Batas Penerimaan Siswa Sd Smp Sma Tahun Ajaran 2018

Mahajana
merupakan sekelompok makhluk sukma nan terjalin dempang karena sistem tertentu, pagar adat tertentu, konvensi, dan hukum tertentu yang sebabat, serta mengarah pada kehidupan kolektif.[1]
Sistem dalam masyarakat saling berhubungan antara satu makhluk dengan basyar lainnya yang membuat suatu kesatuan.[2]
Umum terbagi menjadi dua golongan utama, yakni penguasa atau pengeksploitasi dan yang dikuasai ataupun yang dieksploitasi.[3]
Kepribadian awam terasuh melalui penyimpulan individu-manusia dan aksi-reaksi budaya mereka.[4]

Signifikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat adalah sekelompok hamba allah yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif. Mahajana yaitu sekumpulan individu nan karena tuntutan kebutuhan dan supremsi keimanan, pikiran, serta ambisi tertentu dipersatukan dalam kehidupan kolektif. Sistem dan hukum yang terletak dalam satu masyarakat mencerminkan perilaku-perilaku insan karena individu-indivu tersebut terkesan dengan hukum dan sistem tersebut.[1]

Menurut antropolog Elman Service, bagi melincirkan mempelajari pluralitas umum, masyarakat dapat dibagi menjadi empat kategori berdasarkan peningkatan ukuran populasi, pemfokusan kebijakan, serta stratifikasi sosial, yaitu: kawanan, suku, kedatuan, dan negara. Jenis masyarakat paling kerdil atau kawanan biasanya hanya terdiri atas beberapa kelompok, banyak diantaranya merupakan kumpulan dari satu atau beberapa keluarga besar.[5]

Kriteria

[sunting
|
sunting mata air]

Awam merupakan sebuah sistem yang saling berbimbing antara satu anak adam dengan manusia lainnya nan membentuk satu wahdah. Orang misal mahluk sosial membutuhkan individu lainnya untuk menepati kebutuhannya. Mereka enggak boleh hidup sendiri privat sebuah masyarakat. Kriteria interaksi antarmanusia dijabarkan bak berikut:

  1. Harus cak semau pelaku yang jumlahnya lebih dari satu.
  2. Terserah komunikasi antarpelaku dengan memperalat simbol-tanda baca.
  3. Ada dimensi waktu (lampau, kini, mendatang) nan menentukan adat aksi yang medium berlanjut.
  4. Suka-suka tujuan-tujuan tertentu, terlepas pecah setimbang atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pengamat.[2]

Masyarakat terjelma bukan karena keberadaannya di satu saat intern perjalanan waktu, doang mereka ada dalam waktu, mereka adalah titisan waktu. Masyarakat selalu ada dari masa suntuk ke masa mendatang. Kehadirannya justru melampaui fase antara apa yang telah terjadi dan barang apa yang akan terjadi. Dalam masyarakat kini terkandung pengaruh, tempat, dan plagiat masa disertai dengan bibit dan potensi bakal masa depan.[6]

Fungsi

[sunting
|
sunting sumur]

Hakikat awam sesuai dengan skenario penciptaan anak adam laksana khalifah di muka dunia, yaitu tegaknya keadilan Ilahi nan dolan untuk kalimantang dan insan.[7]

Umum merupakan manusia nan senantiasa berhubungan (berinteraksi) dengan khalayak enggak privat suatu kelompok. Arwah umum nan selalu berubah (dinamis) yaitu sesuatu nan tidak dapat dihindari.[8]
Mahajana warga ataupun
political society
dibentuk dengan tujuan nan spesifik: menjamin hak nasib baik pribadi dan melakukan penertiban sosial dengan mempermainkan sanksi lakukan para pelanggar peraturan.[9]

Partikel dan Ciri-ciri

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut Marion Levy bahwa suka-suka empat kriteria nan harus dipenuhi semoga sebuah kelompok dapat disebut bagaikan masyarakat, merupakan:[10]

  1. Kemampuan bertahan yang melebihi hari hidup seorang anggotanya.
  2. Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melangkaui reproduksi alias kelahiran.
  3. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
  4. Ketaatan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-seimbang.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto zarah-unsur pembentuk masyarakat yaitu sebagai berikut:[11]

  1. Beranggotakan dua bani adam atau bertambah.
  2. Anggotanya sadar perumpamaan satu keesaan.
  3. Bersambung dengan jangka waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia plonco nan berkomunikasi, dan mewujudkan resan-aturan yang menata hubungan antar anggota umum.
  4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan antar anggota masyarkat.

Menurut Soerjono Soekanto, ciri-ciri publik yaitu:[12]

  1. Spirit secara berkelompok.
  2. Melahirkan kebudayaan.
  3. Mengalami perubahan.
  4. Adanya interaksi
  5. Adanya sendiri penasihat.
  6. Memiliki stratifikasi sosial.

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling “bergaul”, atau dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi”. Satu kesatuan manusia dapat n kepunyaan prasarana agar warganya dapat saling berinteraksi. Negara modern misalnya, adalah wahdah manusia dengan berbagai macam prasarana, yang memungkinkan para warganya untuk berinteraksi secara intensif, dan dengan frekuensi yang tataran. Satu negara modern mempunyai suatu jaringan komunikasi berupa jaringan jalan raya, jaringan perkembangan kereta api, jaringan relasi udara, jaringan telekomunikasi, sistem radio dan televisi, berbagai spesies surat kabar di tingkat nasional, suatu sistem upacara pada hari-hari raya nasional dan sebagainya. Negara dengan wilayah geografis yang lebih kecil berpotensi untuk berinteraksi secara intensif tinimbang negara dengan kawasan geografis yang sangat luas. Tambahan lagi bila negara tersebut berupa kepulauan, seperti halnya negara kita.

Adanya prasarana untuk berinteraksi menyebabkan pemukim dari suatu kerubungan insan itu saling berinteraksi. Sebaliknya, bila sahaja adanya suatu potensi untuk berinteraksi doang belum berarti bahwa penduduk dari suatu kesatuan manusia itu mendalam akan berinteraksi. Satu suku bangsa, misalnya saja suku bangsa Bali, mempunyai potensi untuk berinteraksi, yaitu bahasa Bali. Namun, adanya potensi itu saja lain akan menyebabkan bahwa semua orang Bali minus alasan mengembangkan aktivitas yang menyebabkan satu interaksi secara intensif di antara semua manusia Bali tadi.

Mudah-mudahan diperhatikan bahwa tidak semua keesaan sosok yang bergaul atau berinteraksi itu yaitu masyarakat, karena satu mahajana harus punya suatu kontak lain yang distingtif. Sekumpulan makhluk yang kerubung sendiri tukang penjual jamu di pinggir jalan tidak dapat disebut sebagai suatu awam. Biarpun kadang-kadang mereka juga berinteraksi secara terbatas, mereka enggak mempunyai suatu pernah lain kecuali perantaraan berupa pikiran terhadap penjual jamu tadi. Demikian juga sekumpulan individu yang menonton satu pertandingan sepak bola, dan sepantasnya semua kumpulan manusia pemirsa apapun pun, tidak disebut masyarakat. Sebaliknya, kerjakan sekumpulan manusia itu kita pakai istilah
kelompok.
Dalam bahasa Inggris telah dipakai istilah
crowd.

Ikatan yang membuat suatu kesendirian manusia menjadi suatu
masyarakat
ialah lengkap tingkah laku yang khas adapun semua faktor kehidupannya intern batas ketunggalan itu. Lagipula, pola itu harus berwatak mantap dan berkelanjutan, dengan perkataan lain, pola khas itu harus sudah menjadi adat istiadat yang unik. Dengan demikian, suatu internat pelajar, suatu akademi kedinasan, atau suatu sekolah, tidak dapat kita tutur masyarakat, karena walaupun kesatuan manusia yang terdiri terbit murid, master, pegawai administrasi, serta para pegawai lain itu tertambat dan diatur tingkah lakunya oleh beraneka ragam norma dan sifat sekolah dan lain-lain, tetapi sitem normanya hanya menghampari beberapa sektor arwah yang terbatas saja. Sedangkan perumpamaan kesatuan manusia, suatu mes atau sekolah itu hanya bersifat temporer, artinya tidak ada kontinuitasnya.

Selain perhubungan adat istiadat khas yang meliputi sektor jiwa dan kontinuitas periode, warga suatu mahajana harus juga mempunyai ciri lain, yaitu suatu rasa identitas bahwa mereka memang adalah suatu kesatuan khusus yang berbeda dari keesaan-ketunggalan khalayak lainnya. Ciri ini memang dimiliki maka dari itu penghuni satu asrama atau anggota satu sekolah. Akan semata-mata, tidak adanya sistem norma yang mondial dan tidak adanya kontinuitas, menyebabkan penghuni suatu asrama atau petatar suatu sekolah tidak boleh disebut umum. Sebaliknya suatu negara, suatu kota, atau desa, misalnya, merupakan suatu kesatuan individu yang memiliki keempat ciri terurai di atas, merupakan (1) interaksi antar penghuni-warganya, (2) adat istiadat, norma, hukum dan aturan-resan khusus nan mengatur seluruh pola tingkah laku penghuni negara ii kabupaten ataupun desa; (3) kontinuitass waktu; (4) dan rasa identitas lestari yang mengikat semua penduduk. Itulah sebabnya suatu negara atau desa boleh kita sebut masyarakat dan kita memang sering berbicara mengenai masyarakat Indonesia, masyarakat Filipina, masyarakat Medan, masyarakat Sala, masyarakat Balige, publik Ciamis, atau mahajana desa Trunyan.

Sesudah jabaran tadi, sekarang menginjak waktunya untuk merumuskan suatu definisi mengenai konsep masyarakat buat keperluan analisis antropologi. Dengan memperhatikan ketiga ciri terderai sebelumnya, definisi akan halnya masyarakat secara khusus bisa kita rumuskan sebagai berikut:
Awam ialah kesatuan hidup bani adam yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu nan bersifat kontinu, dan yang ki gandrung oleh satu rasa identitas bersama.

Definisi itu mempunyai suatu definisi yang diajukan maka dari itu J.L. Gillin dan J.P. Gillin dalam sentral mereka
Cultur Sociology
(1954: hlm.139), yang merumuskan bahwa masyarakat tau
society
yakni “…….
the largest grouping in which common customs, traditions, attitudes and feelings of unity are operative”.
Zarah
grouping
dalam definisi kita, unsur
common customs
dan
traditions
adalah unsur “rasam istiadat” dan “kontinuitas” internal definisi kita, serta unsur
common attitudes and feelings of unity
sederajat dengan elemen “identitas bersama”. Suatu komplemen internal definisi Gillin ialah unsur
(the largest) “terbesar”
yang memang tidak dimuat intern definisi kita. Walaupun demikian, konsep itu boleh diterapkan pada konsep masyarakat satu nasion atau negara, miisalnya konsep masyarakat Indonesia, awam Filipina, masyarakat Belanda, masyarakat Amerika, dalam contoh kita sebelumnya.

Walaupun kita caruk bercakap tentang konsep masyarakat privat arti luas, seperti mana konsep publik negara Indonesia, tetapi kenyataannya, dalam pikiran kita bukan terlintas seluruh insan yang berjumlah
+‑ 230 juta roh Indonesia itu. Galibnya yang terbayang intern ingatan kita merupakan lingkaran turunan Indonesia sekitar diri kita sendiri, manusia Indonesia di suatu lokasi tertentu, atau privat pertalian suatu kelompok tertentu. Privat bukunya,
Azas-azas Sosiologi
guru besar guna-guna ilmu masyarakat Perserikatan Gadjah Mada, M.M. Djojodigoeno, membebaskan antara konsep “mahajana dalam arti yang luas dann sempit”.

Berdasarkan konsep Djojodigoeno ini dapat dikatakan masyarakat Indonesia seumpama contoh suatu “masyarakat n domestik kemustajaban luas”. Sebaliknya, masyarakat yang terdiri bermula penduduk suatu kerumunan kekerabatan seperti
dadia, marga,
dan
suku, kita anggap sebagai contoh berpangkal suatu “masyarakat dalam maslahat sempit”.

Kesatuan wilayah, keatuan aturan-istiadat, rasa identitas komunitas dan rasa royalitas terhadap komunitas sendiri, yakni ciri-ciri suatu komunitas, dan pangkal dari perasaan begitu juga patriotism, semangat kebangsaan dan sebagainya, yang galibnya bersangkutan dengan negara. Memang, suatu negara yakni wujud dari satu kekerabatan yang minimum besar. Selain negara, keatuan-ketunggalan seperti ii kabupaten, desa, suatu RW atau RT, pun sesuai dengan definisi kita mengenai peguyuban, merupakan:
suatu ahadiat semangat manusia nan menempati suatu wilayah yang berupa, dan berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat, dan yang tertarik oleh suatu rasa identitas komunitas.

Uraian sebelumnya, ketunggalan hidup manusia di suatu negara, desa atau kota, pun kita sebut “masyarakat”. Apakah dengan demikian konsep masyarakat sebabat dengan konsep komunitas? Kedua istilah itu memang bertumpang-tindih, saja istilah masyarakat yakni istilah umum bagi suatu keatuan nyawa hamba allah, dan karena itulah berperilaku luas daripada istilah kekerabatan. Masyarakat adlah semua kesatuan jiwa makhluk yang bersifat mantap dan jatuh cinta maka dari itu satuan adat-istiadat dan rasa identitas bersama, tetapi peguyuban bertabiat khusus karena ciri tambahan ikatan lokasi dan pemahaman kawasan tadi.

Kategori Sosial

[sunting
|
sunting perigi]

Awam sebagai suatu kelompok anak adam yang dahulu awam sifatnya, mengandung kesatuan-wahdah nan sifatnya lebih singularis, hanya belum pasti mempunyai syarat pengukat yang sama dengan satu masyarakat. Kesatuan sosial yang tidak mempunyai syarat perban itu serupa dengan “kerumunan” ataupun
crowd
yang telah kita pelajari sreg sebelumnya, tidak memiliki sifat-rasam masyarakat. Kesatuan sosial itu adalah kategori sosial.

Kategori sosial adalah kesatuan hamba allah nan terwujud karena adanya satu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri independen nan boleh dikenakan kepada khalayak-bani adam itu. Ciri-ciri objektif itu biasanya dikenakan oleh pihak dari luar kategori sosial itu seorang tanpa disadari oleh yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis tertentu. Misalnya, dalam masyarakat suatu negara ditentukan melintasi hukumnya bahwa cak semau kategori warga di atas semangat 18 periode, dan kategori penghuni di bawah 18 tahun, dengan maksud kerjakan membedakan antara warga negara nan punya nasib baik pilih dan warga negara yang bukan mempunyai hak pilih dalam pemilihan umum. Teladan tidak ialah bahwa privat publik itu kembali terserah suatu kategori orang yang memiliki mobil, dan suatu kategori orang yang tidak memilikinya, dengan intensi untuk menentukan warga negara yang harus membayar sumbangan perlu dan yang bebas terbit sumbangan wajibit. Serupa dengan itu, intern satu masyarakat dapat diadakan heterogen penjenisan berdasarkan ciri-ciri objektif lakukan berbagai maksud, seperti kategori pegawai area lakukan menghitung hadiah lebaran, kategori anak di bawah umur 17 masa bikin larangan menonton film orang dewasa, kategori pejar kerjakan memperkirakan pendapatan negara berbunga SPP dan sebagainya. Dengan demikian, tidak hanya pemerintah suatu negara ataupun pemerintah satu kota saja yang dapat mengadakan berbagai varietas penggolongan sebagai halnya itu terhadap penghuni awam, hanya seorang peneliti bagi keperluan analisisnya bisa juga misalnya mengadakan heterogen tipe penggolongan terhadap warga berpokok masyarakat nan menjadi objek penelitiannya minus disadari oleh mereka yang bersangkutan.

Kecuali persamaan ciri objektif tadi yang dikenakan kepada mereka maka itu pihak luar, biasanya lain ada unsur tak nan mengaduh suatu kategori sosial. Turunan-orang privat satu kategori soaial, misalnya semua anak di bawah 17 tahun, biasanya tidak ada suatu orientasi sosial yang menghubungkan mereka. Mereka juga tidak memiliki potensi nan bisa melebarkan satu interaksi di antara mereka perumpamaan keseluruhan. Mereka juga lain mempunyai identitas (merupakan kejadian nan masuk akal karena pengelompokan ke intern suatu kategori sosial itu dilakukan oleh pihak asing terhadap diri mereka, dengan ciri-ciri kriteria yang galibnya lain mereka sadari). Suatu kategori sosial biasanya juga tak terbawa makanya ahadiat adat, sistem biji, ataupun norma tertentu. Suatu kategori sosial tidak mempunyai lokasi, lain mempunyai organisasi, tak mempunyai didikan.

Golongan

[sunting
|
sunting sumber]

Umum warga yang pertama yakni keluarga, lalu menjadi komunitas warga, meningkat menjadi masyarakat politik dan berujung pada terbentuknya institusi formal negara.
[9]
Masyarakat penduduk ditandai dengan adanya tiga zarah: komunitas kebijakan, pemerintahan dan syariat. Isi semenjak masyarakat warga merupakan ketaatan pada syariat, persetujuan hidup bersama, kesetaraan dan penyelenggaraan pemerintahan.[13]
Masyarakat penghuni seperti roda perot hamster (hamster wheel) di mana sosok terkebat dalam diseminasi tak berujung mengejar kekayaan dan apresiasi yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi[14]

Sedangkan umum barbar merujuk pada kehidupan yang pelalah disandarkan puas hukum rimba, pada naluri-firasat alami anak adam yang saling berlawan satu separas lain[15]

Masyarakat terbagi menjadi dua golongan utama, yakni penguasa atau pengeksploitasi dan yang dikuasai ataupun yang dieksploitasi. Golongan penguasa dilukiskan oleh al-Qur’an sebagai golongan “mustakbirin” (orang-individu yang bermegah). Sedangkan golongan yang dikuasai dilukiskan al-Qur’an bagaikan golongan :mustadh’afin (yang tertindas).[3]

Kepribadian

[sunting
|
sunting sumur]

Kepribadian masyarakat tak sama dengan khuluk individu. Budi ini terasuh melewati pengikatan individu-sosok dan aksi-reaksi budaya mereka. Masyarakat mempunyai sifat alami, ciri-ciri dan peraturannya sendiri, tindakan-tindakan serta reaksi-reaksinya bisa diterangkan dengan serangkaian hukum umum dan universal. Mahajana mempunyai karakter independennya koteng, karena itu belaka dapat mengatakan bahwa rekaman n kepunyaan suatu falsafah dan dibentuk oleh hukum dan norma.[4]

Umum penghuni terbentuk secara keilmuan yang mendorong individu kerjakan menciptakan menjadikan kehidupan sosial dan ikatan persahabatan. Awam warga terdidik melalui ilmu mantik negatif, dengan mekanisme leisure of evil: hukum dan aturan diciptakan justru lakukan mewatasi dan memblokir insting-insting gelap manusia.
[16]
Publik warga dikenal sebagai mahajana borjuis di mana partikularitas dan individualitas jauh lebih menonjol ketimbang nilai-nilai kebersamaan dan kesetiakawanan. Internal masyarakat penduduk, setiap orang menjadikan dirinya sebagai pamrih.[17]

Dinamika alias pertukaran masyarakat dapat terjadi karena sejumlah faktor antara lain:

  1. Penyebaraan informasi, meliputi pengaruh dan mekanisme media dalam menyampaikan pesan-pesan atau gagasan (pemikiran)
  2. Modal, antara lain sumber daya manusia ataupun modal finansial
  3. Teknologi, suatu unsur dan sekaligus faktor yang cepat berubah sesuai dengan perkembangan mantra pengetahuan
  4. . Ideologi atau agama, keagamaan agama alias ideologi tertentu berpengaruh terhadap proses pergantian sosial
  5. Birokrasi, terutama berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintahan tertentu dalam membangun kekuasaannya
  6. Agen ataupun aktor, peristiwa ini secara umum terjadwal dalam modal sumber anak kunci manusia, sahaja secara spesifik yang dimaksudkan merupakan inisiatif-inisiatif individual dalam “mencari” spirit yang kian baik.[18]

Mahajana Madani

[sunting
|
sunting sendang]

Masyarakat madani pada prinsipnya memiliki multimakna, merupakan masyarakat yang demokratis, menjunjung jenjang etika dan moralitas, transparan, kesabaran, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi, konsisten mempunyai tara, mewah berkoordinasi, sederhana, sinkron, integral, mengakui, emansipasi, dan hak asasi, belaka nan paling kecil dominan adalah awam yang demokratis.

Masyarakat madani dapat mengintai sesuatu secara teratur dan systematis untuk sampai ke masyarakat yang semerawang, demokratis serta dapat melihat sesuatu menjadi dari perspektif nan lebih positif bahkan disaat resesi ekonomi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa hawar menyerahkan suatu tantangan untuk masyarakat Indonesia dan memerosokkan kondisi publik ke dalam masa resesi ekonomi. Sudah lalu seyogyanya masyarakat dapat berpikir positif, progresif dan solutif atas segala tantangan yang cak bertengger seiring berjalannya musim.

Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 273.
  2. ^


    a




    b



    Tejokusumo 2022, hlm. 41.
  3. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 276.
  4. ^


    a




    b



    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 280.

  5. ^

    Diamond 2022, hlm. 16.

  6. ^

    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 270.

  7. ^

    Sulfan dan Mahmud 2022, hlm. 272.

  8. ^

    Tejokusumo 2022, hlm. 38.
  9. ^


    a




    b



    Sudibyo 2008, hlm. 27.

  10. ^


    Atik Catur Budiati (2009).
    Sosiologi Kontekstual Untuk SMA & MA
    (PDF). Kancing Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 13. ISBN 978-979-068-219-1. Diarsipkan dari varian tahir
    (PDF)
    rontok 2022-01-22. Diakses tanggal
    2020-11-04
    .





  11. ^


    Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Ayu Hapsari.
    Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi. Aura Publisher. hlm. 52–53. ISBN 978-623-211-107-3.





  12. ^


    Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Ayu Hapsari (2019).
    Pengantar Antropologi: Sebuah Ringkasan Mengenal Antropologi. Aura Publisher. hlm. 47-51. ISBN 978-623-211-107-3.





  13. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 26.

  14. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 37.

  15. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 25.

  16. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 25-26.

  17. ^

    Sudibyo 2008, hlm. 39.

  18. ^

    Tejokusumo 2022, hlm. 39-40.

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sendang]

  • Sulfan dan Mahmud, A. (2018). “Konsep Masyarakat Menurut Murtadha Muthahhari (Sebuah Amatan Filsafat Sosial)”.
    Ilmu Aqidah.
    4
    (2): 269–284. doi:10.24252/aqidahta.v4i2.6012. ISSN 2615-3130.



  • Sudibyo, Agus (2010). “Masyarakat Warga dan Problem Keberadaban”.
    Ilmu Sosial dan Ilmu politik.
    14
    (1): 23–46. doi:10.22146/jsp.10947. ISSN 2502-7883.



  • Tejokusumo, Bambang (2014). “Dinamika Publik Bak Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial”.
    Geo Edukasi.
    3
    (1): 38–43. ISSN 2550-1321.



  • Diamond, Jared (2017).
    The World Mencicil Yesterday. Pustaka acuan Terkenal Gramedia Press. ISBN 9786024241926.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat