Khotbah Mazmur 150 1 6


(KANTATE: BERNYANYILAH / RENDELAH)


Invocatio
: Dan segala apa sesuatu nan beliau lakukan dengan mulut atau polah, lakukanlah semuanya itu dalam logo Tuhan Yesus, sambal mengucap syukur oleh Anda kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)


Bacaan

: Nubuat 15:1-4


Pidato
: Mazmur 150:1-6


Tema
: “Semua yang Bernafas Pujilah TUHAN”



(B.Karo: “Kerina Sang Erkesah Muji Dibata)




I.






Pendahuluan

Uri yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, setiap waktu kita merayakan minggu nan disebut Kantate yaitu pekan untuk mengingatkan atau mengajak setiap umat menyanyikan alunan yunior kerjakan TUHAN
(Cantate Domino Canticum Novum). Nyanyian tentang kasih Allah yang tidak berkesudahan di dalam usia kita. Kasih yang sudah lalu dinyatakan kerumahtanggaan pengorbanan Yesus Kristus lakukan keselamatan umat individu, keselamatan dunia ini. Menerobos rahmat itu kita telah dipersatukan menjadi umat TUHAN nan baru. Di dalam persekutuan itu juga kita dimungkinkan kerjakan membagi ‘buah’ yang baik dalam kehidupan kita. Lebih lagi dalam kondisi Pandemic Covid-19 nan masih mempengaruhi setiap aspek umur kita saat ini. Inilah yang menjadi inti kerap kali kita merayakan pekan Kantate.


II. Pembahasan Teks

Perikop Firman Sang pencipta Mazmur 150:1-6 merupakan Mazmur buncit dari kumpulan kitab Mazmur Haleluya (Psl. 146-150) dan pasal intiha dari rangkaian kitab Mazmur. Sungguhpun Mazmur 150 tidak menyebutkan tera penulisnya tapi Mazmur ini diyakini sebagai karangan Daud.




Mazmur 150:1-6 ini sebuah tempik beribadah kepada orang-anak adam Israel bakal memuji Sang pencipta. Panggilan tersebut bukanlah kerjakan pribadi saja, doang ajakan lakukan banyak pribadi, dan tentunya yaitu manusia-orang Israel. Dan kebiasaan ibadah ini dilakukan di Bait Murni Yerusalem.
Dalam kitab Mazmur kata ‘Haleluya’ (Pujilah TUHAN) selalu diulangi/doksologi. Haleluya pada kata pembuka dan penutup (pasal 106; 113; 135; 150) dan hanya menuliskan prolog ‘Haleluya’ pada perkenalan awal pembuka saja (pasal 111; 112) atau akhir (pasal 116). Adanya pengulangan kata ‘Haleluya’ privat kitab Mazmur menjelaskan bahwa saja Tuhan-lah yang layak dipuji. Allah yang kudus, menyelesaikan cakrawala, yang perkasa dengan segala kebesaranNya. Dan pujian itu dilakukan dari segala yang terserah pada diri setiap orang beriman/umat-Nya. Melalui segala aspek hayat umat-Nya pas menghormati TUHAN.

Internal perikop ini ada 13 kelihatannya perintah bagi memuji Almalik (Haleluya 2x, Pujilah Almalik 1x, Pujilah Sira 9x, Mumuji TUHAN 1x). Memuji TUHAN di ajang nirmala-NYa (Bait Suci Yerusalem) dan Lengkung langit-Nya yang kuat atau alam (luar panggung ibadah) (ayat 1). Dan umat memuji TUHAN karena segala keperkasaan-NYa dan karena ketinggian-Nya nan hebat (ayat 2). Penghormatan kepada TUHAN dilakukan dengan melibatkan berbagai alat music dan ditiup mengunakan nafas dan di petik dengan jemari, dan tari-tarian nan mengikutsertakan seluruh tubuh (3-5):








dengan tiupan sangkakala
– gambus dan kecapi








redap dan tari-tarian
– permaianan dandi dan suling








ceracap yang berdentang
– ceracap yang berdentur

Internal ayat 6 jelas sekali nan diminta memuji TUHAN ialah segala yang bernafas. Tidak yang tidak bernafas. Berarti boleh diartikan yang memuji Yang mahakuasa baik anak adam dan hewan, tumbuhan yang masih jiwa.

Dalam bahan bacaan Wahyu 14:1-4 sebuah gambaran penghabisan dari pengikut Anak domba (Yesus Kristus). Mereka akan menjadi eigendom sorgawi, gelanggang yang Agung dan Bahagia. Dalam PL bukit Sion adalah nama lain terbit Yerusalem (warisan Allah) yang menandakan kehadiran dan keselamatan Almalik, lagi melambangkan kemenangan bagi umat Tuhan. Anak asuh Domba samar muka di Bukit Sion menunjukkan bahwa Mesias/Yesus Kristus telah menang. 144.000 insan merupakan pasukan-Nya yang memenangkan kemengan terakhir dalam tentangan anak bungsu (bd. Wahyu 7:1-8). Suara air dan guntur terdengar di langit seolah-olah para musisi itu sedang memainkan irama dan TUHAN yang akan takhlik mereka Bahagia. Karena lagu baru merupakan lagu pujiian hanya kepada TUHAN, dan lagu plonco itu hanya dapat dipelajari maka itu mereka yang mengikut TUHAN sampai akhir (bd. Wahyu 15:1-8).


III.
Konklusi

Saudara yang dikasihi Almalik Yesus Kristus, melaui perikop Firman TUHAN di minggu Kantate ini dalam Mazmur 150:1-6 ada 3 alasan mengapa seluruh yang bernafas memuji Almalik?




1.






Firman Tuhan yang mensyariatkan (ayat 1-6)



Dalam Mazmur 150:1-6 jelas sekali perintah untuk memuji Almalik cak semau 13 kali. Jika kita renungkan dalam kehidupan kita banyak hal yang sudah kita lalui, baik doyan ataupun duka. Seperti suara irama dan lagu yang dinyanyikan ada irama yang tingkatan dan ada nada yang rendah, semua irama-nada itu jika dimainkan dan dinyanyikan maka akan tampak makna berasal sebuah lagu, adanya kemesraan kerumahtanggaan suara miring musik dan lagu yang bisa kita dengar. Sebagaimana dalam nyawa kita. Oleh sebab itu bukan cak semau alasan jika kita bukan memuji Tuhan. Separas halnya intern perjalanan kehidupan umat TUHAN Israel. Seperti itu panjang perjalanan nyawa yang mereka lalui sehingga sampai akhirnya mereka keluar pecah pembuangan. Merenungkan semua nan telah terjadi tidak ada alasan kerjakan bukan memuji Sang pencipta.




2.






Yang mahakuasa sepan menerima pujian (ayat 1-2)



TUHAN layak dipuji karena Ia pemilik segalanya, TUHAN perkasa dan besar. Tidak ada yang lain atas kuasa TUHAN berbunga seluruh isi dunia ini. Sejarah kelepasan bangsa Israel dalam perbudakan menunjukkan penampakan kekuatan dan kekuasaan TUHAN yang mampu memberikan keselamatan kepada umat-Nya. Hal yang lautan itulah yang memadai dinyayikan makanya orang yang ulung (bd. Ajaran 14:1-4). Malar-malar kerumahtanggaan kondisi Pandemic Covid-19 nan kita alami sampai ketika ini tidak copot atas kemustajaban dan kuasa Allah yang besar.




3.






Kita dilayakkkan dan dimampukan (ayat 3-5)



Kerumahtanggaan perikop ini TUHAN berkenan dipuji oleh alat-alat yang fana yang dibuat maka itu manusia berusul logam, kayu. Namun Tuhan berkenan buat dipuji dari instrument imitasi insan itu. Nafas bikin meniup, memukul, memetik dan alat tubuh untuk menari semua itu adalah anugerah Halikuljabbar. Dengan kata lain privat segala yang kita miliki baik harta, jabatan, sikap dan perbuatan menggambarkan sebuah pujian saja cak bagi Halikuljabbar. Sebab TUHAN-lah yang menerimakan manfaat dan Sang pencipta yang melayakkan kita untuk menerima segalanya maka IA pantas untuk dipuji.



Sudah semestinya kita memuji TUHAN lain dapat dipengaruhi oleh kejadian dan kondisi, sebab dalam Firman TUHAN ini jelas bahwa setiap yang bernafas memuji Sang pencipta. Jikalau saat ini kita masih bernafas, hal ini mengisyaratkan bahwa kita harus memuji TUHAN. Dan inilah ciri-ciri orang yang berketentuan kepada TUHAN bahwa internal segala keadaan tunak memuji TUHAN. Mereka yang menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah. Jikalau detik ini kita sedang mengalami berbagai rupa pergumulan, belajarlah untuk senantiasa memuji TUHAN sebagai ungkapan syukur atas kasih-Nya. Jangan enggan cak bagi memuji TUHAN sebab sekadar Dialah nan pas kita puji dan tinggikan.





Pdt.Mulianta E. Purba




GBKP Rg. Cibubur

Source: https://www.gbkp-kjk.org/khotbah-pa-pjj/khotbah-minggu/919-khotbah-minggu-tgl-02-mei-2021-mazmur-150-1-6