Bahan Ajar Bahasa Sunda Smp Kelas 9

Perhatian! materi ini diterjemahkan maka itu mesin penterjemah
google translate
tanpa adanya
post editting, sehingga ketepatan dalam terjemahan masih buruk dan terlazim dikembangkan kembali.
Tujuan berpunca fitur terjemahan ini bakal pengunjunga yang kesulitan memahami materi dan tidak setimpal sekali mengerti bahasa Sunda atau rival-lawan peserta dari luar Jawa Barat yang semenjana belajar bahasa Sunda, fitur interpretasi ini bisa digunakan namun tidak 100% akurat, akan tetapi garis besarnya boleh diambil, tinimbang tidak memaklumi samasekali.
Kedepanya mudah-mudahan admin memiliki waktu sehingga boleh mengoptimalkan fitur terjemahannya koteng, dengan serupa itu pengunjung bisa mempelajari materi n domestik bahasa Indonesia.

  1. Bahasa Pengemasan Penting Perhatikan kutipan di bawah ini!

Konvensi bahasa dalam bahasa Indonesia disebut ungkapan kata maupun ungkapan. Kata “pakeman” (bahasa Belanda vakum berarti ‘matok’ atau ‘resan’). Konvensi bahasa menunjukkan bisikan bahasa yang teratur alias mutakadim diamati. Kebanyakan manajemen bahasa adalah kalimat atau onggokan perkenalan awal-kata nan telah dipatok, telah dibatasi, lain diubah, baik diubah unina atau ejaan, baik diubah di arena atau diperbaiki.

Dari kutipan di atas boleh disimpulkan bahwa kaidah kebahasaan (bahasa Indonesia: ungkapan kata atau idiom) adalah, adalah tindak pidana kebahasaan yang bersifat khusus dan mandiri, kalimat winangun atau gundukan kata nan telah matok, telah dibatasi, lain boleh diubah, baik diubah unina atau ejaan, baik diubah atau diperbaiki. Makna yang terkandung adalah makna meminjam atau berbuat atma insan, yang sama sekali tidak dapat didefinisikan menurut makna gramatikal atau makna nan dikandung unsur-unsurnya.

Berdasarkan pengertian di atas, pengertian bahasa memiliki sejumlah ciri, di antaranya cuma:
Sebuah. Ki kebusukan bahasa berperilaku spesifik dan independen (tipikal);
B. Kerangka kalimat atau gundukan kata yang mutakadim matok;
C. Pujuk kata tidak dapat diubah;
D. Kata-pembukaan tidak bisa diubah atau dikonfirmasi;
e. Makna yang terkandung yakni makna pinjaman;
F. Makna yang terkandung adalah perbandingan amal perbuatan manusia,
G. Makna yang terkandung di dalamnya tidak dapat ditafsirkan kadang-kadang menurut makna gramatikal atau makna yang terkandung n domestik elemen-unsurnya.
Ada berbagai macam konvensi bahasa, yaitu penuturan, pengucapan, kemahiran, rakitan langsar, cacandran, candrasangkala, well, caturangga, dan panyaraman.

Ekspresi adalah prolog atau timbunan kata yang berarti metafora ataupun metafora. Misal contoh:
1) Diare ringan = wanti-wanti babari
2) Kepala segara = bermegah
3) Ekor kasiran = koret, bermeditasi

Paribasa ialah kalimat yang berarti nisbah sebagai tindakan arwah manusia. Isi peribahasa dapat positif tawaran gratis, dorongan untuk berperilaku baik, dan dorongan untuk berbuat salah.

Sebagai contoh:

1) Adat terpesona rusuk = kebiasaan yang sulit dihilangkan maupun diubah.
2) Cengkok menggonggong = berharap soal itu bisa dilaksanakan.
3) Gindi menganggap paparan belang = jahat, suka mengekspos orang lain.

Kata-kata atau kata-kata kiasan, adalah kata-kata ataupun gundukan alas kata-kata yang mutakadim menjadi pembicaraan maupun kelahiran, setengah ekspresi, umumnya berjasa dipinjam.

Sebagai contoh:
1) Dipegang = diperhatikan maupun dicintai terlebih dahulu
2) Jangan kalahkan bujukan = jangan kalahkan kelebihan
3) Ingatan mati = bukan terserah kehausan
4) Genggaman = pegang atau
5) Awal pengunci meditasi = kemudian maju

Sebuah rakitan ramping, adalah seperangkat kata ataupun kalimat nan didefinisikan lain secara rinci, sekadar dengan adat menggunakan dasar kerapian.

Sebagai kamil:

1) Nyai, besarkan kompor. (Kaca majikan bukanlah tungku, melainkan api).
2) Jang, pecahkan bendi yang kosong. (Sadel zero adalah pelana di mana tidak ada tumpangan, semata-mata ada kuda dan ada penyetir).

Cacandraan, merupakan penataan terhadap khazanah suatu wadah yang didiami, nan dituturkan maka itu pitarah kita jauh sebelum peristiwa itu terjadi.
Sebagai ideal;

1) Bandung senang dengan penghabisan. (penduduk gegek bandung).
2) Sumedang ngarangrangan. (Sumedang pernah dipimpin oleh keturunan Sumedang nan lain).

Candrasangkala, adalah pengetahuan akan halnya periode terjadinya suatu hal yang dibalik dan menggunakan Hari. Urutannya umumnya terbalik. Selisih masa antara Waktu Saka dan Masa Masehi yakni 78 perian.

Bak arketipe:

Pandawa Panca Membawa Bumi.
5 5 2 1

1255 M, merupakan berdirinya Kerajaan Pajajaran. Sekiranya diubah menjadi Periode Masehi, maka harus ditambah 78 waktu. 1255 + 78 = 1333. Jadi, berdirinya Kerajaan Pajajaran adalah 1333 M.

Sekali lagi, ialah petunjuk tentang kemajuan dan kemunduran keadaan negara, yang diucapkan makanya nini moyang kita jauh sebelum itu terjadi.

Sebagai kamil:

R nanjung nan abtar semangat ke Cikapundung telah kembali. (Kita akan menanjak atau menaikkan harkat derajat takdirnya kepribadian dan komitmen kita dikembalikan kepadanya).

Catur, yaitu pengetahuan untuk mengetahui lebih baik resan buruk kuda nan harus dimiliki. Bagaikan pola:

Wisnu murti
(Resan kuda makin baik karena membawa kepelesiran bagi pemiliknya. Ciri-cirinya adalah semua warna bulu jaran yang hitam dan lembut).

Satria tinayungan
Kebiasaan kuda lebih baik, dilemparkan ke pemiliknya. Tanda rabaan di bagian belakang di bawah celah depan.

Panggung Sekar
Kebiasaan jaran lebih baik, memberikan banyak keberuntungan kepada pembawanya. Tandai bulu tungkai kuda berasal asal sebatas lutut, keempatnya berwarna zakiah.

Bandung baik
Sifat kuda lebih baik, menghasilkan banyak kejayaan. Cap pelumasan di punggung kuda.

Bingkatak berkerumun
Rasam jaran buruk, di bawa di yang cinta terendam, di parung belalah depa. Tanda gosokan di perut punggung mengalir.

tumpur ludes
Resan kuda buruk, menderita.
Tanda pelumasan di perut anak tangga depan.

Turub layan
Kebiasaan jaran itu buruk, mengerikan. Etiket pelumasan di adegan birit kuda, di pangkal jeruji tangga depan

Panyaraman, ny

adalah rangkaian kata atau ucapan yang dilakukan pencari semoga enggak berjalan suatu pekerjaan. Takdirnya dilakukan, tidak akan ada bahaya atau konsekuensi.
Misalnya: Jangan duduk di ambang portal, kalau Anda terjebak.

(Pintu ialah alat keluar bakal memasuki orang, medan bikin melanglang. Detik anak adam duduk di ambang gapura, karuan saja menghambat orang bukan. Jadi seandainya bukan, itu diintimidasi maka dari itu persembunyian pria yang sudah menikah ataupun bujangan).

  1. Mengenal Kalimat Perintah Perhatikan contoh kalimat di pangkal ini!

Harus mengukur ke pinggang, menimbang tubuh!

Contoh kalimat di atas merupakan peribahasa nan berfungsi alias bermaksud untuk memerintah. Musim kalimat perintah yakni kalimat nan menyuruh pembaca melakukan pekerjaan nan diperintahkan. Jadi, teladan di atas mengadopsi dua bentuk, adagium dan kalimat perintahnya.

Ada berbagai spesies kalimat perintah, di antaranya, (1) kalimat perintah, (2) kalimat nasihat, (3) kalimat harapan, (4) kalimat pencari, (5) kalimat pemelihara, (6) kalimat sapa, dan ( 6) kalimat terakhir.

Kata perintah yaitu pembukaan yang digunakan cak bagi menguati turunan lain mengamalkan pekerjaan, biasanya comar memperalat kata cing, cik, dan punten.

Ibarat arketipe:

Cing tembakau terbaik!
Kata invite ialah kata nan digunakan kerjakan mengajak orang enggak berekanan, biasanya menggunakan kata (ha) yu, us, please, dan let’s.

Sebagai sempurna:

Ayo pergi masa ini!
Kata maksud yaitu kalimat yang mengandung harapan berusul suatu kejadian, galibnya menggunakan kata maksud, harapan, harapan, intensi, dan harapan.
Sebagai acuan:

Saya harap sira ingin semangat dalam tekanan!
Kalimat pencarian adalah kalimat nan digunakan untuk meminta maupun melarang sosok lain berbuat suatu jalan hidup, umumnya menggunakan kata lakukan. (en) barel, dan lain mendapatkan Misalnya:

Jangan bertindak di sana anak-anak!
Kalimat menggusur merupakan kalimat nan memang memurukkan orang bukan kerjakan melakukan suatu pekerjaan, kebanyakan menggunakan kata buru-buru, cepat, tergopoh-gopoh (keun), dan segera. Umpama paradigma:

Taajul jung saya tinggal menjauhi ke pasar saya!
Kata depan adalah kalimat nan enggak menyampaikan maupun melarang basyar tidak lakukan melakukan satu karier, biasanya memperalat kata-kata to, better, well, dan sebagainya. Misalnya: Saya mau Anda melapor lewat kepada pemimpin!

Kalimat terakhir adalah kalimat yang memenuhi tuntutan yang membuat orang lain menyukainya, lazimnya menggunakan kata emh, hih, dan cing atuh. Bak contoh:

Hih songsong belas kasih, sudah sederhana buat kelihatannya pun bakal berpendar!
(Simpay Basa Sunda Bakal Petatar Kelas IX SMP/MTS, Penerbit Erlangga, Medal of the Year 2022, Peristiwa 56-60)

Source: https://bahasasunda.id/materi-pakeman-basa-sunda-smp-kelas/