Pelajaran Tik Di Smp Apakah Masih Ada

Menindaklanjuti pertanyaan berikut dari koteng rekan blogger.

  1. Apakah sudah terserah standar nasional akan halnya kurikulum TIK? Jika ada, apakah sudah diterapkan? Sejak kapan?
  2. Di mana saya dapat memperoleh kurikulum TIK tersebut?
  3. Saya baca di blog Ibu bahwa TIK menjadi cak bimbingan mulok nan artinya terampai kebebasan tiap sekolah. Mengapa?
  4. Kira-kira berapa persen sekolah nan di bandung yang telah mengimplementasikan latihan TIK?
  5. Jika di suatu sekolah mutakadim mengimplementasikan pelajaran TIK, apakah masih diperlukan ekstrakurikuler TIK? Kira-nyana materi barang apa yang dapat disampaikan di ekskul TIK tersebut?

Berikut ini ialah bilang jawaban nan bisa saya berikan. Maaf sebelumnya saya tidak turunan yang bertindak langsung di lingkungan diknas. Untuk itu jawaban ini hanya sampai pengetahuan saya. Mudahmudahan informasi yang didapat bertambah valid agar coba turut ke situs puskur di sini.

Alasan saya memintal untuk menuliskan di blog, dengan intensi jika terserah informasi yang saya berikan salah dapat diluruskan makanya yang lain. Selain itu saya karuan mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat terbit rekan lainnya, bukan? 🙂

  1. Tolok nasional lakukan kurikulum TIK SD unjuk periode 2004 dengan KBK nya (Kurikulum Berbasis Kompetensi).  Sebelum KBK diterapkan, di lapangan sudah banyak sekolah yang memasukkan komputer sebagai pelajaran ekstrakurikuler terlazim atau mulok (muatan tempatan). Cak bagi materi pelajarannya koteng bebas. Belum cak semau transendental standar. Nan saya tahu banyak sekolah menggunakan software-software permainan yang banyak dijual adil. Pasca- munculnya KBK banyak sekolah yang mulai menerapkan penelaahan TIK dengan mengacu pada isi kurilum 2004.
  2. Kurikulum TIK bisa didapat di situs puskur. Pembahasan yang bertambah lengkap bisa dibaca di sana.
  3. Nan ini mungkin ceritanya terka tinggi. KBK ataupun kurikulum sebelumnya dikembangkan oleh pemerintah. Jadi, guru tinggal menjalankan. Kondisi ini dikarenakan pada perian itu sesuai dengan sistem pemerintahan kita yang sentralistik (Terpusat). Kemudian Indonesia memasuki era reformasi, yang artinya pengelolaan pemerintah menjadi desentralisasi, berupa kedaulatan daerah dan otonomi sekolah. Sehingga kurikulum tak relevan dengan kondisi yang suka-suka. Untuk itu dikenalkan KTSP, dengan harapan nantinya, kemudian hari, maka temperatur dan instansi tersapu dapat berekspansi kurikulum, dengan mengintai potensi yang terserah pada masing-masing negeri. Sayangnya, masih banyak basyar yang pesimis melihat kemungkinan ini karena berbagai alasan. Untuk itu maka bilang les teradat masih diberikan gambaran pecah KTSP maka itu pokok. Semata-mata kurikulum yang suka-suka ini enggak tertuju pada silabus nan diberikan oleh pusat. Guru malar-malar diperbolehkan dan diharapkan bikin menambah beberapa indikator nan ada di silabus. Yah, perubahan memang tak dapat cepat, bukan? Semuanya perlu proses. Bikin TIK SD sendiri mana tahu pemerintah  mengawasi bahwa infrastruktur di berbagai daerah belum merata, seperti sarana dan prasarana nan tinggal dibutuhkan dalam pembelajaran TIK. Ini terlihat dari hilangnya KTSP TIK kerjakan SD. Jika ain les enggak tetap memiliki standar minimal bersumber anak kunci maka bisa jadi TIK (karena dianggap baru lahir maka kian mudah untuk beradaptasi). Ini hanya perkiraan saya lho :).
  4. Wah, saya belum pernah berbuat survey nih.
  5. Itu tergantung kebijaksanaan berasal pihak sekolah. Kalaupun ingin diadakan tentu semata-mata materi pembelajarannya harus berbeda.

Hmm, jawabannya tingkatan juga ya? :). Mudah-mudahan sepan berkenan. Jika ada kesalahan saya mohon dimaafkan. Dan sekiranya terserah komplemen atau informasi yang bertambah tepat dan sempurna harap kiranya rekan-rekan lain bersedia menuliskannya di sini. Syukur.



Source: http://learning.enggar.net/kurikulum/kurikulum-tik-sd/