Gambar Suasana Belajar Di Smp

Peningkatan Hasil Belajar Lingkungan Menggunakan Media Gambar  Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 T. Layang


Gambar :
dok.pribadi

Maya

Penelitian ini berjudul: “Peningkatan Hasil Belajar Materi Mileu Menggunakan Ki alat Gambar
 Peserta Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang”.

Tujuan Pendalaman ini adalah untuk Meningkatkan Hasil Sparing  Materi Lingkungan Menggunakan Alat angkut Gambar
Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang.

Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan Pendalaman Tindakan (action Research) yang terdiri dari 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri bermula: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan bahwa Alat angkut Gambar
dapat Meningkatkan Hasil Belajar Materi Mileu Pesuluh Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang.

Lebih jauh penyelidik merekomendasikan: (1) Bakal Suhu yang mendapatan kesulitan yang sama dapat menerapkan Sarana Gambar
bagi meningkatkan Hasil Sparing. (2) Hendaknya mendapatkan hasil nan maksimal maka dihaharapkan guru kian takhlik Media Bentuk
yang bertambah menarik dan bermacam ragam.

Kata buku: Hasil Sparing, Wahana Gambar

Bab I   PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sebagai suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mudah-mudahan menjadi sosok seutuhnya berjiwa Pancasila. N domestik Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional  lagi menyatakan ibarat berikut:

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membuat watak serta kultur bangsa yang bermartabat n domestik rancangan mencerdaskan semangat bangsa, bertujuan lakukan berkembangnya potensi peserta tuntun agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak sani, sehat, digdaya, cakap, makmur, mandiri, dan menjadi penghuni Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Disamping itu, pendidikan juga merupakan suatu sarana yang paling efektif dan efisien privat meningkatkan sumber daya hamba allah bikin mencapai satu dinamika yang diharapkan.

Berdasarkan hasil ulangan harian nan dilakukan di Kelas bawah VIIIb
SMPN 4 Tamiang Layang
, Kabupaten Barito Timur, diperoleh informasi bahwa hasil belajar

Materi

Lingkungan pesuluh rendah di bawah standar ketuntasan Paling yaitu dibawah 7
5
.

Faktor-faktor yang menyebabkan keadaan sama dengan di atas antara enggak :

  1. Kemampuan kognitif peserta dalam pemahaman konsep – konsep
    Bahasa Indonesia

    masih kurang,
  2. Pembelajaran yang berlangsung mendatangi masih monoton dan membosankan,
  3. Pesuluh tidak termotivasi untuk sparing

    Bahasa Indonesia
    hanya sebagai hafalan sekadar.

Dengan belajar secara menghapal membuat  konsep–konsep IPA yang sudah dikabulkan menjadi mudah dilupakan
.

Hal ini merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi dan tergarap maka itu seorang guru. Guru dituntut makin kreatif privat mempersiapkan pembelajaran yang akan

dilaksanakan

.

Dikembangkan, misal dalam pemilahan model pembelajaran nan akan digunakan dalam pengajian pengkajian sebagai salah satu rang kebijakan pendedahan. Ketersediaan temperatur dalam memanajemen pembelajaran akan membawa dampak positif lakukan siswa dia
n
taranya hasil sparing pelajar akan makin baik dan sesuai dengan indikator yang mau dicapai. Riuk satu arketipe pembelajaran nan boleh diterapkan dalam penelaahan Materi Mileu adalah Media Tulang beragangan karena siswa dapa
t

terlibat aktif karena punya peran dan muatan jawab masing–masing, sehingga aktivitas siswa selama proses pengajian pengkajian berlangsung meningkat.

Media Gambar merupakan suatu metode mengajar dengan membagikan lembar soal dan makao jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban nan tersedia. Siswa diharapkan produktif berburu jawaban dan prinsip penuntasan dari soal nan ada.

Beralaskan jabaran diatas, maka sebagai peneliti merasa terdepan melakukan investigasi  terhadap masalah di atas. Makanya karena itu, upaya meningkatkan hasil belajar

Materi

Lingkungan siswa dilakukan penelitian Tindakan Kelas dengan titel: “Kenaikan Hasil Berlatih
Materi

Mileu melalui


Media Gambar


Murid Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
“.

    1. Pe
      rumusan Kelainan

Mengaibkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan permsalahan sebagai berikut: “
Bagaimanakah
Sarana Tulang beragangan


bisa

meningkatkan hasil berlatih

Materi

Lingkungan siswa Kelas VIIIb

SMPN 4 Tamiang Layang?

    1. Tujuan Eksplorasi

Meningkatkan

 hasil belajar

Materi

Lingkungan menggunakan Media Buram pesuluh Kelas VIIIb
SMPN 4 Tamiang Layang
.

1.4

Manfaat

Pengkajian

Setelah penelitian selesai diharapkan dapat memberikan manfaat ibarat berikut :

  1. Bagi peneliti : pengkajian ini bisa mempengaruhi pengajian pengkajian, kontributif untuk meningkatkan hasil membiasakan Materi Mileu, memberikan alternative penelaahan yang aktif, kreatif efektif, dan menyejukkan bagi siswa, serta meningkatkan dur pembelajaran Materi Lingkungan.
  2. Bagi siswa : untuk meningkatkan pemahaman konsep Materi Lingkungan sehingga pelajaran Materi Mileu menjadi lebih sederhana.
  3. Bagi sekolah : penelitian ini dapat menjadi salah suatu alternatif lengkap pembelajaran buat meningkatkan kualitas pembelajaran.

BAB II

KAJIAN Teks

    1. Kajian Teori

      1. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Bloom

(
dalam Sudjana, 2022: 53
)

menjatah tiga ranah hasil membiasakan merupakan :

  1. Lengang Psikologis

Berkenaan dengan hasil belajar ilmuwan yang terdiri dari enam aspek, adalah pengetahuan alias ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

  1. Antap Afektif

Berkenaan dengan sikap nan terdiri bersumber lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi, dan internalisasi.

  1. Ranah Psikomotorik

Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kerinduan berlaku, ada enam aspek, yaitu: gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, ketrampilan menyingkirkan secara visual, ketrampilan dibidang badan, ketrampilan komplek dan komunikasi.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua factor terdepan yaitu:

  1. Faktor berbunga kerumahtanggaan diri pesuluh, meliputi kemampuan yang dimilikinya,

motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan aturan sparing, kesungguhan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

  1. Faktor nan cak bertengger berpangkal luar diri pesuluh atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.

Hasil belajar yang dicapai menurut Nana Sudjana,  melalui proses sparing mengajar nan optimal ditunjukan dengan ciri – ciri sebagai berikut.

  1. Kepuasan dan kemangkakan nan bisa menumbuhkan motivasi belajar intrinsic pad
    a

    diri siswa. Petatar tidak mengeluh dengan prestasi  rendah dan ia akan berjuang lebih berkanjang lakukan memperbaikinya alias setidaknya mempertahankanya barang apa yang mutakadim dica

    pai
    .
  2. Menambah keagamaan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa sira mempunyai potensi yang tidak kalah dari hamba allah tak apabila ia berusaha sama dengan mestinya.
  3. Hasil berlatih yang dicapai berharga bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek tak, kemauan dan kemampuan lakukan berlatih sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.
  4. Hasil berlatih nan diperoleh petatar secara global (komprehensif), yaitu mencangam ranah serebral, mualamat maupun wawasan, sirep afektif (sikap) dan antap psikomotorik, keterampilan atau prilaku.
  5. Kemampuan siswa bagi mengontrol atau membiji dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya atau menilai dan mengamankan proses dan usaha belajarnya.

Maka itu  karena itu,  guru  diharapkan  dapat menca
pai

hasil sparing,

Setelah melaksanakan proses belajar mengajar yang optimal sesuai

dengan ciri-ciri  tersebut di atas.

      1. Media Gambar

1. Pengertian Media Pembelajaran

Media berasal bermula bahasa Latin dan merupakan lembaga sah dari pengenalan sedang yang secara lurus bermanfaat broker ataupun pengantar. Jadi dapat dipahami bahwa media yaitu perantara atau pengantar pecah pengirim ke penerima wanti-wanti.

Sarana pendedahan secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Apa sesuatu nan dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pembelajar sehingga dapat menjorokkan terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan khusyuk mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan cak bagi tujuan pembelajaran.

Menurut Briggs (privat Ruston, 2007) media pembelajaran adalah ki alat jasmani bakal menyampaikan isi/ materi pembelajaran sebagaimana: buku, film, video, gambar dan sebagainya. National Education Associaton dalam Sonjaya (2011) mengungkapkan bahwa media penataran yakni media komunikasi intern bentuk cetak maupun pandang-tangkap suara, termasuk teknologi gawai keras.

Oleh karena proses pembelajaran ialah proses komunikasi dan berlangsung dalam satu sistem, maka media pengajian pengkajian menempati posisi nan layak penting sebagai pelecok satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa kendaraan, komunikasi bukan akan terjadi dan proses pengajian pengkajian sebagai proses komunikasi kembali lain akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran yakni komponen terintegrasi berasal sistem penerimaan.

Terbit pendapat di atas disimpulkan bahwa kendaraan pembelajaran adalah apa sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, pikiran, dan kedahagaan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar sreg diri petatar pelihara.

       2. Jenis Sarana Pembelajaran

N domestik
www.belajarpsikologi.com
(2014) disebutkan ada beberapa variasi media pembelajaran, diantaranya:

  1. Ki alat Visual : grafik, diagram, chart, tulangtulangan, gambar, poster, kartun, komik
  2. Kendaraan Audio : radio, tape recorder, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide, over head projektor (OHP), dan sejenisnya
  4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD), komputer jinjing dan sejenisnya.

Plong hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil belajar saja ternyata keberhasilan n domestik menggunakan media pada proses penataran kerjakan meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan wanti-wanti, dan (3) karakteristik penerima wanti-wanti. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, teristiadat diperhatikan ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan privat media penataran maka tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.

3. Maksud Pemanfaatan Alat angkut Pembelajaran

Ada beberapa tujuan dalam memperalat media pengajian pengkajian, diantaranya ialah :

  1. mempermudah proses belajar-mengajar
  2. meningkatkan efisiensi belajar-mengajar
  3. membantu konsentrasi siswa
  4. menggarangkan semangat pesuluh bikin berlatih

Tak diragukan sekali lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran. Menurut Marso (n domestik Ruston, 2007), apabila setakat hari ini masih cak semau temperatur nan belum menggunakan media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Privat memintal media pendedahan, mesti disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan ucapan tidak, media nan terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat berbunga isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa lakukan menentukan media pembelajaran tersebut.

4.    Media Gambar Perumpamaan Simpatisan Proses Penataran

Alat angkut gambar merupakan kendaraan yang dipergunakan untuk memvisualisasikan maupun menyalurkan pesan dari sendang ke penerima. Wanti-wanti yang akan disampaikan dituangkan ke internal komunikasi okuler, di samping itu sarana rencana berfungsi lagi bikin menggelandang perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta nan mungkin akan cepat dilupakan alias diabaikan bila tidak digrafiskan.

Kedudukan sarana lembaga kerumahtanggaan proses membiasakan mengajar tidak merembah seorang. Media susuk dimanfaatkan oleh guru privat penerimaan sepatutnya materi dapat dengan mudah diterima oleh siswa. Menurut Sadiman dalam
www.sekolahdasar.kisa
(2014) memunculkan ada tiga tahap nan harus diikuti privat pemanfaatan media tulangtulangan yaitu:

  1. Tahap langkah tahap tadinya sebelum media gambar dimanfaatkan kerumahtanggaan proses pembelajaran.
  2. Tahap pelaksanaan yaitu tahap pemanfaatan lembaga di dalam kelas nan menghampari kaidah memperhatikan gambar bagaimana seyogiannya seluruh peserta dapat mengaram gambit tersebut dengan maksimal merata. Setiap gambar harus rnempunyai tujuan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Jumlah rajah yang akan diperlihatkan kepada siswa harus dibatasi yaitu dengan mencela satu persatu sesuai dengan materi yang dijelaskan.
  3. Tahap tindak lanjut bakal memahami keberihasilan proses penerimaan, yaitu dengan mengadakan evaluasi dan pemberian tugas-tugas rumah.

Selain tiga tahap penggunaan pendayagunaan media seperti yang dijelaskan tersebut, Sadiman juga menyingkapkan syarat pengusahaan media rancangan agar pamrih penerimaan dapat tercapai. Syarat tersebut antara tidak:

  1. Rangka harus autentik. Gambar menunjukkan hal yang sebenarnya, seperti melihat keadaan atau benda yang sesungguhnya.
  2. Ukuran bagan relative.
  3. Kesederhanaan. Gambar itu sederhana dalam warna, menimbulkan kesan tertentu, mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis. Jangan sebatas murid jaga menjadi sano dan tidak tertarik pada gambar.
  4. Perbuatan. Gambar seharusnya sedang mengamalkan ragam. Peserta akan lebih terpukau dan akan lebih memahami tulang beragangan-gambar yang sedang bergerak.
  5. Gambar hendaklah Artistik. Segi berseni sreg umumnya dapat mempengaruhi nilai kerangka. Penggunaan kerangka tentu saja disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Selain itu gambar haruslah jujur disesuaikan hal sepantasnya, sehingga tidak menggelisahkan siswa dalam memungkiri penglihatan yang mujarad kedalam pandangan nan konkrit.
  1.  Menggunakan Gambar Dalam Kelas bawah

Penggunaan bagan secara efektif disesuaikan dengan strata momongan, baik dalam hal besarnya gambar, detail, rona dan permukaan bokong bakal penafsiran. Dijadikan radas kerjakan pengalaman produktif, memperkaya fakta, dan mengedit kekurang jelasan. Akan tetapi gambar sekali lagi bisa menjadi enggak efektif, apabila plus caruk digunakan. Gambar sebaiknya disusun menurut sa-puan tertentu dan dihubungkan dengan materi pembelajaran yang sesuai.

Buram bisa digunakan untuk suatu tujuan tertentu seperti mana pengajaran yang dapat memasrahkan camar duka dasar. Mempelajari gambar sendiri intern kegiatan pengajaran boleh dilakukan dengan cara, menyusun cerita berdasarkan gambar, mencari gambar-lembaga yang lama, atau menggunakan bagan bakal mendemonstrasikan satu obyek.

Indoktrinasi dalam papan bawah dengan rajah seboleh-bolehnya penyajiannya efektif. Kerangka-gambar yang digunakan yaitu susuk yang tersaring, lautan, dapat dilihat maka itu semua peserta didik, bisa ditempel, digantung atau diproyeksikan. Display gambar-gambar dapat ditempel sreg papan buletin, menjadikan ruangan menarik, memotivasi siswa, meningkatkan minat, perhatian, dan menambah deklarasi murid.

  1. Kelebihan Media Gambar

Beberapa kepentingan dari penggunaan media rang antara lain:

  1. Sifatnya konkrit. Gambar/ foto lebih realistic menunjukkan pokok masalah dibanding dengan alat angkut verbal satu-satunya.
  2. Buram dapat mengendalikan penyakit batasan ruang dan waktu. Enggak semua benda, bahan ataupun peristiwa boleh dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa, anak-anak asuh dibawa ke korban tersebut. Lakukan itu tulang beragangan atau foto bisa mengatasinya. Air ambau niagara atau danau toba dapat disajikan ke inferior lewat gambar atau foto. Peristiwa-hal yang terjtdi di masa lampau, kemarin atau lebih-lebih menit yang lalu kadang kadang tak dapat dilihat seperti apa adanya. Gambar alias foto tinggal berjasa kerumahtanggaan kejadian ini.
  3. Alat angkut gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Lembaga pemasyarakatan alias kaliber daun yang tidak kelihatannya kita tatap dengan alat penglihatan telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam lembaga buram.
  4. Bisa memperjelas suatu penyakit, internal bidang apa cuma dan bagi tingkat umur bilang saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan ke salahpahaman.
  5. Murah harganya, mudah didapat, mudah digunakan, tanpa memerlukan peralatan nan tunggal.

      1. Materi Mileu

Amatilah peristiwa lingkunganmu dengan saksama! Adakah sampah nan berserakan di sana? Kondisi mileu sangat memengaruhi makhluk hidup yang sangat di dalamnya. Lingkungan yang bersih akan membuat penghuninya nyaman. Lingkungan yang lugu sekali lagi membentuk penghuninya tak mudah terserang penyakit. Sebaliknya, lingkungan kumuh akan mewujudkan penghuninya mudah terjangkit beberapa kebobrokan. Oleh karena itu, jagalah kebersihan lingkungan sekitarmu agar kamu dan keluargamu tidak mudah dihinggapi ki kesulitan.



Privat kaitannya dengan lingkungan, pada kursus kali ini kamu akan diajak menanggapi unsur pertunjukan drama; bermain peran sesuai naskah yang ditulis siswa; menemukan wadah atau sebelah kerumahtanggaan konteks yang sebenamya sesuai nan tertera pada denah; menulis wahi melakukan sesuatu dengan urutan nan tepat dan menggunakan bahasa yang efektif. Pelajarilah materi-materi tersebut bikin membukit wawasan dan pengetahuanmu!


Mendengarkan


Menanggapi Elemen Pementasan Sandiwara bangsawan

Pernahkah anda menyaksikan pementasan drama? Menyaksikan pementasan sandiwara boneka lalu menyenangkan, bukan? Dagelan biasanya mandraguna mengenai kritik sosial terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Kritik sosial tersebut diwujudkan dalam buram cerita yang dipentaskan di atas panggung. Menyaksikan pertunjukan sandiwara radio akan membuatmu seakan melihat kejadian yang terjadi dalam mahajana secara langsung. Kamu dapat menjumut pelajaran kesusilaan yang terdapat puas tontonan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sandiwara bangsawan yang sudah lalu disaksikan sebaiknya juga kaya ditanggapi dengan cara yang bijak. Menanggapi pertunjukan sandiwara bangsawan berarti menunjukkan kelebihan atau kekeringan pemeran dalam pementasan tersebut. Kemampuan untuk menanggapi drama terdahulu bakal dimiliki oleh semua orang. Tujuannya seyogiannya kelak saat bermain drama, dia.dapat memerankan suatu tokoh dengan lebih baik pula.

Menanggapi pementasan sandiwara tradisional dapat dilakukan dengan menanggapi unsur-atom pementasan drama. Barang apa sajakah molekul-molekul pertunjukan drama? Unsur-­zarah privat sandiwara sebagai berikut.

  1. Naskah dagelan, yaitu teks yang dipentaskan dan berbentuk dialog antartokoh.
  2. Aktor atau pemeran, yaitu pemeran atau tokoh yang membawakan cerita.
  3. Panggung, yaitu tempat pergelaran yang menunjukkan
    setting
    cerita dengan didukung dekorasi atau properti.
  4. Manajemen bohlam, merupakan pencahayaan dalam proses atraksi.
  1. Seragam dan penyelenggaraan rias sebagai penegasan karakter tokoh-tokoh.
  2. Ilustrasi, nyata irama pendukung yang menggambarkan suasana adegan.

Dalam pementasan drama, pemain menyambut peran utama. Anak bangsawan menjadi kriteria ukur keberhasilan pertunjukan drama. Pementasan drama dapat dikatakan berhasil apabila para pemainnya mampu memainkan karakter tokoh yang ia bawakan dengan baik. Oleh karena itu, tanggapan terhadap pementasan drama dapat pula dilakukan pada aktor yang bermain dalam sandiwara radio. Tanggapan terhadap aktor atau keaktoran kerumahtanggaan drama mencakup situasi-hal berikut.

  1. Spiritualisasi, berkaitan dengan ketelitian dan kesungguhan karakter nan dibawakan.
  2. Ekspresi, berkaitan dengan perubahan raut wajahdan gerak tubuh dalam berbagai jumpa­sana.
  3. Suara, berkaitan dengan intonasi, penyebutan, dan volume.



Perhatikan kutipan drama berikut ini!


Sangkuriang


Pelaku:

  1. Sangkuriang
  2. Kuntum Sumbi
  3. Guriang Tujuh
  4. Batara

Karenanya, Dayang Sumbi mengakui permintaan Sangkuriang. Sreg suatu waktu mereka berandai-andai.

Dara Sumbi   :    “Baiklah sekiranya semua ini harus kujalani maka hamba mengajukan tuntutan yang harus Tuan penuhi!”

Sangkuriang       :    “Apa yang menjadi aplikasi Tuan Dara akan hamba penuhi.”

Putri Sumbi   :    “Jika Empunya berkehendak berpengantin dengan hamba maka bendunglah Kali besar Citarum menjadi sebuah danau dan buatlah perahu bagi tempat kita berlayar, bersukaria menikmati ijab kabul kita.”

Sangkuriang       :    “Bukan main indah permintaan Tuan Putri, tentulah,akan hamba penuhi.”

Perempuan Sumbi   :    “Tapi … danau dan perahu itu harus Empunya selesaikan dalam waktu semalam. Tulat pagi sebelum fajar menyingsing sudah lalu hamba lihat danau dan kano mutakadim siap sedia.”

Sangkuriang       :    “Baiklah, waktu ini perkenankanlah hamba pergi.”


(Sangkuriang membendung tasik)

Sangkuriang       :    “Bukan tahukah bahwa aku masih nasab sang Batara … dan lakukan membantut sungai ini menjadi danau aku harus minta bantuan Guriang Tujuh yang ikatan kutemui puas waktu aku dalam avontur. Wahai Guriang Tujuh, tolonglah aku untuk membuat telaga dan biduk dalam waktu semalam. Oh, Dewa Maha Agung, tolonglah hamba.”


(Dayang Sumbi mematamatai Sangkuriang membuat danau)

Kuntum Sumbi   :    “Tampaknya telaga itu sececah sekali lagi akan selesai, tapi mana kali semua ini terjadi. Aku harus cari akal busuk dan mempersunting kepada Betara moga semua ini tidak terjadi.”

Dewa                  :    “Duhai Dara Sumbi, cak bagi mengandaskan semua ini maka kibarkanlah sampur dan pukullah lesung sebagai isyarat bahwa hari sudah pagi. Atas kehendakku pula ayam jantan akan berkokok cak bagi valid Sangkuriang bahwa perian telah pagi!”

Sangkuriang       :    “Wah, mengapa tahun masih begini magrib ayam jantan jantan sudah berkokok ataukah musim mutakadim pagi. Lain … tak mungkin hari masih begini burit, bisa jadi semua ini akal Tuan Putri untuk menggagalkannya, sedangkan sumbuk yang kubuat belum radu.”

Mata air:
Sandiwara radio Momongan-Momongan Nusantara


Evaluasi Hasil Sparing


Uji Mandiri


Jawablah pertanyaan-soal di dasar ini dengan benar!

  1. Sebutkan biang keladi nan ada pada naskah sandiwara di atas!


Jawab:


Tokoh yang terdapat pada drama
di atas, antara lain Sangkuriang, Perawan Sumbi, Guriang Tujuh, Dewa.

  1. Siapakah pemeran utama dalam drama di atas?


Jawab:


Pemeran utama n domestik narasi di atas adalah Sangkuriang dan Dayang Sumbi

  1. Sebutkan latar yang terdapat dalam sandiwara boneka di atas!


Jawab:

  1. Latar arena          : Di haud
  2. Latar waktu            : Malam hari
  3. Permukaan suasana        : Mendebarkan dan panik
  1. Siapakah pemeran tangan kanan internal tulisan tangan sandiwara bangsawan di atas?


Jawab:


Guriang Sapta dari Dewa

  1.  Jelaskan alur yang terjadi n domestik kutipan skrip drama di atas!


Jawab:


Alur maju karena dialog tersebut menceritakan peristiwa secara runtut.


Kerja Kerubungan

  1. Bersama tiga orang temanmu saksikan pementasan drama, baik secara serempak maupun tidak langsung!
  2. Simaklah pertunjukan darama tersebut buat bisa menanggapi atom-unsur intrinsik dalam pertunjukan drama!
  3. Identifikasilah unsur-unsur intrinsik dalam drama tersebut. Isikan intern bentuk tabel sama dengan berikut!

No.

Elemen

Keterangan

Tokoh dan Penokohan

Tema


Setting

Galur

Pengumuman


Mengomong


Memerankan Skrip Sandiwara

Setelah menanggapi ketoprak, tidak tertarikkah kamu bikin bermain drama? Memainkan sandiwara dapat diartikan dengan menampilkan potret spirit ke dalam marcapada nyata. Ketika bermain drama engkau harus mampu berakting untuk lain menjadi diri sendiri. Sira harus produktif memerankan karakter pentolan nan kamu bawakan dengan baik. Seorang. pemain sandiwara bisa dikatakan berhasil memainkan suatu peran apabila mampu mengidungkan  karakter tokoh nan dibawakannya dengan baik sehingga karakter aslinya tidak muncul.

Untuk memerankan suatu gembong dengan baik, koteng anak ningrat sandiwara radio harus mampu mengarifi isi skenario sandiwara bangsawan yang akan dimainkannya. Kamu juga harus mampu mengubah peran yang akan dilakonkannya. Agar mampu memerankan suatu tokoh dengan baik, ada beberapa kejadian yang harus diperhatikan seorang anak komidi kerumahtanggaan memerankan sandiwara.

  1. Pemahaman terhadap keseluruhan isi skrip melalui dialog antar gembong dan ramalan lakuan.
  2. Kognisi terhadap setiap dialog yang diucapkan dan tampin dialog yang diperankan pencetus tidak.
  3. Pemahaman dan penghayatan terhadap karakter tokoh nan diperankan.
  4. Pengungkapan ekspresi sebagai buram perwakilan terbit apa yang ingin disampaikan kepada pemirsa.
  5. Penyampaian dialog jelas sehingga penonton dapat menangkap maksud dari sesuatu nan ingin disampaikan kepada spektator. Intern kejadian ini, diperlukan kemampuan yang berkaitan dengan artikulasi, intonasi, dan volume suara.
  6. Kognisi teknik-teknik panggung yang meliputi
    blocking, crossing,
    teknik unjuk, dan rancangan akting.

Sebelum bermain sandiwara boneka, suka-suka baiknya para pemain melakukan beberapa latihan berikut.

  1. Latihan vokal, tekanan, emosi, gestur, dan konsentrasi
  1. Drama dimainkan dengan mengandalkan keistimewaan vokal para pemerannya. Tutorial ini bisa berupa pengujaran vokal a, i, u, o, e. Vokal harus jelas dan gentur karena pentas drama lain menggunakan pengeras suara minor.
  2. Tuntunan impitan dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang mendapatkan tekanan pada perkenalan awal-kata tertentu.
  3. Latihan emosi dilakukan dengan melatih kepekaan hati atau perasaanmu hingga menjadi mudah bagi diajak berekspresi, baik lakukan berang, menangis, tertawa, membentak, dan sebagainya.
  4. Latihan gestur adalah melatih gerak raga untuk kondusif ekspresi dialog, misa­Inya tangan menunjuk, menyanggang kedua telapak tangan sebagai ekspresi ke­pasrahan.
  5. Cak bimbingan konsentrasi dilakukan dengan pemusatan pikiran bakal membersihkan pikiran dan manah.
  1. Tuntunan pembacaan naskah

Setelah semua rangkaian latihan penunjang di atas dilakukan maka latihan pembacaan naskah dilakukan dengan dipimpin oleh sutradara. Semua pemeran membaca naskah dengan ekspresi nan tepat dan sutradara mengedit pembacaan nan kurang sesuai.

  1. Persiapan akhir

Sehari sebelum pentas, dilakukan kursus ragil yang adalah tiruan pentas. Kisah nan dipilih diperankan seperti tuntutan skenario, seolah-olah pentas sebenarnya, semata-mata belum menunggangi kostum dan belum ditonton makanya penonton.

Selain melakukan tuntunan, sebelum memulai berlatih peran, hal-kejadian yang  perlu dilakukan seseorang yang akan berperan drama bagaikan berikut.

  1. Membaca cerita dengan baik.
  2. Mengucapkan kata ataupun kaki kata dengan jelas dan lancar.
  3. Memperhatikan tempo dalam berkata-kata, tidak gugup, dan tidak tergesa-gesa, serta memperhatikan musik dan intonasi.
  4. Mengkreditkan  bermain dengan lancar, suasana hidup dan luhur
  5. Mengatur peralatan dekorasi dengan serasi, mengganjur, dan indah.
  6. Berbuat gerak-gerik dengan wajar.
  7. Menggunakan bahasa Indonesia dengan sepenuhnya.


Evaluasi Hasil Belajar


Kerja gerombolan



Kerjakan kegiatan berikut ini!

1. Perhatikan kutipan sandiwara berikut ini.


Pelan


(Lighting fade in-suasana malam)


Beberapa pemuda menengah belajar sandiwara radio. Atok sang pelatih tertentang serius menuduh teman-temannya berlatih olah badan. Linda menarik lengan
Rayani sekepal berlari ke arah Atok.

Linda                 :    “Mas Atok, Mas Atok … tolong saya dong!”


Latihan olah awak buyar. Peserta latihan pulang ingatan menimpa
Linda. Suasana serta merta ramai.

Atok                   :    “Ada segala?”

Item                   :    “Iya. Ada barang apa? Anak-anak kampung jihat
mengamuk lagi?”

Linda                 :
(Tersipu sendiri.)
“Tak ada apa-apa, kok.

(Kepada Atok.) Suka-suka
perlu sekelas Kak Atok.”

Item                   :    “Sialan! Gua taksir ada yang mau
ngajak
bertelingkah!”

Pemuda 1          :    “Si Item basi banget!”

Teruna 2          :    “Iya. Padahal, waktu ribut-bercekcok kemarin kakinya gemetaran.”

Perawan 1           :    “Aku lihat waktu nan tidak berantem, dia lari paling dulu!”

Atok                   :    “Wah, kalau begitu kalian lanjutkan pelajaran aja
lagi! Biar mereka kuurus.”

Linda                 :    “Ah, Kak Atok boleh aja. Memangnya kita anak ayam? Kok diurus?”

Perjaka 3          :    “Les pun, yuk!”


Murid cak bimbingan pergi spontan menggerutu.

Atok                   :    “Sorry!
Terserah perlu apa?”

Item                   :    “Ngomong-ngomong kenalin silam dong temannya.”

Linda                 :    “Oh, iya tengung-tenging. Rayani! Halah, kenalan sendiri aja deh biar makin enakan.”

Rayani               :
(memperkenalkan diri)
“Rayani.”

Item                   :    “Marjuki. Biasa dipanggil Item.”

Rayani               :
(kepada Atok)
“Rayani.”

Atok                   :    “Atok.”


Item mengerling genit ke Rayani.

Linda                 :
(Memajukan skrip.)
“Kak Atok kenal penulis naskah ini?”
(Atok membaca halaman depan skenario.)

Atok                   :    “Arswendo Atmowiloto. Tahu sih. Memang kenapa?”

Linda                 :    “Dia nan tulis naskah sinetron Angling Darma, ya?”

Atok                   :
(tertawa)
“Bukan. Anda penulis naskah-naskah realis. Karangan-tulisannya hampir dengan spirit publik kita. Sempat sinetron Tanggungan Cemara?”

Linda                 :    “Oh, tahu! Pantas sinetronnya laku… Kamu yang tulis skenarionya?”

Atok                   :    “Iya, dia penulisnya.”

  1. Bentuklah kelompok terdiri atas heksa- siswa.
  2. Berlatihlah di flat dengan sungguh-bukan main.
  3. Mainkan cuplikan sandiwara radio di atas di depan kelas satu minggu berikutnya.
  4. Kelompokmu juga dapat melakukan improvisasi tanpa mengubah tema drama di atas.


Jawab:


Aktivitas siswa


Tugas Rumah

Carilah sebuah naskah sandiwara tradisional sederhana yang terdiri atas satu bagian! Ajaklah beberapa temanmu untuk memainkan naskah drama tersebut! Mainkan dengan penghayatan yang sesuai!


Jawab:


Aktivitas siswa


Mendaras


  1. Menemukan Tempat atau Jihat Berlandaskan Denah

Denah yakni paparan tentang letak suatu tempat. Ada tempat tertentu yang cak acap dilengkapi denah, misalnya di ki ikut provinsi wisata,
di kampung privat kota, di rumah ngilu, atau di kartu undangan. Denah dapat juga bermanfaat sebagai latihan membaca kar jika kamu melakukan kegiatan mengejar jejak momen berkemah. Denah akan memudahkan seseorang buat menemukan tempat-tempat tertentu tanpa harus banyak menanya kepada hamba allah lain yang ditemui di perkembangan. Di samping itu, lain semua orang yang akan kamu tanyai memahami kancah yang kamu maksud. Selain itu, pron bila-saat tertentu, kamu tidak bisa menemukan individu di jalan lakukan ditanyai, misalnya lega waktu paruh malam.

Situasi penting yang harus dikuasai pada momen membaca atlas merupakan kognisi mengenai jihat empat penjuru. Arah paksina dalam atlas adalah menuju ke atas, arah timur ke kanan, arah selatan ke bawah, dan jihat barat ke kidal.


Evaluasi Hasil Membiasakan


Uji mandiri

Perhatikan denah berikut dengan saksama. Pasca- itu, deskripsikan letak RSUD!




Tugas Flat

Buatlah kar dari rumahmu menuju sekolah! Majulah ke depan kelas, kemudian jelaskan denah tersebut dengan bahasa nan baik dan benar!


Menulis


Menulis Petunjuk Melakukan Sesuatu

Pernahkah sira membeli pupuk? Saat membeli pupuk, perhatikan cangkang serat dengan saksama! Di dalam buntelan pupuk tersebut kamu pasti akan menemukan aturan pemakaian pupuk yang etis. Ajaran pendayagunaan serupa itu akan semakin memuluskan pengguna privat memperalat suatu produk alias peralatan. Petunjuk penggunaan dapat kita temukan pada berbagai produk di pasaran, seperti paket obat dan produk makanan alias minuman instan. Visiun pemakaian pula dapat ditemukan saat kita membeli peralatan elektronik, seperti televisi, kipas angin,
vacuum deaner,
dan
magic jar.
Petunjuk pemakaian dicantumkan lega kemasan suatu dagangan agar konsumen dapat menunggangi produk tersebut, dengan benar.

Bagaimanakah bahasa yang digunakan sreg petunjuk pemakaian? Petunjuk pemakaian biasanya menunggangi bahasa yang efektif. Bahasa efektif merupakan bahasa yang dibuat dengan singkat dan boleh dipahami oleh pembacanya. Penggunaan bahasa yang efektif dimaksudkan agar pembaca fertil memahami petunjuk pemakaian dengan benar. Eksploitasi bahasa nan invalid jelas tentu akan memecahkan kepala konsumen. Lazimnya, bahasa nan digunakan plong petunjuk pendayagunaan bersifat memaparkan dalam bentuk persiapan-langkah sehingga orang yang mendaras seolah-olah diberikan bimbingan atau bimbingan intern berbuat atau menggunakan sesuatu.

Tanzil pemakaian tak saja dibuat oleh perusahaan pembuat produk. Kamu dapat pula menulis
wahi penggunaan tentang hal-hal yang sering kamu buat, umpama visiun takhlik peranakan.
Pada saat menuliskan bahasa petunjuk, ada beberapa
hal yang harus engkau perhatikan.

  1. Tuliskan petunjuk melakukan sesuatu secara urut sesuai pujuk yang harus dilakukan.
  2. Tuliskan wahyu secara rinci dan detail.
  3. Cantumkan keterangan secara eksemplar dan jelas berkaitan dengan situasi yang akan dilakukan.
  4. Cantumkan hal-kejadian yang harus dihindari apabila hal yang akan dilakukan berkaitan dengan sesuatu yang boleh menimbulkan dampak negatif.
  5. Gunakan bahasa yang singkat, padat, dan je­las.
  6. Jika perlu sertakan ilustrasi pendukung.

Perhatikan contoh berikut!


Cara Menanam Tanaman dalam Pot

  1. Sediakan botol

Jambangan yang akan digunakan untuk memakamkan dapat dibeli alias dibuat koteng. Jika akan membuat pot sendiri, sira bisa memanfaatkan ember atau perunggu ki akbar yang sudah tidak dipakai. Caranya lubangilah dasar beledi atau belek menggunakan besi yang tirus! Kamu dapat takhlik tiga alias empat gaung pada bawah ember alias kaleng.

  1. Sediakan tanah dan rabuk kandang secukupnya.

Campurlah tanah dan pupuk kandang hingga merata

  1. Masukkan campuran tanah dengan baja kandang ke n domestik pot

Sebelum campuran tanah dengan pupuk kandang dimasukkan ke privat botol, tutuplah liang sumber akar jambang dengan kerikil maupun remah ramping. Kejadian ini perlu dilakukan agar petak di radiks pot bukan sagu betawi atau dibawa air keluar jambangan jika tanaman disiram. Bikin tahap pertama, campuran yang dimasukkan ke dalam pot cukup secebir tataran pot.

  1. Masukkan tanaman ke dalam jambangan

Usahakan seyogiannya persil di sekitar akar tanaman ikut ikut ke dalam botol. Jenis tanaman yang dapat ditanam dalam jambangan, misalnya aneka pokok kayu bunga dan pohon biji pelir, sama dengan tumbuhan tomat dan lombok.

  1. Masukkan campuran tanah dan pupuk kandang ke privat pot

Penuhi pot dengan campuran itu hingga sanding penuh.

  1. Siramlah pokok kayu dengan air secukupnya

Penyiraman tanaman dilakukan setiap perian, dilakukan sreg pagi hari.

  1. Rawatlah pokok kayu dengan baik

Penjagaan bisa dilakukan, misalnya dengan menganakemaskan suket nan bertaruk.


Evaluasi Hasil Belajar


Uji Mandiri

Buatlah petunjuk kaidah mematangkan tanah yang akan ditanami pari! Kamu boleh menanya kepada orang tani yang terserah di sekitar gelanggang tinggalmu!


Jawab

: Aktivitas siswa


Kerja kelompok



Perhatikan petunjuk penggantian oli mesin kereta angin motor berikut!


Petunjuk Penggantian Oli Mesin Sepeda Biang keladi

  1. Isilah misal mesin dengan oli mesin nan dianjurkan.
  2. Basmi mesin, kemudian campakkan tutup lubang pemasangan atau kayu cangkul pengukur oli mesin dan baut pembuang oli.
  3. Lempar semua oli mesin.

Oli mesin jebolan dapat menyebabkan tumor ganas selerang jika berulang-ulang adapun kulit (dalam paser masa lama). Qleh karena itu, dinasihatkan untuk segera mencuci tangan setakat asli dengan air dan sabun setelah mengganti oli bekas.

  1. Periksa dan pastikan bahwa cincin perapat baut pembuangan oli dalam situasi baik.

Gantikan bila perlu! Kemudian, pasanglah. baut pembuang oli dan kencangkan!

  1. Panaskan mesin.

Pastikan rubrik kerja berventilasi baik, kalau mesin harus dalam peristiwa hidup momen melaksanakan suatu pekerjaan. Jangan sekali-sekali menjalankan mesin di dalam ruangan terpejam. Asap buang mengandung gas karbonium monoksida beracun yang dapat membentuk hilang kognisi dan kesannya menyebabkan mortalitas.

  1. Periksa bahwa tidak ada kebocoran oli.
  2. Hidupkan mesin dan biarlah berputar
    stasioner
    selama 2-3 menit.
  3. Matikan mesin dan selidik had satah oli mesin pada tangkai pengukur dengan sepeda motor pada posisi tegak.,
  4. Pasang sekali lagi tangkai pengukur oli mesin.
  1. Bersama kebalikan semejamu suntinglah eksploitasi bahasa kerumahtanggaan tajali di atas.
  2. Sira boleh menyunting petunjuk itu berkaitan dengan hal-hal di sumber akar ini:
  1. saringan perkenalan awal,
  2. susunan kalimat,
  3. bunyi bahasa.
  1. Tulislah dengan rapi, kemudian bacakan di depan kelas.


Jawab:


Aktivitas siswa


Istilah Penting


Denah


:


gambar yang menunjukkan letak kota, perkembangan, dan sebagainya


Drama


:


karya sastra yang termaktub internal rangka dialog (konversasi atau wawanrembuk) yang dipertunjukkan makanya biang keladi atau pelaku di depan banyak insan


Konflik

              :    pertikaian; pertentangan


Panggung


:


kancah mementaskan drama


Tata Rias


:

kekuasaan gayutan riasan terhadap objek nan akan dipertunjukkan


Tokoh


:

pemegang peran kerumahtanggaan drama

Ki III METOD
E

PENELITIAN

    1. S
      eting Studi

Pengkajian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di

SMPN 4 Tamiang Layang

Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah

, yang gemuk  di asing kota sekeliling 9 km dari daerah tingkat Kabupaten
.
SMPN 4 Tamiang Layang

Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah


punya akomodasi yang hampir teladan dengan adanya Taman bacaan yang cukup memadahi, Laboratorium IPA, Laboratorium Komputer dan lain-lain. Dengan total hawa sebanyak 25 khalayak Guru PNS dan PHL terdiri berasal 9 master pria dan 16 guru perempuan serta 5 Tenaga Kependidikan.

    1. Mangsa Penelitian

Ozon
bjek Investigasi ini adalah Siswa Inferior VIIIb
SMPN 4 Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timu
r
, Kalimantan Tengah dengan jumlah siswa sebanyak 23, yang terdiri dari 12 petatar laki – laki dan 11 pesuluh perempuan.

    1. Prosedur

      Investigasi

Waktu Studi Tindakan Kelas ini dilaksanakan sejauh 3 bulan yaitu pada bulan

September

sam

pai

dengan

Nopember
2015.

Penelitian ini sreg materi Materi Mileu diajarkan.Pengkajian ini direncanakan sebanyak 2 siklus masing – masing siklus 1 kali pertemuan. Penekanan ini menggunakan desain Pengkhususan Tindakan Papan bawah dengan Siklus.

  1. Siklus I

Lega siklus ini membahas Materi Lingkungan.

  1. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini dilakukan persiapan–ancang bakal melakukan perencanaan tindakan dengan mewujudkan silabus, rencana pembelajaran, lungsin observasi suhu dan siswa, lembar kerja pelajar, dan membentuk alat evaluasi berbentuk validasi tertulis dengan acuan pilihan ganda.

  1. Tahap pelaksanaan

Lega tahap  ini dilakukan :

  1. Guru men
    j
    elaskan materi Materi Mileu secara klasikal.
  2. Pengorganisasian siswa yaitu dengan takhlik 5 gerombolan, masing–masing keramaian terdiri dari 4-5 cucu adam petatar, kemudian LKS dan siswa diminta untuk mempelajari LKS.
  3. N domestik kegiatan pembelajaran secara umum siswa mengamalkan kegiatan sesuai dengan persiapan–langkah kegiatan nan terdaftar kerumahtanggaan LKS, urun pendapat kelompok, diskusi antar kelompok, dan menjawab soal – soal. N domestik bekerja kelompok siswa silih membantu dan berbagi tugas. Setiap anggota berkewajiban terhadap kelompoknya.
  1. Tahap Observasi

Puas tahapan ini dilakukan observasi pelaksanaan tindakan, aspek yang diamati yakni keaktifan pesuluh dan hawa n domestik proses pembelajaran menunggangi tali observasi aktivitas dan respon peserta serta hawa. Sedangkan peningkatan hasil sparing siswa diperoleh berusul testimoni hasil belajar siswa.

  1. Tahap Refleksi

Pada tahap ini dilakukan evaluasi proses pembelajaran pada siklus I dan menjadi pertimbangan buat merencanakan siklus berikutnya.  Pertimbangan yang dilakukan bila dijumpai satu komponen dibawah ini belum terpenuhi, yakni umpama berikut :

  1. Murid menyentuh ketuntasan spesifik ≥ 7
    5

    %.
  2. Ketuntasan klasikal jika ≥ 85% dari seluruh murid mencapai ketuntasan khusus yang diambil terbit tes hasil berlatih siswa.
  1. Siklus II

Hasil refleksi dan analisis data pada siklus I digunakan cak bagi kamil dalam merencanakan siklus II dengan memperbaiki kelemahan dan kekeringan pada siklus I. Tahapan yang dilalui sama seperti pada tahap   siklus I.

    1. Teknik Pengurukan Data

Ada sejumlah teknik pengumpulan data nan diterapkan n domestik PTK ini merupakan :

    1. Observasi dilakukan maka itu suhu yang bersangkutan dan seorang

kolaborator bagi merekam perilaku, aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlanjut memperalat lembar observasi.

b.

T
es hasil belajar

buat mengetahui tingkat kognisi si

s
wa
.

Organ yang dig
u
nakan pada Penelitian  Tindakan Kelas bawah ini terdiri dari:

  1. Lembar Test / ulangan harian untuk mengetahui hasil sparing siswa.
  2. Tali observasi siswa untuk memafhumi tingkat m
    o
    tivasi siswa.
  3. Lembar observasi Guru untuk mengetahui kegiatan penataran yang dilakukan oleh Guru.

    1. Teknik Analisa Data

Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis secara Deskriptif, sebagaimana berikut ini :

1. Data konfirmasi hasil hasil berlatih digunakan lakukan mengerti ketuntasan

 Sparing siswa atau tingkat kejayaan belajar pada materi Materi Lingkungan dengan menggunakan pengajian pengkajian Kooperatif tipe Kendaraan Gambar. Kriteria Ketuntasan Paling kecil (KKM) secara istimewa jika pelajar tersebut mampu mencapai nilai 7
5.

K
etuntasan klasikal jika pesuluh yang memperoleh nilai 7
5

ini

j
umlahnya sekitar 85% dari seluruh jumlah siswa dan masing – masing di hitung dengan rumus
,
menurut Arikunto (2012:
24)

ibarat berikut:


P=


F


N



x 100%




Dimana :

P = Prosentase

F = frek
u
ensi tiap aktifitas

N = Jumlah seluruh aktifitas

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi kondisi Awal

            1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Penerimaan (RPP) yang sesuai dengan Metode lektur lega Materi Mileu.
Disamping itu guru pun membuat Lembar Kerja Pelajar (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas guru dan petatar.
Seterusnya, master mewujudkan pengecekan hasil berlatih.
Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, guru dan observer mempersalahkan lawai observasi.

    1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada perian Rabu

9
september 2022 semenjak pukul 07.00 s.d 08.
2
0 WIB. Kegiatan penelaahan nan dilakukan terdiri pecah tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penghabisan.
Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi waktu untuk kegiatan inti adalah

6
0 menit dan alokasi kegiatan penutup sebesar 10 menit.

Sreg kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menamai dan memerangkapi kehadiran peserta, (2) melakukan
icebreaking
berupa menyanyi, (3) menggali pengetahuan siswa dan mengaitkan dengan materi tuntunan yang akan diajarkan lebih jauh. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru

.

 Melintasi kegiatan inti mendesain kegiatan agar siswa dapat mengalami proses menemukan, menjuluki dan mempresentasikan. Guru menjelaskan terlebih sangat tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga petatar tidak menjadi senewen. Jika terdapat selang surup, guru terlebih tinggal meminta sesama siswa yang mengamalkan perbaikan. Siswa yang hasil temuan kelompok yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian berpunca hawa padahal siswa yang belum mengerjakan dengan maksimal dimotivasi dan diberi pemantapan.

Kegiatan akhir antara lain: (1)
berbuat evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan strategi ceramah,
(2) pelajar melakukan kilas balik tentang pembelajaran yang baru dilakukan dan (3) peserta dan temperatur memestakan keberhasilan belajar dengan bertampar tangan gembira.

    1. Observasi

Kooperasi pesuluh Inferior VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Pengajian pengkajian sreg kondisi awal sehabis dilakukan penerapan model pembelajaran menunggangi Strategi
ceramah. Situasi ini dapat dilihat dari hasil sparing dan respons peserta terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih suka-suka sebagain mungil masalah yang muncul pron bila proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung. Dengan adanya penyakit yang terjadi pada kondisi awal, maka kami bersama pengamat merenungkan masalah tersebut agar mampu diperbaiki sreg siklus I dengan tujuan semua siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya.

Kooperasi pesuluh Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang dalam kegiatan sparing mengajar

Bahasa Indonesia
. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kondisi awal. Hasil sparing siswa pada kondisi semula tak dengan penerapan Strategi pidato dengan jumlah 23 terdapat 1
8

siswa atau 7

8
% yang tuntas dan yang enggak tuntas ada

5

Siswa atau 2

2
% yang tidak tuntas, dengan nilai kebanyakan sebesar 7
3,7
. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

            Grafik.1 hasil ulangan harian kondisi awal

No

Nama Siswa

Ponten

Keterangan

1

Dwi Citra Emanuella

75

Tuntas

2

Dimei Mulaini Hartati

75

Tuntas

3

Dawanto

60

Tidak Tuntas

4

Fisti Eirene Sabatini

75

Tuntas

5

Fransiska anugrahni

75

Tuntas

6

Heni Silvia Resti

8
5

Tuntas

7

Jesika

75

Tuntas

8

Kamandrai

80

Tuntas

9

Ishak stefanus

80

Tuntas

10

Kristi

70

Tidak Tuntas

11

Lucky Frit Indrawan

75

Tuntas

12

Lewin Ranai Ukip

75

Tuntas

13

Lisa Karuiya Karuhni

60

Tidak Tuntas

14

Nathanael Eka Putra

75

Tuntas

15

Resto

75

Tuntas

16

Rediano Baktianus

7
0

Tak Tuntas

17

Siska Ariani

80

Tuntas

18

Sandi Toro Lamba

75

Tuntas

19

Pebriano  Kurniawan

75

Tuntas

20

Noni Istiqomah

75

Tuntas

21

Petrik  Babtista

75

Tuntas

22

Wayano Bajar

75

Tuntas

23

Tomi Lianto

60

Tidak Tuntas

Besaran

16
95

Rata-rata

7
3,7

Ketuntasan Klasikal

7
3,9
%

    1. Refleksi

Tujuan penting penekanan ini adalah lakukan memafhumi eskalasi hasil belajar pada materi Materi Lingkungan Multikultural dengan menerapkan Ki alat Lembaga ternyata hasil yang didapat nilai rata-rata sebesar 7
3,7
dan secara klasikal sebesar 7
3,9
%. Situasi ini masih jauh dari harapan. Maka itu karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil berlatih siswa pada materi Materi Mileu.

Pada kondisi sediakala terdapat kekurangan pemahaman siswa pada materi bahan Materi Lingkungan.
Menurut pengamat, ada beberapa situasi yang menyebabkan situasi ini terjadi.
Pertama, peserta tidak fokus puas pencantuman LKS sehingga suka-suka bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan teladan.
Kedua,
siswa banyak melakukan hal–keadaan di luar konteks pendedahan,  seperti bermain dengan antitesis sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu atau dua kerubungan tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan hawa pron bila evaluasi di pengunci pelajaran.

           Semenjak temuan kekurangan tersebut maka peneliti mewujudkan kebijakan baru bakal mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan plong siklus I. Cak bagi masalah yang mula-mula peneliti menugaskan tiga orang pesuluh pada setiap keramaian untuk menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi abstrak sehingga siswa lebih memahami materi pengelompokan baru, mudah-mudahan mengurangi pesuluh nan saling dolan dengan temannya. Sedangkan masalah yang ketiga, pemeriksa memberikan penjelasan lebih detail tentang materi Materi Lingkungan khususnya untuk pertanyaan nan selit belit atau tak congah dijawab oleh kelompok n domestik diskusi.
Disamping itu lakukan kebobrokan yang ketiga ini penjelasannya dibantu makanya pengamat.

4.1.2 Deskripsi hasil siklus 1

         1. Perencanaan

Sreg tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Metode Penataran Tipe Media Gambar dengan Materi Lingkungan.
Disamping itu guru juga membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas hawa dan siswa.
Selanjutnya, guru mewujudkan tes hasil belajar.
Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, hawa dan observer mendiskusikan lawe observasi.

    1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada perian Rabu

2
3

September 2022 dari pukul 07.00 s.d 08.20 WIB. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Masa yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan yaitu 10 menit, sedangkan alokasi periode untuk kegiatan inti yaitu

50

menit dan alokasi kegiatan intiha sebesar 20 menit.

Sreg kegiatan pendahuluan, guru mengamalkan tiga kegiatan, ialah (1) menyapa dan menghalusi kehadiran petatar, (2) mengerjakan
icebreaking
nyata menyanyi, (3) mengebor pengetahuan siswa dan mengaitkan dengan materi latihan yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru

.

Melalui kegiatan inti mendesain kegiatan agar siswa dapat mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Untuk dapat menemukan berkaitan dengan Media Gambar,
pertama-tama temperatur membagi siswa intern 6 kerubungan dan setiapkelompok terdiri dari 3-4 cucu adam siswa.

Guru menjelaskan terlebih dahulu tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa tidak menjadi bingung. Selain itu, selama diskusi berlangsung guru berkeliling kelompok untuk mengawasi siswa berkreasi langsung terkadang mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kerubungan kemudian mendiktekan hasil diskusi kelompok. Pelajar semenjak gerombolan lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban gerombolan nan menengah penyajian. Jika terdapat kekeliruan, guru terlebih suntuk lamar sesama siswa yang melakukan perbaikan. Siswa nan hasil temuan gerombolan yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan penghargaan dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi pemantapan.

Kegiatan intiha siklus I antara lain: (1)
melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa pasca- dilaksanakan pembelajaran menggunakan Media Gambar,
(2) siswa melakukan kilas bengot tentang penerimaan yang hijau dilakukan dan (3) siswa dan guru memestakan kemenangan membiasakan dengan bertampar tangan gembira.

    1. Observasi

      1. Hasil Belajar Siswa

Partisipasi siswa Kelas VIIIb
SMPN 4 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Penataran pada siklus 1 setelah dilakukan penerapan model penataran kooperatif tipe Media Gambar. Hal ini dapat dilihat dari hasil membiasakan dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih cak semau sebagain kecil ki aib yang unjuk pron bila proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung. Dengan adanya masalah yang terjadi sreg siklus I, maka kami bersama pengamat merefleksikan masalah tersebut agar mampu diperbaiki puas siklus II dengan harapan semua siswa produktif meningkatkan hasil belajarnya.

Partisipasi petatar Inferior VIIIb
SMPN 4 Tamiang Layang internal kegiatan sparing mengajar Pendidikan IPA. Kejadian ini terlihat terbit hasil berlatih pesuluh pada siklus I. Hasil berlatih siswa pada siklus I dengan penerapan model pembelajaran menggunakan Media Lembaga dengan jumlah siswa 23 orang, terdapat

20

siswa atau 86

,9
% yang tuntas dan yang enggak tuntas ada

3
Siswa atau

13,1
% yang bukan tuntas dengan biji rata-rata 7
8,5
. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

            Diagram.2 hasil ulangan harian siklus I

No

Logo Siswa

Kredit

Laporan

1

Dwi Citra Emanuella

80

Tuntas

2

Dimei Mulaini Hartati

80

Tuntas

3

Dawanto

65

Lain Tuntas

4

Fisti Eirene Sabatini

80

Tuntas

5

Fransiska anugrahni

80

Tuntas

6

Heni Silvia Resti

90

Tuntas

7

Jesika

80

Tuntas

8

Kamandrai

85

Tuntas

9

Ishak stefanus

80

Tuntas

10

Kristi

75

Tuntas

11

Lucky Frit Indrawan

80

Tuntas

12

Lewin Ranai Ukip

80

Tuntas

13

Lisa Karuiya Karuhni

65

Lain Tuntas

14

Nathanael Eka Putra

80

Tuntas

15

Resto

80

Tuntas

16

Rediano Baktianus

75

Tuntas

17

Siska Ariani

85

Tuntas

18

Sandi Toro Lamba

80

Tuntas

19

Pebriano  Kurniawan

80

Tuntas

20

Noni Istiqomah

80

Tuntas

21

Petrik  Babtista

80

Tuntas

22

Wayano Bajar

80

Tuntas

23

Tomi Lianto

65

Tidak Tuntas

Jumlah

1
8
05

Umumnya

7
8,5

Ketuntasan Klasikal

86
,9
%

      1. Aktifitas Siswa

Hasil pendalaman pengamat terhadap aktivitas siswa selama kegiatan membiasakan nan menerapkan model Media Gambar plong Materi Lingkungan pada siklus 1 adalah rata–rata 3,04 berarti termasuk kategori baik. Data selengkapnya dapat dilihat pada apendiks.

Buat mengerti respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang mereka jalani dengan menggunakan Alat angkut Bagan digunakan angket nan diberikan kepada siswa selepas seluruh proses pembelajaran selesai. Hasil jajak pendapat respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Media Lembaga, ditunjukan pada tabel 3 di bawah ini nan merupakan ikhtisar hasil angket akan halnya tanggapan

23

siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Media Gambar yang diterapkan selama kegiatan pembelajaran materi Materi Lingkungan, siswa secara publik menyerahkan tanggapan yang positif sepanjang mengimak kegiatan pembelajaran dengan senang, petatar juga merasa senang dengan LKS yang digunakan, suasana kelas, maupun kaidah penyajian materi oleh master, dan model penataran yang baru mereka terima, sejauh kegiatan pembelajaran berlangsung petatar juga merasa senang karena bisa mmenyatakan pendapat, dan siswa merasa memperoleh khasiat dengan eksemplar pembelajaran kooperatif tipe Sarana Gambar.

Tabel 3 Respons siswa terhadap model pengajian pengkajian kooperatif tipe

             Media Gambar

No.

Jabaran

Tanggapan Siswa

Senang

Tidak Gemar

F

%

F

%

1.

Bagaimana perhatian kamu selama mengikuti kegiatan pembelajaran ini ?

22

95,6

1

4,4

Senang

Tak Demen

F

%

F

%

2.

Bagaimana perhatian kamu terhadap :

  1. Materi les
  2. Lembar kerja petatar (LKS)
  3. Suasana Belajar di Inferior
  4. Kaidah penyajian materi oleh guru

23

22

22

23

100

95,6

95,6

100

0

1

1

0

0

4,4

4,4

0

Mudah

Rumpil

F

%

F

%

3.

Bagaimana pendapat anda Mengikuti pembelajaran ini

21

91,3

2

8,7

Bermanfaat

Tidak

Berfaedah

F

%

F

%

4.

Apakah pembelajaran ini bermanfaat kerjakan kamu ?

23

100

0

0

Plonco

Tidak Baru

F

%

F

%

5.

Apakah pembelajran ini yunior lakukan kamu?

23

100

0

0

Ya

Tidak

F

%

F

%

6.

Apakah sira mengangankan gerendel bahasan yang tidak menggunakan Media Gambar?

22

95,6

1

4,4

Keterangan : F =Frekuensi respons pesuluh terhadap pembelajaran

Menggunakan

Media Gambar
(Know, Want to know,






Learner)

N=
Kuantitas: 23 orang

      1. Aktifitas Master

Data hasil pengamatan kemampuan master intern mengelola kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Ki alat Gambar ditunjukan pada tabel 4, bahwa manajemen pendedahan dengan penerapan model pembelajaran  kooperatif variasi Media Gambar internal materi latihan

Lingkungan

pada siklus I sebesar 2.93 nan bermanfaat tersurat kategori baik. Data dapat dilihat pada diagram di pangkal ini.

Grafik 4. Data Hasil Ulangan Koran menggunakan

Media Gambar (Know,


                Want to know, Learner)

No.

Aspek yang diamati

Kredit pengamatan

RPP I

Keterangan

1.

2.

3.

4.

Pesiapan

Pelaksanaan

Pengelolaan Kelas

Suasana Inferior

3,0

3,0

3,0

3,0

Baik

Baik

Baik

Baik

Rata – Rata

3,0

Baik

Takrif :

0          –           1,49     =          abnormal baik

1,5       –           2,49     =          Layak

2,5       –           3,49     =          Baik

3,5       –           4,0       =          Sangat Baik

  1. Refleksi

Tujuan terdahulu penajaman ini adalah lakukan memaklumi kenaikan hasil belajar pada Materi Lingkungan dengan menerapkan acuan pembelajaran kooperatif variasi Alat angkut Gambar. Oleh karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan plong peningkatan hasil belajar siswa sreg Materi Mileu.

Pada siklus 1 terletak kehilangan pemahaman siswa plong Materi Lingkungan.
Menurut pengamat, suka-suka sejumlah hal yang menyebabkan hal ini terjadi.
Permulaan, pesuluh tidak titik api pada pengepakan LKS sehingga terserah bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna.
Kedua,
peserta banyak mengerjakan hal–keadaan di asing konteks penataran, sama dengan bermain dengan imbangan sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu atau dua kelompok tidak subur menjawab dengan baik tanya nan diberikan guru sreg saat evaluasi di akhir tutorial.

           Berbunga temuan kekurangan tersebut maka penyelidik takhlik kebijakan baru cak bagi mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan pada siklus II. Untuk masalah yang purwa peneliti menugaskan tiga manusia siswa lega setiap gerombolan bikin menggambar hasil kegiatan moga semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi lengkap sehingga siswa lebih memahami materi penggolongan baru, agar mengurangi siswa yang saling bermain dengan temannya. Padahal penyakit yang ketiga, penyelidik memberikan penjelasan lebih detail adapun Materi Mileu khususnya lakukan pertanyaan nan sulit ataupun tidak kaya dijawab makanya kerubungan dalam sawala.
Disamping itu untuk masalah yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.

3. Deskripsi siklus II

1
. Perencanaan

Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa tulangtulangan Pelaksanaan Penataran (RPP) yang sesuai dengan Metode Penelaahan Tipe Media Rancangan dengan memperbaiki kehilangan pada siklus I plong materi Materi Mileu. Disamping itu suhu juga membuat Lawe Kerja Siswa (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas guru dan peserta. Selanjutnya, guru membuat validasi hasil membiasakan.Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas bawah, hawa dan observer mendiskusikan lawe observasi.

        2.

Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan pada hari Rabu 1
4

Oktober 2022 dari pukul 07.00 s.d 08.
2
0 WIB.Kegiatan pendedahan nan dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penghabisan. Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi masa untuk kegiatan inti adalah

50

menit dan alokasi kegiatan
penutup sebesar 20 menit.

Puas kegiatan pendahuluan, guru berbuat tiga kegiatan, yaitu (1) menamai dan menghelat kehadiran siswa, (2) melakukan
icebreaking
berupa menyanyi, (3)menggali maklumat siswa dan mengaitkan dengan materi tutorial yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru

.

Melangkahi kegiatan inti mendesain kegiatan semoga siswa dapat mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Lakukan bisa menemukan berkaitan dengan
Media Rang,
pertama-tama guru memberi peserta intern

7

kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 3-4 sosok petatar.

Guru mengklarifikasi terlebih tinggal akan halnya tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga peserta tidak menjadi senewen. Selain itu, sejauh diskusi berlangsung temperatur berkeliling kerubungan lakukan mengawasi siswa bekerja sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil urun rembuk kelompok. Pelajar berasal kelompok tidak akan ditanyakan pendapatnya tersapu jawaban keramaian yang sedang penyampaian. Sekiranya terletak selang surup, temperatur malar-malar suntuk meminta sesama pesuluh nan melakukan perbaikan.Pelajar nan hasil temuan kelompok yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian dari temperatur sedangkan pelajar yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.

Kegiatan akhir siklus II antara lain: (1)mengerjakan evaluasi untuk memahami pencapaian siswa sehabis dilaksanakan pembelajaran dengan ketatanegaraan
Media Rang,
(2) siswa melakukan kilas balik tentang pembelajaran nan baru dilakukan dan (3)siswa dan guru memestakan keberhasilan belajar dengan bertampar tangan gembira.

  1. Observasi
  1. Hasil Belajar Siswa

Partisipasi murid Papan bawah VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang ada kenaikan n domestik Kegiatan Pembelajaran pada siklus II sesudah dilakukan penerapan eksemplar pembelajaran kooperatif menggunakan Media Gambar. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih ada sebagain mungil problem yang muncul bilamana proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung.

Partisipasi petatar Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan IPA. Keadaan ini terlihat dari hasil belajar pesuluh puas siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus II dengan penerapan model pendedahan kooperatif macam
Alat angkut Gambar
dengan jumlah 23 peserta, terdapat 22 siswa atau  95,6% nan tuntas dan yang tidak tuntas ada 1 Siswa atau 4,4% yang enggak tuntas dan ponten lazimnya sebesar

84,3
. Data boleh dilihat plong tabulasi 5 dibawah ini.

Tabulasi.5 Hasil ulangan buku harian sreg siklus II

No

Label Siswa

Nilai

Laporan

1

Dwi Citra Emanuella

85

Tuntas

2

Dimei Mulaini Hartati

85

Tuntas

3

Dawanto

75

Tuntas

4

Fisti Eirene Sabatini

85

Tuntas

5

Fransiska anugrahni

85

Tuntas

6

Heni Silvia Resti

100

Tuntas

7

Jesika

90

Tuntas

8

Kamandrai

90

Tuntas

9

Ishak stefanus

85

Tuntas

10

Kristi

80

Tuntas

11

Lucky Frit Indrawan

85

Tuntas

12

Lewin Ranai Ukip

85

Tuntas

13

Lisa Karuiya Karuhni

75

Tuntas

14

Nathanael Eka Putra

85

Tuntas

15

Resto

85

Tuntas

16

Rediano Baktianus

80

Tuntas

17

Siska Ariani

90

Tuntas

18

Sandi Toro Lamba

85

Tuntas

19

Pebriano  Kurniawan

85

Tuntas

20

Noni Istiqomah

85

Tuntas

21

Petrik  Babtista

85

Tuntas

22

Wayano Bajar

85

Tuntas

23

Tomi Lianto

70

Lain

Tuntas

Total

1940

Lazimnya

84,3

Ketuntasan Klasikal

95,6%

             Keterangan :

              F =Frekuensi respons pelajar terhadap penerimaan kooperatif tipe

                   Media Gambar

              Cakrawala = Kuantitas: 23 orang

  1. Aktifitas Temperatur

Data hasil pengamatan kemampuan hawa internal mengelola kegiatan penelaahan kooperatif tipe Media Gambar ditunjukan pada tabel 4, bahwa pengelolaan pembelajaran dengan penerapan Ki alat Gambar dalam materi kursus Lingkungan pada siklus I sebesar 2.93 nan bermanfaat termasuk kategori baik. Data dapat dilihat puas tabulasi di bawah ini.

Tabel 6. Data Peniliaian pengelohan pembelajaran menggunakan


             Kendaraan Gambar

No.

Aspek yang diamati

Skor pengamatan

Siklus II

Keterangan

1.

2.

3.

4.

Pesiapan

Pelaksanaan

Tata Papan bawah

Suasana Kelas

3,33

3,5

3,0

3,0

Baik

Sangat Baik

Baik

Baik

Rata – Rata

3,2

Baik

Keterangan :

0          –           1,49     =          kurang baik

1,5       –           2,49     =          Pas

2,5       –           3,49     =          Baik

3,5       –           4,0       =          Dahulu Baik

  1. Refleksi

Tujuan terdahulu pengkhususan ini adalah cak bagi mengetahui peningkatan hasil belajar pada Materi Lingkungan  dengan menerapkan transendental pembelajaran menggunakan Wahana Buram. Makanya karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil membiasakan pelajar sreg materi Materi Lingkungan.

Plong siklus 1 terdapat kehilangan pemahaman pelajar pada Materi Lingkungan. Menurut pengamat, terserah beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi.
Permulaan, pesuluh enggak titik api pada pengisian LKS sehingga suka-suka bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna.
Kedua,
siswa banyak berbuat keadaan – situasi di luar konteks pembelajaran, seperti bermain dengan teman sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu atau dua kelompok tidak berbenda menjawab dengan baik pertanyaan nan diberikan guru pron bila evaluasi di akhir latihan.

Dari temuan kekurangan tersebut maka peneliti mewujudkan ketatanegaraan baru untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman murid tersebut di atas, selanjutnya akan diterapkan lega siklus II. Untuk keburukan nan pertama peneliti menugaskan tiga orang siswa lega setiap kerubungan untuk menulis hasil kegiatan mudah-mudahan semua LKS terisi semua. Dengan pendirian demikian maka data yang terkumpul menjadi contoh sehingga siswa bertambah mengerti materi kategorisasi baru, seyogiannya mengurangi siswa nan ganti berperan dengan temannya. Sedangkan kebobrokan yang ketiga, pemeriksa memberikan penjelasan lebih detail tentang materi Lingkungan khususnya bikin pertanyaan yang jarang atau tidak kaya dijawab oleh kelompok dalam diskusi.Disamping itu untuk penyakit yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.

B. Pembahasan

1. Hasil Berlatih

Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar evaluasi kondisi semula siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang kerjakan Materi Lingkungan dengan sempurna penelaahan mengunakan khotbah diperoleh nilai rata – rata kondisi tadinya sebesar 7
3,7
dengan nilai terala yakni 8
5

terdapat 1 hamba allah dan biji terendah ialah 60 terwalak

3

insan dengan ketentusan membiasakan 73,9% dan yang tidak tuntas 26,1%.

Hasil pengkajian menunjukan bahwa hasil membiasakan siswa Inferior VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang pada siklus 1 cak bagi Materi Lingkungan dengan model pendedahan, Media Bentuk diperoleh nilai rata – rata siklus 1 sebesar 7
8,5

dengan kredit tertinggi adalah

90

terwalak 1 basyar dan biji terendah merupakan 65 terdapat

3

sosok dengan ketentusan sparing 82,6% dan nan lain tuntas 17,4%.

Padahal sreg siklus II untuk materi Materi Lingkungan diperoleh nilai rata – rata siklus II sebesar

84,3
dengan nilai tertinggi adalah

10
0 terdapat 1 orang dan nilai terendah yakni 70 terwalak 1 hamba allah dengan ketuntasan berlatih 95,6% dan yang bukan tuntas 4,4%. Pelajar yang enggak tuntas baik pada siklus I maupun plong siklus II adalah siswa yang sama, ini disebabkan siswa tersebut lega dasarnya tidak ada niat buat sparing dan sering tidak ikut sekolah.

Berdasarkan data hasil belajar pesuluh bersumber siklus I dan siklus II menunjukan adanya peningkatan hasil berlatih siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang periode cak bimbingan 2022/2016 menunjukan peningkatan hasil belajar pelajar pada materi yang sama yaitu Lingkungan. Keadaan ini disebabkan pada siklus I dan siklus II menunjukan peningkatan hasil membiasakan siswa puas materi yang sekelas yaitu Lingkungan. Hal ini disebabkan pada siklus I dan siklus II Sudah menerapkan model pembelajaran kooperatif macam Wahana Buram.

2.  Aktivitas Siswa

Aktivitas pelajar sepanjang kegiatan pembelajaran berlantas nan menerapkan Media Bagan pada materi Mileu menurut penilaian pengamat termasuk kategori baik semua aspek aktivitas siswa. Adapun aktivitas siswa yang dinilai oleh pengamat adalah aspek aktivitas siswa:  mendengar dan memperhatikan penjelasan guru, kerja setimpal dalam kelommpok, berkreasi dengan memperalat alat peraga, keaktifan pesuluh dalam diskusi, memperesentasikan hasil diskusi, menyimpulkan materi, dan kemampuan siswa menjawab pertanyaan terbit guru.

Berdasarkan hasil penilaian nan sudah dilakukan aktivitas siswa yang paling dominan dilakukan yaitu bekerja sama mengerjakan LKS dan berdiskusi. Keadaan ini menunjukan bahwa peserta tukar bekerja sama dan bertanggung jawab untuk mendapatkan hasil yang baik. Keadaan ini sesuai dengan pendapat santoso (dalam anam, 2000:50) nan menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif mendorong siswa dalam kerubungan membiasakan, bekerja dan berkewajiban dengan bukan main–sungguh setakat selesainya tugas– tugas bani adam dan kelompok.

3. Pembelajaran Media Gambar

        Kemampuan temperatur dalam pengelolaan model pembelajaran kooperatif tipe Kendaraan Gambar menurut hasil penilaian pengamat termasuk kategori baik untuk semua aspek. Berarti secara keseluruhan guru telah memiliki kemampuan yang baik kerumahtanggaan mengelola Media Gambar pada Materi Lingkunganl. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibrahim (2000), bahwa guru main-main penting privat mengurusi kegiatan mengajar, yang berarti temperatur harus makmur dan inovatif dalam merancang suatu kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga minat dan senawat pelajar dalam belajar boleh ditingkatkan. Pendapat lain yang mendukung merupakan piter (dalam Nur dan Wikandari 1998). Kemampuan seorang guru silam penting dalam penyelenggaraan penataran sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlanjut efektif dan efisien.

4.Respons petatar Terhadap pembelajaran menggunakan Sarana Gambar

.

        Berlandaskan hasil jajak pendapat respons siswa terhadap model pembelajran kooperatif spesies Sarana Rancangan yang diterapkan maka dari itu peneliti menunjukan bahwa siswa merasa suka terhadap materi pelajaran. LKS, suasana belajar dan mandu penyampaian materi oleh guru. Menurut murid, dengan ideal penerimaan kooperatif variasi Alat angkut Susuk mereka bertambah mudah memahami materi pelajaran interaksi antara master dengan siswa dan interaksi antar murid tercipta semakin baik dengan adanya diskusi, sedangkan ketidak senangan murid teerhadap arketipe pembelajran kooperatif tipe Kendaraan Lembaga disebabkan suasana berlatih dikelas yang sangkil bertelingkah.

        Seluruh siswa (100%) berpendapat baru mengikuti pembelajran dengan Media Rang. Siswa merasa doyan apalagi anak kunci bahasan selanjutnya menunggangi Sarana Tulangtulangan, dan siswa merasa bahwa model penelaahan kooperatif menggunakan Media Gambar berfaedah bikin mereka, karena mereka dapat saling berpalis ingatan dan materi pelajaraan nan didapat mudah diingat.

Bab V PENUTUP

5.1 Penali

Berlandaskan hasil penekanan dengan menerapkan teladan pengajian pengkajian kooperatiftipe Media Bagan, maka bisa diambil konklusi umpama berikut:

Pendayagunaan Media Tulang beragangan dapat meningkatkan hasil belajar Materi Mileu Siswa Inferior VIIIb  SMPN 4 Tamiang Layang
.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penyelidik dapat memberikan saran–saran, yakni:

  1. Kepada hawa

    nan mengalami kesulitan yang

    boleh menerapkan Media Gambar misal alternatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar kelas.
  2. Kepada suhu–guru nan cak hendak menerapkan Media Gambar disarankan untuk membikin Media Lembaga yang lebih menarik dan bermacam-macam.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1997.Garis haluan Berlatih Mengajar. Bandung: Pustaka Setia

Arikunto, Suharsimi. 2022.
Pangkal-Asal Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi

               Huruf

Depdiknas. 2003.UU RI No.20 Tahun 2003 akan halnya system Pendidikan Nasional.

                   Jakarta: Depdiknas

————–. 2004.
Standar Kompetensi Temperatur Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas

————–.2005.
PP No.19 Waktu 2005 tentang Standar Kebangsaan Pendidikan.

                   Jakarta: Depdiknas

————-. 2007.
Permendiknas RI No. 41 Waktu 2007 mengenai Standar Proses.

                  Jakarta: Depdiknas

————-. 1999.
Pedoman Penyusunan Karya Catat Ilmiah di Bidang


                  Pendidikan

. Jakarta: Depdikbud

Ibrahim, M. 2005.
Pembelajaran Kooperatif.
UNESA: University Press.

Kemdiknas.2011.Membimbing Guru dalam Eksplorasi Tindakan Kelas. Jakarta:

               Kemdiknas

————-. 2022.
Paikem Pembelajaran Aktif Inovatif


                Mampu Efektif dan Menghibur

.  Jakarta: Kemdiknas

Ngalim, Purwanto.  2008.
Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:PT

               Mulai dewasa Rosda Karya

Ngalim, Purwanto.  2003.
Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.

              Bandung:PT Remaja Rosda Karya

Sudjana, Nana. 2022.
Tujuan Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Suyatno. 2009.
Sarana Gambar. Surakarta: Tiga  Seikat


Source: https://www.kangjo.net/berita/detail/peningkatan-hasil-belajar-lingkungan-menggunakan-media-gambar–siswa-kelas-viiib-smpn-4-t-layang