Cara Kreatif Mengajarkan Passive Voice Untuk Siswa Kelas 9 Smp

Momen tiba waktu aku harus mengajarkan konsep kalimat pasif (Passive Voice) di kelas 9, terselit sedikit perhatian kalut. Pengalaman tahun lalu manakala aku mengajarkan konsep ini, enggak bisa hilang berasal ingatanku. Kusadari kaidah nan kugunakan buat mengajarkannya waktu itu jauh berpokok kata bermoral, lebih lagi dianggap berdampak. Indikasinya terlihat detik ada dril. Banyak murid yang belum faham sehingga nilai tes di bawah harapan.

Sekian hari sebelum saat presentasi materi Kalimat Pasif tiba aku berangkat mencarinya di internet. Pecah sekian sendang yang kudapat mulai sejak inrernet, aku pun menyimpulkan bahwa kalimat tersebut harus menekankan pada ‘the action’ (kegiatannya), minus peduli mana tahu yang mengamalkan.

Aku urai kunci teks latihan yang diterbitkan Kemendikbud. Di sana hanya cak semau beberapa paragraf berisikan contoh-contoh kalimat pasif. Sebagian besar eksemplar kalimat pasif nan cak semau dibuat dalam gugus kalimat dengan tema makanan-makanan tradisional Indonesia. Sejenak aku berfikir, ‘Segala apa yang bisa membuat pembelajaran nanti menyenangkan tapi konsep kalimat dipahami dengan cepat?’

Berangkat-tiba pikiranku teringat seorang p versus dari Kemendikbud yang mengisi pelatihan tentang pentingnya mengaitkan muatan tempatan dalam pembelajaran. Saat itu beliau mempertontonkan makanan khas yang ada di seputar sekolah kami, Kupat Tahu Padalarang.

Segera aku menciptaan langkah-anju pembelajaran Passive Voice dengan makanan khas kewedanan kami sebagai pengantar sediakala penelaahan.

Hari itu sekali lagi tiba. Senin pagi aku datang ke sekolah, hanya sekian menit sebelum upacara pengibaran bendera dimulai. “Beruntungnya aku, tidak nomplok terlambat ke sekolah senin ini,” pikirku (Ketahuan deh aku sering tersisa sehingga tidak senggang ikut upacara senin pagi, hihihi ….)

Tapi seketika aku teringat sesuatu. “Ah, kupat itu!’ seruku n domestik hati. “Bagaimana boleh jadi aku hingga lupa membeli kupat itu?”

Pembelajaran di kelas 9 mulai martil 8, persis usai upacara penaikan tunggul. Segera aku telepon seorang penjaga sekolah yang sering membantuku. Aku memintanya membeli dua basung kupat senggang. Rencanaku kedua kupat luang itu akan kugunakan intern pengantar pembelajaran di dua kelas berbeda.

Tibalah saat aku berangkat ke kelas pertama, pukul 8 tepatnya. Berpangkal jauh kulihat rekanku yang kusuruh itu telah menunggu di depan bab kelas bawah 9 yang akan kutuju. Sengaja aku tidak mempersunting sira ke urat kayu guru, khawatir aku jadi terhibur mencicipinya.

Sehabis aku menerima satu kantung kresek weduk dua bungkus kupat tahu yang kupesan tadi, cepat-cepat aku sembunyikan di dalam tasku hendaknya tak terlihat peserta. Apa jadinya bila karsa membuat tebakan tapi benda nan dijadikan cangkrim telah terlihat duluan?

Seperti biasa aku mengawali tuntunan dengan basa basi dan menginterogasi kehadiran. Lalu aku tiba beraksi. Aku mengambil sebuah peti yang suka-suka di kelas (kebetulan banget ya ….). Aku berdiri membelakangi petatar bagi memindahkan pundi-pundi kresek hitam ke dalam boks yang memadai raksasa itu. Tiba-tiba aku tak jadi mendua, memperalat kedua kupat tahu untuk dua kelas farik. Alih-alih, aku mengegolkan keduanya ke n domestik tas karena tersirat sedikit sangka bahwa esok pesuluh-siswa inferior ini akan berbagi cerita dengan inferior berikutnya.

Kuawali sesi tebak-tebakan dengan memperlihatkan isi peti besar. Siswa tertawa karena itu kotak tisu nan mereka untuk saat pelajaran Prakarya.

“Bisa-bisanya si ibu ini pake boks yang sudah tak sering terjamah?” Barangkali itu nan ada di benak mereka.

Aku hanya meinta mereka bertanya (tentu saja dalam Bahasa Inggris) nan belaka akan membuatku menjawab “Yes” atau “No”. Riuh kurang mulai memuncah di kelas ini sebatas sepertinya mengganggu kelas jihat. Aku arahkan soal agar mengacu pada materi baru, yaitu Kalimat Pasif (Passive Voice).

Bernasib baik sekali banyak pertanyaan gemilang yang mereka lemparkan, “Is it food?”, “Is it tradisional food?”, dan pertanyaan sekaum yang mengarah pada isi boks. Di tengah-paruh keresahan mereka dengan benda dalam boks, ada beberapa siswa yang kesannya bertanya dengan kalimat pasif, “Is it steamed?” (apakah makanan itu dikukus?”), “Is it wrapped?” (apakah makanan itu dibungkus?), dan tak-lain.

Saat cak semau siswa yang bertanya dengan kalimat pasif aku lamar mereka menuliskannya di papan tulis.

Sepuluh menit berlalu aku hentikan sesi cak bertanya kerjakan masuk ke sesi menebak. Entah berapa kali tebakan mereka meleset, setakat akhirnya satu orang yang duduk di barisan paling kanan bergumam, “Kupat sempat, kayaknya”.

Aku menatapnya sejurus lalu bertanya, “Tebakanmu segala apa?”

Dia tersipu malu dan tidak bahaduri menatap balik padaku. Lalu kudatangi ke mejanya dan meminta dia membukanya. Rekan sebangkunya lantas berteriak bahwa tebakan temannya benar.

Aku keluarkan kedua bungkusan. Aku berikan pada murid nan menebak. Tapi nan lain berteriak, “Aku cak hendak dooong!”

Kesannya kuambil salah satu bagi kuberikan kepada seorang siswi nan duduk paling depan, sekalian kukatakan, “Yang itu untuk teruna, yang ini untuk cewek. Asal nyicip aja ya karena pasti gak akan pas bagi bikin kenyang kalian.”

Selanjutnya kutinggalkan kehebohan siswa yang mencari merasai kupat tahu. Aku bepergian ke pangsa guru karena aku kepingin mengambil buku cangkang yang kusiapkan bikin kursus kalimat yang akan kuajarkan.

Lega rasanya bisa menentramkan mereka. Semakin aku yakin akan pentingnya persiapan sebelum proses pembelajaran. Aku teringat sebuah pepatah, “Those who fail to plan, plan to fail” (Siapa yang gagal dalam berencana berarti dia merencanakan kegagalan).

Source: https://www.gurusiana.id/read/niningsuryaningsih12/article/kupat-tahu-yang-bikin-seru-384354