ini sekali lagi telah bisa dijumpai di Bagansiapiapi. Sedangkan oto dapat dijumpai n domestik jumlah yang sedikit.

Start musim 2022, plang keunggulan kronologi nan ada di daerah tingkat Bagansiapiapi menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Arab Melayu, dan bahasa Mandarin sehingga menambah keunikan dan ciri khas kota Bagansiapiapi yang siapa lain dimiliki kota lainnya di Indonesia.

Pembangunan Kawasan Batu Heksa- Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sumur]

Sebutan “batu” yaitu satuan ukuran jarak nan lazim dipergunakan oleh individu Jawi, di mana ukuran sebenarnya sepadan dengan ukuran mil/pal (1,5 – 1,6 km). Khusus dalam konteks Distrik Batu Enam Bagansiapiapi ini, satuan rayuan di sini ukurannya kurang kian setara 1 kilometer. Jadi Kawasan Batu Heksa- Bagansiapiapi merupakan satu provinsi yang terletak abnormal lebih 6 kilometer dari pusat kota lama Bagansiapiapi.

Kewedanan Bisikan Heksa- Bagansiapiapi dibangun dan dikembangkan makanya Bupati Rokan Muara, H. Annas Ma’mun, bikin menjadi pokok pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir dan pusat bisnis perdagangan. Kawasan Batu Enam ini mulai dibangun secara berantara sejak perian 2008. Di Kawasan Bencana Enam Bagansiapiapi terwalak Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Rokan Estuari, Bangunan Purna MTQ dan beberapa museum di antaranya Museum Rekaman Rokan Hilir, Museum Muslim, Museum Tionghoa, dan Museum Lauk. Di samping itu, bundaran Tugu Iwak juga bisa ditemukan di Kawasan Batu Enam ini yang menjadi jalur terdepan lalu lintas masuk dan keluar kota Bagansiapiapi.

Di tepian Sungai Rokan, tidak jauh pecah Kawasan Batu Heksa-, juga mutakadim dibangun Taman Pariwisata Budaya dan Water Boom.

Patung Dewi Kwan Im terbit material belek dengan panjang mencapai puluhan meter direncanakan akan berdiri menghiasi tepian Kali besar Rokan dengan posisi mendatangi ke arah laut. Patung Dewi Kwan Im, meski belum berada di Bagansiapiapi, merupakan hasil sumbangan bermula Gubernur Daerah Tersendiri Yogyakarta, Sri Kanjeng sultan Hamengku Buwono X. Patung Bidadari Kwan Im akan menjadi simbol harmoni kerukunan umat beragama di Bagansiapiapi khususnya dan Rokan Kuala rata-rata. Selain itu, keberadaan Reca Haur Kwan Im dapat menjadi daya tarik idiosinkratis buat meningkatkan sektor pariwisata di negeri berjuluk “Negeri Seribu Kubah” ini.[45]

Di samping itu, sejumlah proyek prestisius akan dibangun Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir di Distrik Batu Heksa- Bagansiapiapi, di antaranya Gedung Pramuka, Taman Pemuda, Kantor Wedana Rokan Hilir, Biro DPRD Rokan Hilir, rumah kantor serta sejumlah proyek lainnya, termasuk penyediaan lahan 10 hektare untuk Sekolah Penjaga keamanan Negara (SPN) dan persil 4 hektare bagi Markas Pol Air Riau.[46]

Pendidikan

[sunting
|
sunting sumber]

Publik Bagansiapiapi terlampau peduli pada pendidikan generasi cukup umur, baik pendidikan bahasa Inggris maupun Mandarin. Jauh sebelum pendidikan Mandarin diakui pemerintah, para koordinator pendidikan telah berangkat mengajarkan bahasa Mandarin yang saat itu masih dianggap menarung hukum.

Mendapat kepedulian terhadap pendidikan bahasa Mandarin ini, mayoritas mahajana Bagansiapiapi mahir berbudi Mandarin secara aktif, sehingga lampau membantu privat bersosialisasi di berbagai aspek detik ini.

Pangkat pendidikan formal yang tersedia di Bagansiapiapi dewasa ini sudah lalu sampai tingkat Perguruan Strata, di antaranya terdapat Kelas bawah Jauh Fakultas Keguruan dan Didaktik Universitas Riau dan Sekolah Hierarki Agama Islam Ar-Ridha.

Di Bagansiapiapi terdapat lembaga pendidikan kebangsaan yang mutakadim cukup tua yakni Yayasan Perguruan Wahidin, yang berubah status menjadi sekolah swasta kewarganegaraan sejak tanggal 09 September 1957. Semula Yayasan Perguruan Wahidin ialah sekolah Tionghoa dengan nama
Tiong Hoa Kong Ouk
(中華公學). Saat ini, Sekolah Yayasan Perguruan Wahidin adalah susuk pendidikan sahih terbesar di Bagansiapiapi.

Sementara sekolah Tionghoa lainnya,
Tah Tjong
(大眾) ditutup oleh pemerintah Orde Bau kencur setelah terjadinya Gerakan 30 September (G30S). Bangunannya diambil alih dan berubah menjadi SMP Negeri 1 Bangko. Ciri khas sekolah ini dengan dua patung raja hutan di kidal kanan pintu timbrung sampai sekarang masih bisa dilihat di SMP Distrik 1 Bangko.

Sekolah swasta lainnya di Bagansiapiapi di antaranya adalah Sekolah Methodist (Yayasan Perguruan Kristen Methodist Indonesia), Sekolah Medali Laut (Yayasan Prayoga Riau), Sekolah Konsisten Budi, dan Sekolah Muhammadiyah.

Pemrakarsa Bagansiapiapi

[sunting
|
sunting sendang]

  • Brigadir Jenderal TNI (Purn.) H. Arifin Achmad, Gubernur Riau periode 1966―1978
  • Annas Maamun, keluaran Bupati Rokan Hilir dan alumnus Gubernur Riau
  • Drs. H. Wan Thamrin Hasyim, lepasan Regen Rokan Mulut sungai dan mantan Gubernur Riau
  • Prof. dr. Tabrani Rab, pembina Yayasan Abdurrab dan penggagas Riau Merdeka
  • Aulia Sani, juru kebugaran jantung Indonesia
  • Karwandy Kwee (Kwee Tjoa Kwang), penyokong pergerakan kemerdekaan Indonesia[47]
    [48]
  • Sudarno Mahyudin, seniman dan budayawan[49]
    [50]
  • Anthony Hong, pembawa acara DAAI Mandarin dan Asia Kirana di DAAI TV
  • Sumi Nan, pembawa program MetroTV
  • Xiangyi Hong, pakar Feng Shui
  • Syech H. Oesman Sahabuddin (1883 – 1946) Pemrakarsa Agama,  Padri Distrik Bagansiapiapi yang diangkat maka dari itu Kesultanan Siak Sri Indrapura
    [butuh rujukan]

Galeri

[sunting
|
sunting sumur]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumur]

  • Sinaboi
  • Panipahan
  • Pulau Halang
  • Pulau Berkey

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Badan Kunci Statistik Kabupaten Rokan Mulut sungai, (2014),
    Rokan Hilir N domestik Angka, Hlm.7

  2. ^

    Badan Pusat Statistik Kabupaten Rokan Muara, (2014),
    Rokan Muara Dalam Kredit, Hlm.61

  3. ^

    PRO-ROKAN HILIR, (Sabtu, 24 Desember 2022),
    Bagansiapiapi Kota Terbersih Ke-2 Se-Riau, Riau Pos, hlm.26

  4. ^


    “Bagansiapiapi Kota Terbersih Se-Riau”. Riau Pos. 15 Agustus 2022. Diakses tanggal
    16 Agustus
    2022
    .





  5. ^

    Lucas Partanda Koestoro, Taufiqurrahman Setiawan, Suprayitno, Fitriaty Harahap, Ratna, Rita Margaretha Setianingsih, (2011),
    Penelusuran Arkeologi Dan Sejarah Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Negeri Riau, Balai Ilmu purbakala Medan, No.25 hlm.33

  6. ^

    Shanty Setyawati, (2008),
    Pasang Surut Industri Perikanan Bagansiapiapi 1898-1936, Fakultas Aji-aji Pengumuman Budaya-Universitas Indonesia, Bab II hlm.13

  7. ^

    John G. Butcher, (Oct., 1996),
    The Salt Farm and Fishing Industry of Bagan Si Api Api,
    Indonesia, Vol.62 hlm.92

  8. ^

    “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1999”,
    Wikisource, (diakses pada 20 Desember 2022)

  9. ^

    “DPR Semupakat Sahkan RUU Pembentukan 12 Daerah swatantra Bau kencur” Diarsipkan 2022-04-12 di Wayback Machine.,
    Portal Nasional RI, (diakses pada 22 Desember 2022)

  10. ^

    “DPR Sahkan Ibu kota Rohil Mengimbit ke Bagansiapiapi” Diarsipkan 2022-04-15 di Wayback Machine.,
    Riau Terkini, (diakses sreg 24 Desember 2022)

  11. ^

    Lucas Partanda Koestoro, Taufiqurrahman Setiawan, Suprayitno, Fitriaty Harahap, Ratna, Rita Margaretha Setianingsih, (2011),
    Penelusuran Ilmu purbakala Dan Rekaman Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Wilayah Riau, Balai Arkeologi Medan, No.25 hlm.33-34

  12. ^

    Syahnan Rangkuti, (Jumat 27 Juni 2008),
    Terima Anugerah Dewa Laut, Kompas, hlm.54

  13. ^

    De Indische Mercuur, 51, No.14, 1928:259,
    Bagan Si Jago merah Api de Tweede Vischstad der Wereld

  14. ^

    Shanty Setyawati, (2008),
    Pasang Surut Industri Perikanan Bagansiapiapi 1898-1936, Fakultas Guna-guna Informasi Budaya-Perserikatan Indonesia, BAB I hlm.2

  15. ^

    Martinus Nijhoff, (1935),
    Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie (ENI) VII, hlm.1362
  16. ^


    a




    b



    Shanty Setyawati, (2008),
    Pasang Surut Pabrik Perikanan Bagansiapiapi 1898-1936, Fakultas Ilmu Amanat Budaya-Universitas Indonesia, BAB I hlm.3

  17. ^

    ANRI, MVO de Reel 16, (30/8/1934),
    Memorie van overgave van de onderafdeeling Bagan Sang Api Jago merah

  18. ^

    Neli Triana, (Rabu, 24 Agustus 2005),
    Cahaya Kunang-kunang Meredup di Bagansiapiapi, Kompas, hlm.36

  19. ^

    Orin Basuki, (Kamis, 9 Oktober 2003),
    Ketika Iwak Sekali lagi Mulai Menjauh, Kompas, hlm.33

  20. ^

    Neli Triana, (Senin, 11 Juli 2005),
    Ketika Bagansiapiapi Meredup, Kompas, hlm.35

  21. ^

    “Dok Kapal Terbesar di Indonesia Gulung Tikar” Diarsipkan 2022-07-15 di Archive.is
    Detikcom, (diakses pada 19 Desember 2022)

  22. ^

    Neli Triana, (Paru-paru 24 Agustus 2005),
    Sorot Kunang-kunang Meredup di Bagansiapiapi, Kompas, hlm.36

  23. ^

    P.N. van Kampen, (1909),
    Aanteekeningen omtrent de Visscherij van Sumatra en Riouw, Mededeelingen an het Visscherij-Station te Batavia 3, hlm.8

  24. ^

    J.L.Vleming Jr., (1926),
    Het Chineesche Zaken-Laven in Nederlandsch-Indie, Wetevreden:Landsdrukkerij, hlm.234

  25. ^

    Temu ramah dengan Sudarno Mahyudin, Juli 2007, (Jumat 3 Maret 2000),
    Kakek Wang Sang Luku Laut Lanjut umur dan Ao Ke (Kakek moyang Yang Terhormat), Buku harian Indonesia, hlm.3

  26. ^

    Shanty Setyawati, (2008),
    Pasang Surut Industri Perikanan Bagansiapiapi 1898-1936, Fakultas Mantra Publikasi Budaya-Perguruan tinggi Indonesia, Gapura II hlm.19

  27. ^

    Kong Yuanzhi, (2005),
    Silang Budaya Tiongkok Indonesia, Bhuana Ilmu Terkenal, hlm.407

  28. ^

    “Peta Bagansiapiapi”
    Google Maps, (diakses pada 20 Desember 2022)

  29. ^

    “Profil Kabupaten Rokan Hilir” Diarsipkan 2022-12-21 di Wayback Machine.
    PON RIAU 2022, (diakses pada 20 Desember 2022)

  30. ^

    “Industri Kapal Kayu Mulai Kumat Kembali” Diarsipkan 2022-06-09 di Wayback Machine.,
    Riau Pos, (diakses pada 12 Desember 2022)

  31. ^

    “Bagansiapiapi Miliki 900 Usaha Walet” Diarsipkan 2022-03-04 di Wayback Machine.,
    Riau Pos, (diakses puas 28 Agustus 2022)

  32. ^

    “Imlek 2561, Indonesia Tanah Airku” Diarsipkan 2010-05-28 di Wayback Machine.,
    MetroTV, (diakses plong 19 Desember 2022)

  33. ^

    “Bakar Tongkang Bakal Sedot 30.000 Wisman”,
    Niaga.COM, (diakses pada 20 Desember 2022)

  34. ^

    “Ritual Bakar Tongkang Masuk Destinasi Tamasya Dunia”,
    Mediacenter.riau.go.id, (diakses puas 23 Juni 2022)

  35. ^


    “Tertua Kedua di Indonesia, Kantor Cabang BRI Bagansiapiapi Berulang Tahun ke-119”. Riau Terkini. 16 Desember 2022. Diakses tanggal
    30 Maret
    2022
    .





  36. ^

    “Diresmikan Bupati Rohil, BNI Buka Kantor Kas Baru Bagansiapiapi”
    Antara Riau, (diakses lega 01 April 2022)

  37. ^

    “Pemkab Rokan Hilir Ajak BSM Makara Mitra” Diarsipkan 2022-12-02 di Wayback Machine.
    Bank Syariah Mandiri, (diakses pada 19 Desember 2022)

  38. ^

    Badan Kiat Perangkaan Kabupaten Rokan Hilir, (2014),
    Rokan Hilir Privat Angka, Hlm.63

  39. ^

    “Wedana Resmikan 2 Ikon Rohil Titian Padamaran I dan II”,
    Antara Riau, (diakses sreg 22 Juni 2022)

  40. ^

    Cak membela-Rokan Hilir, (Kamis, 23 Juni 2022),
    Sirat Pedamaran Penghubung Jalan Pesisir, Riau Pos, hlm.34

  41. ^

    Syahri Ramlan, (Kamis 19 Juni 2008),
    Semata-mata Tiga Jam Sebatas di Kawasan Setangga, Riau Pos, hlm.39

  42. ^

    “Tim Pusat Telah Cak bagi Survey” Diarsipkan 2022-01-29 di Wayback Machine.,
    HalloRiau, (diakses pada 19 Desember 2022)

  43. ^

    “Pemkab Kantongi Izin Pembangunan Bandara Teluk Bano “,
    HalloRiau, (diakses pada 23 Agustus 2022)

  44. ^

    “Rokan Ambang Cak bagi Miliki Pelabuhan Kargo”,
    ANTARA Riau, (diakses sreg 02 Desember 2022)

  45. ^

    “Patung Dewi Kwan Im Hiasi Tepian Kali besar Rokan” Diarsipkan 2022-11-21 di Wayback Machine.,
    HalloRiau, (diakses pada 08 September 2022)

  46. ^

    “Rohil Mulai Sejumlah Proyek Mengesankan di Godaan Heksa-“,
    Riau Terkini, (diakses pada 08 September 2022)

  47. ^


    Leo Suryadinata (2015).
    Prominent Indonesian Chinese – Biographical Sketches 4th Edition. Yusof Ishak Institute. hlm. 90. Diakses tanggal
    10 Desember
    2022
    .





  48. ^


    Drs. Sam Setyautama (15 Agustus 2008).
    Pencetus-dedengkot kesukuan Tionghoa di Indonesia. hlm. 153. Diakses tanggal
    10 Desember
    2022
    .





  49. ^


    “Sudarno Mahyudin”. Sagang Online. 7 Desember 2009. Diarsipkan mulai sejak versi jati sungkap 2022-07-08. Diakses tanggal
    9 Desember
    2022
    .





  50. ^



    Buku Anugerah Seni 2007 Dewan Kesenian Riau. Dewan Kesenian Riau. 17 Mei 2009. hlm. 26-27.




Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Mengenal Lebih Dempang Bagansiapiapi
  • Profil Singkat di Situs Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir
  • “Terima kasih Dewa Laut” Diarsipkan 2008-07-01 di Wayback Machine., Kompas, 27 Juni 2008 – Artikel akan halnya sejarah Bagansiapiapi
  • DAAI Mandarin 大愛與您分享 Jejak Tionghoa di Bagansiapiapi



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Bagansiapiapi_(kota)