Apakah Smp Negeri 05 Bogor Sudah Menggunakan Strategi Pembelajaran Kontekstual

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali plong pemikiran bahwa anak asuh akan berlatih lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Berlatih akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang memfokus sreg penguasaan materi pahit lidah berhasil dalam sayembara menggingat paser sumir tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan permasalahan semangat jangka tataran. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning
adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi nan dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Murid secara bersama-sama takhlik satu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.

Pembelajaran Kontekstual
atau

Contextual Teaching Learning
(CTL)

memisalkan bahwa secara natural perhatian mengejar makna konteks sesuai dengan kejadian konkret lingkungan seseorang melalui pengejaran hubungan timbrung akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan asam garam keseharian peserta akan menghasilkan dasar-dasar siaran yang khusyuk. Siswa akan bernas menggunakan pengetahuannya bakal menyelesaikan keburukan-masalah baru dan belum persaudaraan dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya. Petatar diharapkan boleh membangun pengetahuannya yang akan diterapkan internal hayat sehari-periode dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.

Pembelajaran Kontekstual
merupakan satu konsepsi indoktrinasi dan pendedahan yang mendukung guru mengaitkan korban subjek nan dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar untuk membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya intern vitalitas harian mereka bagaikan juru batih, warga awam, dan pekerja.

Pembelajaran Kontekstual
adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan sreg filosofi bahwa siswa mampu menyerap tuntunan apabila mereka menangkap makna intern materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah kalau mereka dapat mengaitkan laporan mentah dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya (Elaine B. Johnson, 2007:14).

Dalam Pembelajaran Kontekstual, ada okta- komponen yang harus ditempuh, yaitu: (1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang berfaedah, (2) berbuat pekerjaan yang berarti, (3) melakukan penerimaan yang diatur koteng, (4) berkreasi sederajat, (5) berpikir peka dan kreatif, (6) mendukung individu kerjakan tumbuh dan berkembang, (7) mencapai barometer yang janjang, dan (8) menunggangi penilaian otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66).

Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran Kontekstual ialah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan peristiwa mayapada nyata petatar. Pelajar secara bersama-setimpal takhlik suatu sistem yang memungkinkan mereka mematamatai makna di dalamnya.

Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan kejadian positif pelajar dan mendorong siswa menciptakan menjadikan korespondensi antara warta yang dimilikinya dengan penerapannya dalam semangat mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlantas alamiah internal rang kegiatan murid bekerja dan mengalami, bukan transfer manifesto dari guru kepada siswa. Proses pembelajaran bertambah dipentingkan tinimbang hasil.

Pembelajaran Kontekstual yaitu suatu kebijakan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara mumbung untuk bisa menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan kejadian arwah nyata sehingga mendorong siswa bikin bisa menerapkannya n domestik kehidupan meraka
(Sanjaya, 2005:109).

Bersumber konsep tersebut terserah tiga hal nan harus kita pahami.
Mula-mula, pembelajaran Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa cak bagi menemukan materi. Artinya, proses sparing diorientasikan plong proses camar duka secara langsung.
Proses berlatih dalam konteks Pembelajaran Kontekstual tidak mengharapkan agar siswa namun menerima tutorial, tetapi yang diutamakan adalah proses berburu dan menemukan koteng materi pelajaran.

Kedua, pembelajaran Kontekstual  mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, pesuluh dituntut cak bagi dapat menjalin aliansi antara asam garam membiasakan di sekolah dengan jiwa nyata. Keadaan ini silam penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi nan ditemukan dengan usia nyata, materi yang dipelajarinya itu akan signifikan secara fungsional dan tertanam erat dalam rekaman siswa sehingga lain akan mudah terlupakan.

Ketiga, pengajian pengkajian Kontekstual  menjorokkan siswa cak bagi dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual enggak cuma mencitacitakan siswa bisa memahami materi yang dipelajarinya, doang bagaimana materi itu boleh mewarnai perilakunya privat atma sehari-perian. Materi pelajaran kerumahtanggaan konteks Penelaahan Kontekstual tidak kerjakan ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai pelepas bagi mereka dalam usia nyata.

Terdapat lima karakteristik penting privat proses pengajian pengkajian yang menggunakan pendekatan Kontekstual:

  1. Dalam Pembelajaran Kontekstual pembelajaran merupakan
    proses pengaktifan informasi
    nan sudah ada (activing knowledge). Artinya, barang apa yang akan dipelajari tidak terlepas semenjak pengetahuan yang sudah lalu dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa ialah pengetahuan nan utuh nan memiliki keterkaitan satu sama lain.
  2. Pembelajaran nan kontekstual adalah pembelajaran privat rangka memperoleh dan menambah pengetahuan plonco (acquiring knowledge).  Pengetahuan hijau itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman
    pengetahuan
    (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan bikin dipahami dan diyakini.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Artinya, wara-wara dan asam garam yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
  5. Berbuat refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan publikasi. Situasi ini dilakukan perumpamaan umpan balik bagi proses pembaruan dan penyempurnaan strategi.

Di sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan
langkah-langkah praktis menggunakan garis haluan pembelajaran Kontekstual

  1. Kaitkan setiap mata pelajaran dengan koteng pemrakarsa yang sukses dalam menerapkan netra pelajaran tersebut.
  2. Kisahkan terlebih suntuk riwayat hidup sang tokoh maupun temukan cara-mandu sukses nan ditempuh si gembong dalam menerapkan mantra nan dimilikinya.
  3. Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan solo kepada momongan asuh berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) nan diajarkan kepada mereka.
  4. Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah bisa memotivasi anak pelihara bakal mengulang dan mengaitkannya dengan umur keseharian mereka.
  5. Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi mantra yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan sendiri cara berlatih alamiah nan cocok dengan dirinya.
  6. Galilah mal emosi yang ada lega diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan independen.
  7. Bimbing mereka lakukan menunggangi emosi n domestik setiap pembelajaran sehingga momongan bimbing munjung arti (enggak sia-sia dalam belajar di sekolah).

Bersendikan penjelasan di atas, berarti pendekatan kontekstual bermaksud membekali siswa dengan pengetahuan yang secara lentur bisa diterapkan (ditransfer) dari satu persoalan ke permasalahan enggak dan dari satu konteks ke konteks lainnya. Dengan transfer diharapkan: (a) siswa berlatih dari mengalami sendiri, bukan berpangkal ‘pemberian orang bukan’; (b) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas pecah konteks yang terbatas (sempit) abnormal demi rendah; (c) terdepan bagi murid tahu ‘buat segala’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ beliau memperalat proklamasi dan keterampilan itu.

Diambil dan penyesuaian dari:
Endah Ariani Madusari, dkk.  2009. Metodologi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas

==========

Download :
Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

==========

-7.002979
108.457279

Source: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/pembelajaran-kontekstual/