Cara Belajar Bidang Hubungan Internasional Dari Smp

Terang kota-ii kabupaten dunia berpokok antariksa. NASA. Oleh Marc Imhoff

Kota
merupakan kunci permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai sempadan kawasan administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-pelawaan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri arwah perkotaan. Sistem daerah tingkat yakni sekelompok kota-kota yang tukar tersangkut satu sama lain secara fungsional dalam suatu wilayah dan berwibawa terhadap wilayah sekitarnya. Sistem kota berisi tentang sirkuit kota, indeks dan keutamaan kota serta fungsi ii kabupaten.[1]
Kota adalah kawasan pemukiman dengan besaran penduduk yang relatif raksasa dan kepadatan warga yang tinggi. Selain itu, pemukiman yang cak semau bertabiat tegar dan dihuni oleh publik majemuk.[2]
Pembentukan kota merupakan hasil dari urut-urutan desa dalam ekstensi pemukiman dan eskalasi jumlah penduduk.[3]
Kota berfungsi sebagai resep pemukiman dan aktivitas sosok sehingga keberadaannya menjadi tinggal terdahulu bagi wilayah di sekitarnya dalam kegiatan perbisnisan, pemerintahan, industri dan kebudayaan.[4]
Pemilihan kota sebagai tempat pemukiman dipengaruhi maka dari itu adanya pekerjaan di bidang jasa, transportasi dan manufaktur. Ii kabupaten pun punya kekurangan ialah biaya kehidupan dan tingkat kriminalitas nan tinggi.[5]

Istilah

[sunting
|
sunting sendang]

Denotasi “ii kabupaten” begitu juga yang diterapkan di Indonesia mencakup signifikansi “town” dan “city” internal bahasa Inggris. Selain itu, terdapat sekali lagi kapitonim “Kota” yang merupakan satuan administrasi negara di bawah provinsi. Artikel ini menggunjingkan “kota” dalam denotasi publik (jenama jenis,
common name). Kota dibedakan secara kontras terbit desa alias kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan warga, kepentingan, maupun status syariat.
[butuh rujukan]

Desa atau kampung didominasi makanya kapling membengang bukan pemukiman. Kota memiliki tiga ciri terdahulu, yaitu memilki kepadatan penduduk nan jenjang, pokok apa kegiatan, dan kegiatan utama non persawahan.

Perencanaan manajemen ruang

[sunting
|
sunting sumber]

Teori perencanaan telah berkembang sejak lama dan mengalami banyak persilihan seiring berjalannya waktu. Sedangkan bikin perencanaan sendiri, sejak Patrick Geddes dikutip privat Rafita (2016) mencetuskannya untuk pertama kali hingga kini telah mengalami banyak perlintasan. Teori perencanaan tiba berkembang pesat setelah revolusi industri yang mengakibatkan adanya kemunduran kota. Adanya arus industri tersebut yang membuat kebutuhan buruh di perkotaan semakin meningkat, dengan begitu akan terjadi degredasi lingkungan nan membuat pakar kota mengharapkan suatu reformasi.[6]
Revolusi pabrik koteng sudah lalu menciptakan perubahan yaitu dengan adanya daerah tingkat-kota pabrik yang mengakibatkan perpindahan penghuni dari daerah perladangan ke daerah industri. Berpindahnya pemukim pecah desa ke kota yang bukan memiliki pengetahuan tentang jiwa ii kabupaten inilah yang akan menyebabkan perubahan tatanan kota. Buat itu, mulai muncul gagasan dari Patrick Geddes adapun analisa terperinci dari pola pemukiman dan mileu ekonomi lokal yang merupakan awal dari berkembangnya teori perencanaan.[7]

Perencanaan tata pangsa merupakan proses terpadu (lain produk akhir berhaga mati) b. Perencanaan tata urat kayu yang global dan terpadu mencakup: perencanaan awak-spasial, perencanaan peguyuban, perencanaan sumber resep. c. Perencanaan tata ruang dilakukan berdasarkan kepentingan masyarakat. d. Perencanaan tata pangsa dilakukan dengan berlandaskan pertimbangan sumber daya yang tersedia. e. Tulang beragangan pengelolaan ruang nan akan disusun merupakan rencana yang diperkirakan dapat diwujudkan.[8]
Dari berbagai teori perencanaan yang ada, terdapat pelecok satu teori yang akrab kaitannya dengan penataan wilayah dan kota yaitu teori Archibugi yang memaparkan tentang penerapan komponen perencanaan wilayah.[9]

Fungsi

[sunting
|
sunting sumber]

Kota nan telah berkembang maju mempunyai peranan dan fungsi yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut:

  • Sebagai Tempat Pusat dari berbagai spesies produksi. Pola: Kediri, Pekanbaru, dan Bontang
  • Sebagai siasat berpangkal banyak perkulakan dan juga keuangan. Contoh: Wadah, Surabaya, Hong Kong, Singapura, dan Frankfurt
  • Sebagai resep dari tadbir. Contoh: Brasilia (ibu kota Brasil), Washington DC (ibu ii kabupaten Amerika Serikat), Canberra (ibu kota Australia)
  • Umpama pokok dari sebuah kebudayaan. Contoh: Yogyakarta dan Surakarta
  • Laksana Penopang Kota Pusat ataupun Kota bintang beredar. Contoh: Tangerang Selatan, Binjai dan, Kota Batu

Ciri-ciri

[sunting
|
sunting sumber]

Ciri fisik daerah tingkat meliputi peristiwa sebagai berikut:

  • Tersedianya tempat-tempat bikin pasar dan pertokoan
  • Tersedianya ajang-wadah untuk parkir
  • Terdapatnya kendaraan rekreasi dan sarana gerak badan

Ciri arwah kota adalah sebagai berikut:

  • Adanya pelapisan sosial ekonomi misalnya perbedaan tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
  • Adanya jarak sosial dan kurangnya toleransi sosial di antara warganya.
  • Adanya penilaian yang berlainan-beda terhadap suatu problem dengan pertimbangan perbedaan keefektifan, situasi dan kondisi kehidupan.
  • Warga kota umumnya lalu menghargai waktu.
  • Kaidah berpikir dan berperan warga kota tampak lebih konsekuen dan berprinsip ekonomi.
  • Mahajana kota makin mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial disebabkan adanya keterbukaan terhadap pengaruh luar.
  • Puas umumnya masyarakat kota lebih bersifat individu sedangkan sifat solidaritas dan gotong royong sudah tiba lain terasa lagi. (stereotip ini kemudian menyebabkan penghuni daerah tingkat dan pendatang cekut sikap acuh tidak acuh dan tak peduli ketika berinteraksi dengan sosok tidak. Mereka melengahkan fakta bahwa awam kota juga boleh ramah dan santun dalam berinteraksi).

Teori struktur ruang daerah tingkat

[sunting
|
sunting sumber]

Teori-teori yang melandasi struktur ira kota yang paling dikenal yakni:

  • Teori Konsentris (Burgess, 1925)

Teori ini menyatakan bahwa Provinsi Sosi Kota (DPK) atau
Central Business District
(CBD) adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk buntar yang yaitu pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tangga dalam suatu kota. DPK atau CBD tersebut terbagi atas dua adegan, yaitu: pertama, putaran paling inti atau RBD (Retail Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati maka dari itu bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala ki akbar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan konstruksi penyimpanan dagangan supaya tahan lama (storage buildings).

  1. Zona pusat area kegiatan (Central Business District), nan merupakan siasat pertokoan besar, konstruksi perkantoran yang bertingkat, bank, museum, hotel, restoran dan sebagainya.
  2. Zona peralihan atau zona perubahan, merupakan provinsi kegiatan. Pemukim zona ini tidak stabil, baik dilihat terbit tempat tinggal maupun sosial ekonomi. Daerah ini cak acap ditemui negeri permukiman kumuh yang disebut slum karena zona ini dihuni penduduk miskin. Namun sebenarnya zona ini adalah zona pengembangan industri serempak menghubungkan antara anak kunci kota dengan daerah di luarnya.
  3. Zona permukiman kelas proletar, perumahannya rendah bertambah baik karena dihuni oleh para pekerja yang berpenghasilan kecil atau buruh dan tenaga kerja kelas, ditandai maka dari itu adanya rumah-rumah mungil yang tekor menghirup dan rumah-rumah susun sederhana yang dihuni oleh keluarga besar. Burgess menamakan wilayah ini ialah
    working menandai’s homes.
  4. Zona permukiman kelas menengah (residential zone), ialah kompleks perumahan para karyawan papan bawah sedang yang punya keahlian tertentu. Kondominium-rumahnya lebih baik dibandingkan kelas proletar.
  5. Wilayah wadah dahulu masyarakat berpenghasilan tinggi. Ditandai dengan adanya kawasan elit, perumahan dan halaman yang luas. Sebagian pemukim merupakan kaum eksekutif, pabrikan osean, dan pejabat tinggi.
  6. Zona penglaju (commuters), merupakan daerah nan memasuki kawasan birit (hinterland) atau merupakan batas desa-ii kabupaten. Penduduknya berkarya di ii kabupaten dan lampau di terpinggirkan.
  • Teori Sektoral (Hoyt, 1939)

Teori ini menyatakan bahwa DPK atau CBD memiliki pengertian nan sederajat dengan yang diungkapkan oleh Teori Konsentris.

  1. Sektor pusat kegiatan bisnis yang terdiri atas konstruksi-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan buku ekspor impor.
  2. Sektor kawasan industri ringan dan perkulakan.
  3. Sektor kaum buruh alias suku bangsa murba, adalah area permukiman kabilah buruh.
  4. Sektor permukiman kaum menengah atau sektor menengah wisma.
  5. Sektor permukiman adi wisma, adalah provinsi tempat tinggal golongan atas yang terdiri dari para eksekutif dan atasan.
  • Teori Inti Berganda (Harris dan Ullman, 1945)

Teori ini menyatakan bahwa DPK atau CBD yakni pusat kota nan letaknya relatif di tengah-paruh lokap-lembaga pemasyarakatan lainnya dan berfungsi bak salah satu
growing points. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, positif pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, sebagaimana
retailing, provinsi khusus perbankan, teater dan lain-lain. Hanya, ada perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, adalah bahwa sreg Teori Taktik Berganda terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak pelalah berbentuk bulat.

  1. Pusat daerah tingkat maupun
    Central Business District
    (CBD).
  2. Wilayah niaga dan industri ringan.
  3. Kawasan murbawisma atau permukiman kabilah buruh.
  4. Area madyawisma maupun permukiman kaum pekerja menengah.
  5. Distrik adiwisma ataupun permukiman kaum berpunya.
  6. Kiat pabrik jarang.
  7. Taktik niaga/perbelanjaan tak di pinggiran.
  8. Upakota, lakukan kawasan mudyawisma dan adiwisma.
  9. Upakota (sub-urban) distrik industri
  • Teori Ketinggian Konstruksi (Bergel, 1955).

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan struktur kota dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK alias CBD secara garis ki akbar merupakan daerah dengan harga lahan yang pangkat, aksesibilitas silam hierarki dan ada kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini, maka di DPK ataupun CBD paling sesuai dengan kegiatan bazar (retail activities), karena semakin hierarki aksesibilitas suatu ruang maka ruang tersebut akan ditempati oleh khasiat yang paling kecil kuat ekonominya.

  • Teori Konsektoral (Griffin dan Ford, 1980)

Teori Konsektoral dilandasi maka dari itu struktur ruang daerah tingkat di Amerika Latin. Kerumahtanggaan teori ini disebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan gelanggang utama dari perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Di daerah ini terjadi proses perubahan yang cepat sehingga mengancam nilai historis dari daerah tersebut. Pada daerah – daerah yang berbatasan dengan DPK atau CBD di ii kabupaten-kota Amerika Latin masih banyak tempat yang digunakan bikin kegiatan ekonomi, antara enggak pasar lokal, daerah-area pertokoan buat golongan ekonomi lemah dan sebagian bukan dipergunakan bagi tempat tinggal sementara para imigran.

  • Teori Historis (Alonso, 1964)

DPK atau CBD dalam teori ini ialah siasat segala akomodasi kota dan merupakan kawasan dengan trik tarik unik dan aksesibilitas nan tinggi.

  • Teori Poros (Babcock, 1960)

Menitikberatkan puas peranan transportasi dalam mempengaruhi struktur keruangan kota. Asumsinya adalah mobilitas manfaat-fungsi dan penduduk n kepunyaan intensitas yang sederajat dan topografi kota seragam. Faktor utama nan mempengaruhi mobilitas yakni poros transportasi nan menghubungkan CBD dengan daerah putaran luarnya.Aksesibilitas memperhatikan biaya waktu dalam sistem transportasi nan terserah. Selama poros transportasi akan mengalami perkembangan kian osean dibanding zona di antaranya. Zona yang tidak terlayani dengan akomodasi transportasi yang cepat.

Arsitektur

[sunting
|
sunting perigi]

Arsitektur kota terdiri dari ruang kota, bangunan, tempat ibadah, tugu dan konstruksi ataupun palagan lain yang ada di dalam daerah tingkat. Episode utama dari arsitektur kota yakni lingkungan yang memiliki segi badan dan segi non-tubuh. Segi awak dari arsitektur kota melingkupi bangunan-konstruksi, tugu-tugu, ira-ruang terbuka, dan jalan atau kaki lima. Sedangkan segi non-fisik dari arsitektur kota ialah kegiatan sosial, kegiatan budaya, kegiatan keagamaan, dan kegiatan perekonomian serta sangkutan seluruh kegiatan tersebut dengan segi fisiknya.[10]

Sudut pandang

[sunting
|
sunting sumber]

Tesmak pandang arsitektur

[sunting
|
sunting sendang]

Privat sudut pandang arsitektur, daerah tingkat dipandang sebagai sebuah arsitektur yang memiliki bentuk fisik nan boleh dilihat dan memiliki gedung dari kota sepanjang waktu. Daerah tingkat dianggap sebagai sebuah karya seni bagi khalayak yang paham tentang urban artefak dengan tempat, situasi dan wujud kota. Konsep kota misal sebuah urban artefak n kepunyaan susuk yang berbagai ragam plong setiap zaman dan roh sosial keagamaan. Selain itu, kerumahtanggaan sudut pandang arsitektur, kota dipandang laksana suatu permukiman nan nisbi segara, padat dan permanen serta terdiri dari kelompok sosok-manusia yang berbagai rupa berpangkal segi sosial. Keberagaman permukiman tidak dinilai pecah bentuk kota tetapi berpokok suatu fungsi nan menciptakan ruang-urat kayu yang bermanfaat melalui pengorganisasian ulas dan panjang tertentu.[11]
Sudut pandang arsitektur pun menganggap kota sebagaisekumpulan konstruksi dan artefak yang menjadi tempat untuk berhubungan sosial. Kepejalan penduduk yang panjang, tataran sosial-ekonomi yang bermacam-macam dan dandan jiwa yang materialistik membuat kota menjadi sistem jaringan kehidupan manusia.[12]

Sudut pandang sosio-spasial

[sunting
|
sunting sumber]

Tesmak pandang ii kabupaten bersumber sosio-spasial diperoleh berpunca perspektif urat kayu plong ekonomi Marxian. Henri Lefebvre (1991), David Harvey (1985, 2001, 2022), dan Manuel Castells (1977) menggambar pengembangan perspektif ekonomi Marxian untuk menguraikan konsep suatu kota. Relasi kuasa dari aktor-aktor penataan ruang diamati menerobos fenomena kontestasi, negosiasi, konsensus, dan konflik di perkotaan. Para aktor nan mempengaruhi penataan ruang membentangi pemerintah, publik, dan pasar. Dalam kacamata pandang sosio-spasial, keterlibatan pemerintah dengan kemujaraban serta kemauan politiknya dipandang sebagai mandu menggesakan pengembangan kota. Selain itu, strategi pemerintahan juga menjadi gawai peralihan kota yang mengacu pada pembangunan global metropolitan. Kota modern merupakan hasil dari perlintasan-persilihan tata ruang nan mempengaruhi nasib setiap warga. Perubahan penyelenggaraan ulas yaitu akibat dari kesanggupan penanam modal ataupun dam yang melakukan pembangunan konstruksi, fasilitas mahajana, dan pangsa awam untuk pemodalan yang terkait dengan perubahan dan tuntutan ekonomi global.[13]

Masyarakat

[sunting
|
sunting sumber]

Perkembangan berpangkal suatu kota dipengaruhi oleh masyarakat yang menjadi pemakai perkotaan. Kota menjadi sangat kompleks karena masyarakat selalu berkembang seiring dengan kronologi zaman dan permohonan hidup. Pengembangan ii kabupaten lebih menonjol dibandingkan dengan kawasan luar kota. Selain itu, kehidupan mahajana perkotaan merentang bertambah menekankan plong segi ekonomi, sehingga kota dianggap perumpamaan hasil rekayasa turunan untuk rnemenuhi kehidupan ekonomi penggunanya. Masyarakat perkotaan memiliki permasalahan yang lewat kompleks karena daerah tingkat sekali lagi memengaruhi usia di barang apa bidang nyawa.[14]

Masyarakat perkotaan condong memiliki sifat individual dan heterogen dengan sukma nan modern yang dilengkapi dengan berbagai arsitektur dan pabrik yang canggih. Dalam masyarakat daerah tingkat terdapat banyak kelompok sosial yang dibedakan berdasarkan profesi.[15]
Masyarakat perkotaan memiliki tingkat spesies sosial yang tinggi dengan tingkat asoasi yang dipengaruhi makanya jumlah penduduk yang banyak. Pengaturan sosial di intern mahajana perkotaan menggunakan pengawasan nan bukan terlalu ketat sehingga toleransi sosial habis tingkatan. Umum perkotaan lebih mengutamakan manifestasi sehingga mobilitas sosial relatif pangkat. Perkariban di dalam awam perkotaan bersifat sukarela dan cenderung menganut individualisme karena adanya kebebasan dalam pengambilan keputusan secara individu. Selain itu, masyarakat perkotaan cenderung memisah secara fisik berdasarkan perbedaan kelompok sosial.[16]

Ii kabupaten terdiri dari masyarakat yang majemuk. Pluralitas masyarakat bisa diamati secara mendatar dan vertikal.[17]
Masyarakat majemuk secara melintang dikelompokkan berdasarkan etnis, keturunan, bahasa daerah, tradisi atau perilaku, agama, pakaian, makanan, dan budaya. Sedangkan secara vertikal, masyarakat beragam dikelompokkan bersendikan tingkat ekonomi, pendidikan, distrik pemukiman, pekerjaan, dan geta sosial-politik.[18]
Mahajana perkotaan cenderung menjalani nasib dengan resan nan materialistis.[19]

N domestik satu kota dikenal istilah warga kota. Kegunaan istilah penduduk daerah tingkat adalah untuk menentukan hak-nasib baik yang berhak dimiliki seseorang di n domestik suatu kota. Harga diri warga daerah tingkat tak mewakili prestise warga negara, melainkan menitikberatkan keluasan statu yang menyempit dari kewarganegaraan ke tempatan. Belas kasih status warga kota dimaksudkan untuk keperluan sosial dan lain untuk keperluan provinsi. Properti atas ii kabupaten yang dimiliki oleh pemukim ii kabupaten adalah hoki untuk membuat berbagai rupa hubungan sosial sebagai penguasa ruang sosialnya dan untuk atma sesuai keinginannya. Keanggotaan kota didasarkan puas beberapa khasiat. Ii kabupaten menjadi peguyuban strategi primer nan dihuni umum urban sebagai kriteria keberanggotaan dan basis lakukan aktivasi politik. Fungsi lain kewargakotaan adalah untuk membentuk klaim properti atas pengalaman hidup perkotaan dan bermacam-macam penampilan sebagai pemukim.[20]

Keyakinan

[sunting
|
sunting sendang]

Suatu kota menjadi tempat terbentuknya peguyuban keagamaan semenjak kalangan kelas menengah. Hidup keagamaan di privat perkotaan menentang sekuler dan tidak peduli dengan agama. Perkotaan tidak bersisa mempertimbangkan aspek keagamaan n domestik kegiatan urban. Kota berorientasi mengutamakan kegiatan yang berperangai maju dan berkaitan dengan ekonomi nan melibatkan komisi lakukan ekstensi modernitas.[21]
Keberadaan kelas menengah di dalam kota menciptakan menjadikan kesalehan agama secara masif. Awam kelas semenjana membidik sukma dengan yang berlandaskan kepada kemampuan ekonomi, sehingga membentuk gaya hidup masyarakat umum. Gaya hidup mahajana kelas menengah turut mempengaruhi gaya sukma publik kelas bawah melangkaui peniruan.[22]

Bentuk kota

[sunting
|
sunting mata air]

Spasial

[sunting
|
sunting sumur]

Puas masa kerajaan kuno hingga abad pertengahan, bentuk daerah tingkat mengikuti pola spasial. Bentuk ii kabupaten spasial digunakan oleh kerajaan-kerajaan nan terserah di Mesir, Yunani, Romawi, dan China. Ciri terdepan pecah bentuk kota spasial merupakan adanya adanya pewatas berbentuk baluwarti dan gapura gerbang turut. Kota pertahanan biasanya dijadikan andai pusat kegiatan masyarakat yang punya pengaruh yang besar untuk keberlangsungan suatu kerajaan.[23]
Benteng memiliki dinding-dinding pembatas nan menciptakan menjadikan model spasial plong kota dan merundingkan daerah tingkat dengan kawasan tidak. Kawasan kota ditandai dengan adanya gapura gerbang yang menjadi akses buat keluar dan masuk ke intern kota. Pembangunan kota pada masa kerajaan-kerajaan dipusatkan sreg keamanan, sehingga jodoh tidak dapat memasuki wilayah kekuasaannya dengan mudah saat perang terjadi.[24]

Bagian spasial

[sunting
|
sunting sumber]

Bentuk kota fragmen spasial merupakan modifikasi semenjak bentuk fisik kota spasial. Konsep pangkal dari bentuk kota bagian spasial didasarkan pada peguyuban ki. Pada rajah ii kabupaten fragmen spasial, kubu-benteng di bagi menjadi kawasan-distrik yang terpisah secara keruangan satu sama lain. Pembagian spasial kota ini terjadi secara sengaja atau lain disengaja dan menjatah kawasan internal beberapa kelompok cucu adam. Pemisahan provinsi-distrik di kota merupakan akibat dari ketidak-adilan bentuk daerah tingkat spasial dalam bidang sosial. Komunitas pintu takhlik kota fragmen spasial menjadi bilang tipe pemukiman yaitu rumah pangkalan, apartemen, maupun super-blok. Permukiman komunitas gerbang berbentuk proporsi besar dengan infrastruktur nan mandiri. Heterogen kegiatan keagamaan, kesehatan, ekonomi, olahraga, dan pendidikan dilakukan di dalam kawasan. Dukungan kegiatan berupa keikhlasan jalan, air bersih, drainase, ajang pembuangan akhir, sekolah, setrum, sendi kesehatan, pusat ekspor impor, kiat latihan jasmani, dan gelanggang ibadah. Pemisahan diri kewedanan komunitas portal terjadi karena adanya kemerdekaan dan kesanggupan untuk mengurus apa kebutuhan sonder uluran tangan pihak luar. Selain itu, area komunitas gapura tidak terlalu tertambat makanya kebiasaan yang ditetapkan oleh otoritas domestik.[25]

Pemukiman

[sunting
|
sunting mata air]

Pemukiman elit

[sunting
|
sunting sumber]

Gagasan rang daerah tingkat pada kerajaan-kerajaan diterapkan juga pada kamil pemukiman daerah tingkat modern dengan invalid perubahan. Pola pemukiman elit di kota berkembang seiring kesejagatan. Para pengembang kota membuat pemukiman-pemukiman dengan model yang dipilih sendiri. Konsep yang umum ditemukan adalah pembatasan area pemukiman dengan dinding pagar dan pintu portal umpama jalur lalu-lalang-kawasan. Keamanan dibentuk melalui kesanggupan pos satuan pengamanan, portal, palang pintu, dan atribut penanda seperti mana “dilarang masuk” atau “tamu harap lapor”. Permukiman dengan pembatasan area dan kasih label keamanan disebut sebagai komunitas berpagar maupun komunitas pintu gerbang.[26]

Pemukiman kumuh

[sunting
|
sunting sumber]

Pemukiman kumuh merupakan ajang tinggal bagi sebagian ki akbar umum berpendapatan rendah. Kualitas perumahan nan cak semau di pemukiman kotor lewat buruk dan pelayanan dasar disediakan dengan kuantitas yang lampau sedikit. Pemukiman cemar mengoper kemelaratan kota dengan sangat jelas. Kata permukiman kumuh diartikan sebagai lingkungan perumahan yang baik tetapi mengalami penerjunan kualitas akibat meningkatnya kepadatan warga yang yaitu masyarakat berpendapatan rendah.[27]
Di kota, pemukiman cemar terbimbing di kota yang masih menerapkan sistem kepemilikan tradisional dan kebiasaan atau pada pemukiman yang bersaing dalam ekonomi nisbah besar. Mahajana berpendapatan rendah enggak berlambak membeli rumah di suatu perumahan karena peningkatan harga kontrak alias harga jual yang tdak terjangkau. Satu-satunya pilihan yang dimiliki maka itu awam berpendapatan invalid adalah membangun, membeli maupun menyewa tempat tinggal yang relatif sempit dengan kualitas konstruksi yang buruk dan penyiapan peladenan minimum di permukiman informal. Pilihan ini didasarkan lega penjimatan biaya dan waktu nan berkaitan dengan kekariban tempat lalu dari sendang pekerjaan di kota. Kepadatan penduduk di pemukiman cemar menciptakan lingkungan yang tidak sehat.Selain itu, pemukiman kotor umumnya dibangun di lahan nan berbahaya karena rentan terdampak petaka, kreatif di jalur kereta api, pinggir perkembangan atau pinggir sungai.[28]

Ekspansi

[sunting
|
sunting sumber]

Setiap kota memiliki aspek roh masyarakat yang farik-cedera. Segala arti manusia dipusatkan pelaksanaannya di privat daerah tingkat. Pengembangan kota-kota cenderung menjadi besar bila memiliki kegiatan ekonomi yang berjalan dengan baik. Daerah tingkat-kota boncel yang cak semau di sekeliling kota besar akan mempunyai ketergantungan privat mempertahankan kehidupan ekonominya.[29]

Urbanisasi

[sunting
|
sunting sendang]

Urbanisasi adalah proses migrasi dari pedesaan ke perkotaan yang didorong oleh bermacam ragam faktor garis haluan, ekonomi, dan budaya. Sebatas abad ke-18, terserah keadilan antara populasi pertanian pedesaan dan ii kabupaten-kota yang mempunyai pasar dan manufaktur perbandingan kecil.[30]
[31]
Dengan adanya sirkuit pertanian dan industri, penghuni perkotaan start bertumbuh pesat, baik melalui migrasi alias melalui ekspansi demografi. Di Inggris proporsi penduduk yang suntuk di kota melonjak dari 17% pada tahun 1801 menjadi 72% plong tahun 1891.[32]
Puas tahun 1900, 15% dari populasi mayapada tinggal di kota.[33]
Ki akal tarik budaya kota juga berperan internal menarik penghuni.[34]

Urbanisasi dengan cepat hambur ke seluruh Eropa dan Amerika dan sejak periode 1950-an pula terjadi di Asia dan Afrika. Divisi Kependudukan dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Nasion, melaporkan pada masa 2022 bahwa untuk mula-mula kalinya lebih pecah separuh warga dunia lewat di kota.[35]
[a]

Diagram yang menunjukkan urbanisasi dari periode 1950 diproyeksikan setakat 2050.[43]

Amerika Latin ialah kontinen yang minimal urban, dengan catur perlima penduduknya suntuk di kota, tertera seperlima dari populasi yang dikatakan lampau di kawasan cemar (favela, poblaciones callampas, dll.).[44]
Batam, Indonesia, Mogadishu, Somalia, Xiamen, Tiongkok dan Niamey, Niger, termasuk internal daerah tingkat-kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 5-8%.[45]
Secara umum, negara-negara-negara berbudaya di “Global Utara” tetap makin urban daripada negara-negara berkembang di “Menyeluruh Selatan”—semata-mata perbedaannya terus menyusut karena urbanisasi terjadi makin cepat di negara-negara berkembang. Asia adalah benua dengan jumlah penduduk kota terbesar: lebih dari dua miliar dan terus bertambah.[31]
PBB mengandaikan komplemen 2,5 miliar penduduk kota (dan penduduk desa yang berkurang 300 juta) di seluruh marcapada pada tahun 2050, dengan 90% berpokok ekspansi penduduk perkotaan terjadi di Asia dan Afrika.[35]
[46]

Peta yang menunjukkan daerah perkotaan dengan setidaknya satu juta penghuni puas masa 2006.

Megakota, ii kabupaten-kota dengan populasi jutaan, telah bertambah menjadi puluhan, unjuk terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.[47]
[48]
Globalisasi ekonomi mendorong pertumbuhan kota-kota ini, karena aliran modal asing mentah menyebabkan industrialisasi yang cepat, serta relokasi bisnis segara dari Eropa dan Amerika Utara, menarik imigran dari segala apa penjuru.[49]
Tong yang dalam memberi mampu dan miskin di kota-kota ini, yang biasanya mempunyai elit super ki berjebah nan suntuk di kekerabatan bergerbang dan sejumlah lautan cucu adam yang tinggal di perumahan di pangkal standar dengan infrastruktur yang tidak memadai dan kondisi nan buruk.[50]

Kota-daerah tingkat di seluruh mayapada sudah lalu berkembang secara fisik seiring dengan pertumbuhan populasi, dengan kenaikan luas permukaannya, dengan penemuan gedung-gedung tinggi kerjakan penggunaan perumahan dan komersial, dan dengan pengembangan di bawah lahan.[51]
[52]

Urbanisasi dapat menciptakan permintaan yang cepat bakal tata sumber taktik air, karena sumber air tawar nan sebelumnya baik menjadi digunakan secara jebah dan tercemar, dan volume air limbah mulai melebihi tingkat yang dapat dikelola.[53]

Tatap pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Kota kebun
  • Kota (wilayah administratif)
  • Kota administrasi
  • Kota otonom
  • Daftar kabupaten dan kota Indonesia

Coretan

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    Intellectuals such as H.G. Wells, Patrick Geddes and Kingsley Davis foretold the coming of a mostly urban world throughout the twentieth century.[36]
    [37]
    The United Nations has long anticipated a half-urban world, earlier predicting the year 2000 as the turning point[38]
    [39]
    and in 2007 writing that it would occur in 2008.[40]
    Other researchers had also estimated that the halfway point was reached in 2007.[41]
    Although the trend is undeniable, the precision of this statistic is dubious, due to reliance on national censuses and to the ambiguities of defining an area as urban.[36]
    [42]

Wacana

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Muta’ali, Lutfi (2015).
    Teknik Analisis Ragional buat Perencanaan Distrik, Tata Pangsa, dan Mileu. Yogyakarta: Fakultas Gegrafi (BPFG) Universitas Gajah Mada.





  2. ^

    Jamaluddin 2022, hlm. 35.

  3. ^

    Jamaluddin 2022, hlm. 41-42.

  4. ^

    Jamaluddin 2022, hlm. 52-53.

  5. ^


    Murdiyanto, E. (2008).
    Sosiologi Perdesaan
    (PDF). Yogyakarta: Wimaya Press. hlm. 204. ISBN 978-979-8918-88-9.





  6. ^

    Prihatin, Daryanti, dan Pramadha 2022, hlm. 21.

  7. ^

    Prihatin, Daryanti, dan Pramadha 2022, hlm. 21-22.

  8. ^

    Prihatin, Daryanti, dan Pramadha 2022, hlm. 22.

  9. ^

    Prihatin, Daryanti, dan Pramadha 2022, hlm. 23.

  10. ^

    Mulyadi 2022, hlm. 1-2.

  11. ^

    Mulyadi 2022, hlm. 8.

  12. ^

    Mulyadi 2022, hlm. 8-9.

  13. ^

    Sumandiyar, dkk. 2022, hlm. 1.

  14. ^

    Mulyandari 2022, hlm. 1.

  15. ^


    Pandaleke, Alfien (2015).
    Sosiologi Perkotaan. Bogor: Maxindo Jagat. hlm. 5. ISBN 978-602-72508-0-2.





  16. ^


    Jamaludin, A. T. (2015).
    Sosiologi Perdesaan
    (PDF). Bandung: CV. Teks Setia. hlm. 22–23. ISBN 978-979-076-550-4.





  17. ^

    Mumtazinur 2022, hlm. 73.

  18. ^

    Mumtazinur 2022, hlm. 74.

  19. ^

    Mumtazinur 2022, hlm. 116.

  20. ^

    Sumandiyar, dkk. 2022, hlm. 26.

  21. ^

    Faiz 2022, hlm. 254.

  22. ^

    Faiz 2022, hlm. 255.

  23. ^

    Umar 2022, hlm. 5-6.

  24. ^

    Umar 2022, hlm. 6.

  25. ^

    Umar 2022, hlm. 7.

  26. ^

    Umar 2022, hlm. 6-7.

  27. ^

    UNESCAP dan UN-HABITAT 2008, hlm. 2.

  28. ^

    UNESCAP dan UN-HABITAT 2008, hlm. 4.

  29. ^

    Mulyandari 2022, hlm. 1-2.

  30. ^

    The Urbanization and Political Development of the World System:A comparative quantitative analysis.
    History & Mathematics
    2 (2006): 115–153 Diarsipkan 18 May 2022 di Wayback Machine..
  31. ^


    a




    b



    William H. Frey & Zachary Zimmer, “Defining the City”; in Paddison (2001).

  32. ^

    Christopher Watson, “Trends in urbanization Diarsipkan 2022-03-05 di Wayback Machine.”,
    Proceedings of the First International Conference on Urban Pests Diarsipkan 2022-10-10 di Wayback Machine., ed. K.B. Wildey and William H. Robinson, 1993.

  33. ^


    Annez, Patricia Clarke; Buckley, Robert M. (2009). “Urbanization and Growth: Setting the Context”
    (PDF). N domestik Spence, Michael; Annez, Patricia Clarke; Buckley, Robert M.
    Urbanization and Growth. ISBN 978-0-8213-7573-0. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 25 May 2022. Diakses terlepas
    20 May
    2022
    .





  34. ^

    Moholy-Nagy (1968), pp. 136–137. “Why do anonymous people—the poor, the underprivileged, the unconnected—frequently prefer life under miserable conditions in tenements to the healthy order and tranquility of small towns or the sanitary subdivisions of semirural developments? The imperial planners and architects knew the answer, which is as kredibel today as it was 2,000 years ago. Big cities were created as power images of a competitive society, conscious of its achievement potential. Those who came to live in them did so in bestelan to participate and compete on any attainable level. Their aim was to share in public life, and they were willing to pay for this share with personal discomfort. ‘Bread and games’ was a cry for opportunity and entertainment still ranking foremost among urban objectives.
  35. ^


    a




    b



    Somini Sengupta, “U.Falak. Finds Most People Now Live in Cities Diarsipkan 5 July 2022 di Wayback Machine.”;
    New York Times, 10 July 2022. Referring to: United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division;
    World Urbanization Prospects: 2022 Revision Diarsipkan 2022-07-06 di Wayback Machine.; New York: United Nations, 2022.
  36. ^


    a




    b



    Neil Brenner & Christian Schmid, “The ‘Urban Age’ in Question Diarsipkan 11 July 2022 di Wayback Machine.”;
    International Journal of Urban and Regional Research
    38(3), 2022; DOI:10.1111/1468-2427.12115.

  37. ^

    McQuillin (1937/1987), §1.55.

  38. ^

    “Patterns of Urban and Rural Population Growth Diarsipkan 2022-11-13 di Wayback Machine.”, Department of International Economic and Social Affairs, Population Studies No. 68; New York, United Nations, 1980; p. 15. “If the projections prove to be accurate, the next century will begin just after the world population achieves an urban majority; in 2000, the world is projected to be 51.3 per cent urban.”

  39. ^

    Edouart Glissant (Editor-in-Chief), UNESCO “Courier” (“The Urban Explosion Diarsipkan 12 June 2022 di Wayback Machine.”), March 1985.

  40. ^


    “World Urbanization Prospects: The 2007 Revision”
    (PDF). Diarsipkan mulai sejak versi polos
    (PDF)
    rontok 13 August 2022. Diakses tanggal
    29 June
    2022
    .





  41. ^

    Mike Hanlon, “World Population Becomes More Urban Than Rural Diarsipkan 28 June 2022 di Wayback Machine.”;
    New Atlas, 28 May 2007.

  42. ^

    Graeme Hugo, Anthony Champion, & Alfredo Lattes, “Toward a New Conceptualization of Settlements for Demography Diarsipkan 29 July 2022 di Wayback Machine.”,
    Population and Development Review
    29(2), June 2003.

  43. ^


    “United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division (2014). World Urbanization Prospects: The 2022 Revision, CD-ROM Edition”. Diarsipkan bermula varian tahir sungkap 2022-07-06.




  44. ^

    Paulo A. Paranagua, “Latin America struggles to cope with record urban growth Diarsipkan 17 May 2022 di Wayback Machine.” (),
    The Guardian, 11 September 2022. Referring to UN-Habitat,
    The State of Latin American and Caribbean Cities 2022: Towards a new urban transition Diarsipkan 2022-11-13 di Wayback Machine.; Nairobi: United Nations Human Settlements Programme, 2022.

  45. ^

    Helen Massy-Beresford, “Where is the fastest growing city in the world? Diarsipkan 15 May 2022 di Wayback Machine.”;
    The Guardian, 18 November 2022.

  46. ^

    Mark Anderson & Achilleas Galatsidas, “Urban population boom poses massive challenges for Africa and Asia Diarsipkan 10 October 2022 di Wayback Machine.”
    The Guardian
    (Development data: Datablog), 10 July 2022.

  47. ^

    Kaplan et al. (2004), p. 15. “Global cities need to be distinguished from megacities, defined here as cities with more than 8 million people. […] Only New York and London qualified as megacities 50 years ago. By 1990, just over 10 years ago, 20 megacities existed, 15 of which were in less economically developed regions of the world. In 2000, the number of megacities takat increased to 26, again all except 6 are located in the less developed world regions.”

  48. ^

    Frauke Kraas & Günter Mertins, “Megacities and Global Change”; in Kraas et al. (2014), p. 2. “While seven megacities (with more than five million inhabitants) existed in 1950 and 24 in 1990, by 2010 there were 55 and by 2025 there will be—according to estimations—87 megacities (UN 2022; Fig. 1). “

  49. ^

    Frauke Kraas & Günter Mertins, “Megacities and Global Change”; in Kraas et al. (2014), pp. 2–3. “Above all, globalisation processes were and are the motors that drive these enormous changes and are also the driving forces, together with transformation and liberalisation policies, behind the economic developments of the last c. 25 years (in China, especially the so-called socialism with Chinese characteristics that started under Deng Xiaoping in 1978/1979, in India essentially during the course of the economic reform policies of the so-called New Economic Policy as of 1991; Cartier 2001; Nissel 1999). Especially in megacities, these reforms led to enormous influx of foreign direct investments, to intensive industrialization processes through international relocation of production locations and depending upon the location, partially to considerable expansion of the services sector with increasing demand for office space as well as to a reorientation of national support policies—with a not to be mistaken influence of transnationally acting conglomerates but also considerable transfer payments from overseas communities. In turn, these processes are flanked and intensified through, at times, massive migration movements of national and international migrants into the megacities (Baur et al. 2006).

  50. ^

    Shipra Narang Suri & Günther Taube, “Governance in Megacities: Experiences, Challenges and Implications for International Cooperation”; in Kraas et al. (2014), p. 196.

  51. ^

    Stephen Graham & Lucy Hewitt, “Getting off the ground: On the politics of urban verticality Diarsipkan 10 October 2022 di Wayback Machine.;
    Progress in Human Geography
    37(1), 2022; DOI:10.1177/0309132512443147.

  52. ^

    Eduardo F.J. de Mulder, Jacques Besner, & Brian Marker, “Underground Cities”; in Kraas et al. (2014), pp. 26–29.

  53. ^

    Karen Bakker, “Archipelagos and networks: urbanization and water privatization in the South”;
    The Geographical Journal
    169(4), December 2003; DOI:10.1111/j.0016-7398.2003.00097.x. “The diversity of water supply management systems worldwide—which operate along a continuum between fully public and fully private—bear witness to repeated shifts back and forth between private and public ownership and management of water systems.”

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Faiz, Abd. Aziz (2018).
    Muslimah Perkotaan
    (PDF)
    (edisi ke-4). Yogyakarta: Suka-Press. ISBN 978-602-1326-53-4.



  2. Jamaluddin, A. N. (2017).
    Sosiologi Perkotaan: Memahami Umum Ii kabupaten dan Probelmatikanya
    (PDF). Bandung: CV. Pustaka Konstan. ISBN 978-979-076-518-4.



  3. Mulyadi, Lalu (2018).
    Persepsi Masyarakat terhadap Arsitektur Kota Kediri, Jawa Timur
    (PDF). Malang: CV. Dream Litera Buana. ISBN 978-602-5518-38-6.



  4. Mulyandari, Hestin (2011).
    Pengantar Arsitektur Kota. Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta. ISBN 978-979-29-1749-9.



  5. Mumtazinur (2019).
    Ilmu Sosial dan Budaya Sumber akar
    (PDF). Banda Aceh: Rang Kajian Konstitusi Indonesia (LKKI) Fakultas Syariah dan Hukum, Perkumpulan Islam Kawasan (UIN) Ar-Raniry. ISBN 978-602-50172-4-7.



  6. Prihatin, S.D., Daryanti, S., Pramadha, R.A. (ed) (2019).
    Petisi Teori Perencanaan: Dari Konsep ke Realita
    (PDF). Sleman: CV. Buana Grafika. ISBN 978-623-7358-33-6.



  7. Sumandiyar, dkk. (2020).
    Sosiologi Perkotaan: Kapitalisasi Urat kayu dan Marginalisasi Sosial
    (PDF). Kendari: Literacy Institute. ISBN 978-602-5722-41-7.



  8. Umar, Fitrawan (2018).
    Masa Depan Kota dan Lingkungan
    (PDF). Makassar: Penerbit CV. Loe. ISBN 978-602-5862-08-3.



  9. UNESCAP dan UN-HABITAT (2008).
    Perumahan bagi kaum miskin di kota-kota Asia: Perumahan cak bagi MBR: Membagi Tempat yang Layak kerjakan Kaum Miskin Kota
    (PDF). Bangkok: United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific. ISBN 978-92-113-1947-7.



Bibliografi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Bairoch, Paul (1988).
    Cities and Economic Development: From the Dawn of History to the Present. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 0-226-03465-8.



  • Chandler, Lengkung langit.
    Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census. Lewiston, NY: Edwin Mellen Press, 1987.
  • Geddes, Patrick,
    City Development
    (1904)
  • Jacobs, Jane (1969). “The Economy of Cities”. New York: Random House Inc.


  • Kemp, Roger L.

    Managing America’s Cities: A Handbook for Local Government Productivity,

    McFarland and Company, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK, 2007. (ISBN 978-0-7864-3151-9).
  • Kemp, Roger L.
    How American Governments Work: A Handbook of City, County, Regional, State, and Federal Operations,
    McFarland and Company, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK. (ISBN 978-0-7864-3152-6).
  • Kemp, Roger L. “City and Gown Relations: A Handbook of Best Practices,” McFarland and Copmpany, Inc., Publisher, Jefferson, North Carolina, USA, and London, England, UK, (2013). (ISBN 978-0-7864-6399-2).
  • Monti, Daniel J., Jr.,
    The American City: A Social and Cultural History. Oxford, England and Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1999. 391 pp. ISBN 978-1-55786-918-0.
  • Mumford, Lewis, The City in History (1961)
  • O’Flaherty, Brendan (2005).
    City Economics. Cambridge Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 0-674-01918-0.



  • Pacione, Michael (2001).
    The City: Critical Concepts in The Social Sciences. New York: Routledge. ISBN 0-415-25270-9.



  • Reader, John (2005) Cities. Vintage, New York.
  • Robson, W.A., and Regan, D.E., ed.,
    Great Cities of the World, (3d ed., 2 vol., 1972)
  • Rybczynski, W.,
    City Life: Urban Expectations in a New World, (1995)
  • Smith, Michael E. (2002)
    The Earliest Cities. In Urban Life: Readings in Urban Anthropology, edited by George Gmelch and Walter Zenner, pp. 3–19. 4th ed. Waveland Press, Prospect Heights, IL.
  • Thernstrom, S., and Sennett, R., ed.,
    Nineteenth-Century Cities
    (1969)
  • Toynbee, Arnold J. (ed),
    Cities of Destiny, New York: McGraw-Hill, 1967. Pan historical/geographical essays, many images. Starts with “Athens”, ends with “The Coming World City-Ecumenopolis”.
  • Weber, Max,
    The City, 1921. (tr. 1958)

Pustaka lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Berger, Alan S.,
    The City: Urban Communities and Their Problems, Dubuque, Iowa: William C. Brown, 1978.
  • Glaeser, Edward,
    Triumph of the City, Penguin, 2022

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • World Urbanization Prospects, the 2022 Revision, Website of the United Nations Population Division
  • Human Geography di Curlie (dari DMOZ)
  • Urban and Regional Planning di Curlie (dari DMOZ)
  • Geopolis – research group that studies the world’s urbanization, Université Paris Diderot, France



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kota