Makalah Abu Bakar As Siddiq

Perkenalan awal PENGANTAR


Dengan menyebut segel Allah swt. Nan Maha Penyayang pun Maha Penyayang, kami panjatkan sembah dan puji terima kasih atas kesediaan-Nya yang sudah lalu menumpahkan rahmat serta rahmat-Nya, sehingga kami bisa menyelesaikan pembuatan makalah dengan kop “Perkembangan Islam Masa Khalifah Abu Bakar”.


Referat ini telah kami susun semaksimal mungkin serta sudah lalu berbahagia pertolongan terbit berbagai pihak yang berguna bikin kelajuan pembuatan makalah. Buat itu, kami sampaikan banyak peroleh rahmat pada semua pihak nan mutakadim berkontribusi baik secara langsung ataupun bukan langsung dalam pembuatan referat kami.


Tanggal bermula semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terletak kesuntukan baik pecah segi susunan kalimat maupun isi serta kelengkapannya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menyepakati segala bentuk kritik serta saran yang membangun dari pembaca kontan. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat untuk pembaca simultan, Amiin.

Yogyakarta, April 2022

Penyusun

DAFTAR ISI

Perkenalan awal PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

Bab I PENDAHULUAN

1

1.1
Permukaan Bokong
1

1.2
Rumusan Kebobrokan

1

1.3
Tujuan Penulisan

1

BAB II PEMBAHASAN
2

2.1 Serdak Bakar menjadi khalifah
2

2.2 Strategi Serdak Bakar sebagai khalifah
2

2.3 Urut-urutan Islam periode Abu Bakar

6

Gerbang III Intiha

7

3.1 Kesimpulan

7

Daftar bacaan

8

Pintu I

PENDAHULUAN

1.1
Rataan Pantat

Tepung Bakar Ash-Shiddiq merupakan sahabat Nabi yang menjadi salah satu orang yang mendapat gelar Asabiqunal Awwalun yaitu orang-hamba allah yang pertama kelihatannya timbrung Islam. Beliau juga mendapat habuan gelar Ash-Shiddiq lantaran anda lah turunan nan menyungguhkan kejadian Isra’ dan Mi’raj Rasulullah.

Sesudah pengangkatan Serdak Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah, umat islam berbintang terang atasan baru nan menata segala permasalahan kehidupan. Di masa pemerintahan beliau terdapat sejumlah keadaan terdepan sebagaimana munculnya rasul ilegal, pertentangan kerjakan mengecualikan zakat dan sebagainya.

Jilatan dan pembangkangan yang ada dapat ditangani beliau dengan baik. Bahkan kekuasaan Selam tetap tumbuh pada masa pemerintahan anda sungguhpun banyak kendala dan rintangan menghampari era kekhalifahan beliau.

1.2
RUMUSAN MASALAH

Berpunca jabaran diatas boleh disimpulkan rumusan masalah seumpama berikut:

1. Bagaimana awal Abu Bakar menjadi khalifah?

2. Apa kebijakan yang dilakukan Abu Bakar bak khalifah?

3. Bagaimana akhir rezim Abu Bakar?

1.3
TUJUAN PENULISAN

Adapun pamrih pembuatan kertas kerja ini adalah andai berikut:

1. Mengetahui prosesi pengangkatan Duli Bakar sebagai khalifah.

2. Mengetahui kebijakan yang dilakukan Abu Bakar momen menjabat laksana khalifah.

3. Mengetahui penutup pemerintahan Bubuk Bakar sebagai khalifah permulaan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 AWAL ABU BAKAR MENJADI KHALIFAH

Nama Abu Bakar ialah Abdullah bin Utsman, kecuali apa yang diriwayatkan maka itu Ibni Sa’ad bersumber Anak laki-laki Sirin yang mengistilahkan beliau bernama Atiq.  Banyak perdebatan bagaimana Abuk Bakar mendapatkan gelarnya dan apa sebabnya, cak semau yang menyatakan bahwa ia diberi gelar karena ketampanannya, karena kebersihan zuriat keturunannya dimana diantara nenek moyangnyna tidak terserah yang mengerjakan ragam tercacat, dan yang bukan mengatakan bahwa Abu Bakar mendapatkannya karena engkau merengkuh keabsahan pertama kali.

Debu Bakar dilahirkan 2 periode 2 bulan setelah kelahiran Rasulullah, atau seperti yang dinyatakan maka dari itu Anak lelaki Hajar, Abu Bakar dilahirkan dua tahun heksa- rembulan selepas tahun Gajah.  Ayahnya bernama bernama Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab kacang Sa’ad bin Taim kacang Murrah polong Ka’ab bin Luay kacang Ghalib Al-Quraisyi At-Tamimi.

Setelah meninggalnya Rasulullah terjadi kekesalan kepemimpinan di halangan kaum muslimin. Berkenaan dengan pemindah dia sebagai bos rezim di Madinah, Rasulullah tidak meninggalkan wasiat maupun wanti-wanti kepada kaum muslimin. Perselisihan tidak terjadi di Saqifah, yaitu balai pertemuan Bani Sa’idah. Disana kaum Anshar hendak mengangkat Sa’ad bin Ubadah andai pemindah Rasulullah. Maka pergilah Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah ke balairung pertemuan tersebut.

Terjadilah perdebatan nan sengit disana, per keramaian mengajukan calon khalifah dan mengklaim bahwa favorit mereka nan paling berhak atas kekhalifahan. Calon-favorit tersebut ialah: Abu Bakar, Ali kedelai Abi Thalib dan Sa’ad bin Ubadah.  Terjadi perdebatan nan alot, kemudian Abu Bakar menwarkan dua tokoh Quraisy bakal dipilih bak khalfah yakni: Umar bin Khattab alias Tepung Ubaidah kacang Jarrah. Serdak Bakar mengajukan calon tersebut demi menjaga keutuhan ummah dan menghindari perseteruan lama antara suku Aus dan Khazraj.

Kaum Anshar terhibur dengan pendapat Abu Bakar. Umar yang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut menggotong tangan Abu Bakar dan membaiatnya serta menyatakan kesediannya sebagai khalifah. Hal tersebut diikuti makanya Abu Ubaidah, kemudian seluruh kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikuti pertemuan di Saqifah Bani Saidah.

Terdapat dua faktor yang melambari terpilihnya Abu Bakar, pertama, menurut pendapat umum nan ada sreg saat itu, khalifah haruslah pecah dari kaum Quraisy. Kedua, sahabat sependapat dengan keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar; ia suatu-satunya sahabat yang menemani perpindahan Nabi, ia buruk perut ditunjuk Rasul lakukan mengimami shalat ketika kamu uzur, kamu keturunan bangsawa, cerdas dan berakhlak mulia.

Andai khalifah, Abu Bakar mengalami dua mungkin baiat, permulaan ketika berada di Saqifah Bani Sa’idah, yang dikenal dengan Baiat Khassah. Kedua, di Masjid Nabawi nan dikenal dengan Baiat Jamaah.  Ketika di baiat di Masjid Nabawi, Umar mendahuluinya bikin berpidato, mengucap terima kasih kepada Yang mahakuasa dan menyeru kabilah muslimin untuk menyatakan baiat kepada Abu Bakar.  Abu Bakar kemudian menjadi khalifah pengganti Rasulullah yang dipilih secara demokratis oleh kaum muslimin.

2.2 KEBIJAKAN ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH

Dalam masa pemerintahannya, Debu Bakar menempuh heterogen kebijakan-garis haluan dalam rancangan menjaga keutuhan suku bangsa muslimin, karena pasca wafatnya Rasulullah dekat seluruh kewedanan otoritas kaum muslimin mengalami pergolakan. Diantara strategi-kebijakan yang dilakukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah umpama berikut:

2.2.1 Kodifikasi Al-Qur’an intern satu mushaf

Di periode ke dua belas Hijriah terletak tujuh desimal penghafal Al-Qur’an terbit sahabat yang gugur sebagai syuhada pada Perang Yamamah.  Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan dalam Perang Riddah jumlah penghafal al-Qur’an yang terbunuh mendatangi ponten 700 spirit.

Kejadian ini kemudian membuat Umar mendesak Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Hal tersebut dilakukan karena Umar khawatir Al-Quran akan hilang, terutama takdirnya terjadi persabungan lain seperti perang-perang sebelumnya yang menewaskan para penghafal Al-Qur’an. Selain itu, dalam pandangan Umar, seandainya Al-Qur’an ditulis dan dihimpun, ia akan terjaga dan tidak ki terdorong secara serempak oleh arwah alias matinya para penghafal.

Awalnya Debu Bakar memurukkan usulan ini karena peristiwa tersebut tidak perkariban dicontohkan Rasulullah ketika masih hidup. Setelah mendiskusikannya, Abu Bakar setuju cak bagi membukukan Al-Qur’an dengan Zaid polong Tsabit yang ibarat hamba allah yang bertanggung jawab atas tugas ini. Seleksi Zaid sendiri dikarenakan ia seorang yang kedudukannya nan baik dalam masalah qiraat, kemampuan privat kebobrokan penulisan, pemahaman dan kecerdasannya.

Tepung Bakar menginstruksikan Zaid agar tidak menerima ayat Al-Qur’an sebatas disaksikan maka dari itu dua orang. Zaid bin Tsabit mengembangkan ketentuan tersebut menjadi tiga, yaitu: Pertama, ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit dua orang. Kedua, harus ada dalam bentuk tertulisnya (di bisikan, sumsum, kulit dan bentuk lainnya). Ketiga, untuk yang tertulis, paling bukan harus ada dua individu saksi nan melihat saat dituliskannya.

Mushaf nan sudah dikumpulkan oleh Serdak Bakar disimpannya sampai wafat, kemudian disimpan Umar. Ketika Umar meninggal, mushaf disimpan oleh Hafsah gadis Umar yang mendapatkan wasiat cak bagi wakaf peninggalan ayahnya. Mushaf tersebut kemudian diambil Usman bin Affan dimasa jabatannya perumpamaan khalifah untuk ditulis ulang dan disebarkan di bilang wilayah pengaruh Islam.

2.2.2 Memberantas Suku bangsa Cak durhaka

Sehabis mortalitas Rasulullah beberapa suku melakukan tindakan yang menyeleweng bersumber agama Islam, salah satunya adalah celih membayar zakat yang menjadi pikulan kaum muslimin. Sebelum Bubuk Bakar membawa pasukan cak bagi menumpas mereka, lebih dahulu Serdak Bakar mengirimi surat kepada golongan ataupun orang-turunan nan menyeleweng tersebut.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa ada kegelapan-ketaksaan nan timbul kerumahtanggaan pikiran mereka, serta diserukan kepada mereka agar kembali kepada ajaran Islam. Diperingatkan pula, apa akibat yang akan terjadi sekiranya mereka masih ki ajek dalam kesesatan itu.

Kaum yang tidak berkenan mengupah zakat adalah Bani Abs, Bani Murrah, Bani Dzubyan, dan Ibni Kinanah.  Mereka menganggap bahwa pengutipan zakat nan dilakukan oleh Utusan tuhan saja yang dapat menjernihkan dan menghapuskan kesalahan-kesalahan pembayar zakat. Peristiwa ini terjadi karena salah menafsiran salah satu ayat yang berkenaan zakat (Surat Al-Taubah ayat 103).

Tepat pada bulan Jumadil Akhir 11 H Abu Bakar mengerahkan seluruh penduduk Madinah dan para perbatasan bakal menyerbu orang-orang Arab yang murtad sekeliling Madinah. Bantahan ini dikenal dengan nama Perang Riddah. Perang Riddah diprioritaskan terhadap orang-bani adam yang enggan membayar zakat.

Akhirnya, hasil dari resistansi itu suku bangsa Muslimin kembali membayar zakat setelah kesuksesan yang didapatkann di Dzil Qishshah. Pada lilin batik harinya dari setiap kaum menginjak berdatangan ke Madinah. Yang pertama kali yang membayar zakat yakni Safwan dan Zabriqan, pemimpin-pembesar Banu Tamim, Adi Polong Hatim Al-Ta’i pecah kabilah Tayyi’, maka kota Madinah pun di penuhi harta zakat.

2.2.3 Membasmi Nabi Bawah tangan

Enggak berapa lama setelah  Rasulullah wafat, munculanlah makhluk-orang nan mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi. Beberapa diantara mereka telah mendeklarasikan diri ibarat nabi sejak Rasulullah masih umur dan sebagiannya muncul sehabis mendengar beliau sudah waat. Sebagian nabi ilegal tersebut adalah penggagas-penggerak dari beberapa suku yang belum bisa menerima Selam (non Muslim), akan doang berusaha meniru atau menyaingi kesuksesan suku bangsa muslimin.

Pertama, Musailamah al- Kadzdzab. Ia memiliki pasukan sebesar 40.000 orang. Musailamah yakni induk bala cendekiawan nan terpandang didalam lingkungan Anak lelaki Hanifah yang menghuni wilayah Yamamah.  Serbuk Bakar mengirimkan barisan dibawah Panglima Ikrimah polong Amru bin Hisyam, yang disusuli oleh pasukan simpanan dibawah pimpinan Panglima Syarhabil kacang Hasanah.

Selanjutnya armada bantuan bukan menyusul yang terdiri bersumber atas kaum Muhajirin dan Anshar yang dipimpin makanya Khalid kacang Walid. Musailamah nan mengetahui hal tersebut kemudian menuju Wadial Aqraba, sebuah tempat perlintasan bagi perantau Basrah bersama seluruh pasukannya. Majat bin Mirarat, tokoh nan dihormati di kalangan Bani Hanifah takhlik regu pengakapan dan menyelidiki gerak-gerik kaum muslimin atas dasar belas dendam terhadap sekutu mereka, Bani Amir. Regu tersebut berakibat disergap maka dari itu pasukan Khalid dan selain Majat dihukum mati karena tidak ingin berbaiat kepada Serbuk Bakar sebagai khalifah.

Pertempuran ki akbar pecah keesokan harinya. Musailamah yang akhirnya terdesak melrikan diri ke Al-Hadikat, yaitu provinsi miliknya yang dilingkari tembok nan janjang. Khalid kemudian mengepung wadah itu, Al-Barrak keseleo suatu pasukannya meminang bakal dilemparkan ke privat dan menelanjangi gerbang. Angkatan muslim menyerbu, Khalid yang khawatir akan jatuhnya korban ki akbar di kedua belah pihak berseru dan menantang Musailamah mengamalkan perang tanding.

Musailamah sendiri sebenarnya sudah lalu tewas ditangan Wahsyi yang buru-buru menyerukan tahmid. Perbangkangan berakhir dengan jumlah target dan harta jarahan nan besar. Dengan kekalahannya, tungkai Hanifah segera berbalik dan menggotong baiat terhadap Debu Bakar.

Kedua, Sajjah Tamimiyah. Sajjah adalah seorang wanita nan berasal dari suku samudra Tamim. Dia menyanggupi sebagai nabi sesudah mendengar Rasulullah meninggal dunia.  Sajjah ialah keseleo satu pemuka suku Tighlab, kemudian ia melakukan sekutu dengan Malik kacang Nuwaira nan kemudian menghimpun barisan yang cukup segara.

Kemudian ia menggabungkan diri dengan Musailamah, beberapa kitab mengatakan bahwa Musailamah dan Sajjah melakukan akad nikah.  Kemudian dibuat persyaratan dimana hasil wilayah Yamamah dibagi menjadi dua tiap tahunnya, andai imbalannya kedua pasukan harus bergabung bagi menghadapi pasukan dari Madinah.

Ketiga, Al-Aswad al-Ansi. Nama aslinya adalahAbhalah bin Ka’ab bin Ghautsal-Ansi, dari negeri nan dikenal dengan nama Kahf Khubban.  Anda bersedia dan menerima dirinya seorang utusan tuhan ketira Rasulullah hendak wafat dan seluruh tungkai Mazhaj mempercayainya. Aswad menyerang Najran dan berhasil mendudukinya beserta wilayah sekitarnya.

Aswad sendiri kesannya dibunuh panglimanya, Kais Anak laki-laki Abdi Yaguts. Kemudian ia menindihkan dan menindas bilang kaum di area Yaman. Sinuhun Firuz, salah suatu penasihat San’a yang dikuasi oleh Kais meminta pertolongan di Madinah karena hendak dibunuh. Pasukan Ikrimah yang datang dari wilayah Mahra dan pasukan Bani Ummayah bersumber Madinah mengepung San’a dan menyerbu timbrung ke dalam kota.

Kais sendiri kemudian ditangkap dan dikirim ke Madinah untuk dihadapkan dengan Abu Bakar. Kawasan tersebut kemudian kembali berbaiat kepada Serdak Bakar.

Keempat, Thualihah al-Asadi. Dalam suatu sejarah disebutkan bahwa dia adalah seorang pandai fikir dari tungkai ki akbar Asad dan kekuatannya diakui dan diterima maka itu suku besar Thai Ghathfan.  Pasukan Khalid kedelai Walid berangkat ke medan suku Thai Ghathfan, Murra dan Fezara yang menggabungkan diri dengan Thualihah, kemudian terjadilah pertarungan yang sengit.

Tentara Thualihah dihancurkan dan Thualihah koteng melarikan diri ke Syria. Ia kemudian memeluk Islam pula dan sempat umrah ke Mekkah ketika Abu Bakar masih menyambut. Abu Bakar hanya membiarkannya dan berkata, “Beliau sekarang seorang muslim, segala nan harus dilakukan?”

2.2.4 Ekspedisi Ke Asing Madinah

a. Wilayah Persia

Khalid polong Walid mendapatkan perintah lakukan menaklukan kawasan Persia maka dari itu Serbuk Bakar sekitar tadinya hari 12 H. Serdak Bakar juga mengapalkan armada nan dipimpin oleh Iyadh bin Ghanim yang mengepung distrik Persia Utara.  Saja di daerah Khawazdim pasuka Khalid dihadang oleh Hurmuz, salah satu tentara Persia yang kemudian berakibat dikalahkan oleh Khalid.

Berita kekalahan tersebut didengar oleh angkatan Persia nan berada di Azdasyir, yang kemudian berniat membalas kekhisitan. Mereka bertemu di lembah Tsaniy, di suatu kanyon dekat sungai di Basrah. Khalid berakibat menumpas pasukan tersebut dan mengirimkan seperlima ghanimah ke khalifah selepas membagikan catur perlimanya kepada legiun.

Di bulan Shafar 12 H, Raja Persia karenanya mendengar kekalahan pasukannya dan menghimpun tentara menuju Waljah. Salah satu kaum Arab, bergabung dengan bala Persia, adalah Bani Bakkar. Khalid berbuntut mengalahkan mereka, namun kekalahan Bani Bakkar menyulut kemarahan kaum Nasrani Arab dan mereka mengakhirkan bakal membantu kerajaan Persia memaki Islam.

Kaum Nasrani Arab meminta bantuan kepada kerajaan Persia. Di Ullais kedua keramaian bertemua dan menggabungkan kebaikan cak bagi menumpas kaum muslimin. Khalid berhasil mempercundang pasukan koalisi tersebut.

Berturut-timbrung pasukan Khalid berdampak menaklukan beberapa provinsi, yaitu: menaklukan Hirah dan membuat penduduk disana membayar Jizyah kepada khalifah, menaklukan Anbar ialah sebuah kota di got bengawan Eufrat di paksina Kuffah, menaklukan Tamr dan berhasil mengislamkan 40 pemuka agama Nasrani nan memahami injil, menaklukan Daumatul Jandal, dan terakhir di Furadh. Kemudian Abu Bakar memulai lakukan menaklukan kekaisaran Romawi.

b. Daerah Syam

Abu Bakar mengirimkan laskar yang dipimpin maka dari itu Usamah bin Zaid, pasukan yang dulunya hendak dikirim Rasulullah namun ditunda karena wafatnya beliau. Pasukan ini kemudian bergabung dengan pasukan lain lakukan menjadi bala gabungan nan bertambah besar guna mempersiapkan diri cak bagi menghadapi angkatan Romawi.

Di bulan Shafar masa 13 H, pasukan Romawi menghimpun diri di Damaskus. Seluruh bala Islam berkumpul di Yarmuk cak bagi mengahadapi pasukan Romawi. Pasukan Romawi berjumlah 240.000, padahal pasukan gabungan Islam berjumlah 39.000 hamba allah.  Kedua kubu antuk dengan sengit, pasukan muslim berbuntut memukul mundur pasukan Romawi. Korban banyak bertumbangan dan sebagian besar tenggelam di wai Yarmuk dan Waqushah.

Perang Yarmuk belum berakhir hingga khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan makanya Umar, yang kemudian memecat Khalid sebagai senapati dan digantikan maka itu Abu Ubaidah. Pasukan muslim berhasil memenangkan pertampikan tersebut.

2.3 Penutup PEMERINTAHAN KHALIFAH ABU BAKAR

Islam di waktu Abu Bakar berkembangan dengan baik dan titik api pada ekstensi wilayah dan penumpasan pemberontakan makanya suku-suku yang cak durhaka terbit Islam. Selain makin berkembangnya Islam, Madinah bak pusat pemerintahan menjadi kota nan lebih baik. Stabilitas negara bisa dikendalikan dengan laskar militer yang kuat dan teguh.

Abu Bakar kembali mewujudkan lembaga Stanza al-Mal, semacam kas negara ataupun tulangtulangan keuangan. Pengelolaannya diserahkan kepada Serdak Ubaidah sahabat nabi yang digelari Amin Al-‘Ummah. Khasiat Bait al-Khasanah ini ialah bagi mengurus pemasukan dan pengeluaran negara secara bertanggung jawab kelebihan terpeliharanya maslahat umum. Bait al-Substansi adalah pesiaran Halikuljabbar dan masyarakat kabilah muslimin. Karena itu, beliau tidak mengizinkan pemasukan atau pengeluarannya berlawanan dengan segala apa yang telah ditetapkan oleh syari’at.  Selain mendirikan Baitul Mal sira juga mendirikan lembaga kehakiman yang ketuanya diserahkan kepada Umar bin Khattab.

Abu Bakar memerintah plong 632-634 (11-13 H). Sejauh dua tahun tersebut kamu  menegakkah pemerintahan Madinah yang terancam keruntuhan. Beliau tidak cuma berhasil mengakurkan pula tungkai-kaki yang terpecah-pecah, sahaja juga berhasil mengislamkan suku-suku yang sebelumnya memusuhi Islam. Di hari ketujuh rembulan Jumadil Akhirusanah 13 H Abu Bakar menderita sakit panas sejauh 15 masa. Delapan perian sebelum berakhirnya wulan Jumadil Akhir, beliau meninggal manjapada.

Duli Bakar dimandikan istrinya, Asma’ binti Umais dan anaknya, Abudrrahman. Beliau dishalati, dipimpin maka dari itu Umar kedelai Khattab dan dikafani plong dua bajunya, sesuai wasiatnya. Abu Bakar meninggalkan di spirit 63 masa dan dimakamkan di dekat Rasulullah.

Bab III

Intiha

3.1 Deduksi

Debu Bakar merupakan salah koteng sahabat Nabi Muhammad saw nan paling dempet. Sesudah kematian Rasulullah, kaum muslimin membaiat Serdak Bakar sebagai penggantinya. Sebagai Khalifah Serdak Bakar memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai atasan agama (khalifah, bukan Rasul) sekaligus merangkap kepala negara.

Abu Bakar menjabat bagaikan khalifah selama dua tahun. Intern hari pemerintahan tersebut, ia melanjutkan misi ekspedisi Usama bin Zaid yang telah dipersiapkan Rasulullah pada musim hidupnya, mengambalikan kaum muslimin privat wangsit Islam yang ter-hormat dan memerangi kaum cak durhaka, mengumpulkan Alqur’an dalam suatu mushaf, dan mengirim armada ke Irak dan Syam untuk menyebarkan ajaran Selam.

Ketika sira menjabat sebagai khalifah, Tepung Bakar juga berbuah menaklukan imperium Romawi dan Persia sehingga Islam mampu menjadi sebuah negara osean yang diakui maka dari itu pemerintahan-pemerintahan di sekitarnya.

Pemerintahan Abu Bakar bubar momen beliau wafat, digantikan oleh Umar bin Khattab. Abu Bakar wafat di atma 63 tahun di bulan Jumadil Akhir. Kemudian Abu Bakar dimakamkan di sisi Rasulullah didalam kamar Aisyah.

DAFTAR Teks

Al-Quraibi, Ibrahim (Faris Khairul, penj). 2009. Sanat Khulafa’.  Qisthi Press: Jakarta

Dahlan, Muh. 2022.  Kontribusi Abu Bakar terhadap perkembangan Islam. Jurnal Rihlah UIN Alauddin Makassar Vol. 4

Imam As-Suyuthi (Samson Rahman, penj). 2003. Tarikh Khulafa’. Bacaan al-Kautsar: Jakarta

Nasrudin. Mei 2022. Sejarah Penulisan Al-Qur’an: Analisis Antropologi Budaya, Jurnal Rihlah UIN Alauddin Makassar Vol. 2

Rahmatullah, Muhammad. 2022. Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq. Surat kabar Khatulistiwa IAIN Pontianak Vol. 4

Sou’yb, Yusuf. 1979. Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang: –

Suhud , Moh. Abu. Juli-Desember 2008. Problematika Dakwah Privat Khalifah Tepung Bakar Ash-Shiddiq dan Upaya Mengatasinya, Jurnal MD Vol. 1 No. 1

Source: http://makalahirfan.blogspot.com/2019/08/khalifah-abu-bakar-ahs-shiddiq.html