Apa Itu Gereja Yang Katolik

Gereja Katolik, nan kembali disebut
Gereja Katolik Roma,[note 1]
adalah Gereja Masehi terbesar di kalimantang, dan mengklaim memiliki semilyar anggota, yakni prediksi sepenggal dari seluruh umat Kristiani[note 2]
dan seperenam berpokok populasi duaja. Gereja Katolik yakni suatu komuni (persekutuan) pecah Ritus Barat (Ritus Latin) dan 22 Gereja Katolik Timur (disebut gereja-gereja partikular), nan membentuk 2.795 keuskupan pada 2008.

Otoritas sekular tertinggi Gereja ini n domestik perkara iman, moral dan pemerintahannya adalah Sri Paus,[15]
ketika ini Paus Fransiskus, yang memegang otoritas tertinggi sederum Dewan Uskup, yang diketuainya.[16]
[17]
[18]
Komunitas Katolik terdiri atas seorang pelayan-umat tertahbis (rohaniwan) dan umat awam; berpihak kepada nan etis pendeta alias umat awam dapat juga menjadi anggota pecah komunitas-komunitas religius.[19]

Gereja ini mendefinisikan bahwa misinya adalah mengabarkan Bibel Yesus Kristus, menerimakan pelayanan sakramen-sakramen dan mengerjakan karya amal.[20]
Gereja ini menjalankan program-program dan lembaga-bagan sosial di seluruh alam, termaktub pula sekolah-sekolah, perserikatan-sekolah tinggi, kondominium-rumah gempa bumi, misi-misi dan perumahan, serta organisasi-organisasi seperti Catholic Relief Services, Caritas Internationalis dan Catholic Charities nan kontributif kaum papa, keluarga-keluarga, anak adam-makhluk jompo, dan insan-orang sakit.[21]

Melampaui suksesi apostolik, Dom ini percaya bahwa dirinya yakni kelanjutan bermula peguyuban Kristiani yang didirikan maka dari itu Yesus dengan mentahbiskan Santo Petrus, satu rukyah yang kembali dianut makanya banyak sejarawan.[22]
Basilika ini menetapkan teologi-doktrinnya melewati berbagai konsili ekumenis, meneladani para utusan tuhan pertama privat Konsili Yerusalem.[23]
Atas asal janji-taki Yesus pada rasul-rasulNya yang tersurat n domestik Injil, Dom ini berkeyakinan bahwa dia dituntun makanya Roh Masif dan maka itu karenanya terlindungi dari terjadinya salah tafsir doktrin.[24]
[25]
[26]

Religiositas-keyakinan Katolik didasarkan atas deposit iman (mencakup berpihak kepada nan benar Kitab Nirmala maupun Tradisi Zakiah) yang diwarisi dari seratus tahun Nabi-Rasul, dan yang diinterpretasi oleh Otoritas Pengajaran Gereja. Keimanan-keyakinan tersebut terangkum dalam Kredo Nicea, dan secara normal dirinci internal
Katekismus Dom Katolik. Peribadatan Katolik yang formal, yang disebut liturgi, diatur oleh otoritas Basilika. Ekaristi, pelecok suatu dari sapta sakramen Gereja dan ronde penting dari setiap Misa Katolik atau Liturgi Suci Katolik Timur, yaitu pusat mulai sejak peribadatan Katolik.

Dengan memori nan menghampar sepanjang dua mili musim, Gereja ini yakni salah satu lembaga tertua di alam[27]
dan mutakadim berlaku penting internal sejarah tamadun Barat setidaknya sejak seratus tahun ke-4.[28]
Pada seratus periode ke-11, suatu parak akbar, nan kadang-kadang disebut Skisma Akbar, terjadi antara Kristianitas Timur dan Barat yang terutama diakibatkan makanya ketidaksepahaman mengenai primasi kepausan. Basilika-Gereja Timur yang konsisten maupun nan kelak kembali menganyam persekutuan dengan Uskup Roma, Sri Paus, mewujudkan Gereja-Basilika Katolik Timur, dan Gereja-Dom yang tetap berlimpah di luar supremsi kepausan lazimnya dikenal sebagai Gereja-Gereja Ortodoks Timur. Sreg seratus tahun ke-16, pula andai tanggapan atas wujudnya Pembaruan Protestan di Eropa Barat, Basilika ini menyelenggarakan ronde pembaruan dan renovasi dalam, yang dikenal sebagai Kontra-Reformasi.

Walaupun Basilika ini menyundut bahwa dialah “Basilika yang satu, zakiah, katolik, dan apostolik,” didirikan oleh Yesus Kristus, gelanggang orang dapat menemukan kepenuhan fasilitas keselamatan,[29]
[30]
Gereja ini sekali lagi mengakui bahwa Umur Asli dapat memperalat kekerabatan-kekerabatan Kristiani lainnya sebagai membawa orang cenderung keselamatan.[31]
[32]
Dom ini percaya bahwa dia dipanggil oleh Roh Kudus seumpama mengupayakan kesatuan antar segenap umat Kristiani, satu gerekan yang dikenal sebagai ekumenisme.[32]
Tantangan-tantangan moderen yang dihadapi Katedral ini mencakup wujudnya sekularisme dan penentangan terhadap sikapnya adapun aborsi, euthanasia, kontrasepsi, dan moralitas seksual.[33]

Daftar isi

  • 1
    Terminologi
  • 2
    Keyakinan

    • 2.1
      Otoritas pengajaran, tujuh sakramen
    • 2.2
      Hakikat Tuhan
    • 2.3
      Dosa sumber akar
    • 2.4
      Gereja
    • 2.5
      Keselamatan
    • 2.6
      Spirit Katolik
    • 2.7
      Segala apa sesuatu yang diajarkan sosial
    • 2.8
      Hidup manusia
    • 2.9
      Seksualitas
  • 3
    Asal-usul dan sejarah

    • 3.1
      Pra Abad-Medio
    • 3.2
      Skisma akbar
    • 3.3
      Perang Salib
    • 3.4
      Inkuisisi
    • 3.5
      Reformasi
    • 3.6
      Seratus tahun Modern
    • 3.7
      Restorasi Konsili Vatikan Kedua
  • 4
    Liturgi

    • 4.1
      Sakramen
    • 4.2
      Roh devosional Dom Katolik
    • 4.3
      Doa pribadi
  • 5
    Gereja partikular dalam Gereja Katolik
  • 6
    Aliansi dengan umat Kristiani lainnya
  • 7
    Struktur hirarkis Gereja Katolik

    • 7.1
      Episkopat (jabatan paderi)
    • 7.2
      Presbiterat (jabatan presbiter/imam)
    • 7.3
      Diakonat (jabatan diakon)
  • 8
    Keanggotaan Katedral Katolik
  • 9
    Peranan Gereja Katolik dalam peradaban

    • 9.1
      Dogma Dom Dan ilmu guna-guna
    • 9.2
      Gereja, seni, dan karya sastra
    • 9.3
      Gereja dan urut-urutan ekonomi
    • 9.4
      Keadilan sosial, keperawatan, dan sistem flat sakit
  • 10
    Suara miring terhadap Gereja Katolik Roma

    • 10.1
      Skandal pelecehan genital
  • 11
    Tulisan kaki
  • 12
    Daftar pustaka
  • 13
    Pranala luar

Terminologi

Ronde berasal cahaya kata sandang tentang


Kekristenan

Agama Kristen

Yesus Kristus
Lahir ·
Kematian ·
Kebangkitan ·

Natal ·
Jumat Sani ·
Paskah
Dasar
Gereja ·
Injil ·
Kerajaan ·

Rasul: Paulus ·
Petrus
Bibel
Perjanjian Baru ·
Perjanjian Lama ·
Kanon ·
Deuterokanonika
Teologi
Allah Bapa ·
Allah Putra ·
Tuhan Roh Salih
Trinitas ·
Keselamatan ·
Baptisan ·
Maria ·
Segala sesuatu yang diajarkan
Sepuluh Perintah Allah ·
Hukum Belas kasih ·
Keterangan Sani ·

Kotbah di Ancala: Ucapan Berbahagia ·
Doa Bapa Kami
Sejarah Kekristenan
Basilika mula-mula ·
Konsili ·

Pengakuan iman ·
Misi ·
Skisma Timur-Barat ·

Perang Salib ·
Reformasi ·
Kontra Reformasi
Denominasi Kristen
Katolik
Gereja Katolik
Protestan
Lutheran ·
Calvinis ·
Anglikan ·
Anabaptis ·
Baptis ·
Methodis ·
Adventis ·
Injili ·
Pentakostal
Ortodoks

Ortodoks Timur ·
Ortodoks Oriental (Miaphysite) ·
Asiria

Topik tersapu
Syarah ·
Doa ·
Ekumenisme ·
Gerakan ·

Seni ·
Musik ·
Liturgi ·
Kalender ·
Simbol ·
Kritik
P christianity.svg
Pintu Kristen

Sepanjang sejarahnya, Basilika yang diterangkan dalam kata sandang ini menggunakan banyak nama, antara lain “Gereja”, “Dom Katolik”, dan “Basilika Katolik Roma”. Cap
“Dom Katolik”
dipakai umpama membedakannya dengan Gereja-Dom bukan yang tidak berada dalam persekutuan penuh (komuni penuh) dengan Paderi Roma, yakni Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Anglikan, dan beragam denominasi Protestan.

Nama “Katedral Katolik
Roma
” purwa kali dipakai maka dari itu kaum Protestan sebagai menyebut seluruh Gereja yang setia kepada Paderi Roma. Namun nama ini lagi dipakai oleh umat Katolik koteng sejak seratus tahun ke-17, berpihak kepada nan sopan dalam bahasa Inggris, bahasa Perancis, maupun bahasa Latin, sebagai memasyarakatkan iman mereka terutama dalam hal persemakmuran mereka dengan tahta keuskupan Roma. Di kawasan Timur Tengah, sebutan Gereja Katolik Roma boleh lagi berfaedah Gereja Melkit, maupun Gereja katolik yang menggunakan Ritus Latin, atau sampai-sampai boleh penting Basilika Katolik di kota Roma, Italia.

Dalam hubungannya dengan Dom-Gereja lain, cap “Gereja Katolik” yang dipergunakan, dan sebagai urusan internal dipakai nama “Gereja”. Bak contoh, intern Katekismus Gereja Katolik, merek “Katedral” dipakai ratusan kali, sedangkan stempel “Katedral Katolik” sahaja dipakai 24 siapa, bahkan nama “Gereja Katolik Roma” terkadang tidak dipakai.

Penggunaan nama “Gereja Katolik” secara resmi masin lidah oleh beberapa Gereja Kristen lainnya, doang biasanya dari mereka memperalat istilah “Gereja Katolik Roma” andai menjuluki Katedral ini. Walaupun demikian, dalam eksploitasi secara informal, bahkan oleh anggota-anggota Gereja lainnya istilah “Gereja Katolik” dipahami sebagai nama berusul Gereja ini. Pada periode 397 Masehi, Santo Agustinus menguraikan bahwa etiket tersebut malah dipahami oleh mereka yang digolongkannya sebagai suku bangsa bidaah:

… Nama itu, adalah Katolik, yang bukannya tanpa alasan, dengan dikelilingi begitu banyak bidaah, telah dipakai oleh Gereja; dengan demikian, walaupun semua kabilah bidaah ingin disebut Katolik, cuma bila punya orang asing berwawancara dimanakah jemaat Katolik bersama-sama menjadi suatu kumpulan, karenanya tidak satupun kaum bidaah yang jantan menunjuk kapel atau rumahnya seorang.

Singkatnya, berpihak kepada yang bermoral label “Gereja Katolik”, alias “Gereja Katolik Roma” dipakai bagaikan sebutan alternatif bakal seluruh gereja “yang dipimpin oleh perombak Petrus dan oleh para uskup yang berada dalam suatu komuni bersamanya.”

Keyakinan

Nama Sang pencipta di atas citra Kristus yang tersalib dikelilingi bala malaikat, ronde mulai sejak latar mazbah kerumahtanggaan suatu gedung Gereja Katolik.

Gereja Katolik meyakini bahwa hanya mempunyai satu Allah namun, yang ada privat tiga pribadi: Sang pencipta Bapa; Yesus Sang Putera; dan Roh Kudus. Keimanan-keyakinannya terangkum dalam Kredo Nicea[34]
dan dirinci internal
Katekismus Gereja Katolik.[35]
[36]
Kredo Nicea juga merupakan pusat pernyataan keyakinan berusul denominasi-denominasi Masehi lainnya.[37]
Pertama-tama adalah umat Kristen Ortodoks Timur, yang keyakinan-keyakinannya mirip dengan keyakinan-keagamaan umat Katolik, perbedaan utamanya terletak n domestik hal infalibilitas kepausan, klausa filioque, dan Maria dikandung minus sipu.[38]
[39]
Beragam denominasi Protestan bervariasi internal keyakinan-keyakinannya, namun biasanya mereka berlainan berpokok umat Katolik dalam hal Sri Paus, Adat istiadat Katedral, Ekaristi, apresiasi orang-orang kudus, serta dalam isu-isu yang berkaitan dengan pemberian, kelakuan berpihak kepada yang benar, dan keselamatan.[40]

Konsili Yerusalem, yang diselenggarakan makanya para Rasul sekitar tahun 50 sebagai memperjelas wahi-ajaran Katedral, menjadi kriteria ukur untuk konsili-konsili Gereja selanjutnya yang diselenggarakan maka itu para pimpinan Gereja sepanjang sejarah.[23]
[41]
[42]
Konsili ragil dalam Basilika ini adalah Konsili Vatikan kedua, yang pengahabisannya pada 1965.[43]

Otoritas pengajaran, tujuh sakramen

Beralaskan perjanjian Yesus di dalam Injil, Gereja Katolik percaya bahwa dia diasuh secara berkesinambungan makanya Rohulkudus, dan maka dari itu hasilnya terhindar mulai sejak probabilitas selang surup dogma.[16]
[44]
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Roh Murni kuak kebenaran Sang pencipta melampaui
Kitab Suci,
Leluri Kudus, dan
Magisterium.[45]
Kitab Suci, atau Alkitab Katolik, terdiri atas kitab-kitab yang setolok dengan yang terdapat kerumahtanggaan Perjanjian Lama versi Yunani—disebut kembali Septuaginta[46]—beserta ke-27 gubahan Perjanjian Plonco yang terdapat kerumahtanggaan Codex Vaticanus dan termuat internal Sertifikat Periode Raya yang ke-39 nan ditulis Athanasius.[47]
Seluruh kitab tersebut yaitu ke-73 Kitab Suci Katolik, berlainan dengan banyak gereja Protestan yang menggunakan 66 kitab sahaja.[46]
Kitab-kitab dan karangan-tulisan yang diasumsikan kanonik maka dari itu Gereja Katolik sahaja tidak diasumsikan kanonik makanya beberapa antologi lainnya disebut lagi kitab-kitab Deuterokanonika. Tradisi Lugu terdiri atas ajaran-ajaran yang menurut keyakinan Gereja telah diwarisi berpokok seratus tahun para Nabi.[44]
Kitab Suci beserta Tradisi Sejati bersama-setimbang disebut “deposit iman” (Bahasa Latin:
depositum fidei). Deposit iman ini nantinya ditafsirkan oleh
Magisterium
(dari kata
magister
dalam bahasa Latin nan berfaedah “hawa”), kekuasaan pengajaran Basilika Katolik, yang—melalui alternasi apostolik — dilaksanakan oleh Sri Paus dan uskup-paderi nan berada intern kesatuan dengan Sri Paus.[48]

Menurut Konsili Trente, Yesus melembagakan tujuh sakramen dan mempercayakannya kepada Katedral.[49]
Ketujuh sakramen tersebut adalah Pembaptisan, Krisma, Ekaristi, Rekonsiliasi (Sakramen Syahadat Dosa), Petro Tulen (atau sakramen “Pengurapan Individu Gempa bumi”), Imamat, dan Pernikahan. Sakramen-sakramen ialah ritual-ritual kasat mata yang penting berfaedah, dan nan oleh umat Katolik dipandang sebagai pertanda kehadiran Allah serta saluran-saluran yang efektif dari anugerah Sang pencipta kepada orang-hamba allah nan menerima sakramen-sakramen tersebut dengan disposisi yang sesuai (ex opere operato).[50]
[51]

Hakikat Allah

Katolisisme itu monoteistik: berkepastian bahwa Allah itu esa, tak berkesudahan, maha kuasa (Omnipoten), maha kenal (Omniscien), maha berpihak kepada yang moralistis (Omnibenevolen), dan mempunyai di mana-mana (Omnipresen). Yang mahakuasa eksis secara berlainan dan mendahului ciptaan-Nya (yakni, segala sesuatu yang bukan Allah, dan yang eksistensinya bergantung plong Allah) dan walaupun demikian patuh ada secara akrab internal ciptaan-Nya. Privat Konsili Vatikan Pertama Gereja Katolik mengajarkan bahwa, walaupun dengan ikhtiar budi alami kemanusiaan, Sang pencipta dapat dikenal internal karya-Nya sebagai pangkal mula dan kemudian segala ciptaan,[52]
Allah telah memilih laksana mewahyukan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya secara supernatural internal cara-kaidah nan termaktub intern Surat kepada umat Ibrani 1:1-2.

Katolisisme itu juga Trinitarian: berkeyakinan bahwa, sungguhpun Allah itu esa kerumahtanggaan hakikat, pati, dan keberadaan, Allah nan esa ini eksis dalam tiga pribadi illahi, nan masing-masing identik dengan satu bibit, yang perbedaannya cuma dalam rangkaian mereka satu sama lain: koalisi Bapa terhadap Putera, hubungan Putera terhadap Bapa, dan korespondensi keduanya dengan Rohulkudus, menjadikan Tuhan yang esa andai Trinitas.

Umat Katolik dibaptis dalam stempel (rangka idiosinkratis) Bapa dan Putera dan Rohulkudus — bukan tiga almalik, melainkan suatu Allah yang menetap internal tiga Pribadi. Sekalipun satu sari keillahianNya, Bapa, Putera, dan Umur Kudus itu berlainan, bukan sekedar tiga “topeng” atau manifestasi dari satu Pribadi. Iman Gereja dan tiap anak adam Kristiani didasarkan atas gabungan dengan ketiga Pribadi dari satu Allah tersebut.

Basilika Katolik berketentuan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya sendiri kepada umat manusia seumpama Bapa bakal Putera tunggal-Nya, yang berada dalam persekutuan bukan berkesudahan dengan Sang Bapa (Matius 11:27).

Umat Katolik beriktikad bahwa Allah Putera, Si Logos Illahi, Pribadi Allah yang kedua, berinkarnasi bak Yesus Kristus, seorang manusia, lahir terbit Perawan Maria. Dia tetap sungguh-sungguh illahi dan kapan yang sama sungguh-sungguh hamba allah. Dalam congor dan cara hidupnya, sira mengajar semua anak adam bagaimana sebagai hidup, dan mewahyukan Allah sebagai Hadiah, pemberi pemberian atau rahmat secara cuma-cuma.

Sehabis penyaliban dan kebangkitan Yesus, para pengikutnya, terutama kedua belas utusan tuhan, kian ekstensif menyebarkan imannya dengan kehidupan yang menurut mereka dari dari Roh Ceria, Pribadi Allah yang ketiga, nan diutus ke atas mereka oleh Yesus.

Dosa asal

Intern keyakinan Katolik, khalayak pertama dijadikan umur dalam persatuan dengan Yang mahakuasa. Karena ketidaktaatan manusia permulaan, hubungan itu putus dan dosa serta maut cak bertengger ke standard.[53]
Kejatuhan tersebut menjadikan turunan berada n domestik suatu gengsi yang disebut dosa asal, merupakan, keterpisahan bermula status aslinya yang karib dengan Allah yang membawa maut melangkahi gagasan bahwa tiap kehidupan manusia itu tidak berkesudahan. Namun detik Yesus menclok ke alam, menjadi Sang pencipta sekaligus manusia, Anda mampu menerobos pengorbananNya sebagai mendamaikan umat manusia dengan Allah. Dengan bersatu internal Kristus, melewati Gereja, umat manusia sekali pula mampu misal menjalin keintiman dengan Tuhan sahaja juga menawarkan suatu rahmat yang lebih menakjubkan kembali: partisipasi privat Spirit Ilahi di Marcapada, yang kelak mengaras kepenuhannya di surga privat Visi Beatifis. Sakramen Pembaptisan adalah suatu-satunya fasilitas sebagai memperoleh pengampunan atas dosa pangkal.

Gereja

Bibel Gutenberg gemblengan 1455. Menjelang kemudian era 1400-an, orang-turunan Katolik seperti Johann Gutenberg mengoperasikan 250 persuasi percetakan di seluruh Eropa.

Gereja, seperti yang dituturkan maka dari itu Kitab Suci, adalah “tubuh Kristus,”[54]
dan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Basilika merupakan satu kesatuan awak berbunga umat berkeyakinan di dalam surga dan di atas bumi. Makanya akhirnya tetapi mempunyai satu Gereja yang sejati, yang nampak dan yang berperilaku fisik, bukannya beberapa Gereja. Dan untuk Gereja yang satu ini, nan awalnya didirikan maka itu Yesus di atas Petrus dan para rasul, Yesus memberikan suatu mandat sebagai menjadi pengajar dan penjaga yang berwenang dari iman. Sebagai mentransmisikan petunjuk ilahiah Kristus, para rasul diberi mandat sebagai “mempublikasikan alkitab,” yang mereka laksanakan berpihak kepada yang moralistis secara oral ataupun tulisan, dan nan mereka lestarikan dengan memencilkan para paus andai penerus mereka. Katekismus menyundut bahwa “pemberitaan rasuli, yang diekspresikan secara khusus kerumahtanggaan kitab-kitab yang terilhami, yang dilestarikan internal rantai suksesi yang berkesinambungan sampai kemudian seratus perian. Transmisi jiwa ini, terselenggara internal Roh Suci, disebut Leluri, karena berlainan dengan Kitab Steril, walaupun terkait erat dengannya.” Gereja juga merupakan sumber hadiah ilahi yang diberikan melintasi sakramen-sakramen (lihat di bawah). Gereja mencetuskan diri tidak dapat keliru (Infalibilitas Gereja) kerumahtanggaan mengajarkan iman, bersendikan janji-janji Yesus yang alkitabiah bahwa Dia hendak senantiasa lampir Gereja-Nya, dan memeliharanya dalam kebenaran menerobos Roh Sejati. Selanjutnya, Yesus menjanjikan pemeliharaan ilahi untuk wangsit-tanzil dan penilaian-penilaian para utusan tuhan, serta mereka yang menjadi penerus para rasul dalam jabatan mereka andai penatar (yaitu para uskup). pun pula, Yesus menargetkan Gereja bagaikan mahkamah termulia untuk seluruh umat berketentuan: “dan bila dia menolak sebagai mendengarkan mereka, sampaikanlah kepada Basilika; dan bila dia menyorong pula sebagai mendengarkan Katedral, biarlah dia menjadi untukmu sama dengan sendiri asing dan sendiri pemungut cukai.” N domestik ayat injil ini, terbantah bahwa Katedral mendasarkan doktrin-doktrinnya pada peninggalan apostolik yang termuat, yaitu Perjanjian Baru, dan pada adat istiadat oral yang diwariskan berpangkal para utusan tuhan untuk para penerus mereka (para paus) melampaui kesaksian Gereja yang membenang.

Basilika Santo Yohanes Lateran, Katedral Keuskupan Roma, yakni Basilika Sri Uskup.

Ronde ke-8 dari dekrit Konsili Vatikan II mengenai Dom, Lumen Gentium mencetuskan bahwa “Basilika Kristus yang idiosinkratis yang n domestik kredo diikrarkan umpama satu, bersih, katolik dan apostolik” berada “dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh penerus Petrus dan para uskup yang berada dalam persekutuan dengannya.” (Istilah penerus Petrus bermakna Uskup Roma, Sri Paus).

Katekismus Gereja Katolik, 85 mencetuskan bahwa parafrase otentik dari Firman Allah dipercayakan kepda Magisterium Gereja yang hidup, yakni para uskup dalam persekutuan dengan penerus Santo Petrus. Doktrin Katolik menaruh kewenangan tafsiran Kitab Suci pada langkan penilaian yang konstan mulai sejak Gereja dari seratus waktu ke seratus tahun (hal yang senantiasa dan di mana belaka diajarkan) bukannya pada penilaian pribadi oknum. Kendatipun demikian, ,magisterium menyorong umat gembalaannya sebagai membaca Kitab Zakiah.

Menurut Katekismus Gereja Katolik, “maksud utama Gereja adalah umpama menjadi sakramen persatuan batiniah antara bani adam dengan Allah.” Dengan demikian “struktur Gereja secara semuanya di diarahkan kepada virginitas anggota-anggota jasad Kristus.”

Keselamatan

Basilika Katolik mengajarkan bahwa keselamatan perumpamaan spirit awet yaitu keinginan Allah untuk semua individu, dan bahwa Allah menganugerahkannya bikin para pendosa bagaikan suatu belas kasih yang percuma, suatu hidayah, melewati pengorbanan Kristus. “Sehubungan dengan Halikuljabbar, sejajar sekali enggak n kepunyaan hak atas kelayakan apapun di pihak manusia. Antara Allah dan kita terentang kesenjangan nan bukan terkira, karena kita sudah lalu menerima segala sesuatu berpokok-Nya, Pencipta kita. Allahlah nan membenarkan, yakni, yang memerdekakan bermula dosa dengan karunia kekudusan yang prodeo (rahmat pengudusan, yang disebut juga sebagai hadiah habitual alias hidayah pengilahian). Kita boleh menerima anugerah yang dikaruniakan Allah melangkahi iman dalam Yesus Kristus dan melangkahi pembaptisan, alias menolaknya. Peran serta makhluk diperlukan, seia sekata dengan kemampuan baru ibarat berpegang kukuh sreg keinginan ilahi yang dipersiapkan Allah. Iman seorang Kristiani bukannya sonder perbuatan, karena sonder perbuatan iman itu hendak mati. Dalam signifikasi ini, “dengan perbuatan manusia dibenarkan, dan bukan dengan iman satu-satunya-alat penglihatan,”dan kehidupan kuat merupakan, puas satu saat yang sepadan, hadiah dan upah dianugerahkan maka itu Allah atas kelakuan berpihak kepada yang bersusila dan kelayakan. Iman, dan oleh karenanya ulah, ialah hasil terbit kasih Halikuljabbar – maka dari itu kesannya, hanya karena hadiah karenanya bani adam beriktikad dapat dipandang “layak memperoleh” keselamatan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa melewati rahmat-belas kasih nan diperoleh Yesus cak bagi umat basyar dengan mengorbankan dirinya seorang di kayu kayu palang, keselamatan dapat diterima tambahan pula oleh orang-orang nan kaya di luar senggat-batas yang nampak terbit Gereja. Umat Kristiani dan bahkan non-Kristiani, bila dalam hidupnya mereka secara nyata reseptif terhadap rahmat dan validitas yang disingkapkan Allah kepada mereka melalui belas kasihan Kristus, bisa diselamatkan (satu sikap yang besar perut disebut, dalam kasus umat non-Kristiani, misal “baptisan keinginan”). Hal ini kadangkala mencaplok pula kesadaran hendak kewajiban seumpama menjadi ronde dari Katedral Katolik. Dalam kasus-kasus sejenis itu, balasannya benda/barang siapa yang mengetahui bahwa Gereja Katolik telah menjadi perlu oleh Kristus, menolak sebagai turut alias ki ajek di dalamnya, tidak dapat diselamatkan.

Kehidupan Katolik

Segala sesuatu nan diajarkan sosial

Spirit makhluk

Gereja Katolik menekankan virginitas seluruh vitalitas manusia, sejak kerumahtanggaan kandungan sampai kematian secara alami. Gereja Katolik berketentuan bahwa tiap pribadi dibuat menurut “tulangtulangan dan rupa Tuhan,” dan bahwa arwah manusia tidak boleh diukur beralaskan nilai-kredit lain seperti ekonomi, kenyamanan, preferensi pribadi, atau teknik sosial. Makanya karenanya, Dom menentang aktivitas-aktivitas yang diyakininya menabrakkan perahu atau menistakan usia yang dibuat suci itu, terdaftar euthanasia, eugeniks dan aborsi.

Erotisme

Gereja Katolik mengajarkan bahwa hidup manusia dan seksualitas manusia kedua-duanya tidak terpisahkan dan zakiah.
[55]
Katedral mengajarkan bahwa Manikeisme, keimanan bahwa semangat berkepribadian berpihak kepada yang benar sedangkan tubuh bersifat jahat, adalah bidaah. Oleh risikonya, Gereja lain mengajarkan bahwa seks itu dosa atau negatif hidup yang mumbung rahmat. Karena Allah mewujudkan tubuh khalayak menurut rancangan dan rupa-Nya sendiri, dan karena Kamu melihat bahwa segala sesuatu yang sudah dibuatnya itu “bukan main baik,” (Peristiwa 1:31) akibatnya demikian pun badan manusia dan seks itu berpihak kepada yang benar mempunyainya. Intern Katekismus diajarkan bahwa “tubuh adalah alat keselamatan.”[56]
Selayaknya, Katedral menganggap ekspresi cinta antara junjungan istri sebagai kegiatan basyar yang paling besar, yang mempersatukan, laki istri internal penyerahan-diri yang seutuhnya suatu sekufu bukan, dan mengekspos hubungan mereka kepada nasib baru. “Kegiatan seksual, nan di dalamnya suami istri secara rapat persaudaraan dan sejati ubah beraduk, dan yang melewatinya semangat manusia diturunkan, ialah, sebagaimana yang dituturkan oleh Konsili buncit, ‘mulia dan patut.’”[57]
Sahaja dalam peristiwa ekspresi genital yang terjadi di luar pernikahan sakramental, atau dalam hal fungsi prokreasi mulai sejak ekspresi seksual dalam pernikahan secara sengaja dihalang-halangi, karenanya Katedral Katolik menyingkapkan kesedihan moralnya.

Dasar-usul dan sejarah

Katedral Katolik didirikan maka itu Yesus dan Keduabelas Utusan tuhan, dilanjutkan maka dari itu para uskup andai penerus para utusan tuhan lazimnya, dan Sri Paus sebagai penerus Santo Petrus khususnya.[58]
Istilah “Katedral Katolik” dikenal pertama kali dipakai intern surat berpunca Ignatius dari Antiokhia pada musim 107, yang menulis bahwa: “Di mana n kepunyaan uskup, inginnya umat terserah di haud, sama sebagai halnya di mana mempunyai Yesus Kristus, Gereja Katolik ada di situ.”[59]

Selain itu, para panitera Katolik memasrahkan daftar sejumlah kutipan dari para Bapa Gereja terdahulu yang kondusif bahwasanya Tahta Keuskupan Roma memiliki otoritas yurisdiksional atau primasi atas gereja-gereja lain,[60]
di lain pihak para penulis Ortodoks menolak klaim tersebut yang yakni salah satu dari pokok permasalahan di kencong skisma Timur-Barat, dengan secara bersejarah memandang Sri Paus sebagai
primus inter pares
(yang pertama di antara nan sederajat).[61]

Di pusat doktrin-teologi Gereja Katolik mempunyai
Suksesi Apostolik, merupakan religiositas bahwa para paus yakni para penerus spiritual berpokok Keduabelas Nabi mula-mula, menerobos rantai konsekrasi yang tidak terputus secara historis. Perjanjian Bau kencur mengandung peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran nan sekedar bertopengkan Kekristenan,[62]
dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan sebagai memutuskan manakah yang merupakan apa sesuatu yang diajarkan yang punya.[63]
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik yakni keberlanjutan dari basyar-orang tetap setia plong kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menunda petunjuk-ramalan terlarang.

Pra Abad-Pertengahan

Pasca- melalui satu musim sediakala nan diwarnai penganiayaan secara sporadik namun intens, Kekristenan menjadi legal plong seratus hari ke-4, saat Kaisar Konstantinus I membedakan
Edicta Milano
(Edik Milano) lega tahun 313. Konstantinus berperan penting n domestik tata Konsili Nicea Pertama yang merupakan konsili para paus Basilika Katolik plong tahun 325, nan ditujukan andai melawan bidaah Arianisme dan memformulasikan Kredo Nicea yang dipakai oleh Basilika Katolik, Tradisionalisme Timur, dan bervariasi Gereja Protestan. Plong tanggal 27 Februari 380, Paduka tuan Teodosius I memberlakukan suatu hukum nan menetapkan Kekristenan Katolik bak agama resmi Kerajaan Romawi dan memerintahkan sebagai menyapa yang enggak dari pada itu sebagai bidaah.[64]

Halaman bercacah berpunca

Book of Kells

yang termasyhur itu, 800.

Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, Dom Katolik melewati satu masa kegiatan dan ekspansi misi. Selama Seratus tahun Pertengahan Katolisisme menyebar di antara bangsa Jerman (lega awalnya bersaingan dengan Arianisme), Viking, Polandia, Kroasia, Ceko, Slowakia, Hungaria, Lithuania, Latvia, Finlandia dan Estonia. Kesuksesan roh monastik menumbuhkan beraneka macam taktik pendedahan, teristimewa nan paling jasa baik di Irlandia dan Gallia, serta berkontribusi untuk Seratus tahun Pencerahan Dinasti Carolingian (Carolingian Renaissance). Di tulat yakni lega kurun detik Seratus tahun Medio, Sekolah-sekolah Katedral mengembang menjadi perguruan tinggi-universitas (Perguruan tinggi Paris, Perguruan tinggi Oxford, dan Universitas Bologna), cikal untuk dari lembaga-lembaga pembelajaran Barat modern.

Skisma akbar

Dalam seratus tahun ke-11, melewati serentetan ronde sepanjang beberapa seratus periode, Dom merasakan skisma akbar di mana Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur terbelah dampak isu-isu administrasi, liturgi, dan doktrin, khususnya penyakit klausa Filioque dan primasi jurisdiksi kepausan. Secara halal skisma ini berpenanggalan tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel dan Sri Paderi mengeluarkan pernyataan tukar mengucilkan. Berpihak kepada yang benar
Konsili Lyons II
tahun 1274 maupun
Konsili Basel
musim 1439 berusaha memusatkan pun kedua Gereja, namun pihak Ortodoks menolak kedua konsili itu. Basilika Katolik dan Gereja Ortodoks Timur sedang privat keadaan skisma sampai hari ini, meskipun demikian dalam amanat bersama Katolik-Ortodoks tahun 1965 pernyataan pengucilan tersebut ditarik kembali berpihak kepada yang etis oleh Roma alias Konstantinopel, dan upaya-upaya mengakhiri skisma terus berlangsung. Beberapa Gereja Timur telah bercampur kembali dengan Gereja Katolik dengan menerima primasi kepausan, dan beberapa Gereja Timur lainnya mengaku tidak pernah keluar pecah persekutuan dengan Sri Paus.

Perang Salib

Perang Salib yakni serangkaian perang militer sejak tahun 1092 di Petak Nirmala dan wadah-tempat lain, direstui makanya kepausan, dimulai pada masa kepausan Urbanus II andai tanggapan terhadap aplikasi bantuan dari Sultan Byzantium menyamai ekspansi Turki. Perang Kayu palang ini serta perang-perang Salib lebih jauh pengahabisannya gagal meredakan serangan turunan-orang Turki dan malar-malar menimbulkan rasa benci antar umat Kristiani dampak penjarahan dan pendudukan kota Konstantinopel selama Perang Salib ke-4.

Inkuisisi

Sejak sekitar hari 1184, dan berlanjut sepanjang Reformasi Protestan, terjadi sejumlah kegiatan bersejarah yang menyertakan Dom Katolik, dan yang dikenal luas laksana
Inkuisisi, ditujukan andai menanam kesatuan religius dan doktrinal dalam Kekristenan menerobos pentobatan, dan kadang-kadang penganiayaan, anak adam-basyar yang didakwa bidaah. Terbukti bidaah, yang dipandang sebagai pengkhianatan terhadap pan-ji-panji Kristen, bisa mengakibatkan pendedahan hukuman yang berkisar dari hukuman ringan sebatas aniaya tenang (antara bukan dibakar hidup-umur) yang dilaksanakan oleh negara. Contoh terbit langkanya pelaksanaan hukuman mati tersebut adalah, sejak waktu 1540 sebatas 1700 berusul semua perkara yang diajukan kepada Inkuisisi Spanyol sekadar 2-3% yang pengahabisannya dengan eksekusi lengang, kian rendah dari plong peradilan sekuler manapun secara virtual puas waktu itu.[65]
Menurut para sejarawan, Inkuisisi Seratus tahun Pertengahan, Inkuisisi Spanyol, Inkuisisi Roma, dan Inkuisisi Portugis ialah peristiwa-peristiwa historis yang farik. Cakupan semenjak kegiatan Inkuisisi, dan khususnya kredit mortalitas yang tepat, telah menjadi bahan usaha di kemudian waktu.

Reformasi

Kerenggangan kedua dalam ki kenangan Kekristenan terjadi momen Restorasi Protestan, nan dimulai di Jerman lega seratus tahun ke-16. Selama kurun detik tersebut pelbagai himpunan warga, seringkali dengan dukungan pemerintah lokal, menolak primasi Sri Uskup, kewajiban selibat bikin para imam, serta plural doktrin dan praktik Katolik lainnya, sekaligus penyelewengan-kecurangan (semisal praktik
simoni/praktik pembelian jabatan gerejawi) nan umum terjadi lega masa itu. Para reformator dalam Gereja Katolik meluncurkan Kontra-Reformasi atau Perombakan Katolik, suatu periode klarifikasi doktrin, restorasi imamat dan liturgi, dan re-evangelisasi nan dimulai dengan Konsili Trento.

Konsili Trento dan perbaikan-perbaikannya menghasilkan tema sendi sebagai 300 tahun ke depan dari sejarah Katolik. Periode tersebut mementingkan karya katekese dan misi, ronde yang menjadi keunggulan untuk ordo Yesuit dan Fransiskan. Katolisisme menyebar ke seluruh alam, seiring dengan penjajahan bangsa Eropa: ke Amerika, Asia, Afrika, dan Oseania.

Seratus tahun Bertamadun

Gereja pada seratus tahun ke-18 dan ke-19 bukan hanya harus tatap muka dengan ajaran-wahi Protestantisme, sekadar juga dengan wahyu-ajaran Pencerahan dan Modernisme akan halnya hakikat pribadi anak adam, negara, dan moralitas. Dengan terjadinya Revolusi Industri, dan meningkatnya keprihatinan hendak kondisi-kondisi para buruh urban, Paus-Paus seratus musim ke-19 dan ke-20 mengeluarkan ensiklik-ensiklik (teristimewa
Rerum Novarum) yang memaparkan
Barang apa sesuatu yang diajarkan Sosial Katolik.

Konsili Vatikan Pertama (1869–1870) menegaskan doktrin infabilitas kepausan yang diyakini umat Katolik sebagai perturutan dengan memori
Supremasi Petrus
privat Katedral.

Reformasi Konsili Vatikan Kedua

Dom Katolik melakukan riuk satu dari transisi-peralihan paling mondial dalam sejarahnya selama Konsili Vatikan II (1962-1965) dan dasawarsa sesudahnya. Gereja Katolik, lebih berpunca pada sebelumnya, menonjolkan barang apa yang dipandangnya positif ketimbang segala yang dipandangnya merusak dalam komunitas-komunitas Kristiani tidak, internal agama-agama bukan, dan dalam aspirasi-aspirasi umat manusia biasanya. Gereja mendorong pembaharuan nan mutakhir atas kehidupan religius. Dan Gereja menjatah wewenang kepada konferensi-konferensi waligereja sebagai melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam loyalitas-disiplin misalnya berpantang daging plong waktu Jumat.

Konsili Vatikan II (1962–1965) yang diperhimpunkan maka itu Paus Yohanes XXIII, terutama umpama suatu konsili pastoral namun kanonis,[66]
laksana menciptakan menjadikan ajaran-tajali kuno Dom Katolik menjadi jelas untuk alam modern. Konsili ini mengeluarkan arsip-dokumen adapun beberapa topik, termaktub hakikat Katedral, misi awam, dan kedaulatan beragama. Konsili ini pula mengeluarkan pengarahan-pengarahan untuk revisi liturgi, tertulis absolusi untuk ritus liturgi Latin umpama menggunakan bahasa setempat di samping Bahasa Latin dalam Misa dan sakramen-sakramen lainnya.[67]

Liturgi

Katedral Katolik secara mendasar bersifat liturgis dalam peribadatannya. Liturgi bersumber dari introduksi Yunani yang berfaedah “pekerjaan warga.” Konsili Vatikan II menyulut “karena liturgi, yang melewatinya karya penebusan kita teratasi,’ terutama privat kurban ilahi Ekaristi, merupakan ki alat-sarana terbaik untuk umat beriman bagaikan dapat mengekspresikan n domestik kehidupannya, dan memanifestasikan untuk sesama, misteri Kristus dan hakikat sejati dari Gereja yang mempunyai.”[68]

Sakramen

Katekismus Gereja Katolik, 1131 mengajarkan: “Sakramen-sakramen adalah pertanda yang berguna berpunca rahmat, nan dilembagakan makanya Kristus dan dipercayakan kepada Katedral, yang dengannya jiwa ilahi disalurkan kerjakan kita. Ritus-ritus yang tampak nan dengannya sakramen-sakramen dirayakan menandai dan menghadirkan rahmat-anugerah sesuai dengan tiap sakramen. Sakramen-sakramen berbuah dalam diri mereka yang menerimanya dalam keadaan yang seharusnya.”

Ketujuh sakramen adalah:

  • Pembaptisan
  • Pengakuan dosa[69]
  • Ekaristi
  • Krisma
  • Imamat
  • Ijab nikah
  • Pengurapan orang sakit

Kehidupan devosional Gereja Katolik

Selain sakramen-sakramen, yang dilembagakan oleh Yesus, terwalak pula banyak sakramental, yakni pertanda suci (upacara-upacara ataupun benda-benda) nan beroleh kuasa dari doa Gereja. Sakramental-sakramental melibatkan takbir dengan cap salib atau keunggulan-merek lainnya. Contoh-contoh terdahulu adalah takdis-pemberkatan (yang didalamnya ditinggikan pujian untuk Allah dan memohon karunia-karunia-Nya), konsekrasi orang-khalayak, dan pemberkatan benda-benda yang dipakai sebagai menyembah Allah. Devosi-devosi populer bukan ronde dari liturgi, namun bila dinilai otentik, karenanya didukung maka dari itu Gereja. Devosi-devosi mencakup apresiasi relikwi-relikwi orang-orang nirmala, kunjungan-kunjungan ke bekas-tempat suci, ziarah-ziarah, perarakan-perarakan (termasuk perarakan Sakramen Maha Kudus), ibadat jalan salib, tagut harian, Penyembahan Sakramen Maha Zakiah, Pemberkatan Sakramen Maha Kalis, dan Wirid Rosario.

Wirid pribadi

Selain itu, banyaknya varietas semenjak spiritualitas Katolik memungkinkan umat Katolik sebagai berdoa sendiri dengan berbagai rupa diversifikasi kaidah. Ronde ke-4 dan terakhir dari Katekismus menyimpulkan tanggapan Katolik terhadap misteri iman: “Oleh akibatnya, misteri ini, mengharuskan agar umat beriman meyakininya, moga mereka merayakannya, dan seyogiannya mereka hidup darinya dalam satu gabungan yang bertabiat vital dan pribadi dengan Allah yang kehidupan dan sejati. Gabungan itu adalah doa.”[70]

Gereja partikular dalam Gereja Katolik

St. Efrem dari Syria, dihormati oleh umat Maronit, yang senantiasa fertil internal persekutuan dengan Roma.

Tidak seperti “persekutuan” ataupun “serikat” Dom-Gereja nan terbentuk oleh tukar pengakuan antar badan-raga gerejawi yang berbeda-cedera, Gereja Katolik menganggap dirinya seumpama suatu Dom tunggal (“satu Tubuh”) yang terasuh dari sejumlah akbar Gereja-Basilika partikular, yang masing-masing merupakan perwujudan semenjak Gereja Katolik yang esa. Gereja universal, diyakini yakni “satu realita yang secara ontologis dan temporal memimpin setiap Gereja Singularis secara individu.”[71]

Meskipun demikian, Gereja Katolik menekankan pentingnya Gereja-Katedral partikular di dalamnya, nan kekuatan konotasi teologisnya diulas dalam Konsili Vatikan Kedua. Dibedakan dua eksploitasi istilah
Gereja istimewa.

  • Katedral-Gereja ataupun Ritus-Ritus individual otonom (sui iuris).
    Lihat: Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur
  • Gereja-Gereja individual atau domestik (Keuskupan dan Konferensi Waligereja Nasional).
    Lihat: Katedral Spesifik

Hubungan dengan umat Kristiani lainnya

Kendatipun menanggung sebagai Gereja yang didirikan maka itu Yesus, Gereja Katolik mengakui bahwa banyak zarah-unsur keselamatan dalam Alkitab terletak pula di dalam Gereja-Gereja dan kekerabatan-komunitas gerejawi lainnya. Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium mengajarkan bahwa “Katedral Kristus yang esa yang n domestik kredo dimaklumkan misal “yang suatu, masif, katolik dan apostolik…” terdapat dalam (Lumen Gentium menunggangi kata Latin “Subsistit in”) Gereja Katolik, nan dipimpin maka dari itu penerus Petrus dan maka itu para uskup dalam persekutuan dengan beliau, kendatipun banyak unsur-partikel pengudusan dan keabsahan terwalak di luar bersumber strukturnya nan tampak.[72]
Dengan demikian, sahifah tersebut meneguhkan doktrin
Extra Ecclesiam Nulla Salus
[73]
(tidak mempunyai keselamatan di luar Gereja).

Sejak Konsili Vatikan II, Katedral Katolik sudah lalu menjangkau awak-raga Kristiani, menjajakan rekonsiliasi yang semaksimal boleh jadi. Kerukunan-kesepakatan penting mutakadim dicapai mengenai Pembaptisan, Pelayanan, dan Ekaristi bersama para teolog Anglikan. Dengan badan-tubuh Lutheran telah dicapai kesepakatan serupa akan halnya dogma pemeriksaan ulang (justifikasi). Dokumen-akta penting ini telah lebih memperketat persaudaraan koalisi dengan peguyuban-komunitas gerejawi tersebut. Walaupun demikian, perkembangan-perkembangan terbaru, semisal pentahbisan wanita dan pendedahan terhadap pasangan homoseksual, menghadirkan hambatan-hambatan baru kerjakan rekonsiliasi dengan Gereja Lutheran, Gereja-Gereja Reformasi, dan khususnya Gereja Anglikan, .

Konsekuensinya, plong beberapa tahun buncit, Gereja katolik mengesakan upayanya pada rekonsiliasi dengan Basilika-Basilika Ortodoks Timur, nan perbedaan teologisnya dengan Gereja Katolik tidaklah sedemikian akbar. Interelasi-ikatan dengan Dom-Dom Ortodoks Rusia merasakan keretakan pada tahun 1990-an sehubungan dengan masalah-masalah properti di negara-negara jebolan Teteh soviet, masalah-masalah tersebut belum tertanggulangi (khususnya paroki-paroki hak Gereja Katolik-Yunani Ukraina), sekalipun kontak-sangkutan perantaraan dengan Gereja-Basilika Timur lainnya terus merasakan kemajuan.

Struktur hirarkis Gereja Katolik

Gereja Katolik memiliki suatu struktur hirarkis, yang berfaedah suatu bujuk ikhlas (bertolak belakangan dengan struktur karismatis). Resan hirarkis ini diterapkan dalam semuanya Basilika Katolik, biarpun pelahap dikaitkan hanya dengan para pelayan Gereja yang tertahbis, yang terpusat dalam pelecok satu dari tiga jenjang imamat ikhlas: keuskupan (para uskup), presbiterat (para rohaniwan), atau diakonat (para diakon).

Keuskupan (jabatan paderi)

Para uskup, yang punya kepenuhan imamat Kristiani, merupakan suatu badan Dewan Uskup, para penerus para Rasul
[74]
dan merupakan “para Mengangon yang ditugaskan dalam Katedral, seumpama menjadi para penatar dogma, para imam n domestik peribadatan suci dan para pengurus dalam pemerintahan.”[75]

Sri Paderi, para kardinal, patriark, primat, uskup sani dan metropolitan semuanya adalah uskup dan anggota dari episkopat atau kolega para paderi Basilika Katolik.

Presbiterat (jabatan presbiter/imam)

St. Yohanes Maria Vianney, seorang imam praja yang masyhur karena hidupnya yang ceria dan pelayanannya sebagai sendiri konfesor (mustami pengakuan dosa)

Para uskup dibantu oleh para imam dan diakon. Paroki-paroki, berpihak kepada yang benar yang berbasis teritorial maupun orang, privat satu keuskupan biasanya dipimpin oleh seorang pastor yang dikenal sebagai imam paroki atau pastor.

Para imam dapat menjalankan banyak kemustajaban yang tidak langsung berkaitan dengan kegiatan pastoral biasa, seperti eksplorasi, penekanan, mengajar alias pekerjaan dinas. Mereka pula boleh menjadi rektor kapelan (imam plong lembaga tertentu misalnya privat kemiliteran atau universitas), konfesor, komandan biara, atau dekan Dom.

Kerumahtanggaan statuta Ritus Latin, saja pria selibat yang ditahbiskan menjadi pater, sementara itu n domestik ordinansi Ritus Timur, pria yang sudah menikah dapat kembali ditahbiskan. Di antara Basilika-Gereja partikular Ritus Timur, Gereja Katolik Ethiopia hanya menahbiskan pria yang hidup selibat, tetapi juga memiliki pendeta-imam yang sudah menikah yang dulunya ditahbiskan dalan Basilika Ortodoks. Gereja-Gereja Katolik Timur lainnya, yang menahbiskan lelaki yang sudah menikah, di beberapa negara misalnya di Amerika Serikat, tidak memiliki imam yang menikah. Ritus Barat maupun Latin sesekali, saja sangat jarang, menahbiskan pria-laki-laki yang sudah menikah, lazimnya mereka yakni klerus Protestan yang berpindah menjadi Katolik. Semua ritus Gereja Katolik memelihara adat istiadat lawas adalah tidak mengizinkan ijab nikah setelah pentahbisan. Lebih-lebih bila isteri seorang imam yang menikah berpulang, karenanya pastor tersebut tidak boleh menikah lagi.

Diakonat (jabatan diakon)

Sejak Konsili Vatikan Kedua, Dom Latin kembali memufakati pria dewasa nan beristri misal ditahbiskan menjadi Diakon. “Para diakon ditahbiskan sebagai suatu tanda sakramental bagi Gereja dan untuk alam hak Kristus, nan nomplok ‘untuk melayani dan bukan bagaikan dilayani.’ Seluruh Dom dipanggil maka itu Kristus sebagai melayani, dan diakon, karena tahbisan sakramentalnya dan melewati beragam pelayanannya, menjadi koteng pelayan privat Dom-pelayan. Laksana pelayan Perbuatan nabi nabi muhammad, para diakon mengabarkan Injil, berkhotbah, dan mengajar intern nama Dom. Sebagai pelayan Sakramen, diakon menyeranikan, memimpin umat beriman intern doa, menjadi saksi ijab nikah, melaksanakan ibadat kematian dan pemakaman. Sebagai pelayan amal-belas kasih, diakon ialah pejabat dalam keadaan mengenali kebutuhan-kebutuhan bani adam lain, kemudian memperalat sumber-perigi kekuatan Dom andai membentangi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Para diakon pun dibaktikan buat penghapusan ketidakadilan dan ketidaksetaraan nan menimbulkan kebutuhan-kebutuhan tersebut.”[76]

Para kandidat umpama diakonat menjalani suatu program formasi diakonal nan dirancang berlandaskan kebutuhan-kebutuhan masa kini keuskupan mereka cuma harus mengaras standar-standar minimum yang diputuskan maka itu konferensi waligereja di negara asal mereka. Setelah menyelesaikan program formasi mereka dan memperoleh persepakatan dari uskup setempat, para kandidat menerima sakramen imamat melintasi pentahbisan. Galibnya, selepas ditahbiskan, seorang diakon diletakkan maka itu uskupnya pada suatu paroki tempatan di mana dia hendak menjalankan pelayanannya dan melayani Gereja dan komunitas lokal tersebut.

Keanggotaan Gereja Katolik

Menurut Syariat Kanon, seseorang menjadi anggota Katedral Katolik dengan kaidah dibaptis dalam Gereja Katolik atau dengan prinsip diterima ke internal Dom Katolik (dengan mewujudkan suatu pernyataan iman, bila yang bersangkutan mutakadim dibaptis).[77]

Apabila atas kemauan seorang seseorang cak hendak memutuskan ikatan yuridis dengan Dom Katolik, karenanya disyaratkan mempunyainya suatu tindakan konvensional secara tercatat di depan Pengarah Gereja setempat atau imam paroki bersumber yang bersangkutan, nan hendak membiji apakah tindakan tersebut tergolong murtad, bidaah atau skisma; tanpa tindakan keluar secara baku ini, “bidaah (baik protokoler atau material), skisma dan murtad bukan dengan sendirinya merupakan suatu tindakan keluar secara sah, bila enggak secara eksternal diwujudnyatakan dan dimanifestasikan kepada kontrol gerejawi dengan cara-cara yang disyaratkan.”[78]

Mereka yang tidak melakukan tindakan ini diasumsikan semenjana terikat dengan Gereja Katolik dan “terus terikat makanya hukum-hukum gerejawi semata-mata.” Seseorang yang keluar dari keanggotaan Gereja Katolik dapat diterima pun di kemudian musim, pasca- yang bersangkutan membuat suatu pernyataan iman.

Peranan Katedral Katolik internal kebudayaan

Ilmu agama Gereja Dan ilmu hobatan

Para pandai sejarah aji-aji aji-aji, termasuk yang bukan beragama Katolik seperti J.L. Heilbron,[79]
Alistair Cameron Crombie, David C Lindberg,[80]
Edward Grant, Thomas Goldstein,[81]
dan Ted Davis, berpendapat bahwa Gereja Katolik memiliki pengaruh positif yang penting terhadap perkembangan tamadun. Mereka yakin bahwa, bukan saja para biarawanlah yang mengetanahkan dan membudidayakan sisa-feses pecah peradaban lawas selama invasi-penyerangan kaum barbar, melainkan sekali lagi bahwasanya Gereja Katoliklah nan menunda pembelajaran dan ilmu ilmu melintasi dukungannya terhadap banyak universitas yang, di bawah kepemimpinannya, bertumbuh cepat di Eropa pada seratus waktu ke-11 dan ke-12. St. Thomas Aquinas, “teolog model” Basilika Katolik, tidak saja berpendapat bahwa ikhtiar karakter itu selaras dengan iman, dia tambahan pula mengakui bahwa ikhtiar fiil dapat berkontribusi untuk pemahaman tanzil Illahi, dan dengan demikian menyorong urut-urutan intelektual.
[82]
Para imam-ilmuwan Gereja Katolik, yang kebanyakan merupakan para Yesuit, dan yang merupakan para pengambil inisiatif internal ilmu astronomi, genetika, geomagnetisme, meteorologi, seismologi, and fisika matahari, menjadi “bapak-bapak” ilmu-guna-guna ilmu tersebut. Teristiadat kiranya umpama diceritakan di sini, nama-nama para imam Katolik semisal Abbas Ordo St. Agustinus Gregor Mendel (induk bala dalam riset genetika) dan pastur Belgia Georges Lemaître (orang pertama yang mengedepankan teori Big Bang).

Satu peta
universitas-universitas seratus waktu pertengahan
menunjuk-nunjukkan universitas-universitas yang didirikan Gereja Katolik di Eropa.

Takrif ini yakni suatu kebalikan berbunga pandangan yang dipertahankan oleh beberapa
pemikir seratus perian pencerahan, bahwa ilmu agama-doktrin Gereja Katolik bersifat tahayul dan menghalang-halangi keberuntungan tamadun.

Salah satu model terkenal yang diajukan maka itu para kritikus tersebut merupakan Galileo Galilei, yang plong musim 1633, dikutuk karena bersandar teguh puas segala sesuatu nan diajarkan jagad raya nan heliosentris (jagad raya berfokus puas matahari), teori yang pertama kali dicetuskan maka itu Nicolaus Copernicus, seorang padri Katolik. Setelah bertahun-periode diinvestigasi, berkonsultasi dengan Paus, berjanji kemudian dilanggar oleh Galileo koteng, dan pengahabisannya suatu pengadilan oleh Tribunal Inkuisisi Romawi dan Universal, Galileo didapati “dituduh seumpama bidaah” – tidak bidaah, seperti mana yang seringkali secara keliru disebut-ucap. Walaupun ilmu ilmu modern membuktikan bahwa dua bermula empat thesis ilmiah yang dikedepankan oleh Galileo sememangnya keliru, yakni bahwasanya Mentari adalah pusat jagad raya, dan bahwasanya Mayapada mengitari Matahari dalam orbit berwujud dok kamil, Paus Yohanes Paulus II secara terbuka mengungkapkan penyesalan atas tindakan-tindakan orang-orang Katolik yang memperlakukan Galileo dengan buruk privat mahkamah plong rontok 31 Oktober 1992.[83]
Suatu penyamarataan mulai sejak tindakan-tindakan privat ronde pengadilan terhadap Galileo dapat dijumpai di Pertinggal Muslihat Vatikan (Vatican Secret Archives), yang mengembangbiakkan sebahagian dokumen tersebut kerumahtanggaan situs
web-nya. Kardinal John Henry Newman, pada seratus tahun ke-19, berucap bahwa orang-individu nan menyerang Gereja Katolik saja mampu menunjukkan kasus Galileo, nan untuk banyak sejarawan tidaklah membuktikan mempunyainya oposisi Gereja terhadap ilmu ilmu karena bahkan banyak padri Katolik pada periode itu yang ditolak oleh Gereja umpama meneruskan penelitian mereka.[84]

Kini, Gereja Katolik telah dikritik karena barang apa sesuatu yang diajarkannya bahwa penajaman lembaga pemasyarakatan induk fetus khalayak (embryonic stem cell research) yakni suatu wujud pecah eksperimentasi plong manusia, dan mengakibatkan pembunuhan sendiri manusia, dengan alasan bahwa segala sesuatu nan diajarkan ini menahan riset ilmiah. Gereja Katolik sebaliknya berpendapat bahwa kemajuan dalam aji-aji terapi boleh terjadi tanpa terbiasa mempunyai penghancuran manusia (nan sedang dalam tahap kehidupan embrio); misalnya, dengan menunggangi pengasingan induk dewasa (adult stem cell) atau sel induk tali pusat (umbilical stem cell) ibarat saling sel induk embrio.

Gereja, seni, dan karya sastra

Bilang pakar sejarah membiji Dom Katolik bermanfaat atas kegemilangan dan keagungan seni Barat. Mereka mengacu pada perlawanan gereja terhadap ikonoklasme (satu operasi yang mendekati penggambaran visual berpunca yang ilahi), kegigihan Gereja dalam mendirikan konstruksi-gedung yang mendukung peribadatan, kutipan ayat Injil maka itu Agustinus dari Hippo – bersumber Kitab Kebijaksanaan 11:20 (Halikuljabbar “menyuruh barang apa sesuatu diukur, dihitung, dan ditimbang”) yang menuntun kepada konstruksi-gedung geometris mulai sejak arsitektur Gothik, sistem-sistem ilmiah nan terkonsolidasi dari kaum Skolastik yang disebut
Summa Theologiae
yang memengaruhi goresan-tulisan yang konsisten secara ilmiah dari Dante Alighieri, ilmu agama penciptaan dan sakramental Basilika yang telah mengembangkan suatu imajinasi Katolik yang memengaruhi para carik seperti mana J. R. R. Tolkien[85], C.S. Lewis, dan William Shakespeare,[86]
dan pengahabisannya, perlindungan yang diberikan para paus di hari Renaissance bakal karya-karya mulia para artis Katolik seperti mana Michelangelo, Raphael, Bernini, Borromini, dan Leonardo da Vinci.

Basilika dan perkembangan ekonomi

Francisco de Vitoria, seorang murid berusul Thomas Aquinas dan sendiri pemikir Katolik nan mempelajari hal-hal seputar hak-hak azasi manusia mulai sejak rakyat pribumi yang dijajah, diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai seorang Buya hukum internasional, dan sekarang sekali lagi diakui maka itu para juru sejarah ekonomi dan demokrasi seumpama cahaya terdepan kerjakan demokrasi Barat dan percepatan ekonomi.[87]

Joseph Schumpeter, seorang pandai ekonomi berpunca seratus masa ke-20, menunjuk pada kaum skolastik, ketika menggambar bahwa, “merekalah yang paling memadai lebih berpunca kumpulan manapun juga sebagai disebut sebagai ‘pembina’ ilmu ekonomi yang ilmiah.”[88]
Ahli-pakar ekonomi dan album lainnya, seperti Raymond de Roover, Marjorie Grice-Hutchinson, dan Alejandro Chafuen, juga sudah lalu mengeluarkan pernyataan serupa. Sejarawan Paul Legutko pecah Universitas Stanford mengatakan bahwa Gereja Katolik “berada puas pusat perkembangan nilai-nilai, gagasan-gagasan, ilmu guna-guna, syariat, dan rajah-lembaga nan membentuk segala yang kita ucap peradaban Barat.”[89]

Keseimbangan sosial, keperawatan, dan sistem rumah sakit

Pandai sejarah rumah sakit, Guenter Risse, berujar bahwa Dom Katolik mempelopori perkembangan suatu sistem kondominium guncangan yang ditujukan untuk kaum tersepak.

Menurut tukang sejarah rumah sakit, Guenter Risse, Katedral Katolik sudah lalu memberi sumbangsih bakal warga melewati teologi sosialnya (tajali sosial Katedral) yang telah menuntun para pemimpin sebagai mempromosikan keadilan sosial dan dengan membentuk sistem rumah sakit di Eropa seratus tahun pertengahan, yakni suatu sistem nan berlainan dengan keramah-tamahan bersumber warga Yunani dan kewajiban-barang bawaan berasaskan keluarga berpokok pemukim Romawi. Rumah-rumah ngilu tersebut didirikan sebagai menyediakan pelayanan bakal kumpulan warga tertentu nan tersisihkan dampak kemiskinan, komplikasi, dan usia lanjut.”[90]

James Joseph Walsh menulis adapun kontribusi Gereja Katolik bagi sistem apartemen sakit, ibarat berikut:

Selama seratus tahun ke-13 sejumlah akbar rumah-rumah lindu [ini] didirikan. Kota-kota Italia yaitu pemimpin-pengarah terbit persuasi itu. Milan punya tak kurang semenjak selusin rumah sakit dan Florence sebelum kemudian seratus masa ke-14 memiliki selingkung 30 rumah gempa bumi. Beberapa diantaranya merupakan bangunan-bangunan yang terlampau indah. Di Milan sebagian dari kontruksi flat sakit umum dirancang oleh Donato Bramante dan sebagiannya lagi dirancang makanya Michelangelo.
Apartemen sakit kaum tak berdosa
di Florence bagaikan menapuk anak-momongan terlantar ialah suatu permata arsitektur. Apartemen guncangan di Sienna, yang didirikan sebagai sanjungan kepada Santa Katerina mulai sejak Siena, sejak tadinya mutakadim tersohor. Di seluruh Eropa gerakan rumah sakit ini menyerak di mana-mana. Virchow, Pathologis akbar dari Jerman, dalam suatu artikel mengenai rumah-rumah sakit, menunjukkan bahwa tiap kota di Jerman yang berpenduduk 5000 usia mempunyai kondominium sakit. Dia menyisir propaganda rumah lindu ini sampai kepada Paus Innosentius III, dan lamun bukan seorang pendukung kepausan, Virchow sonder syak memberikan pujian terala untuk Paus tersebut sebagai segala sesuatu nan sudah dilakukannya demi kegunaan anak-momongan dan umat turunan nan menderita.[91]

Keindahan dan efisiensi rumah-rumah lindu Italia malar-malar mengilhami sebagian khalayak yang tambahan pula mengkritik Gereja Katolik. Sejarawan Jerman Ludwig von Rohaniwan mengutip sekali lagi kata-kata Martin Luther yang, tatkala melakukan perjalanan ke Roma detik tahun hambar masa 1510-1511, berkesempatan mengunjungi beberapa dari flat-rumah sakit tersebut:

Di Italia, menurutnya, kondominium-rumah sakit didirikan dengan megah, dan bukan main mengagumkan bahwa rumah-kondominium sakit itu diperlengkapi dengan kas dapur dan minuman yang sangat berpihak kepada yang etis, perhatian yang seksama dan tabib-dukun yang terpelajar. Tempat-palagan tidur dan peranti kancah tidurnya bersih, dan dinding-dinding ditutupi dengan lukisan-lukisan. Kapan seorang pasien dibawa turut, pakaian-pakaiannya dilepaskan di depan seorang notaris yang menginventarisirnya dengan irit, kemudian baju-rok itu disimpan dengan terlindung. Sepiak
smock
(jubah pasien) kudus dikenakan padanya dan dia dibaringkan di atas suatu bangku yang nyaman, dialasi linen yang bersih. Mempunyai dua bani adam dokter nan mendatanginya, dan para pelayan membawakannya makanan dan minuman dalam gelas-beling nan bersih, yang memperlihatkan padanya segala perhatian yang dapat diberikan.[92]

Gereja Katolik sebagai
opus proprium, sebut Benediktus XVI kerumahtanggaan Deus Caritas Est, telah melaksanakan sepanjang berkurun-kurun sejak mulanya awal dan terus melaksanakan beragam pelayanan pemberian — antara tak, rumah-flat-sakit, sekolah-sekolah, dan program-program pemberantasan kemiskinan.

Kritik terhadap Gereja Katolik Roma

Kehebohan pelecehan seksual

Pada tahun 2002, Amerika Serikat dihebohkan maka itu satu persepsi akbar saat serangkaian permohonan, ditemani bukti-bukti pendukung, ditujukan kepada para imam yang berbuat tindakan pelecehan secara seksual terhadap anak-anak asuh sepanjang sejumlah sepuluh tahun. Yang makin memparah peristiwa adalah terungkapnya kenyataan bahwa Gereja memahami sejumlah pecah pendeta-imam praktisi pelecehan tersebut, dan puas mulanya memperlakukan mereka dengan mandu menyangkal mengetahui kejahatan yang mereka lakukan dan memindahtugaskan mereka bermula satu jemaat ke jemaat lain dari pada menindaki mereka. Sensasi yang menjadi penyebab pengunduran diri Kardinal Bernard Law semenjak Keuskupan Luhur Boston itu, merupakan pukulan yang menghancurkan citra Dom di indra penglihatan publik — Dalam salah suatu
survey
sesudah mencuatnya skandal tersebut 64% bermula responden seia bahwa kebanyakan pastor Katolik “kerap melakukan pelecehan terhadap anak-anak” (data mengindikasikan bahwa cuma 1,5-1,8% pastor Katolik yang benar-benar telah dituntut karena melakukan pelecehan terhadap anak-anak.[93]).

Catholic News Service
melaporkan:

Sekitar 4 persen bermula para padri A.S. nan berbuat pekerjaan sejak perian 1950 setakat 2002 dituduh melakukan pelecehan genital terhadap anak di bawah umur, menurut studi nasional komprehensif mencantol isu tersebut. Studi tersebut mengatakan bahwa 4.392 rohaniwan—hampir semuanya imam—dituduh mengerjakan pelecehan terhadap 10.667 bani adam. 75 uang dari insiden-insiden tersebut terjadi antara hari 1960 dan 1984. Menurut penajaman tersebut, dalam kurun saat yang sama terwalak 109.694 pastor. Menurut studi yang sudah dilakukan
John Jay College of Criminal Justice
di New York, biaya-biaya (cost) sehubungan dengan pelecehan genital berjumlah total $573 miliun. $219 juta pecah banyak itu ditalangi oleh perusahaan-perusahaan asuransi.

Studi tersebut menyusun daftar karakteristik-karakteristik terdepan semenjak insiden-insiden pelecehan genital yang sudah lalu dilaporkan. Tercantum didalamnya: — Sebagian akbar alamat, yakni 81 komisi, berjenis kelamin lanang. Korban paling lenyai yaitu anak-anak laki-laki berusia 11 sampai 14 tahun, mewakili kian dari 40 komisi dari banyak bahan. Laporan ini melawan
trend
dalam warga A.S. secara mahajana di mana masalah terdepan ialah laki-laki dewasa mencabuli anak-anak asuh nona.[94]

Kasus-kasus serupa telah muncul di negara-negara lain. Di Irlandia, beberapa kasus pelecehan seksual nan mencuat pada anak-momongan nan dilakukan makanya para padri dan biarawan Katolik, sebagaimana yang dialami Andrew Madden, telah sangat memperlemah pengaruh Gereja pada beberapa tahun terakhir.

Sejak waktu 2001, kewenangan atas penyelesaian masalah pelecehan genital yang dilakukan maka itu klerus tidak lagi berada dalam kompetensi berpunca uskup setempat, hendak tetapi diambil alih oleh Kongregasi Segala sesuatu yang diajarkan Iman di Roma, sesuai dengan isi Surat Apostolik Uskup Yohanes Paulus II
Sacramentorum sanctitatis tutela
serta rasam-aturan pelengkapnya (kedua sahifah dalam Bahasa Latin). Di bawah
Hukum Kanonik
Dom hari 1983 klerus yang mengamalkan pelecehan seksual terhadap seorang momongan di bawah umur bisa dikenai siksa pelengseran pamor klerus (“laisisasi”).[95]

Coretan kaki

  1. ^

    “Concise Oxford English Dictionary” (online version). Oxford University Press. 2005. Retrieved 10 April 2009.



  2. ^

    Marthaler, Berard (1993). “The Creed”. Twenty-Third Publications. Retrieved 9 May 2008.



    hal. 303
  3. ^
    a
    b
    McBrien, Richard (2008).
    The Church. Harper Collins. peristiwa. xvii. Varian online tersedia di sini. Kutipan:
    Penggunaan adjektiva “Katolik” seumpama apendiks lega pembukaan “Gereja” bersifat divisif hanya setelah Skisma Timur-Barat … .. dan Perbaikan Protestan … .. Dalam kasus pertama, pihak Barat mengklaim sebagai dirinya gelar Gereja Katolik, sedangkan pihak Timur memperalat nama Katedral Ortodoks nan Kudus. Kerumahtanggaan kasus kedua, pihak yang berada dalam persekutuan dengan Paderi Roma mempertahankan adjektiva “Katolik”, sedangkan gereja-gereja yang membelakangkan gayutan dengan Kepausan disebut Protestan.
  4. ^
    Libreria Editrice Vaticana (2003). “Katekismus Gereja Katolik.” Diakses sreg: 2009-05-01.
  5. ^
    Vatikan. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Diakses plong: 2009-05-04. Perhatian: Segel tangan Paderi tampak dalam cersi Latinnya.
  6. ^

    Declaration on Christian Formation, diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Amerika Serikat, Washington DC 1965, pelataran 13
  7. ^
    Whitehead, Kenneth (1996). “”How Did the Catholic Church Get Her Name?” Eternal Word Television Network. Diakses pada 9 Mei 2008.
  8. ^
    Contoh: 1977 Persetujuan dengan Uskup Mulia Donald Coggan berpokok Canterbury
  9. ^
    Walsh, Michael (2005).
    Roman Catholicism. Routledge. keadaan. 19. Versi online cawis di sini
  10. ^

    Beal, John (2002). “New Commentary on the Code of Canon Law”. Paulist Press. Retrieved 13 May 2008.



    kejadian. 468
  11. ^
    The
    New Catholic Encyclopedia
    menyatakan: “Memiliki suatu parasan yang lebih jauh tentang istilah Katolik Roma nan wajib dipahami. Basilika Roma boleh dipakai sebagai menyebut, lain Gereja universal yang memiliki seorang primat yakni Uskup Roma, melainkan perumpamaan menyebut Dom lokal di Roma, nan memiliki keistimewaan karena uskupnya juga menyandang misal primat untuk seluruh Gereja.”
  12. ^

    “Number of Catholics and Priests Rises”. Kulminasi News Agency. 12 Februari 2007. Retrieved 21 Februari 2008.



  13. ^

    “CIA World Factbook”. United States Government Central Intelligence Agency. 2009. Retrieved 6 Juli 2009.



  14. ^

    “Major Branches of Religions Ranked by Number of Adherents”. adherents.com. Retrieved 2009-07-05.



  15. ^
    Schreck, situasi. 158–159.
  16. ^
    a
    b

    Paulus VI, Paus (1964). “Lumen Gentium bab 3, ronde 22”. Vatikan. Retrieved 9 Maret 2008.



  17. ^
    Hukum Kanon, kanon 331 dan 336
  18. ^
    Teaching with Authority, maka itu Richard R. Gaillardetz, situasi. 57
  19. ^
    Schreck, hal. 153.
  20. ^
    Barry, hal. 50–51.
  21. ^
    Barry, hal. 98–99.
  22. ^
    Wilken, hal. 281, kutipan: “Sejumlah (Peguyuban Kristiani) didirikan oleh Petrus, murid nan diputuskan Yesus andai pendiri GerejaNya. … .. Begitu letak tersebut terlembagakan, para sejarawan timah panas kembali dan mengamini Petrus laksana uskup pertama Gereja Kristen di Roma”
  23. ^
    a
    b
    Schreck, hal. 152.
  24. ^
    Barry, kejadian. 37, hal. 43–44.
  25. ^
    (Mat. 16:18–19)
  26. ^
    (Yoh. 16:12–13)
  27. ^
    O’Collins, situasi. v (pengantar).
  28. ^
    Orlandis, pengantar
  29. ^

    Konsili Vatikan, Kedua (1964). “Lumen Gentium paragraf 14”. Vatikan. Retrieved 17 December 2008.



  30. ^

    Paragraf nomor 846 (1994). “Katekismus Dom Katolik”. Libreria Editrice Vaticana. Retrieved 27 Desember 2008.



  31. ^

    Paragraf nomor 819 (1994). “Katekismus Gereja Katolik”. Libreria Editrice Vaticana. Retrieved 16 Mei 2009.



  32. ^
    a
    b
    Kreeft, hal. 110–112.
  33. ^

    Shorto, Russel (8 April 2007). “Keeping the Faith”.
    The New York Times
    . Retrieved 29 Maret 2008.




  34. ^
    Kreeft, hal. 17.
  35. ^
    Marthaler, kata pengantar
  36. ^

    Yohanes Paulus II, Paus (1997). “Laetamur Magnopere”. Vatikan. Retrieved 9 Maret 2008.



  37. ^
    Richardson, hal. 132.
  38. ^
    Langan, situasi. 118.
  39. ^
    Parry, hal. 292.
  40. ^
    Collinson, hal. 254–260.
  41. ^
    Misinterpretasi pemungutan: Tag
    <ref>
    bukan sah; lain ditemukan bacaan sebagai ref bernama
    McManners371
  42. ^
    Misinterpretasi pemungutan: Tag
    <ref>
    tidak sah; enggak ditemukan bacaan sebagai ref bernama
    McManners37
  43. ^
    Duffy, hal. 275, situasi. 281.
  44. ^
    a
    b
    Schreck, kejadian. 15–19.
  45. ^

    Brodd, Jefferey (2003).
    World Religions. Winona, MN: Saint Mary’s Press. ISBN 978-0-88489-725-5.




  46. ^
    a
    b
    Schreck, hal. 21.
  47. ^
    Schreck, hal. 23.
  48. ^
    Schreck, peristiwa. 30.
  49. ^

    Paragraf nnomor 1131 (1994). “Katekismus Gereja Katolik”. Libreria Editrice Vaticana. Retrieved 8 Februari 2008.



  50. ^
    Kreeft, hal. 298–299.
  51. ^
    Mongoven, hal. 68.
  52. ^
    Roma 1:20
  53. ^
    Roma 5:12
  54. ^
    Efesus 1:22-23; cf. Roma 12:4-5
  55. ^

    Katekismus Gereja Katolik, 2331–2400
  56. ^

    Katekismus Gereja Katolik, 1015
  57. ^
    “Humanae Vitae, no. 11”
  58. ^

    “Catechism of the Catholic Church”. Retrieved 1 Januari 2007. “881. Tuhan belaka menyanggang Simon, yang dinamainya Petrus, “gangguan karang” Basilika-Nya. Dia memasrahkan kepadanya kunci Gereja-Nya dan menjadikannya gembala berpunca seluruh kawanan dombanya. ‘Jabatan sebagai mengikat dan memperlainkan yang diberikan kepada Petrus sekali lagi diberikan kepada himpunan para nabi yang dipersatukan internal kepemimpinannya.’ Jabatan pastoral Petrus adn para nabi lainnya ini merupakan dasar Gereja dan dilanjutkan maka itu para paderi di bawah keutamaan Paderi.”



  59. ^

    Ignatius bersumber Antiokia. “Letter to the Smyrnaeans“.



    para. 8.
  60. ^

    “The Authority of the Pope: Part I”.
    Catholic Answers.





    Primacy of the Apostolic See, Corunum Catholic Apologetic Web Page, diakses 30 Nov. 2006
  61. ^

    Ware, Kallistos. “The Great Schism”.
    The Orthodox Church
    . Retrieved 2006-12-02. “Basilika Timur mengakui Uskup sebagai uskup nan permulaan di n domestik Dom, belaka menganggapnya sebagai yang pertama di antara yang sederajat.”




  62. ^
    2 Korintus 11:13-15; 2 Petrus 2:1-17; 2 Yohanes 7-11; Yudas 4-13
  63. ^
    Cerita 15:1-2
  64. ^
    “It is our desire that all the various nations which are subject to our clemency and moderation should continue to the profession of that religion which was delivered to the Romans by the divine Apostle Peter, as it has been preserved by faithful tradition and which is now professed by the Pontiff Damasus and by Peter, Bishop of Alexandria, a man of apostolic holiness. … .. We authorize the followers of this law to assume the title Catholic Christians; but as for the others, since in our judgment they are foolish madmen, we decree that they shall be branded with the ignominious name of heretics, and shall titinada presume to give their conventicles the name of churches.”
    Halsall, Paul (June 1997). “Theodosian Code XVI.i.2”.
    Medieval Sourcebook: Banning of Other Religions. Fordham University.




  65. ^

    MacCulloch, Diarmaid (2003).
    The Reformation: A History. Penguin Group. p. 412. ISBN 978-0-7139-9370-7.



    ; MacCulloch adds “admittedly, that might not have been much consolation to those burned at the stake.”; see also
    Kamen, Henry (1999).
    The Spanish Inquisition: A Historical Revision. Yale University Press. pp. 59–60, 189–90, 203, 301. ISBN 0-300-07880-3.




  66. ^
    “In view of the pastoral nature of the Council, it avoided any extraordinary statement of dogmas that would be endowed with the note of infallibility, but it still provided its teaching with the authority of the supreme ordinary Magisterium. This ordinary Magisterium, which is so obviously official, has to be accepted with docility, and sincerity by all the faithful, in accordance with the mind of the Council on the nature and aims of the individual documents” (Paus Paulus VI, atGeneral Audience of 12 Januari 1966
  67. ^
    “The use of the Latin language, with due respect of particular law, is to be preserved in the Latin rites. But since the use of the vernacular, whether in the Mass, the administration of the sacraments, or in other parts of the liturgy, may fequently be of great advantage to the people, a wider use may be made of it, especially in … .. It is for the competent territorial ecclesiastical authority … .. to decide whether, and to what extent, the vernacular language is to be used” (Sacrosanctum Concilium, 36).
  68. ^

    Pope Paul VI (December 1963). “Sacrosanctum Concilium, 2″. Vatican. Retrieved 2006-09-15.


    ;
    Catechism of the Catholic Church
    1068-69
  69. ^
    Catechism of the Catholic Church, 1423-1424
  70. ^

    Catechism of the Catholic Church
    2558
  71. ^

    Joseph Card. Ratzinger, Alberto Bovone (May 1992). “Tembusan kepada para paus Gereja Katolik tentang beberapa satah pecah Gereja yang dipahami sebagai Komuni, 9″. Vatican. Retrieved 2006-09-15.



  72. ^

    Lumen Gentium
    §8
  73. ^

    Lumen Gentium
    §26
  74. ^

    “Kanon 42”.
    Kitab Hukum Kanonik Basilika-Gereja Timur.




  75. ^

    “Kanon 375”.
    1983 Kitab Hukum Kanonik. Vatican.




  76. ^

    Committee on the Diaconate. “Frequently Asked Questions About Deacons”. United States Conference of Catholic Bishops.



  77. ^
    cf. Code of Canon Law, canon 11
  78. ^
    Circular Letter 10279/2006 of 13 March 2006 from the Pontifical Council for Legislative Texts to Presidents of Episcopal Conferences (Canon Law Society of America)
  79. ^

    “J.L. Heilbron”. London Review of Books. Retrieved 2006-09-15.



  80. ^

    Lindberg, David; Numbers, Ronald L (October 2003).
    When Science and Christianity Meet. University of Chicago Press. ISBN 0-226-48214-6.




  81. ^

    Goldstein, Thomas (April 1995).
    Dawn of Modern Science: From the Ancient Greeks to the Renaissance. Da Capo Press. ISBN 0-306-80637-1.




  82. ^

    Pope John Paul II (September 1998). “Fides et Ratio
    (Faith and Reason), IV”. Retrieved 2006-09-15.




  83. ^
    Choupin,
    Valeur des Decisions Doctrinales du Saint Siege
  84. ^

    “How the Catholic Church Built Western Civilization”. Catholic Education Resource Center. May 2005.



  85. ^

    Boffetti, Jason (November 2001). “Tolkien’s Catholic Imagination”.
    Crisis Magazine. Morley Publishing Group.




  86. ^

    Voss, Paul J. (July 2002). “Assurances of faith: How Catholic Was Shakespeare? How Catholic Are His Plays?”.
    Crisis Magazine. Morley Publishing Group.




  87. ^

    de Torre, Fr. Joseph M. (1997). “A Philosophical and Historical Analysis of Beradab Democracy, Equality, and Freedom Under the Influence of Christianity”. Catholic Education Resource Center.



  88. ^

    Schumpeter, Joseph (1954).
    History of Economic Analysis. London: Allen & Unwin.




  89. ^

    “Review of
    How the Catholic Church Built Western Civilization
    by Thomas Woods, Jr.”.
    National Review Book Service
    . Retrieved 2006-09-16.




  90. ^

    Risse, Guenter B (April 1999).
    Mending Bodies, Saving Souls: A History of Hospitals. Oxford University Press. p. 59. ISBN 0-19-505523-3.




  91. ^

    Walsh, James Joseph (1924).
    The world’s debt to the Catholic Church. The Stratford Company. p. 244.




  92. ^

    von Pastor, Ludwig (1891).
    The History of the Popes from the Close of the Middle Ages (Tagihan V). B. Herder. p. 65.




    cf. Luther, Martin. (1967).
    Luther’s Works, American Edition, 55 vols. Helmut Cakrawala. Lehmann, Theodore G. Tappert, editors, Concordia Publishing House and Fortress Press,
    Table Talk, vol. 54, p.296, No. 3930, ( recorded by Anthony Lauterbach, August 1, 1538 ). ISBN 0-8006-0354-0
  93. ^

    Catholic League for Religious and Civil Rights (February 2004). “Sexual Abuse in Social Context: Catholic Clergy and Other Professionals”. Retrieved 2006-09-16.



  94. ^

    Bono, Agostino. “John Jay Study Reveals Extent of Abuse Komplikasi”. Catholic News Service.



  95. ^

    “Canon 1395”.
    Code of Canon Law. Vatican.




  1. ^
    Stempel “Gereja Katolik” mengandung kerancuan, karena Katedral ini bukanlah satu-satunya lembaga yang mencucuh dirinya sebagai Katolik. Gereja ini disebut dan memanggil diri koteng dengan beragam cara, sesuai kondisi sekitarnya. Alas kata Yunani καθολικός (katholikos), pangkal dari kata “Katolik”, berfaedah “mendunia”.[1]
    Kata ini pertama kali dipakai sebagai menyapa Basilika Kristen sreg awal seratus tahun ke-2.[2]
    Pasca Skisma Akbar, Katedral Barat menggunakan cap “Katolik”, temporer Gereja Timur menggunakan label “Ortodoks”.[3]
    Pasca Reformasi pada seratus tahun ke-16, Dom yang berbenda dalam persekutuan dengan Uskup Roma menggunakan merek “Katolik” misal membedakan dirinya dari beragam Katedral Protestan.[3]
    Cap “Basilika Katolik”, bukannya “Basilika Katolik Roma”, adalah nama nan biasa dipakai Gereja ini dalam dokumen-dokumennya. Nama ini dipakai lega judul berasal
    Katekismus Gereja Katolik.
    [4]
    Nama ini pula yang dipakai Paus Paulus VI tatkala menandatangani dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua.[5]
    [6]
    [7]
    Khususnya di negara-negara berpenutur Bahasa Inggris, Gereja ini biasa disebut Dom Katolik “Roma”; plong kesempatan-kesempatan tertentu Gereja ini lagi menjuluki diri dengan sebutan tersebut.[8]
    Pada bilang saat, sebutan ini dapat membebaskan Basilika ini dengan katedral-gereja lain yang juga mencetuskan diri Katolik. Istilah ini kembali dipakai di judul dokumen-dokumen nan menyangkut gabungan-hubungan ekumenis. Walaupun demikian, cap “Katedral Katolik Roma” tidak disukai maka itu banyak umat Katolik yang menganggapnya sebagai suatu nama yang disematkan pada mereka oleh pihak tak yang signifikan bahwa Basilika mereka hanyalah keseleo satu bersumber beberapa gereja katolik, dan berjasa bahwa loyalitas mereka pada Sri Paus dalam satu lain kejadian menjadikan mereka dipandang tak sepan dipercaya.[9]
    Dalam gereja ini, nama “Dom Roma”, intern makna tersempitnya, berfaedah Episkopat Roma.[10]
    [11]
  2. ^
    Siasat tahunan kepausan 2007 mencetuskan bahwa mempunyai 1,115 milyar umat Katolik di seluruh alam.[12]
    Data CIA juga memberikan perkiraan serupa.[13]

    Membandingkan banyak keanggotaan yang diklaim oleh Gereja Katolik dengan statistik-statistik yang tersuguh adapun dom-gereja Kristen lainnya menimbulkan kesulitan-kesulitan metodologis karena tidak terdapat pangsa cak cakupan yang setinggi mengenai keanggotaan bak semua denominasi Kristen. Punya suatu rentang estimasi yang mengistilahkan bahwa penghuni Gereja Katolik adalah 50%
    [14]
    dari banyak umat Kristiani di seluruh alam.

Daftar bacaan

  • “Catechism of the Catholic Church”. Libreria Editrice Vaticana. 1993.


  • “Compendium of the Catechism of the Catholic Church”. Libreria Editrice Vaticana. 2005.


  • “Annuarium Statisticum Ecclesiae (Annual Church Statistics)”. EWTN. July 2004. Retrieved 2006-09-14.


  • Carroll, Warren (October 2004).
    History of Christendom. Christendom Press. ISBN 0-931888-21-2.




    4 Volumes.
  • Central Statistics Office (2006).
    Annuario Pontificio. Libreria Editrice Vaticana. ISBN 88-209-7806-7.



  • Crocker, III, H. W. (November 2001).
    Triumph: The Power and the Glory of the Catholic Church: A 2,000-Year History. Prima Lifestyles. ISBN 0-7615-2924-1.



  • Herbermann, Charles G. et al. (April 1913). “Catholic Encyclopedia”. Encyclopedia Press.


  • Hughes, Philip (1947).
    A History of the Church: The World in Which the Church Was Founded. Sheed & Ward. ISBN 0-7220-7981-8.



  • Miller, Maskulin S. (1997, 2006).
    The Roman Catholic Church: A Divine Institution or a Human Invention?. Tower of David Publications.



  • Woods, Jr., Thomas (May 2005).
    How the Catholic Church Built Western Civilization. Regnery Publishing. ISBN 0-89526-038-7.



Pranala luar

  • (Indonesia)
    Kitab Syariat Kanonika Bahasa Indonesia
  • (Indonesia)
    Katekismus Dom Katolik Bahasa Indonesia
  • (Indonesia)
    Statistik Dom Katolik Indonesia
  • (Inggris)
    Vatican: the Holy See website resmi Vatikan
  • (Inggris)
    Catholic Hierarchy Pengumuman mengenai para paderi Katolik dan keuskupan-keuskupan
  • (Inggris)
    The Cardinals of the Holy Roman Church Manifesto mengenai para Kardinal Basilika Katolik
  • (Inggris)
    Mendunia Catholic Statistics: 1905 and Today oleh Albert J. Fritsch, SJ, PhD
  • (Inggris)
    Catholic Answers Salah satu berasal apostolat-apostolat apologetika dan evangelisasi Katolik terbesar yang diurus oleh umat awam
  • (Inggris)
    Mary Foundation CD gratis mengandung ringkasan segala sesuatu yang diajarkan Gereja Katolik mengenai Misa, Maria, dan seterusnya.
  • (Inggris)
    American Catholic Cak bertanya-pertanyaan Katedral Katolik – FAQ akan halnya Katolisisme
  • (Inggris)
    Catholic Wiki – Suatu situs orthodox wiki yang dibaktikan untuk penimbunan limpahan mualamat akan halnya Dom Katolik
  • (Inggris)
    MassTimes -Satu database komprehensif dari semua Gereja dan Misa Katolik di seluruh alam
  • (Inggris)
    ParishesOnline – U.S. directory of the Catholic Church.

Ini adalah artikel pilihan. Klik di sini sebagai informasi lebih lanjut.



edunitas.com

Source: http://p2k.unkris.ac.id/id1/1-3065-2962/Gereja-Katolik_23109_p2k-unkris.html