Contoh Pelajaran Muatan Lokal Speaking Untuk Smp Kelas 8

PENGAJARAN BAHASA INGGRIS

UNTUK Siswa BERKEBUTUHAN KHUSUS

Kerumahtanggaan SETING INKLUSI Lega Hierarki SEKOLAH Sumber akar

PENDAHULUAN

Pemerintah Indonesia mengingat-ingat benar bahwa pendidikan adalah kepunyaan seluruh anak asuh bangsa, apapun keadaanya dan bagaimanapun kondisinya. Pendidikan inklusi adalah kilangangin kincir segar dalam pendidikan di Indonesia bikin dapat mengembangkan potensi anak berkebutuhan khusus kiranya boleh berkembang secara optimal sebagaimana anak normal. Pendidikan inklusi mutakadim diamanatkan pemerintah dengan adanya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 waktu 2009 adapun pendidikan inklusi.

Kanun Menteri perihal pendidikan inklusi ini pula didukung Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948, Konvensi Hoki Anak asuh 1989, Konferensi Mayapada mengenai pendidikan untuk semua 1990, dan Resolusi PBB nomor 48l96 tahun 1993 tentang paralelisme kesempatan bagi bani adam berkelainan.

Berusul dikeluarkannya Kanun Menteri tentang Pendidikan Inklusi telah banyak sekolah di Indonesia yang kemudian menjadi ekstensi tangan pemerintah mencerdaskan momongan nasion dari semua tipe kecerdasan dengan menyelenggarakan pendidikan inklusi. Sekolah inklusi memiliki strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan siswa yang berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus (ABK) ditempatkan bersama dengan siswa regular dalam seting inklusi dengan mengikuti sejumlah pancang buat mencapai tujuan pembelajaran. Strategi, isi, pendekatan, metode nan disesuaikan dengan kebutuhan khusus yang diperlukan oleh setiap anak adalah keseleo satu cara mengurangi ekslusi pendidikan. Setiap sekolah reguler sekarang dianjurkan bagi menjadi inklusif dengan tetap ki memenungkan sarana dan prasarana sebagai bagian dari pelayanan baik kepada anak asuh-anak asuh nan berkebutuhan eksklusif.

Mengajarkan bahasa Inggris bakal anak-anak berkebutuhan tunggal intern seting inklusi ialah sebuah tantangan nan memerlukan kerjasama dan partisipasi semua pihak di intern sekolah. Lamun barangkali bahwa ide untuk mengajarkan bahasa Inggris pada pesuluh berkebutuhan solo terdengar aneh alias bahkan enggak mungkin, tetapi ini adalah putaran berbunga tanggung jawab dalam pendidikan untuk tetap diterima laksana bagian bermula tantangan dunia pendidikan.

Bahasa Inggris di tingkatan sekolah dasar diajarkan sebagai muatan lokal, yang memungkinkan sekolah untuk mengembangkan dan memilih seorang kurikulum pencekokan pendoktrinan bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan petatar bimbing. Tingkatan usia pesuluh yang majemuk dengan ketunaan yang berbagai rupa juga dapat menyorong guru berputra sisi kreatif master reguler yang juga bertanggung jawab pada pendidikan inklusi.

Pengajaran Bahasa Inggris dalam seting inklusi mengharuskan guru buat kreatif, fleksibel, bersedia membiasakan berusul siswanya dan memiliki komitmen terhadap keberhasilan penerimaan. Hallagan (2005) menyebutkan bahwa guru latar penelitian apapun yang mengajar momongan berkebutuhan individual dalam seting inklusi harus memiliki kabar adapun ketunaan secara alamiah, penyebabnya, asesmennya dan penatalaksanaannya. Berkenaan dengan pengajaran bahasa Inggris, sekolah harus memuat beraneka ragam keberagaman ketentuan berpangkal aspek yang ingin dibangun dalam pencekokan pendoktrinan Bahasa Inggris, apakah hanya dijadikan laksana mata cak bimbingan perkenalan awal alias cak semau target kurikulum tertentu yang akan ditetapkan. Qada dan qadar dan kesatuan hati di awal inilah yang dapat dipakai oleh guru perumpamaan pedoman lakukan mementukan metode, cara, pendekatan, desain, materi dan manajemen kelas bawah.

Penentuan desain penelaahan yang tepat untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada pesuluh berkebutuhan istimewa diawali dengan mengidentifikasi ketunaan yang dialami dan hambatan utama mereka berlatih. Komunikasi yang efektif dengan master cak regu pendamping inklusi adalah pelecok suatu taktik utama keberhasilan dalam menunggalkan misi pencekokan pendoktrinan yang boleh mempengaruhi kejayaan programa. Desain pengajian pengkajian adalah rajah keseluruhan proses pembelajaran nan merupakan sebuah sistem terbit kegiatan analisa, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi (Sunanto&Hidayat, 2022). Desain pembelajaran bahasa Inggris untuk murid berkebutuhan khusus dirancang bersendikan analisa kebutuhan dan obstruksi sparing mereka. Dengan menentukan desain pembelajaran nan tepat, arah dan strategi pembelajaran dapat diusahakan lakukan kejedot modalitas yang anak tersebut miliki.

Ada heksa- hal yang harus diperhatikan n domestik pengembangan pengajaran Bahasa Inggris di internal seting inklusi begitu juga yang disampaikan Bishaw (2012), yakni :

1. Guru

Master adalah kejadian terdepan dan pertama yang harus disiapkan untuk mencapai kemajuan pengajaran Bahasa Inggris internal seting inklusi. Sikap guru di internal kelasnya dan prinsip pandang guru terhadap pendidikan inklusi menjadi salah satu titik ukur berfaedah di dalam menentukan kemajuan pengajaran dalam seting inklusi. Machi (2007) menyebutkan sikap guru terhadap pengajaran di seting inklusi sangat dipengaruhi oleh bilang situasi, satah belakang pendidikan, pengalaman mengajar, matra kelas bawah, kuantitas jam lihat wajah nan dipergunakan bikin mengajar siswa berkebutuhan spesial, tanggung mengajar dan pendanaan.

2. Pelatihan

Berkreasi n domestik seting inklusi berbeda dengan berkreasi dalam seting reguler. Ketersediaan pelatihan nan dilakukan bikin menyiagakan guru merupakan salah satu cara bakal meningkatkan kepercayaan diri guru dan tenaga kependidikan secara masyarakat buat merasa memilik dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

3. Kurikulum Inklusi

Ketersediaan kurikulum inklusi merupakan salah satu hal yang harus dipenuhi cak bagi mendukung kesuksesan proses pengajarn di kerumahtanggaan seting inklusi. Adapatasi dan modifikasi pada kurikulum reguler harus dilakukan beralaskan keutuhan anak-momongan dengan berbaga ketunaan yang ada. Memaksakan kurikulum reguler secara normatif pada petatar dengan kebutuhan khusus semata-mata akan menyebabkan guru sekedar melaksanakan tugasnya asal gugur kewajiban.

4. Sumber dan ki alat mengajar

Privat konetks kelas reguler, sumber-sumber mengajar dan sarananya harus dipersiapkan dengan matang dan teliti. Tambahan pula privat seting inklusi, ketersediaan sumber dan sarana mengajar adalah kejadian yang harus dipertimbangan untu dapat menyelenggarakan indoktrinasi privat seting inklusi yang baik.

5. Evaluasi

Proses valuasi dan penilaian dalam seting inklusi haruslah fleksibel dalam situasi car adan waktunya. Peristiwa yang dinilai lain amung-mata pengetahuan. Tapi pula keterampilan baru yang dikuasai siswa, sikap alias tambahan pula tata nilai mentah yang diadaptasi anak dalam penataran. Guru sreg seting inklusi harus mencela tak semua pengutusan dan variasi evaluasi dapat diterapkan pada pesuluh berkebutuhan khusus. Harus benar-benar dipertimbangkan tentang keuntungan dan kekurangan pada sendirisendiri model penilaian sebelum diterapkan.

6. Strategi Pengajian pengkajian

Davies (2004) menyebutkan bahwa guru daalam seting inklusi dapat mengajar dengan efektif bila temperatur mampu merespon terhadap berbagai kebutuhan pesuluh berkebutuhan khusus dan hal ini dapat dilakukan dengan membuat majemuk penugasan, materi dan desain pembelajaran. Tanpa adanya keterlibatan suhu betul-betul dalam pembuatan perencanaan kurikulum privat seting inklusi, pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris di dalam seting inklusi hanya akan menjadi sebuah beban kurikulum dan bagan.

Banyak situasi yang dapat menjadi penyebab gagalnya pengajaran dalam seting inklusi seperti yang disampaikan maka dari itu Mitchell (2008) bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan indoktrinasi dalam seting inklusi merupakan kelas nan samudra, rukyah subversif tentang siswa berkebutuhan idiosinkratis, sistem pendidikan yag merentang pada angka semata, kurangnya sarana dan prasarana, metode pengajaran nan preskriptif, penilaian yang didominasi oleh saran medis, rendahnya keterlibatan orangtua malah di bilang negara, rendahnya manah negara terhadap pendidikan lakukan semua.

PEMBAHASAN

Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda sebagai salah satu sekolah pembuat pendidikan inklusi di ii kabupaten Samarinda telah membuka unit inklusi yang menampung petatar inklusi dari tingkat TK, SD, SMP sebatas dengan SMA sejak tahun 2022. Waktu pendedahan 2022/2018 ini total keseluruhan siswa inklusi adaah 21 orang. Jumlah terbesar cak semau plong unit sekolah sumber akar yaitu 15 insan, disusul SMP 4 hamba allah dan TK 2 orang.

Sekolah Sumber akar Selam Bunga Bangsa melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris bak kewajiban domestik dengan menggunakan kurikulum Cambridge. Penataran bahasa Inggris menghampari aspek mendengarkan (listening), aspek bersuara (speaking), aspek membaca (reading) dan aspek menulis (writing). Di internal muatan kurikulum Cambridge Curriculum juga memuat pengelolaan bahasa (usage) dan bunyi (phonics).

Meski penulis telah mengajar unit inklusi selama 3 tahun untuk tanggung lokal bahasa Inggris sekolah sumber akar kelas bawah awal, tetapi penulis belum pernah secara khusus mendapatkan pelatihan tentang penanganan dan pengajaran ABK. Wawancara dengan guru pembantu inklusi, mencerca spontan bagaimana master eksklusif inklusi mengajar dan membaca literatur yang berkaitan dengan strategi pembelajaran inklusi yaitu pendirian yang dilakukan penulis buat mengerjakan penyesuaian dan penyederhanaan desain pembelajaran berpangkal kelas reguler yang diampunya hendaknya bisa mengimbangkan dengan kebutuhan dan rintangan membiasakan ABK.

Desain pembelajaran dilakukan dengan merenungkan hasil asesmen awal terhadap kebutuhan setiap ABK yang beraneka rupa. Setiap desain penerimaan harus berisi, materi, metode, sarana dan evaluasi. Manajemen penerimaan bahasa Inggris dilakukan dengan dua pendirian terpisah (separating) dan berintegrasi dengan kelas bawah reguler (attaching). Pada kelas terpisah, guru bahasa Inggris menjenguk setiap satu pekan satu kali ke internal papan bawah spesial inklusi. Plong papan bawah gabungan, ABK yang bergabung bersama dengan siswa reguler dua pertemuan dalam satu pekan. Puas tahun ini kuantitas ABK sekolah dasar kelas bawah awal yang menjadi barang bawaan jawab penulis yaitu 5 makhluk, 2 orang tuna daksa dengan spesifikasi celebral palsi, 2 orang tuna rungu dan 1 orang gangguan pemfokusan. Setiap ABK selama di privat kelas koalisi atau terpisah selalu didampingi oleh masing-masing 1 orang guru pendamping.

Berdasarkan hasil asesmen awal dan karangan rekomendasi guru khusus inklusi, maka notulis merancang desain penataran bahasa Inggris bakal ABK. Plong pendedahan bahasa Inggris untuk ABK dalam seting inklusi di tingkatan sekolah dasar kelas awal. Melihat hal 5 makhluk ABK kelas awal sekolah dasar dengan kondisi 2 manusia tuna rungu, 2 cucu adam tuna daksa (dengan masih congah mengimak pengajian pengkajian reguler) dan 1 makhluk gangguan sentralisasi. Besaran ABK ini ialah kuantitas siswa yang turut berintegrasi dalam inferior reguler 2 mungkin tatap muka dalam sepekan. Besaran ini bertambah ketika penulis menjadi hawa ronda, yang mengunjungi ABK di unit inklusi suatu pertemuan dalam setiap pekan menjadi 9 orang ABK, gabungan semenjak petatar kelas 1 – 6. Pertemuan temperatur ronda ialah sesi kelas awam bagi siswa ABK di unit sekolah dasar Islam Rente Nasion.

Desain penerimaan menutupi :

1. Rangka Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Bagan Pelaksanaan Pembelajaran maupun RPP diolah oleh master bidang studi yang kemudian dikembangkan menjadi Rencana Pengajaran Spesial yang dilakukan oleh Suhu Pembantu Eksklusif (GPK). Sekolah Dasar Islam Rente Bangsa menggunakan dua kurikulum pengajaran Bahasa Inggris, yaitu Kurikulum Cambridge lakukan kelas 1-6 dan Kurikulum Bahara Tempatan untuk pesuluh kelas 6 di semester genap. Kurikulum yang digunakan penulis untuk mengajar sekolah sumber akar kelas awal adalah kurikulum Cambridge. Kemampuan yang dikembangkan di kerumahtanggaan kurikulum Cambridge adalah membaca (reading), menulis (writing), tata bahasa (use of English), mendengarkan (listening) and merenjeng lidah (speaking). Tetapi pada pelaksanaan di kelas, kemampuan membaca (reading), menulis (writing) dan tatabahasa (use of English) yang paling mendominasi kegiatan pembelajaran bahasa Inggris inklusi.

Internal setiap kemampuan yang akan di kembangkan telah terhidang acuan indikator yang disiapkan oleh silabus mahajana (curriculum framework) dengan kode tertentu yang memudahan guru untuk mengembangkan korban ajar dan media menyesuaikan dengan kebutuhan pesuluh. Daftar indikator tersebut disiapkan dari yang paling sederhana ke nan paling rumit. Indikator dengan kode tersebut dapat dipilih menyesuaikan dengan rerata kecepatan sparing ABK dan hambatan belajar yang dialaminya. Sebagai contoh :

2Re1
Recognise, identify and sound, with support, a limited range of language at text level.

Interpretasi : mengenal, mengidentifikasi dan mengetahui, bahasa terbatas dalam bentuk wacana dengan pertolongan.

Plong indeks ini, guru bisa membuat insan kegiatan yang boleh mengacu pada ketercapaian parameter sesuai dengan lancar percepatan belajar anak. Laksana contoh, master akan membuat kalimat tertinggal dengan 1 subyek dan 1 predikat ibarat bagian bersumber sebuat bacaan sederhana. Guru boleh pula memecah satu bacaan bagi kemudian dipilah beralaskan kalimat.

Pembuatan RPP dilakukan dengan memperhatikan percepatan sparing siswa. Panjang dan media juga dibuat dengan menimang hambatan membiasakan yang dihadapi oleh ABK.

2. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Pada kegiatan membiasakan mengajar di kelas terpisah, penulis mengerjakan kegiatan terstruktur sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Buku nan digunakan ialah Global English. Seringkali lembar kerja siswa harus dibuat sendiri untuk mengakomodasi pembelajaran bagi ABK yang menyatu di kelas reguler.

Secara umum kegiatan pembelajaran dimulai dengan pembukaan, inti dan penutup. Sesi pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan dalam seting inklusi dilakukan dengan durasi nan pendek ialah 30 menit. Kegiatan prolog penataran, kegiatan inti dan seringkali ABK beserta master pendampingnya mutakadim meninggalkan ira sebelum sesi penutup.

3. Materi dan Metode Pembelajaran

Materi pembelajaran bahasa Inggris puas seting inklusi sudah disederhanakan dengan menyesuaikan kemampuan ABK. Membaca (reading), writing (batik) dan use of English adalah tiga kemampuan yang lebih diutamakan dibanding listening (mendengarkan) dan speaking (berbicara).

Metode penelaahan yang dilakukan plong penerimaan dengan seting inklusi adalah :

a. Direct Method – metode langsung/metode natural

Kegiatan penataran dilakukan dengan mengulang-ulang (drilling).

Sama dengan sudah banyak dikenal, penggunaan direct method di privat indoktrinasi bahasa Inggris menginisiasi kesadaran sparing siswa dan menyertakan pesuluh untuk tahu lebih dalam tentang maslahat kata yang dipelajarinya dan bagaimana menggunakannya. Pada direct methods, semua keadaan petatar dengan kemampuan yang rendah atau nan tinggi, dapat dengan udah terjembatani dengan memperalat direct methods. Secara psikologis menggunakan direct methods akan menggerakakkan proses belajar bermula nan keteter pada yang kompleks dan lega hal nan nyata menuju pada hal yang eksemplar.

b. Total Physical Response – TPR

Kegiatan dilakukan bukan belaka dengan dril, tapi juga memanfaatkan persuasi tubuh dan bahasa awak. Secara umum penggunakan TPR adalah cara yang mudah dan gampang untuk diterapkan di kelas bahasa. Kegiatan dengan menggunakan kegiatan badan juga menyenangkan pesuluh dan guru. Pembelajaran tentang kosakata yakni materi yang minimum tepat untuk diajarkan dengan TPR. Total kelas bawah nan besar privat seting inklusi bisa tertolong dengan menunggangi TPR ini. Walaupun demikian, penggunaan TPR teguh harus mengikuti pacak dan adat yang tepat ukurannya, misalnya pada siswa dengan ketunaan daksa.

c. Lexical Approach – leksikal

Kegiatan dalam metode pembelajaran ini dilakukan dengan berlatih sebuah kata atau kalimat misal konteks penuh atau sebaliknya melalui rajangan-potongan leksikal. Penggunaan pendekatan leksikal ini dilakukan dengan menggunakan komik strip, yang membantu siswa belajar dengan bahasa nan natural sonder perlu usaha dan perlagaan nan sesak keras.

4. Sarana Pembelajaran

Ki alat pembelajaran adalah peristiwa yang terdepan internal setiap pengajian pengkajian. Dengan media pembelajaran boleh tersampaikan secara lebih menyenangkan dan berharga. Bransford (1999) menyebutkan keuntungan memperalat wahana pembelajaran dalam penerimaan, yaitu akan mengeluh konsep dan ide yang akan disampaikan kepada siswa, sehingga proses pembelajaran akan bepergian dua arah, bukan hanya satu sisi saja. Wahana banyak jenisnya, visual maupun audio optis. Alat angkut pembelajaran yang digunakan n domestik penerimaan bahasa Inggris dalam seting inklusi adalah :

a. Realia kits – benda nyata

Pengajaran Bahasa Inggris dalam seting inklusi mendekati pembelajaran dengan memulainya dengan sesuatu yang dekat dengan anak. Begitupun pencekokan pendoktrinan bahasa Inggris dalam seting inklusi. Menggunakan benda-benda sekitar akan menempelkan sejarah penerimaan yang lebih baik pada pesuluh.

b. Slides – presentasi slide

Menggunakan slide dalam bagan power point dengan abc ukuran besar dan berwarna adalah salah satu prinsip hendaknya pembelajaran di privat kelas bawah menjadi menarik bagi siswa. ABK tuna Pendengaran juga dapat menikmati proses pembelajaran ini dengan penyesuaian pada bahasa mimik dan bahasa tubuh.

c. Film strips – sinema sumir

Begitu juga halnya seting pada kelas bawah reguler, kelas bawah inklusi juga memerlukan penggunaaan media nan beragam dan tertata. Penggunakan sinema strips dan klip bisa menjadi alternatif yang seru. Bagan yang kirana dengan suasana yang mendukung dari komidi gambar akan menjadi bahan rekam otak yang baik kerjakan siswa.

d. Cards – kartu kata

Pemanfaatan kartu perkenalan awal masih ialah pilihan tersisa yang pantas digunakan intern setiap pembelajaran bahasa Inggris intern seting reguler maupun seting inklusi.

5. Penilaian

Kegiatan penilaian dilakukan secara spesifik dan katib hanya bertanggungjawab bagi mengevaluasi written (tulisan) dan lisan (lisan) sederhana. Kemampuan lain yang dinilai dilakukan maka dari itu guru pendamping dengan menggunakan lawe kerja peserta yang sudah lalu disesuaikan dengan materi bimbing.

Deduksi

Mengajarkan bahasa Inggris bikin momongan-anak asuh berkebutuhan khusus dalam seting inklusi adalah sebuah tantangan nan memerlukan kerjasama dan partisipasi semua pihak di dalam sekolah. Bahasa Inggris di tingkatan sekolah dasar diajarkan bagaikan pikulan lokal, yang memungkinkan sekolah untuk meluaskan dan memilih sendiri kurikulum pengajaran bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan peserta asuh.

Desain pembelajaran dilakukan dengan memikirkan hasil asesmen tadinya terhadap kebutuhan setiap ABK yang beragam. Setiap desain pembelajaran harus sakti, materi, metode, wahana dan evaluasi.

Desain pembelajaran nan harus disiapkan pada penerimaan Bahasa Inggris bikin anak-anak berkebutuhan khusus meliputi Gambar Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), runtutan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), pemilihan materi dan metode pendedahan, penggunaan media pembelajaran dan kegiatan evaluasi.

Desain pembelajaran bahasa Inggris untuk petatar berkebutuhan unik dalam seting inklusi adalah sebuah tantangan osean untuk guru untuk ditaklukkan, pemilihan materi, metode, proses kegiatan berlatih mengajar dan perencanaan yang matang adalah sebuah afiliasi nan tepat untuk melakukan pengajaran bahasa Inggris pada siswa reguler dan peserta berkebutuhan khas.

Secara awam, tidak ada perbedaan yang radikal terhadap sortiran metode dan media pembelajaran nan diperlukan dalam pencekokan pendoktrinan. Kedua kerubungan anak seremonial dan anak berkebutuhan spesial punya hak yang sma bikin mendapatkan pelayanan yang baik saat sparing.

Dengan desain pembelajaran bahasa Inggris nan baik, anak berkebutuhan khusus kembali akan belajar dengan baik sebagaimana anak-anak stereotip lainnya.

REFERENSI

1. Bishaw (2012) Teaching English to the Students With Difficulties in Inclusive Settings. http://www.academia.edu/2604749/Inclusive_Teaching_in_the_Context_of_English_Language_Teaching_ELT_ 14.35 17 November 2022

2. Cambridge Primary as Second Language Curriculum Framework. 2022.

3. Fithriah, A (2013) STRATEGI Penataran BAHASA INDONESIA PADA Kelas bawah V INKLUSI SD Biru muda KAMILA SURAKARTA. Perhimpunan Muhammadiyah Surakarta. A thesis.

4. Hallagan, Daniel P. Learning Dissabilities : Foundations, Characteristics, and Effective Teaching. USA. 2005.

5. National Research Council. 1999. How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School. Washington, DC: The National Academics Press.

6. Sunanto, J & Hidayat (2016) Desain Penelaahan Anak berkebutuhan Khusus Dalam Inferior Inklusif. JASSI Anakku. Volume 17. No. 1 .Juni 2022.

7. https://englishagenda.britishcouncil.org/continuing-professional-development/cpd-teacher-trainers/creating-inclusive-learning-experience-english-language-learners-specific-needs

14.30 17 November 2022

8. https://www.teachingenglish.org.uk/sites/teacheng/files/F044%20ELT-48%20The%20Use%20of%20the%20Media%20in%20English%20Language%20Teaching_v3.pdf

20.59 23 November 2022

Ilustrasi Gambar :

https://www.google.com/search?client=opera&hs=3eB&biw=1366&bih=658&tbm=isch&sa=1&ei=jvEjWsubBcWA8wWz84m4Bg&q=teaching+children+with+special+needs&oq=teaching+children+with+special+needs&gs_l=psy-ab.3..0.13975.15730.0.16362.9.9.0.0.0.0.183.1091.0j7.7.0….0…1c.1.64.psy-ab..2.7.1088…0i7i30k1j0i13k1.0.RJjZ9sEbxd0#imgrc=PwwqJR6SN1895M:

Source: https://www.gurusiana.id/read/diangarinilituhayu/article/pengajaran-bahasa-inggris-untuk-siswa-berkebutuhan-khusus-dalam-seting-inklusi-pada-jenjang-sekolah-dasar-3696564