Cara Guru Mengajar Menjadi Faktor Rendahnya Kepercayaan Diri Siswa Smp

Masyarakat
adalah sekerumun makhluk hidup yang terjalin erat karena sistem tertentu, adat istiadat tertentu, konvensi, dan syariat tertentu nan sejajar, serta menuju pada vitalitas kolektif.[1]
Sistem intern masyarakat saling gandeng antara satu manusia dengan orang lainnya yang membentuk suatu kesatuan.[2]
Awam terbagi menjadi dua golongan utama, yakni penguasa atau pengeksploitasi dan yang dikuasai alias yang dieksploitasi.[3]
Karakter masyarakat terdidik melalui penggabungan individu-cucu adam dan gerakan-reaksi budaya mereka.[4]

Pengertian

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat adalah keropok manusia yang terjalin dempang karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu nan sama, serta mendatangi sreg kehidupan kolektif. Publik adalah sekumpulan manusia yang karena aplikasi kebutuhan dan pengaruh religiositas, ingatan, serta ambisi tertentu dipersatukan dalam kehidupan kolektif. Sistem dan hukum yang terdapat dalam suatu masyarakat mencerminkan perilaku-perilaku individu karena individu-indivu tersebut terikat dengan hukum dan sistem tersebut.[1]

Menurut antropolog Elman Service, untuk memudahkan mempelajari keanekaragaman masyarakat, mahajana dapat dibagi menjadi catur kategori berlandaskan peningkatan ukuran populasi, sentralisasi politik, serta stratifikasi sosial, yakni: kawanan, suku, kedatuan, dan negara. Macam publik paling boncel maupun kawanan biasanya tetapi terdiri atas beberapa keramaian, banyak diantaranya merupakan koleksi berpokok suatu maupun sejumlah keluarga besar.[5]

Standar

[sunting
|
sunting sumber]

Umum yakni sebuah sistem nan tukar berhubungan antara satu basyar dengan manusia lainnya yang mewujudkan satu kesatuan. Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka bukan dapat hidup seorang privat sebuah masyarakat. Patokan interaksi antarmanusia dijabarkan bagaikan berikut:

  1. Harus cak semau pelaku nan jumlahnya makin dari suatu.
  2. Cak semau komunikasi antarpelaku dengan menggunakan fon-tanda baca.
  3. Ada dimensi hari (dulu, kini, mendatang) yang menentukan kebiasaan aksi yang semenjana berlanjut.
  4. Cak semau tujuan-tujuan tertentu, terlepas berpokok sepadan atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pengamat.[2]

Masyarakat terjelma bukan karena keberadaannya di suatu saat dalam perjalanan waktu, tetapi mereka ada dalam waktu, mereka ialah tetesan waktu. Awam cak acap ada dari masa lampau ke masa mendatang. Kehadirannya malah menerobos fase antara apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Dalam masyarakat saat ini terkandung pengaruh, bekas, dan jiplakan masa disertai dengan bibit dan potensi bagi masa depan.[6]

Faedah

[sunting
|
sunting sumber]

Hakikat masyarakat sesuai dengan skenario invensi makhluk bak khalifah di wajah bumi, ialah tegaknya kesamarataan Ilahi yang berlaku untuk alam dan hamba allah.[7]

Masyarakat ialah khalayak yang senantiasa berhubungan (berinteraksi) dengan bani adam lain intern suatu kelompok. Roh masyarakat yang selalu berubah (dinamis) yakni sesuatu yang tidak dapat dihindari.[8]
Masyarakat pemukim atau
political society
dibentuk dengan maksud yang partikular: menjamin nasib baik milik pribadi dan melakukan penertiban sosial dengan membodohi sanksi cak bagi para pelanggar peraturan.[9]

Unsur dan Ciri-ciri

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut Marion Levy bahwa suka-suka empat kriteria nan harus dipenuhi agar sebuah kelompok dapat disebut sebagai masyarakat, yaitu:[10]

  1. Kemampuan bersikukuh yang melebihi masa umur seorang anggotanya.
  2. Perekrutan seluruh maupun sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
  3. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
  4. Ketaatan pada suatu sistem tindakan utama secara spontan.

Sementara itu menurut Soerjono Soekanto anasir-unsur penyelenggara masyarakat adalah umpama berikut:[11]

  1. Beranggotakan dua bani adam ataupun bertambah.
  2. Anggotanya bangun sebagai suatu keesaan.
  3. Berhubungan dengan jangka waktu nan memadai lama nan menghasilkan turunan mentah yang berkomunikasi, dan membuat sifat-aturan yang menata hubungan antar anggota masyarakat.
  4. Menjadi sistem hidup bersama nan menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan antar anggota masyarkat.

Menurut Soerjono Soekanto, ciri-ciri umum yaitu:[12]

  1. Nasib secara berkelompok.
  2. Babaran kultur.
  3. Mengalami peralihan.
  4. Adanya interaksi
  5. Adanya seorang pemimpin.
  6. Mempunyai penjenjangan sosial.

Awam yakni sekumpulan bani adam yang silih “bergaul”, atau dengan istilah ilmiah, ubah “berinteraksi”. Suatu wahdah manusia dapat mempunyai infrastruktur agar warganya dapat saling berinteraksi. Negara berbudaya misalnya, yakni keesaan manusia dengan berbagai macam prasarana, yang memungkinkan para warganya buat berinteraksi secara intensif, dan dengan kekerapan yang tinggi. Suatu negara modern n kepunyaan suatu jaringan komunikasi berupa jaringan jalan raya, jaringan perkembangan kereta api, jaringan kombinasi udara, jaringan telekomunikasi, sistem radio dan televisi, berbagai rupa variasi koran di tingkat nasional, suatu sistem upacara pada tahun-tahun raya nasional dan sebagainya. Negara dengan wilayah geografis yang lebih kecil berpotensi cak bagi berinteraksi secara intensif daripada negara dengan wilayah geografis yang sangat luas. Suplemen pula bila negara tersebut berupa kepulauan, seperti mana halnya negara kita.

Adanya infrastruktur kerjakan berinteraksi menyebabkan warga dari suatu keramaian manusia itu saling berinteraksi. Sebaliknya, bila sahaja adanya suatu potensi untuk berinteraksi saja belum berarti bahwa penduduk bermula suatu kesatuan manusia itu bermoral-benar akan berinteraksi. Suatu suku bangsa, misalnya saja suku bangsa Bali, mempunyai potensi untuk berinteraksi, yaitu bahasa Bali. Doang, adanya potensi itu semata-mata tidak akan menyebabkan bahwa semua cucu adam Bali tanpa alasan melebarkan aktivitas yang menyebabkan suatu interaksi secara intensif di antara semua sosok Bali tadi.

Mudah-mudahan diperhatikan bahwa enggak semua wahdah hamba allah yang bergaul alias berinteraksi itu merupakan umum, karena suatu masyarakat harus mempunyai suatu jalinan lain yang khas. Sekumpulan orang yang mengerubuti seorang tukang penjual jamu di pinggir jalan tidak dapat disebut sebagai satu masyarakat. Meskipun adakalanya mereka lagi berinteraksi secara terbatas, mereka bukan mempunyai suatu ikatan bukan kecuali ikatan konkret perhatian terhadap penjual jamu tadi. Demikian juga sekumpulan manusia yang menonton satu pertandingan bola kaki, dan sememangnya semua himpunan turunan pirsawan apapun juga, tidak disebut masyarakat. Sebaliknya, lakukan sekumpulan manusia itu kita pakai istilah
kerumunan.
Dalam bahasa Inggris telah dipakai istilah
crowd.

Hubungan yang menciptakan menjadikan suatu ahadiat manusia menjadi satu
masyarakat
yakni pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupannya dalam batas ketunggalan itu. Lagipula, pola itu harus berperilaku mantap dan kontinu, dengan ucapan lain, pola istimewa itu harus mutakadim menjadi rasam istiadat nan khas. Dengan demikian, suatu pondokan pelajar, satu akademi kedinasan, atau suatu sekolah, lain dapat kita sebut masyarakat, karena meskipun ketunggalan manusia yang terdiri berpangkal murid, suhu, pegawai administrasi, serta para karyawan tak itu terikat dan diatur tingkah lakunya oleh berbagai norma dan sifat sekolah dan lain-lain, tetapi sitem normanya semata-mata meliputi sejumlah sektor roh yang terbatas saja. Sedangkan sebagai kesatuan manusia, suatu penginapan atau sekolah itu hanya bertabiat sementara, artinya tidak cak semau kontinuitasnya.

Selain perpautan leluri tunggal yang menutupi sektor nyawa dan kontinuitas waktu, penduduk suatu mahajana harus juga punya ciri lain, adalah satu rasa identitas bahwa mereka memang merupakan suatu kesendirian khusus yang berbeda berusul wahdah-keesaan cucu adam lainnya. Ciri ini memang dimiliki maka itu penghuni suatu asrama atau anggota satu sekolah. Akan sahaja, tidak adanya sistem norma yang mondial dan bukan adanya kontinuitas, menyebabkan penghuni suatu asrama atau pelajar suatu sekolah lain bisa disebut mahajana. Sebaliknya suatu negara, satu ii kabupaten, alias desa, misalnya, merupakan satu wahdah manusia yang memiliki keempat ciri terurai di atas, yakni (1) interaksi antar warga-warganya, (2) tradisi, norma, hukum dan sifat-sifat tunggal nan mengatur seluruh pola tingkah laku penghuni negara kota atau desa; (3) kontinuitass tahun; (4) dan rasa identitas kuat nan menambat semua warga. Itulah sebabnya suatu negara atau desa dapat kita sebut masyarakat dan kita memang demap berbicara tentang masyarakat Indonesia, awam Filipina, umum Ajang, masyarakat Sala, publik Balige, masyarakat Ciamis, atau masyarakat desa Trunyan.

Sehabis uraian tadi, waktu ini menginjak waktunya untuk merumuskan suatu definisi adapun konsep masyarakat kerjakan keperluan kajian antropologi. Dengan memperhatikan ketiga ciri buyar sebelumnya, definisi mengenai awam secara khusus dapat kita rumuskan sebagai berikut:
Masyarakat merupakan kesatuan hidup insan nan berinteraksi menurut satu sistem adat-istiadat tertentu yang berwatak kontinu, dan yang terikat makanya suatu rasa identitas bersama.

Definisi itu mempunyai suatu definisi nan diajukan oleh J.L. Gillin dan J.P. Gillin n domestik gerendel mereka
Cultur Sociology
(1954: hlm.139), yang merumuskan bahwa masyarakat tau
society
adalah “…….
the largest grouping in which common customs, traditions, attitudes and feelings of unity are operative”.
Unsur
grouping
dalam definisi kita, unsur
common customs
dan
traditions
adalah unsur “adat istiadat” dan “kesinambungan” n domestik definisi kita, serta unsur
common attitudes and feelings of unity
sama dengan unsur “identitas bersama”. Suatu tambahan dalam definisi Gillin ialah elemen
(the largest) “terbesar”
yang memang tidak dimuat intern definisi kita. Walaupun demikian, konsep itu dapat diterapkan puas konsep umum satu bangsa maupun negara, miisalnya konsep masyarakat Indonesia, mahajana Filipina, mahajana Belanda, masyarakat Amerika, dalam contoh kita sebelumnya.

Lamun kita cinta berbicara tentang konsep masyarakat privat maslahat luas, begitu juga konsep masyarakat negara Indonesia, tetapi kenyataannya, dalam pikiran kita tidak terpikir seluruh manusia yang berjumlah
+‑ 230 juta jiwa Indonesia itu. Umumnya yang terbayang kerumahtanggaan pikiran kita ialah lingkaran khalayak Indonesia sekitar diri kita sendiri, sosok Indonesia di suatu lokasi tertentu, atau dalam gabungan suatu kelompok tertentu. Dalam bukunya,
Azas-azas Sosiologi
guru osean aji-aji sosiologi Institut Gadjah Mada, M.M. Djojodigoeno, mengecualikan antara konsep “umum dalam kemustajaban yang luas dann sempit”.

Bersendikan konsep Djojodigoeno ini dapat dikatakan masyarakat Indonesia bagaikan contoh suatu “publik n domestik arti luas”. Sebaliknya, masyarakat nan terdiri dari penduduk suatu kerubungan kekerabatan begitu juga
dadia, marga,
dan
suku, kita anggap sebagai contoh pecah suatu “masyarakat dalam arti sempit”.

Keekaan kawasan, keatuan rasam-istiadat, rasa identitas komunitas dan rasa royalitas terhadap kekerabatan sendiri, yakni ciri-ciri suatu komunitas, dan pangkal dari ingatan sebagaimana patriotism, nasionalisme dan sebagainya, yang biasanya bersangkutan dengan negara. Memang, suatu negara merupakan wujud dari satu komunitas yang paling besar. Selain negara, keatuan-kesatuan sebagaimana kota, desa, suatu RW maupun RT, juga sesuai dengan definisi kita mengenai kekerabatan, merupakan:
satu keesaan hidup manusia yang menempati satu distrik nan nyata, dan berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.

Uraian sebelumnya, wahdah arwah anak adam di satu negara, desa atau daerah tingkat, juga kita sebut “mahajana”. Apakah dengan demikian konsep masyarakat setimbang dengan konsep komunitas? Kedua istilah itu memang bertumpang-tindih, tetapi istilah masyarakat ialah istilah publik lakukan satu keatuan hidup manusia, dan karena itulah bersifat luas daripada istilah peguyuban. Masyarakat adlah semua kesatuan hidup manusia nan bersifat mantap dan terikat maka dari itu ketengan adat-istiadat dan rasa identitas bersama, tetapi komunitas bertabiat khusus karena ciri adendum ikatan lokasi dan kesadaran kawasan tadi.

Kategori Sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat seumpama satu kelompok manusia yang habis mahajana sifatnya, mengandung kesatuan-ketunggalan yang sifatnya lebih khusus, tetapi belum tentu mempunyai syarat pengukat yang sejajar dengan suatu masyarakat. Kesatuan sosial yang tidak mempunyai syarat perban itu serupa dengan “kelompok” atau
crowd
yang sudah lalu kita pelajari pada sebelumnya, lain mempunyai aturan-kebiasaan umum. Kesatuan sosial itu merupakan kategori sosial.

Kategori sosial yakni ketunggalan orang yang terwujud karena adanya suatu ciri atau satu kompleks ciri-ciri independen yang dapat dikenakan kepada manusia-hamba allah itu. Ciri-ciri objektif itu biasanya dikenakan oleh pihak berpunca asing kategori sosial itu sendiri tanpa disadari oleh yang berkepentingan, dengan suatu intensi praktis tertentu. Misalnya, dalam umum suatu negara ditentukan melampaui hukumnya bahwa ada kategori warga di atas nasib 18 musim, dan kategori warga di pangkal 18 periode, dengan harapan lakukan membedakan antara warga negara yang punya hak pilih dan warga negara yang tak mempunyai properti membeda-bedakan privat pemilihan mahajana. Pola lain adalah bahwa privat masyarakat itu kembali ada suatu kategori orang nan memiliki otomobil, dan satu kategori hamba allah nan enggak memilikinya, dengan maksud bikin menentukan warga negara yang harus membayar sumbangan wajib dan yang independen berasal sumbangan wajibit. Serupa dengan itu, privat suatu masyarakat dapat diadakan bermacam-jenis pengklasifikasian berdasarkan ciri-ciri independen cak bagi bermacam rupa maksud, seperti kategori pegawai negeri kerjakan menotal hadiah ldulfitri, kategori anak di bawah umur 17 tahun cak bagi larangan menonton film orang dewasa, kategori pejar kerjakan memperkirakan pendapatan negara dari SPP dan sebagainya. Dengan demikian, tidak tetapi pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu kota saja yang dapat mengadakan berbagai macam pengklasifikasian sebagaimana itu terhadap penghuni awam, tetapi seorang peneliti bikin keperluan analisisnya dapat sekali lagi misalnya mengadakan berbagai macam penggolongan terhadap penghuni dari awam yang menjadi objek penelitiannya tanpa disadari oleh mereka yang berkepentingan.

Kecuali persamaan ciri bebas tadi yang dikenakan kepada mereka oleh pihak luar, kebanyakan lain ada zarah lain yang mengikat suatu kategori sosial. Makhluk-bani adam privat suatu kategori soaial, misalnya semua anak di bawah 17 tahun, biasanya tidak ada satu aklimatisasi sosial yang mengikat mereka. Mereka sekali lagi bukan memiliki potensi yang boleh meluaskan suatu interaksi di antara mereka bagaikan keseluruhan. Mereka sekali lagi tidak mempunyai identitas (merupakan hal yang logis karena pengelompokan ke intern suatu kategori sosial itu dilakukan oleh pihak luar terhadap diri mereka, dengan ciri-ciri barometer yang biasanya tidak mereka sadari). Suatu kategori sosial umumnya juga tidak terikat maka dari itu kesatuan rasam, sistem ponten, alias norma tertentu. Satu kategori sosial tidak mempunyai lokasi, tidak mempunyai organisasi, enggak mempunyai pimpinan.

Golongan

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat warga yang pertama adalah keluarga, lalu menjadi komunitas warga, meningkat menjadi awam strategi dan berujung puas terbentuknya institusi formal negara.
[9]
Masyarakat warga ditandai dengan adanya tiga atom: kekerabatan politik, rezim dan hukum. Isi dari masyarakat penghuni merupakan loyalitas pada syariat, persetujuan hayat bersama, kesejajaran dan tata pemerintahan.[13]
Publik warga seperti kereta angin putar hamster (hamster wheel) di mana individu terkebat dalam rotasi lain berujung mencari kekayaan dan apresiasi yang makin panjang dan kian tangga lagi[14]

Sementara itu umum barbar merujuk pada kehidupan yang cinta disandarkan puas syariat wana, plong nurani-dorongan hati alami basyar yang saling beradu satu sama bukan[15]

Umum terbagi menjadi dua golongan penting, yakni penguasa atau pengeksploitasi dan yang dikuasai maupun yang dieksploitasi. Golongan penguasa dilukiskan oleh al-Qur’an bagaikan golongan “mustakbirin” (turunan-orang nan snobis). Sedangkan golongan nan dikuasai dilukiskan al-Qur’an andai golongan :mustadh’afin (yang ki teraniaya).[3]

Kepribadian

[sunting
|
sunting sendang]

Kepribadian masyarakat lain sebagai halnya kepribadian khalayak. Kepribadian ini terbentuk melalui pengikatan individu-bani adam dan aksi-reaksi budaya mereka. Masyarakat mempunyai sifat alami, ciri-ciri dan peraturannya sendiri, tindakan-tindakan serta reaksi-reaksinya dapat diterangkan dengan serangkaian hukum umum dan universal. Masyarakat mempunyai khuluk independennya sendiri, karena itu saja dapat mengatakan bahwa sejarah n kepunyaan satu falsafah dan dibentuk oleh hukum dan norma.[4]

Masyarakat warga terbentuk secara alamiah yang menunda manusia bakal mewujudkan hayat sosial dan persaudaraan persahabatan. Masyarakat penghuni terasuh melalui logika negatif, dengan mekanisme leisure of evil: hukum dan aturan diciptakan justru buat membatasi dan memblokir insting-insting gelap manusia.
[16]
Masyarakat warga dikenal sebagai umum borjuis di mana partikularitas dan individualitas jauh lebih menonjol tinimbang nilai-nilai kebersamaan dan kesetiakawanan. Dalam masyarakat penghuni, setiap turunan menjadikan dirinya sebagai tujuan.[17]

Dinamika maupun perubahan masyarakat dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain:

  1. Penyebaraan informasi, meliputi pengaruh dan mekanisme media n domestik memunculkan pesan-wanti-wanti alias gagasan (pemikiran)
  2. Modal, antara lain sumber ki akal manusia maupun modal finansial
  3. Teknologi, satu unsur dan refleks faktor nan cepat berubah sesuai dengan jalan ilmu proklamasi
  4. . Ideologi atau agama, religiositas agama atau ideologi tertentu berwibawa terhadap proses perubahan sosial
  5. Birokrasi, terutama berkaitan dengan berbagai strategi pemerintahan tertentu dalam membangun kekuasaannya
  6. Perwakilan maupun aktor, hal ini secara umum termasuk kerumahtanggaan modal sumber daya orang, tetapi secara spesifik yang dimaksudkan adalah inisiatif-inisiatif individual dalam “mencari” spirit nan lebih baik.[18]

Masyarakat Madani

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat madani pada prinsipnya memiliki multimakna, merupakan masyarakat yang demokratis, menjunjung janjang etika dan moralitas, transparan, toleransi, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi, konsisten memiliki dagi, mampu berkoordinasi, keteter, sinkron, integral, mengakui, emansipasi, dan hak asasi, namun yang paling dominan adalah publik yang demokratis.

Publik madani dapat melihat sesuatu secara terstruktur dan systematis untuk mencapai publik yang transparan, demokratis serta dapat meluluk sesuatu menjadi berbunga perspektif nan kian positif bahkan disaat resesi ekonomi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa endemi memberikan satu tantangan bagi publik Indonesia dan mendorong kondisi masyarakat ke dalam masa resesi ekonomi. Sudah seyogyanya masyarakat dapat nanang konkret, progresif dan solutif atas segala apa tantangan yang datang seiring berjalannya waktu.

Referensi

[sunting
|
sunting mata air]

  1. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 273.
  2. ^


    a




    b



    Tejokusumo 2022, hlm. 41.
  3. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 276.
  4. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 280.

  5. ^

    Diamond 2022, hlm. 16.

  6. ^

    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 270.

  7. ^

    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 272.

  8. ^

    Tejokusumo 2022, hlm. 38.
  9. ^


    a




    b



    Sudibyo 2008, hlm. 27.

  10. ^


    Atik Empat Budiati (2009).
    Sosiologi Kontekstual Bakal SMA & MA
    (PDF). Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 13. ISBN 978-979-068-219-1. Diarsipkan dari versi zakiah
    (PDF)
    sungkap 2022-01-22. Diakses tanggal
    2020-11-04
    .





  11. ^


    Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Ayu Hapsari.
    Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi. Aura Publisher. hlm. 52–53. ISBN 978-623-211-107-3.





  12. ^


    Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Ayu Hapsari (2019).
    Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi. Aura Publisher. hlm. 47-51. ISBN 978-623-211-107-3.





  13. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 26.

  14. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 37.

  15. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 25.

  16. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 25-26.

  17. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 39.

  18. ^

    Tejokusumo 2022, hlm. 39-40.

Daftar wacana

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sulfan dan Mahmud, A. (2018). “Konsep Masyarakat Menurut Murtadha Muthahhari (Sebuah Amatan Makulat Sosial)”.
    Ilmu Aqidah.
    4
    (2): 269–284. doi:10.24252/aqidahta.v4i2.6012. ISSN 2615-3130.



  • Sudibyo, Agus (2010). “Masyarakat Penghuni dan Masalah Keberadaban”.
    Guna-guna Sosial dan Ilmu Politik.
    14
    (1): 23–46. doi:10.22146/jsp.10947. ISSN 2502-7883.



  • Tejokusumo, Bambang (2014). “Dinamika Masyarakat Sebagai Sumber Membiasakan Ilmu Pengetahuan Sosial”.
    Geo Edukasi.
    3
    (1): 38–43. ISSN 2550-1321.



  • Diamond, Jared (2017).
    The World Mengangsur Yesterday. Pustaka acuan Terkenal Gramedia Press. ISBN 9786024241926.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat