Apa Arti Menjadi Terang Dunia

ARTI KAMU ADALAH TERANG DUNIA (MATIUS 5:14-16)Matius 5:14-16 – (Matius 5:14) Ia adalah cuaca dunia. Kota yang terletak di atas ancala tak mungkin jadi-jadian. (15) Lagipula manusia tidak menggarangkan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua turunan di privat flat itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu berlampu di depan manusia, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan menghormati Bapamu yang di sorga.”

Melampaui Bacaan ini, saya ingin mengajak kita sparing dibawah tema “Kamu Adalah Terang Mayapada”

Cak semau beberapa hal yang ingin saya angkat bagi kita pelajari sehubungan dengan tema ini, oleh karena itu saya sangat mengharapkan perhatian penuh mulai sejak spontan kita yang hadir puas kesempatan nan berbahagia ini.

Beberapa peristiwa mengenai terang:

1) Kilauan berlainan secara menyolok dengan gelap.

Karena itu kalau kita adalah cerah, maka hidup kita harus berbeda secara menyolok dengan sukma bani adam dunia. Memang tidak berbeda privat segala hal, tetapi hanya privat hal yang merupakan dosa. Misalnya:

· internal kejujuran.

· dalam kerajinan.

· kerumahtanggaan keadaan mentaati ordinansi pulang balik dan lampu sangat lintas.

· n domestik kejadian sogok menyogok.

· kerumahtanggaan hal ‘jam kejai’ / suka terlambat.

· sreg waktu dimusuhi / ada orang yang menjengkelkan, kita loyal mengasihi dan memaafkan.

· puas waktu menderita atau suka-suka kesukaran, kita tidak mengeluh / marah, sahaja setia beriman, bersukacita, dan patuh berusaha menyenangkan Allah.

Kalau kita usia berbeda dengan mayapada dalam hal-hal yang bertabiat dosa, maka kita menghormati Halikuljabbar (Matius 5: 16).

Satu hal nan perlu dicamkan adalah: jikalau kita atma farik dengan dunia, kita akan seperti kota yang terwalak di atas giri (Matius 5: 14), artinya kehidupan kita akan disorot / diperhatikan orang. Karena itu kita harus hidup dengan makin hati-hati.

2) Terang tidak boleh disembunyikan.

Ini terlihat berpunca:

· Matius 5: 15: ‘orang tidak membakar pelita lalu meletakkannya di bawah gantang’.

· Matius 5: 16: ‘seyogiannya terangmu bercahaya di depan orang’.

Jadi, kita tidak boleh terus menyendiri atau terus cak semau di gereja. Kita harus mau bergaul dengan orang dunia untuk ‘menyenteri’ mereka. Pulang ingatan bahwa tembuni tidak disebut dengan istilah ‘terang katedral’, sahaja ‘pendar dunia’!

3) Terang memberi ilham.

Ini bisa kita buat dengan memberitakan Bibel, memberi wejangan / teguran, mengajak ke gereja nan ter-hormat dan sebagainya.

Apakah saudara memberi wahi pada orang-orang di sekitar plasenta? Dan saudara-saudara yang sudah mempunyai anak, apakah tembuni mengarahkan anak-anak saudara kepada Yesus? Bdk. Amsal 22:6.

4) Kilauan makin dibutuhkan di tempat yang semakin liar.

Makin gelap suatu tempat, maka makin dibutuhkan pendar di tempat itu. Analoginya: makin berdosa orang-manusia di suatu gelanggang, kian terlazim adanya anak adam-orang Masehi lakukan mendamari mereka.

Dalam pelayanan kita sebagai majelis, pengurus, guru sekolah minggu, pendeta, pengkhotbah, dan sebagainya, kita merentang kian gemar melayani jemaat yang ‘baik’. Kita condong cak bagi ‘membuang orang yang brengsek’. Saja sebetulnya orang yang brengsek itu nan bertambah membutuhkan semarak kita! Bdk. Matius 9:10-13.

5) Terang mempengaruhi palsu, bukan sebaliknya (Yohanes 1:5).

Sama seperti mana garam, pendar mempengaruhi, tidak dipengaruhi.

Penjelasan:

1. Mungkin Nan DIMAKSUD DENGAN Cerah Manjapada.

Pada bagian pertama, saya merasa habis perlu bikin kita mencerna siapa yang dimaksud dengan “terang dunia”. Lakukan bisa mengerti siapa yang dimaksud dengan “terang dunia” maka kita harus melihat kepada boleh jadi Yesus merenjeng lidah. Oleh karena itu yuk kita perhatikan beberapa ayat berikut ini:

Matius 4:23-25 – (23) Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Beliau mengajar intern rumah-kondominium ibadat dan mengabarkan Injil Kekaisaran Halikuljabbar serta melenyapkan segala komplikasi dan kelemahan di antara bangsa itu. (24) Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, nan kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus mengobati mereka. (25) Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka menclok bersumber Galilea dan bersumber Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Matius 5: 1-2’14 – (1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Dia ke atas dolok dan selepas Ia duduk, datanglah murid-pelajar-Nya kepada-Nya. (2) Maka Yesuspun start berbicara dan mengajar mereka, introduksi-Nya:………. (14) Kamu yakni terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung lain mungkin terselubung.

Mulai sejak kedua bagian Firman Tuhan ini, kita boleh meluluk dengan jelas bahwa pron bila itu Yesus sedang berbicara kepada makhluk banyak yang berbondong-bondong mengikuti Dia, lantaran mereka sudah melihat berbagai peristiwa ajaib yang telah dilakukan Yesus (Yesus sudah lalu melenyabkan berbagai ragam varietas ki aib dan kelemahan). Tidak hanya itu, kita juga bisa melihat bersumber ayat di atas bahwa bukan sahaja khalayak banyak yang berbondong-bondong menirukan Yesus yang menjadi pendengar orasi Yesus, melainkan lagi ada para siswa Yesus. Ini berarti ketika Yesus merenjeng lidah “Kamu Adalah Pendar Dunia”, Pembicaraan ini ditujukan kepada semua mereka yang hadir pada perian itu (baik itu bani adam banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus mau pun para peserta Yesus).

Apakah ini berharga bahwa mereka semua (basyar banyak itu maupun murid-murid Yesus) adalah “Semarak Bumi?”. Saya rasa Enggak! Mengapa saya katakan demikian? Silakan kita perhatikan ayat berikut ini:

Matius 5:2-12 – (2) Maka Yesus pun menginjak bersabda dan mengajar mereka, kata-Nya (3) “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Imperium Sorga. (4 )Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. (5) Berbahagialah orang yang litak renik, karena mereka akan memiliki bumi. (6) Berbahagialah khalayak yang lapar dan haus akan kesahihan, karena mereka akan dipuaskan. (7) Berbahagialah anak adam yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. (8) Berbahagialah anak adam yang ceria hatinya, karena mereka akan melihat Yang mahakuasa. (9) Berbahagialah basyar nan mengirimkan damai, karena mereka akan disebut momongan-anak Tuhan. (10) Berbahagialah orang yang dianiaya makanya sebab keabsahan, karena merekalah yang tuan Kerajaan Sorga. (11) Berbahagialah beliau, jika karena Aku ia dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. (12) Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu osean di sorga, sebab demikian pun dianiyaya rasul-nabi sebelum kamu.

Berpangkal ayat ini kita boleh katakan bahwa Yesus sementara mengajar orang banyak dan para murid untuk usia berfokus pada Allah (Teosentris/ menempatkan Halikuljabbar menjadi yang utama n domestik hidup mereka). Untuk orang-manusia seperti inilah (individu yang hidup berpusat lega Sang pencipta) Yesus berkata “Beliau Yakni Pendar Dunia”

Selain itu kita harus ingat bahwa “Terang yang sesungguhnya bukanlah cucu adam” malainkan Yesus Kristus, peristiwa ini nampak jelas internal Injil Yohanes.

Yohanes 1:6-9 – (6) Datanglah koteng yang diutus Almalik, namanya Yohanes; (7) beliau cak bertengger bak syahid bakal memberi kesaksian akan halnya nur itu, cak agar oleh dia semua anak adam menjadi percaya. (8) Ia lain terang itu, tetapi dia harus membagi kesaksian akan halnya seri itu. (9) Cuaca nan sememangnya, nan menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Yohanes 8:12 – Maka Yesus berbicara juga kepada sosok banyak, pengenalan-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan melanglang dalam kesamaran, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.

Yohanes 9:5 – Sejauh Aku di internal marcapada, Akulah terang marcapada.

Manusia belaka disebut sinar marcapada karena mereka ‘mengikuti’ (percaya) kepada Yesus (hidup berfokus pada Almalik), perhatikan ayat berikut ini:

Yohanes 8:12 – Maka Yesus bercakap lagi kepada bani adam banyak, kata-Nya: “Akulah seri dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia lain akan melanglang dalam kegelapan, melainkan ia akan n kepunyaan terang nasib.

Efesus 5:8 – Memang dahulu kamu adalah kegelapan, cuma sekarang beliau merupakan terang di privat Sang pencipta. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.

Dengan demikian jelas sudah bahwa yang memadai disebut “TERANG DUNIA” adalah “MEREKA Nan ‘Mengimak’ (PERCAYA) KEPADA YESUS”

PENERAPANNYA: Tidak semua orang yang hadir di dalam katedral, mendengarkan kuliah dan lain sebagainya, layak disebut terang dunia, sebab cak semau yang datang ke gereja hanya di dorong oleh motifasi-motifasi nan keseleo, bahkan ada nan hinggap ke gereja tanpa mempercayai Yesus, anak adam-hamba allah seperti itu Tak Memadai disebut sebagai TERANG DUNIA. Orang yang memadai disebut “Semarak DUNIA” adalah mereka yang ‘menirukan’ (Percaya) kepada Yesus, atau mereka yang hidupnya berpusat pada Allah, ataupun mereka nan menempatkan Yesus di atas segalanya.

Bagaimana dengan kita yang hadir pada saat ini! Apakah kita tergolong orang yang ‘mengajuk’ (Percaya) kepada Yesus, atau basyar yang hidupnya berpusat pada Allah, atau orang yang memangkalkan Yesus di atas segalanya. Jika kita tergolong orang-orang seperti ini, maka Injil mengomong “Kamu Adalah Sinar Bumi”. Jika Lain! Maka, sepatutnya ada kita yaitu orang-orang liar yang terlazim diterangi.

Karakter Asali – Sebagai bani adam percaya, kita juga disebut perumpamaan binar mayapada (Matius 5:14-16 Filipi 2:15), hanya dalam arti: Kita cuma memantulkan terang berpunca Kristus, sama seperti bulan memantulkan pendar bermula matahari. Seseorang mengatakan bahwa sekiranya ‘manjapada’ ada di paruh-tengah wulan dan matahari, maka terjadilah gerhana bulan dimana wulan lain bersinar / bukan memantulkan terang dari surya. Demikian lagi jika kita seumpama anak adam kristen membiarkan ‘dunia’ terserah di perdua-tengah diri kita dan Kristus, maka kita tak bisa bersinar bagi Kristus!

2. TANGGUNG JAWAB KITA Andai Pendar Dunia

Matius 5:14-15 – (14) Kamu adalah terang dunia. Kota nan terdapat di atas gunung enggak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas tungkai dian sehingga mengobori semua cucu adam di n domestik rumah itu.

Sepatutnya ada menjadi panah marcapada merupakan sebuah tanggung jawab yang terlampau besar dan sekaligus merupakan sebuah kesucian yang asing biasa, karena kita, manusia dapat menyiarkan cahaya Kristus di paruh-paruh mayapada ini. Dalam kapasitas kita sebagai “Pendar Bumi”. Maka, cak semau sejumlah keadaan yang harus kita lakoni ibarat bagian semenjak tanggung jawab kita sebagai “binar marcapada”, yakni :

Pertama; Sebagai “Kilap mayapada” kita harus senantiasa memancarkan cuaca tersebut. Coba perhatikan ayat berikut ini:

Matius 5:14 – Kamu ialah terang dunia…………..dst

Pertanyaannya! Kurat sama dengan barang apa yang harus kita pancarkan? Untuk itu saya ajak kita melihat ayat ke 16 Matius 5:

Matius 5:16 – Demikianlah hendaknya terangmu berpelita……dst

Dalam Versi KJV (Bibel Varian King James) menerimakan kita keterangan kian jelas, ketimbang versi Indonesia nan kita miliki, mari kita perhatikan.

Matthew 5:16 – Let your light so shine before men, that they may see your good works, and glorify your Father which is in heaven.

Artinya panah yang “mengilat, berkilau, berseri, mengkilap, berkilau-kilat alias singkatnya “adv amat nur”. Bukan redup atau pu berawan.

Karena itu kalau kita adalah terang, maka hidup kita harus berbeda secara menyolok dengan hidup orang dunia. Memang bukan farik intern segala apa kejadian, tetapi hanya dalam kejadian yang yaitu dosa. (turunan lain berbuat dosa kita jangan berbuat dosa)

Suatu hal yang teristiadat dicamkan yakni: jikalau kita nasib farik dengan mayapada, kita akan seperti daerah tingkat yang terletak di atas gunung

Matius 5:14 – Kamu yakni kilap dunia. Ii kabupaten yang terwalak di atas ardi tidak barangkali tersembunyi

Note: Artinya roh kita akan disorot / diperhatikan bani adam. Karena itu kita harus vitalitas dengan lebih ketat.

Kedua; Sebagai “Terang Dunia”, kita tidak boleh ondok kilat kita. Karena orang yang menyembunyikan terangnya yakni turunan nan egois (memanfaatkan sinar untuk kekuatan dirinya). Lagi kembali intern teks kita ini, menegaskan kepada kita orang berkepastian untuk menunjukkan sinar itu. Perhatikan ayat berikut ini:

Matius 5: 15 – Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di pangkal gantang.

Matius 5: 16 – Sepatutnya terangmu berlampu di depan orang.

Inkognito – “Kerelaan Anda dan sempurna nan Anda tunjukkan memberikan jawaban untuk orang lain. Ketika mereka melihat Anda, mereka yang arwah n domestik gelap kepingin hidup di privat pendar, mereka yang tidak memiliki arah tujuan yang jelas menjadi mencerna bahwa hidup itu sangat berfaedah. Eksistensi anda menjadi sebuat ‘unsur’ yang ditunggu-tunggu oleh orang lain, karena Anda membuat mereka berubah ke arah nan lebih baik”

Seseorang pernah batik serupa ini: “Setara dengan gambaran itu, maka kekristenan adalah sesuatu yang untuk dilihat. ‘didalam kekristenan tidak cak semau istilah mengikut Yesus secara nyuruk’ didalamnya sekadar akan terjadi dua peluang, yaitu KETERSEMBUNYIAN itu akan mengebankan kekristenannya, atau kekristenannya itu akan menghancurkan ketersembunyiannya.”

Artinya umpama orang percaya (red. Terang Dunia) kita mesti nekat menunjukkan kualitas diri kita agar melalui diri kita membuat orang yang melihat kita terhibur cak bagi mengenal Kristus. Lain sebaliknya, kita menjadi alai-belai sandungan (penghalang) sehingga manusia enggan terbujuk cak bertengger kepada kristus.

Seorang missionaris bernama E. Stanley Jones pernah mengajukan pertanyaan kepada Mahatma Gandhi pemrakarsa yang memperjuangkan kemerdekaan India dengan prinsip rukun (Mahatma Gandhi yaitu koteng yang cinta mengutip khotbah di giri yang terdapat dalam Matius 6-7). Pertanyaannya serupa ini: “sekalipun Kamu sering mengutip kata-alas kata Yesus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikutnya?” Jawab Gandhi: “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Sira, Tapi saya lain suka dengan khalayak Kristen Anda.” Lebih lanjut Gandhi menambahkan bahwa “Jika orang Masehi benar-etis spirit menurut ajaran Kristus, seperti nan ditemukan di dalam Bibel, seluruh India sudah menjadi Kristen waktu ini” ini diakibatkan karena basyar Serani yang dijumpai Gandhi pada waktu itu berprilaku tinggal buruk atau gagal menjadi pendar.

Renungan Harian Air Hayat: – Dikatakan, “…orang tidak menyalakan pelita habis meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas suku lampion sehingga menerangi semua insan di kerumahtanggaan apartemen itu.” (Matius 5:15). Artinya terang mulai sejak Almalik itu tidak boleh ditutupi, disembunyikan, terlebih lagi dipadamkan. Terang dari Tuhan harus dinyatakan kepada seluruh makhluk, harus diangkat ke tempat nan lebih tinggi sehingga memberi sorot kepada dunia seputar umpama kota yang letaknya di atas bukit, di mana keberadaannya jelas tampak dan tidak mungkin disembunyikan. Itulah keberaaan kita perumpamaan insan percaya yang adalah sinar di tengah keremangan marcapada ini. Orang lain akan melihat kita dengan jelas. (Orang Serani Adalah Terang Mayapada – edisi 14 Oktober 2022)

Ketiga; Seumpama “Terang Dunia” kita harus boleh memberi nubuat. Perhatikan ayat berikut ini:

Matius 5:14 – Kamu adalah cuaca bumi…………..dst

Firman Tuhan dengan jelas bersabda “anda merupakan terang manjapada”, terbiasa kita ketahui bahwa kata “manjapada” merujuk kepada manusia yang berada dalam keremangan, Oleh orang percaya (red. Cuaca bumi) diharapkan mampu memberikan petunjuk kerjakan mereka yang masih berharta dalam ketaksaan.

Ingat bahwa orang beriktikad tidak disebut dengan istilah ‘kilauan gereja’, sahaja ‘terang marcapada’! Dengan demikian kurat itu lebih berfaedah apabila berlimpah intern kegelapan. Maka benarlah lirik lagu “Jadilah Cerah” yang dilantukan maka itu Glann Fredly Deviano Latuihamallo”

Glann Fredly Deviano Latuihamallo (Lirik lagu – Terang): “Jadilah cerah, jangan di tempat yang kurat. Jadilah terang di tempat yang gelap……..”

Dengan demikian sebagai basyar percaya (red. Kirana Dunia) kita HARUS menjadi petunjukkan bagi mereka yang masih fertil dalam kegelapan. Ini bisa kita lakukan dengan memberitakan Injil, memberi nasihat / teguran, mengajak ke gereja dan ulah ‘baik’ lainnya. Sudahkan kita lakukan peristiwa-hal itu? Jika mutakadim pertahankan, takdirnya belum mulailah semenjak sekarang.

3. Intensi KITA MEMACARKAN Kilap DUNIA

Matius 5:16 – Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu nan baik dan menghormati Bapamu yang di sorga.

Kata “BAIK” Kerumahtanggaan bahasa Yunani suka-suka dua kata yaitu “Agathos” yang berjasa sesuatu yang baik mutunya. Dan, Kalos, yang berarti sesuatu nan tidak saja baik, tetapi juga indah, menyentak lever dan n kepunyaan ki akal tarik”

Dalam Teks kita (Matius 5:16) kata “baik” menggunakan kata “Kala” yang berpokok bermula kata “Kalos” yang berarti sesuatu yang lain hanya baik, semata-mata lagi sani, menarik hati dan n kepunyaan daya tarik”

Dengan demikian sebagai khalayak beriktikad (red. Terang Bumi) ragam baik kita harus seperti magnet (mempunyai daya tarik), sasaran penutup berpunca makruf itu bertujuan seyogiannya anak adam-makhluk dapat memuliakan Tuhan, lain memuliakan diri kita seumpama terang. Itulah tujuan akhir dari kita memancarkan cerah.

Artikel – “Tujuan menjadi terang bukan supaya kita dilihat hebat. Ini yaitu spirit farisi. Harapan menjadi binar supaya Bapa di Sorga yang dipermuliakan tak diri kita…….kok demikian? Karena kita bukan sumber terang itu, kita hanya menyerikan terang yaitu Bapa sendiri” (Biarlah Terangmu Bersinar)

Matius 5:16 – Demikianlah seharusnya terangmu berlampu di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan mengagungkan Bapamu yang di sorga.

Manna Sorgawi – “Individu mayapada mengerjakan baik demi sebuah nilai personal, tetapi kita seumpama orang percaya memiliki nilai yang lebih luhur, yaitu bakal izzah Tuhan. Kita menjadikannya bagasi jawab untuk memancarkan kirana misal sebuah pelayanan lakukan kemuliaan Halikuljabbar” (Manna Sorgawi, Agustus 2022. No. 197/Perian XVII)

Stephen Tong – Manusia diciptakan bagaikan REFLEKTOR yang merefleksikan dan mewakilkan Tuhan, sehingga kemuliaan, amal, rajin rahmat dan kesucian Tuhan harus tertumbuk pandangan berusul hidup kita (Reformed 21 Channel)

Oleh karena itu sebagai manusia percaya jangan berbangga (red. Sombong) dengan segala apa yang telah kita karyakan dalam penjelajahan iman kita, melainkan tirulah teladan Yohanes Pembabtis.

Yohanes 3:30 (BIS) – Dialah yang harus makin penting, dan saya kian kurang berfaedah.

Makhluk beriktikad hanyalah alat di tangan Tuhan. Ibarat kunci (alat kerja) di tangan sang montir. Sebagus apa pula resep (gawai kerja) tersebut saat digunakan maka itu montir kerjakan menyunting mesin nan kemungkus setakat berhasil, maka di sini bukanlah kiat (alat kerja) itu yang akan membujur sanjungan (red. Pujian) melainkan si montir itulah yang beruntung penghormatan (red. Pujian). Soli Deo Gloria, “Kemuliaan hanya bagi Allah” itulah yang harus kita wujudkan.

Ini yaitu sebuah tantangan nan cukup besar berpokok Halikuljabbar, nan semestinya membuat kita berpikir secara tekun sepatutnya boleh mewujudkan semua ini, karena perumpamaan basyar suka-suka kecendrungan nan amat kuat privat diri kita agar bisa (boleh) dipuji orang.

Dalam level praktika, untuk menjalani kaidah sukma Soli Deo Gloria tidaklah mudah. Contohnya sahaja, lamun kita tahu bahwa sebagai orang beriman jasa baik nan kita pancarkan yakni semata-mata bagi Almalik dan bagi kemuliaanNya satu-satunya, tapi berulangulang seandainya tidak terserah makhluk nan perhatikan apa yang tengah kita bikin, kita seringkali menjadi kesal. Tidak pelik, kita berupaya (sadar atau tidak siuman) dengan seribu satu cara mengkomunikasikan upaya kerja keras kita pada orang bukan dengan tujuan hendaknya banyak orang boleh menurunkan simpati pada kita dan risikonya memuji kerja gigih kita lebih daripada Almalik yang dimuliakan. Ingat makruf kita lain adalah ajang pameran.

Ada nan menggambar demikian ini: “Tindakan yang dilakukan sebagai pameran enggak hanya ialah wujud dari kesombongan diri yang tak akan mengundang mujur Almalik bagi bani adam yang melakukannya, ia sekali lagi akan membuat cucu adam bukan merasa meloya dan menutup diri. Sehingga bukannya menjadi panah yang menunjukkan jalan kepada Kristus malahan dapat menjadi pengempang bagi sosok tak” (Hidup Berbuah Bagi Dunia)

Garitan: Mattew Henry mengatakan
Kamu merupakan kurat dunia

(Matius 5: 14). Keadaan ini juga memperlihatkan bahwa pesuluh-murid itu berguna, sebagaimana pada perintah sebelumnya ( — Tak cak semau yang makin berguna daripada syamsu dan garam), tetapi saja nan terang ini lebih mulia. Semua sosok Kristen merupakan terang di dalam Halikuljabbar (Efesus 5:8), dan harus bercahaya seperti tanda jasa-bintang (Filipi. 2:15), namun melayani dengan cara yang istimewa.

Kristus menyapa diri-Nya terang mayapada (Yohanes 8:12), padahal pesuluh-murid-Nya adalah antiwirawan-teman sekerja dan menerima sebagian kehormatan-Nya. Sesungguhnya sorot itu manis dan disambut kehadirannya. Terang pada hari pertama penciptaan dunia seperti itu, ketika berbunga dalam liar terbit kirana. Seperti itu pun halnya dengan terang subuh setiap musim. Demikian halnya juga dengan Injil, dan sosok-khalayak nan menyebarkannya kepada semua orang nan kepingin mendengar. Manjapada sengap intern kegelapan, dan Kristus membangunkan siswa-petatar-Nya untuk bersinar di dalamnya, dan biar dapat melakukannya, mereka meminjam dan mendapatkan kilat itu dari-Nya.

Ada sebuah lagu nan manarik, berjudul: “Apa Pujian Kerjakan Tuhan” Liriknya sebagaimana ini:

Betapapun tinggi prestasi khalayak

Semua itu atlas’na rahmat Anugrah Almalik

Kita semua adalah alat yang Kuasa

Jangan s’orang sekali lagi megahkan dirinya

Chorus:

Sgala pujian bagi Sang pencipta

Doang Allah cukup disembah

Tak s’orangpun pas megahkan diri

Kemuliaan hanya bagi Tuhan

Sgala sanjungan bikin Yang mahakuasa

Hanya Tuhan cukup disembah

Tak s’orangpun pas megahkan diri

Kemuliaan hanyalah kepada Tuhan

S’gala pujian bagi Almalik

Apakah karya baik nan kita buat (maupun terang yang kita pancarkan) berujud lakukan mengejar keagungan diri sendiri atau kah untuk kemuliaan Yang mahakuasa? Renungkan ini secara serius.

PENUTUP:

Pada bagian penghabisan ini, saya mengajak kita bagi menuding kutipan berikut ini: “keseleo satu penyakit pandemik tertua di dunia dan yang sebatas saat ini masih belum berbuntut dihapuskan adalah influensa atau influenza. Dua ribu empat dupa waktu yang dahulu Hippocrates, tabib yang sangat terkenal dari Yunani dan pribadi yang dianggap bagaikan peletak asal-dasar ilmu penyembuhan Barat, telah mengingat-ingat keberadaan ki aib yang ditularkan oleh virus ini. Ia disebut sebagai ki aib pandemik karena sebarannya nan sangat luas, sehingga meliputi hampir seluruh dunia.

Bukannya berakibat dilenyapkan, malahan di zaman maju ini unjuk berbagai variannya nan plonco seperti flu Hongkong, influensa burung dan flu nangui. Kata influenza itu sendiri berasal dari bahasa Latin, bahasa yang digunakan orang Italia, nan artinya pengaruh ataupun dalam bahasa Inggris influence. Istilah ini mereka gunakan karena sreg zaman silam makhluk mengasa bahwa seseorang terjangkiti influenza karena pengaruh astrologi maupun perbintangan yang buruk atas dirinya.

Di kemudian tahun karena perkembangan pemahaman ilmu medis istilah itu diubah menjadi influenza di freddo, atau dalam bahasa Inggris influence of the cold yang artinya dominasi dari suhu nan dingin. Dengan kata lain bila seseorang dikatakan terjangkiti influensa ataupun influenza secara harafiah sememangnya yang bersangkutan disebut sedang kejangkitan otoritas. Istilah ini mengingatkan kita kepada panggilan kita bak pengikut Kristus, yaitu buat mempengaruhi dunia seputar kita. Tanpa sedikitpun bermaksud lakukan mengatakan bahwa kekristenan merupakan sejenis ki kesulitan, namun sebagaimana penyakit flu mempunyai anak kunci tular yang sangat tinggi, demikian pula yuridiksi nyawa para pengikut Kristus semustinya mempunyai daya tular yang terlampau besar” (Spirit Berdampak Bagi Marcapada)

Dalam mayapada nan gelap karena dosa, orang berkeyakinan diharapkan dapat menjadi kilat yang bercahaya moga memiliki daya magnet (red. daya tarik) bagi orang-orang bagi datang kepada Kristus. Kristus sudah mengirimkan kita keluar dari kegelapan, dan Kamu (red. Kristus) mengatakan bahwa kita para pengikut-Nya adalah “terang dunia”. Maka, sudah seyogiannya kita mainkan peran itu dengan baik.

Vidio Ilustrasi “Surat Mulai sejak Neraka” (seseorang nan bukan bisa menjadi pendar bagi sahabatnya sampai berputih menjemput sahabatnya, penyesalan pun datang terlambat)

Apapun keadaannya tetap jadilah sinar di kerumahtanggaan dunia yang gelap ini.

Ikhtisar:

1.Kita Terang dunia nan bercahaya dengan melakukan perbuatan-widita yang dapat dilihat dan diakui anak adam.

2.Kita bintang sartan terang mayapada bukan bakal memuliakan diri, namun cak bagi menghormati Bapamu nan di sorga.

Soli Deo Gloria.

Source: https://teologiareformed.blogspot.com/2018/11/arti-kamu-adalah-terang-dunia-matius.html