Pemerintah terus mendorong semua wilayah nan masuk zona hijau Covid-19 semoga menyelenggarakan pembelajaran lihat paras (PTM) cacat. Hal tersebut dilakukan karena berlatih dari rumah, baik yang dilakukan secara daring alias luring, memberikan dampak yang beragam kepada anak asuh, ayah bunda dan guru. Riuk suatu persoalan nan menjadi perhatian pemerintah adalah kepanikan terhadap pergeseran perilaku atau karakter anak-anak.


“Pemerintah melalui SKB 4 Menteri mutakadim memurukkan pemberlakuan PTM terbatas pada tahun tanzil 2022/2022 yang dimulai Juli ini bakal negeri zona hijau. Sekolah yang telah siap melaksanakan pembelajaran bersemuka terbatas harus berpegang pada peraturan Pemda setempat, terutama terkait politik pemberlakuan PPKM,” sebut Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek dalam webinar yang disiarkan secara langsung di channel Youtube DitpsdTv, Sabtu, 24 Juli 2022.


Ia meneruskan, berlandaskan data jajak pendapat Kemendikbudristek, mulai sejak 536 ribu sekolah jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMA di seluruh Indonesia, sebanyak 218 mili sekolah mutakadim memuati survei. Berpokok total sekolah yang mengisi survei, sebanyak 69 ribu sekolah mutakadim melaksanakan pendedahan tatap cahaya muka. Sedangkan 149 ribu sekolah masih harus melanjutkan penerimaan pecah rumah baik daring maupun luring.


“Kendati demikian, hawa di sekolah tetap harus mengerjakan penilaian laksana respons hasil belajar petatar. Baik siswa nan belajar bertatap di sekolah ataupun pelajar yang tetap melaksanakan pembelajaran dari rumah,” tutur Sri Wahyuningsih.


Penilaian pembelajaran merupakan respons untuk menjaga semangat dan psikologis anak selama melakukan pembajaran di perdua pandemi. Oleh karena itu, Sri mementingkan, lain boleh terserah diskriminasi privat penilaian puas peserta didik, baik yang melaksanakan penataran tatap muka ataupun yang belajar di flat.


“Belajar di masa taun ini mengikutsertakan orang tua renta untuk memberikan pemaafan putra-putrinya belajar di sekolah atau membiasakan dari rumah. Ini menjadi muatan sekutu-kawan hawa untuk menerimakan penilaian tanpa ada diskriminasi,” tegasnya.


Dr. Susanti Sufyadi, S.Pd., M.A., Koordinator Mal Penerimaan, Pusat Asesmen dan Pembelajaran menjelaskan, kelajuan momongan-anak kerumahtanggaan sparing sangat berbeda-beda. Cara guru hendaknya dapat mengetahui kemampuan dan kebutuhan nan beragam dari pesuluh didik salah satunya yaitu dengan penilaian atau asesmen.


Ia menambahkan, penilaian lebih banyak dilakukan lakukan mengidentifikasi kebutuhan nan berbeda mulai sejak para peserta didik selama proses pembelajaran. Asesmen fragmen dari belajar mengumpulkan informasi kerjakan kemudian mengisi pemberitaan hasil akhirnya. Bagian dari penilaian itu bisa melanglang kalau formatifnya berjalan dengan baik.


“Jadi harus formatif silam. Siklus formatnya seperti mana segala? Apakah ada kebutuhan yang berbeda, lalu dilakukan perombakan, hijau esok hasil asesmen sumatif. Itulah yang merupakan potret dari proses pembelajaran. Dikumpulkan, diperkuat dengan hasil formatif dan mentah akan ikut ke proklamasi,” ujarnya menjelaskan.



Webinar Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar sebagai Umpan Balik Pembelajaran


Sejauh ini, lanjur Susanti, pelaksanaan penilaian berkiblat berfokus pada kredit sumatif yang dijadikan lengkap bagi mengisi amanat hasil belajar. Mungkin karena submatifnya saja yang terlihat dan yang pula diminta pemerintah.


“Sementara pendayagunaan untuk umpan balik seorang harus formatif dulu dimanfaatkan dengan baik bikin perbaikan. Hasil pembelajaran lalu kemudian hijau ke sumatif,” tuturnya.


Sementara itu, Dr. Nita Isnaeni, S.I.P., M.Pd., Sub Pengorganisasi Pokja Pembelajaran, Direktorat GTK Pendidikan Dasar menambahkan, dengan penilaian, guru dapat mengklasifikasikan apakah koteng peserta ajar termasuk kelompok peserta didik yang pandai, memadai, atau abnormal di kelasnya. Dengan penilaian, master boleh mengetahui kesuksesan pencapaian tujuan, pendudukan peserta ajar terhadap tutorial, serta ketelitian alias kelebihan metode mengajar.


“Selain itu, tugas fungsi guru dalam proses hasil berlatih peserta didik adalah merencanakan, melaksanakan penilaian untuk membimbing pelaksanaan tugas apendiks,” ujarnya.



Webinar Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar sebagai Umpan Balik Pembelajaran



Di jihat lain, Dindin Rosyidin, M.Pd., Penasihat Sekolah SD Labschool FIP UMJ, menjatah praktik penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik, terutama saat petatar ajar melaksanakan pengajian pengkajian di kondominium sejauh endemi.


Purwa, ada penilaian performa yang dilakukan KD IPA kelas 1. Terserah pengurutan benda, kejadian, hal berdasarkan jenjang, berat, lamanya periode, dan hawa.


“Siswa diminta mewujudkan timbangan tertinggal dengan sampiran baju dan kantong plastik. Habis pesuluh membandingkan berat benda yang cak semau di rumah dengan timbangan sederhana menggunakan ketengan tak formal, kemudian mempresentasikan hasil percobaannya di depan kelas zoom,” tutur Dindin.



Webinar Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar sebagai Umpan Balik Pembelajaran


Tentatif untuk penilaian proyek dilakukan cak bagi KD IPA kelas 6 nan menyajikan karya akan halnya perkembangbiakan tumbuhan. Petatar diminta menanam salah satu pohon dengan cara perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif alami. Siswa kemudian menuliskan laporan pengamatan perkembangan pohon yang mereka tanam selama 14 periode maupun 2 minggu.


“Selanjutnya sekolah Lab School FIP UMJ pula melakukan penilaian produk bikin KD SBDP papan bawah 5 dengan membuat gambar cerita. Aktivitasnya ialah siswa membuat narasi bergambar dengan tema tertentu dalam bentuk komik,” imbuh Dindin.


Selanjutnya yakni penilaian portofolio KD Bahasa Indonesia papan bawah  1. Yaitu menyorongkan penjelasan dengan kosa kata bahasa Indonesia dan dibantu dengan bahasa wilayah mengenai peristiwa siang dan malam dalam teks tulis dan rencana.


“Aktivitasnya siswa diminta cak bagi mengidentifikasi suasana nan menunjukkan pagi hari, lalu menggunting dan menempelkan susuk suasana puas pagi hari, siang musim dan lilin lebah waktu. Setelah itu siswa mengompile-nya menjadi portofolio,” pungkasnya. (Hendriyanto)