Cara Belajar Inggris Cepat Pengalaman Pribadi

Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak!
Pengalaman Saya Sparing Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak! Lingkaran. Gurupenyemangat.com

Hai Sahabat Suhu Pengobar, seberapa fasih engkau berbicara Bahasa Inggris?

Boleh jadi makin lancarlah sahabat sekalian daripada diriku, ya. Soalnya sparing bahasa itu enggak perlu banyak teori melainkan wajib banyak praktik secara berkelanjutan.

Selaras halnya seperti mencanai pisau. Jikalau pisau terus digunakan tapi lain pernah diasah, maka ketajamannya perlahan akan menyusut dan segera menemui ki beku.

Bahasa Inggris sekali lagi serupa itu, dan diriku punya pengalaman panjang dalam mempelajarinya sejak SD, SMP, hingga SMA. Apakah sukses? Ada deh!

Baiklah, dalam kesempatan ini Gurupenyemangat.com ingin menuangkan camar duka panjang dalam belajar Bahasa Inggris. Mungkinkah kisahku setara denganmu? Kali, dan yuk disimak namun yah.

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SD

Diriku timbrung SD tahun 2000, dan pada saat itu eksistensi Bahasa Inggris belumlah sementereng hari ini. Tambah lagi sekolahku yakni sekolah desa. Mana kenal kami dengan mayapada luar!

Hemm.

Meski begitu, kabar baik senggang bertamu kepada kami tepatnya ketika aku naik ke kelas catur. Benar saja, perian itu pelajaran muatan domestik ada dua. Pertama adalah Kaganga, dan kedua adalah Bahasa Inggris.

Duh, senang sekali rasanya aku dan padanan-tandingan kelas empat nan jumlahnya lain sampai 20 orang.

Kerumahtanggaan waktu damping, kami kembali sambil membeli kamus Indonesia-English cetakan dan sesampainya di sekolah, padanan-teman pun tiba pamer.

“Nih, lihat kamusku, 3 miliar lho!”

“Eits, kamusku 5 miliar lho!”

“Yah, kamusku kok cuma 500 miliun!”

Hahaha. Begitulah. Namanya juga anak asuh SD. Karena jajanan waktu itu harganya masih 100-200 fidah, kami pula semacam itu senang ketika mengawasi angka yang nolnya serupa itu banyak.

Saja ya, camar duka membiasakan Bahasa Inggris di tahapan SD masihlah tentang bawah.Yup, adapun abjad, angka, buah-buahan, pekerjaan, hingga perkenalan.

Seingatku, sistem membiasakan Bahasa Inggris perian itu tidak begitu ketat. Justru kami tambahan pula keseringan mendapat jam kosong gegara temperatur Bahasa Inggris di SD bukan cawis secara khusus.

Sebatas papan bawah enam SD semacam itu-begitu belaka? Iya. Mau bagaimana lagi, toh belum ada tuntutan, kan?

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMP

Farik dengan SD, kisahku di SMP sedikit makin obsesi. Pengalaman belajar Bahasa Inggris di Sekolah Semenjana Pertama itu lebih seru, betul-betul, asyik, padat, dan menghilangkan.

Bahkan, saking senangnya; ternyata temperatur Bahasa Inggris di SMP masih menghafal namaku hinggalah masa ini. Aduh, aku tersentuh!

Akan halnya materi pelajaran Bahasa Inggris di SMP rasi itu sudah lebih terik daripada SD.

Diawali dengan pelajaran memperkenalkan diri, memperkenalkan bandingan nan satu kepada bandingan lainnya, sebatas diminta melakukan
conversation
nan lebih panjang. Minimal 1 lungsin daluang kala itu.

Apakah nilaiku cak acap bagus? Tidak, Say. Kekadang nilaiku dapat 40, 50, 70, dan korespondensi pula dapat 100. Hehe.

Periode-masa sparing Bahasa Inggris di SMP itu adv amat menyejukkan karena di sanalah perdana aku mengenal yang namanya Alfalink.

Padahal selama ini kita hanya mencari kelebihan alas kata dari kamus yang isinya miliaran kata itu, kan? Bahkan pernah waktu itu guru Bahasa Inggris melarang eksploitasi Alfalink karena dianggap terlampau memudahkan pekerjaan. Wkwkwk

Sementara itu kalau kamus? Kami sejumlah kali pangling membawanya dan beberapa siapa kembali tidak malu-malu-rikuh meminjam kamus ke papan bawah sebelah.

Pengalamanku, sejak masuk SMP kami mulai mengenal yang namanya
tenses, referensi
recount,
descriptive,
narrative,
report, sampai teks
explanation.

Lebih kompleksnya lagi, ketika inferior IX SMP kami diberi tugas kerjakan membentangkan storytelling sonder teks. Haduh! Membujur aku bisa menyelesaikannya dengan lancar.

Sahaja itu sih tutorial SMP yang kuingat. Sisanya? Boleh jadi sudah terendam entah di mana. Hahaha.

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMA

Sadar alias tidak hari-tahun SMA yaitu waktunya diri lakukan berbenah, menjadi identitas “myself” dan start lebih peduli dengan diri seorang.

Memang sih, bukan sedikit pula bani adam yang menghabiskan musim-hari SMA hanya cak bagi perkembangan-kronologi, berlaku playstation, setakat nongkrong tidak keruan.

Walau demikian, masih banyak mengapa para pelajar lain nan care terhadap dirinya. Soalnya hati mereka sudah mulai bergelora seraya bertanya “mau dibawa ke mana musim depanku nanti?”

Pengalamanku membiasakan Bahasa Inggris di SMA pula demikian.

Karena tingkat pelajarannya makin intens dan kegandrungan, aku pun membelakangkan bakal menyatu dengan English Club sembari mengimak les
private
dengan salah seorang
English Teacher
dekat rumah.

Jujur saja, pelajaran Bahasa Inggris di kelas itu tidaklah memadai terutama cak bagi meluaskan skill berbahasaku. Sementara itu di English Club, kami lebih banyak practices ketimbang teori. Di sanalah rasa berkeyakinan diriku mulai terasah.

Terlebih, pada tahun kedua English Club, aku sekali lagi pernah mengikuti adu cerdas cermat Bahasa Inggris. Meskipun sreg tahun itu kami kalah di fase knockout ketiga, tapi setidaknya diriku dan oponen-p versus sudah berjuang.

Seiring bertambahnya hari, kaidah berbicara dan mendengarkan diksi-diksi Inggris sudah lalu sedikit makin baik.

Puncaknya ialah di kelas XII SMA. Pada sesi ujian praktik, kami diwajibkan bakal menyanyikan lagu Bahasa Inggris dengan fasih, minus bacaan, dan dengan pronunciation yang tepat.

Aku koteng pun memilih lagunya Westlife nan berjudul “What About Now”.

Secara pribadi, tugas praktik menyanyi lagu Bahasa Inggris lain terlalu berat terutama bagiku dan beberapa orang sahabatku. Soalnya berbunga inferior XI SMA kami sudah membuat grup band dan harta benda lagu Bahasa Inggrisku lumayan banyak.

Sebut belaka sebagai halnya lagunya Simple Plan, Avenged Sevenfold, Sum41, The Script, Westlife, setakat Linkin Park. Hehe

Makin daripada itu, di SMA aku pula menemukan teman yang lidahnya sangat variabel dan titik berat Bahasa Inggrisnya “British” banget.

Sira pun sangat lancar bersabda, fasih dalam berpidato Bahasa Inggris, serta punya harta benda vocabulary yang meluap.

Secara pribadi aku sangat kagum dan tertantang. Makanya aku memberanikan diri untuk menambah pengalaman membiasakan Bahasa Inggris dengan menirukan klub.

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Mengikuti Bimbel TOEFL

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Mengikuti Bimbel TOEFL
Pengalaman Membiasakan Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Menirukan Bimbel TOEFL. Pematang. Gurupenyemangat.com

Benar. Juga-sekali lagi camar duka belajar Bahasa Inggris di bangku SD, SMP, hingga SMA tidaklah cukup untuk meningkatkan skill berbicara dan beradat asing.

Dalam beberapa bulan menjelang timbrung kuliah, aku adv pernah mengasah diri dengan belajar Bahasa Inggris secara otodidak.

Boleh Baca:
Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di Kampus

Bagaimana mandu belajarku?

Jikalau sedang ada uang, aku lantas menyingkir ke warnet buat membubuhi cap-download video pembelajaran dan percakapan Bahasa Inggris syahdan aku coba praktikkan di rumah.

Selain itu, aku pun sering menonton film berbahasa Inggris. Ya, perian itu masih tahun 2022 di mana televisi swasta gegares menyiarkan film-sinema aksi sama dengan Jackie Chan, Rambo, hingga Wiro Sableng. Eh, nan terakhir enggak ya. Wkwk

Tapi ya gitu deh. Nyatanya aku bukanlah Fiki Naki yang terlampau naksir dengan bahasa luar.

Bahkan, setelah tamat kuliah pun aku masih sempat mengikuti bimbel TOEFL. Tepatnya bimbel dari Bahasa Inggris
Basic
hingga
Pro.

Hari itu masih 2022, sempat terpikir olehku buat menginjak ke Kampung Inggris di Pare, tapi saku ini belum cukup tebal untuk menyeberang ke pulau Jawa.

Karena inginku merupakan merengkuh beasiswa S2, akhirnya kucobalah les Bahasa Inggris. Biayanya? 5 geretak. Hehehe.

Mahal, sih. Tapi belajarnya memang
face to face
dan terbiasa praktik. Strategi pengajarnya pula menyeret hingganya aku boleh menguasai rumus kalimat aktif~pasif semua tenses n domestik waktu sepiak jam saja.

Walau sejenis itu, tebal buku kursusnya hingga seribu dua ratusan lembar loh! Hadeeh. Sulit sekali rasanya bebanku. Wkwk

Namanya juga berlatih, ya. Butuh intensitas, dan di sebalik keseriusan itu terserah risikonya.

Entah pengalaman itu munjung kesedihan alias apalagi kegagalan, nyatanya kita hanya teristiadat bersungguh-sungguh cak bagi melakukan yang terbaik sebagaimana yang kita boleh.

*

Nah, demikianlah sepucuk asam garam yang bisa Guru Pengobar hadirkan. Semoga untaian diksi dan kisahnya mampu kobar sekurang-kurangnya untuk diriku sendiri.

Nasib!

Source: https://www.gurupenyemangat.com/2021/11/pengalaman-belajar-bahasa-inggris.html