Bahasa Minangkabau ataupun yang lebih caruk dikenal dengan Bahasa Minang yaitu salah satu bahasa kawasan dengan jumlah perawi terbanyak adalah selingkung 6,5 juta semangat. Di Indonesia, penutur bahasa ini tersebar berbunga Sabang hingga Merauke. Dengan pesebaran penuturnya tersebut, tidak heran seandainya kita masih demap mendengar bahasa Minang seperti
rancak bana, tambuah ciek
ataupun
ondeh mandeh

meskipun kita enggak sedang bernas di kewedanan Minangkabau. Bagi yang penasaran dengan bahasa Minang karena ingin pedekate dengan makhluk Minang atau kendati dapat potongan harga saat belanja dengan khalayak Minang, yuk ayo luangkan waktu 10 menit buat mempelajari rumus-rumus di radiks ini. Tapi tenang saja ini lain rumus matematika ?

<>1. /a/ menjadi /o/

Intern bahasa Minang, alas kata nan diakhiri dengan abjad /a/ berubah menjadi abjad /o/. Persilihan kedua fonem ini sangat mudah diingat dan banyak perkenalan awal internal bahasa Minangkabau yang memberlakukan rumus ini sebagaimana komplet ‘lama’ menjadi ‘lamo’, ‘atasan’ menjadi ‘kapalo’, ‘dua menjadi ‘duo’, ‘sama’ menjadi ‘samo’, ‘indra penglihatan’ menjadi ‘mato’. Kalau ‘suka’ akan berubah menjadi ‘suko’. Nah, sekiranya
suko, silahkan lanjutkan pelajarannya ke bawah ya.
Hehehe

<>2. /ng/ menjadi /ang/

Semua pengenalan yang berakhiran /ng/ akan berubah menjadi /ang/. Contohnya adalah kata ‘kucing’ menjadi ‘kuciang’, ‘dinding’ menjadi ‘dindiang’, ‘maling’ menjadi ‘maliang’. Begitupun dengan kata ‘gunung’ yang berubah menjadi ‘gunuang’, ‘murung’ menjadi ‘muruang’, ‘lingkar’ menjadi ‘kuruang’. Jadi ‘hangit mancung’ akan menjadi ‘hiduang mancuang’ dalam bahasa Minang.

<>3. /s/ menjadi /h/

Pengenalan yang punya akhiran huruf /s/ berubah menjadi abjad /h/, seperti contoh ‘lapis’ menjadi ‘lapih’, ‘tipis menjadi ‘tipih’, ‘manis’ menjadi ‘manih’. Provisional itu, lakukan kata yang akhirannya ialah /us/ akan berubah menjadi akhiran /uih/ seperti ‘haus’ menjadi ‘hauih’, ‘hapus’ menjadi ‘hapuih’, ‘lurus’ : luruih. Cuma jika sebuah prolog memiliki akhiran /as/ maka kata tersebut bukan berubah menjadi dua rumus di atas, semata-mata berubah menjadi perkenalan awal dengan akhiran /eh/, contohnya seperti ‘gelas’ menjadi ‘galeh’, ‘seksi’ menjadi ‘paneh’, ‘puas’ menjadi ‘pueh’ dan ‘culas menjadi ‘maleh’.

<>4. /falak/ menjadi /k/ kurang bertambah sama dengan rumus /s/ menjadi /h/

Sekiranya bertemu dengan kata yang berakhiran fonem /t/, maka ganti saja huruf /tepi langit/ itu menjadi /k/, bintang sartan kata ‘giri’ berubah menjadi ‘bukik’, ‘tumit’ menjadi ‘tumik’, ‘guncangan’ menjadi ‘sakik’. Tapi rumus ini tidak dolan momen introduksi itu berakhiran /ut/ atau /at/. Sekiranya sebuah kata diakhiri dengan /ut/, maka pengenalan itu berubah menjadi akhiran /uik/, contohnya ‘seram’ menjadi ‘takuik’, ‘merayang’ menjadi ‘kusuik’, ‘laut’ menjadi ‘lauik’, ‘perut’ menjadi ‘paruik’. Nah ini akan berbeda kembali jika prolog itu berakhiran /at/ karena berubah menjadi /ek/, seperti, ‘surat’ menjadi ‘surek’, ‘empat’ menjadi ‘ampek’, ‘terlak’ menjadi ‘silek’, ‘melingkar’ menjadi ‘bulek’. Bintang sartan sudah senggang kan apa bahasa Minang terbit pembukaan ‘sanggang’?

<>5. /uh/ menjadi /uah/

Rumus selanjutnya yaitu kata yang n kepunyaan akhiran /uh/ dalam bahasa Minang berubah menjadi /uah/. Contohnya adalah kata ‘peluh’ menjadi ‘paluah’, ‘musnahkan’ menjadi ‘bunuah’, ‘sapta’ menjadi ‘tujuah’, ‘penuh’ menjadi ‘panuah’.

<>6. /ur/ menjadi /ua/

Bahasa minang memang terkenal dengan banyak penggunaan diftong (bunyi vokal rangkap). Hal ini juga terjadi pada pengenalan yang memiliki sufiks /ur/ sehingga berubah menjadi diftong /ua/. Contohnya adalah penggunaan kata ‘ukur’ menjadi ‘ukua’, ‘dapur’ menjadi ‘dapua’, ‘kasur’ menjadi ‘kasua’, ‘sumur’ menjadi ‘sumua’.

<>7. /k/ menjadi /ak/

Perkenalan awal nan berakhiran /k/, baik /ik/ atau /uk/ akan berubah menjadi pengenalan nan berakhiran /ak/. Nggak berpengharapan? Ini buktinya ‘menaiki’ menjadi ‘naiak’, ‘noktah’ menjadi ‘titiak’, ‘tusuk’ menjadi ‘tusuak’, ‘duduk’ menjadi ‘duduak’, ‘bentuk’ menjadi ‘bantuak’.

<>8. /r/ dan /l/ menjadi /Ø/

Terakhir ini adalah rumus bahasa Minang yang paling gampang. Takdirnya berpadan kata yang diakhiri dengan huruf /r/ dan /l/, maka tak wajib diganti dengan bentuk lain, kata tersebut memadai dihilangkan atau tidak usah dibaca. Kita bisa menitahkan bahasa Minang ‘tuka’ bagi kata ‘ubah’, ‘data’ lakukan kata ‘datar’, ‘kasa’ buat kata ‘bergairah’, ‘paga’ bakal kata ‘cerocok’. Begitupun dengan prolog ‘gatal’, ‘bantal’, ‘botol’, memadai dengan menyebut ‘gata’, ‘banta’, ‘boto’ maka penutur Minang akan mengerti dengan apa nan kita ucapkan. Mudahkan?

Okay, 10 minutes is oper. Silahkan diingat-sadar delapan rumus pamungkas diatas. Jangan tengung-tenging buat dipraktekannya ya. Apalah artinya teori tanpa praktek, laksana sayur yang lain bergaram. Selamat belajar bahasa Minang!