Metode-Penelitian-Kuantitatif


Signifikasi Metode Penelitian Kuantitatif

Metode penelitian yang bersendikan pada metafisika positivisme, yang digunakan kerjakan meneliti sreg populasi alias sampel tertentu, teknik pengutipan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menunggangi instrument pengkhususan, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang mutakadim ditetapkan.


Baca Juga Kata sandang Yang Mungkin Berhubungan : Metode Penelitian


Filosofis Eksplorasi Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang menggantikan responsif positivisme, darurat itu penyelidikan kualitatif  merupakan pendekatan penelitian yang mengoper reaktif naturalistik (fenomenologis).  Bikin lebih memahami landasan filosofis reaktif positivisme tersebut, berikut ini akan diuraikan secara ringkas perputaran faham tersebut.


Positivisme

Positivisme yaitu persebaran metafisika yang dinisbahkan/ berusul dari  pemikiran Auguste Comte seorang folosof  nan lahir di Montpellier Perancis pada masa 1798, ia sendiri yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari pesuluh dan antiwirawan-temannya antara enggak  berasal folosof inggeris John Stuart Mill (juga koteng akhli ekonomi), ia meninggal pada perian 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh nan dituangkan internal gubahan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Tuntunan metafisika positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem strategi positif).


Salah satu buah pikirannya yang habis penting dan berpengaruh adalah adapun tiga tahapan/tingkatan jalan angan-angan manusia dalam bersemuka dengan alam segenap yaitu : tingkatan Teologi, janjang Metafisik, dan pangkat Maujud

  1. Pangkat Teologi (Etat Theologique).
    Pada tingkatan ini manusia belum bisa mencerna hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala apa kejadian dialam seberinda ialah akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan turunan cuma bersifat serah, dan nan boleh dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari beraneka rupa bencana. Tingkatan ini terdiri berbunga tiga tahapan lagi yang berevolusi merupakan dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

  2. Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique).
    Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu spesies berasal cara berfikir teologis, dimana Tuhan alias Betara-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan acuan misalnya dengan istilah kekuatan umbul-umbul. Internal tahapan ini manusia mulai menemukan kepahlawanan dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan batu dapat dicegah dengan mengasihkan berbagai macam sajian-sajian sebagai pencegah bala/bencana.


  3. Tingkatan Positif (Etat Positive).
    Lega tahapan ini orang sudah menemukan amanat yang memadai untuk menguasai alam. Jika plong tinggi permulaan manusia selalu dihinggapi rasa pening bertatap dengan alam segenap, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan nan mengatur alam semesta, maka pada tangga positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia berada menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mencerna dengan obyek nan diketahui) tunggul serta memanfaatkannya cak bagi kepentingan manusia, strata ini merupakan tahapan dimana khalayak intern hidupnya makin mengandalkan pada ilmu pengetahuan.


Dengan mencamkan tahapan-tangga seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tangga ketiga (tahapan substansial/pengetahuan aktual) terbit pemikiran
Comte.
Pangkat faktual adalah tangga tertinggi, ini berharga  dua strata sebelumnya yaitu hierarki yang terbatas dan tersisa, maka itu karena itu filsafat Positivisme merupakan makulat yang anti metafisik, tetapi fakta-fakta saja yang bisa diterima. Segala sesuatu nan bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak memiliki keistimewaan, maka dari itu karena itu nan penting dan memiliki arti hanya satu adalah mengetahui (fakta/gejala) moga siap bertindak (savoir pour prevoir).


Manusia harus memeriksa dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta jalinan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar bisa meramalkan segala apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-syariat yang berperangai riil internal arti signifikan lakukan diketahui karena benar-bersusila nyata enggak bersifat spekulasi begitu juga dalam makulat.


Filosofi penelitian kuantitatif dikembangkan oleh makulat positivisme bisa dijelaskan dari unsur-unsur dalam filsafat secara mahajana, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi yang ekspansi setiap elemen disesuaikan dengan karakteristik mantra masing-masing. Ontologi merupakan atom dalam pengembangan filsafat sebagai ilmu yang membahas tentang bahan atau materi kajian satu ilmu. Dalam kejadian ini, secara ontologis, studi kuantitatif hanya akan meneliti semua bulan-bulanan penelitian yang fertil dalam kawasan dunia empiris. Epistimologi merupakan unsur dalam pengembangan hobatan makulat yang menggosipkan bagaimana metode nan ditempuh dalam memperoleh keabsahan pengetahuan. Epistimologi yang dikembangkan internal penelitian merupakan bagaimana kaidah untuk menemukan kebenaran yang koheren ataupun konsisten. Aksiologi membicarakan adapun sistem poin suatu guna-guna secara filosofis. Internal situasi ini, eksplorasi kuantitatif menjunjung tinggi skor alamiah nan objektif yang berlaku secara umum dan mengesampingkan peristiwa-peristiwa yang berkepribadian spesifik. Diagram di bawah ini mengilustrasikan pengembangan metafisika positivisme dalam metode penelitian kuantitatif.

Filosofis Penelitian Kuantitatif


Baca Lagi Artikel Nan Bisa jadi Berhubungan : √ Penelitian Sosial: Pengertian, Definisi, Metode, Tujuan, Ciri Dan Unsurnya



Karakteristik Penelitian Kuantitatif


  • Konsep Dasar Investigasi Kuantitatif

Pemahaman konsep dasar penelitian kuantitatif bukan bisa dipahami dari satu aspek tertentu, melainkan harus ditinjau bersumber bilang aspek. Bambang Prasetya dan Lina Miftakhuljannah (2005), mengidentifikasikan konsep dasar penelitian kuantitatif digunakan sejumlah konsep, ialah pendekatan, metode, data, dan kajian (h.24-27). Keempat konsep di atas mengandung maksud secara konsisten dan ubah melengkapi dalam memahami konsep sumber akar investigasi kuantitatif. Makanya karena itu, konsep dasar penggalian dapat difahami dari bilang aspek.


  1. Pendekatan
    Pendekatan (approach) dimaksudkan satu strategi mengamankan persoalan yang menyertakan bineka komponen yang pelik. Dalam keilmuan termasuk penekanan pelalah digunakan istilah paradigma (paradigme).
    Cermin yang digunakan dalam studi kuantitatif adalah arketipe berpikir positivistis, merupakan rang nanang secara makul-hipotesis-empiris. Pencarian bukti empiris melalui pengamatan dijadikan andalan separasi masalah, karena ialah hasil penyelidikan merupakan sentral legalitas kenyataan.


  2. Metode Kuantitatif
    Metode disini menunjuk plong prosedur yang lebih berperilaku teknis untuk penajaman kuantitatif. Bagaimana mandu menjabarkan karakteristik variable dan menemukan keterkaitan antar variable pengkhususan.


  3. Data Kuantitatif
    Hasil pengamatan fakta empiri dinyatakan intern matra kuantitatif berupa bilangan, dengan digunakan prinsip bawah matematik menambah, mengurangi, mengkalikan, membagi dsb. Kemudian dilanjutkan dengan teknik statistic bagi memperoleh eceran-satuan statistic nan diperlukan.


  4. Kajian Kuantitatif
    Analisa Kuantitatif yakni perebusan data dengan digunakan metoda statistika.Statistik bisa dibedakan antara statistik deskriptf dan perangkaan inferensial.


  • Premis Pengkhususan Kuantitatif

  1.  Postulat Ontologis
    Ontologis menunjuk pada obyek ilmu baik materiil maupun formil.
  2.  Hipotesis Epistimologis
    Epistimologis dimaksudkan metode yang digunakan suatu hobatan dalam upaya memperoleh pengetahuan nan benar laksana khasanah ilmu yang bersangkutan.
  3. Presumsi Aksiologis
    Aksiologis dimaksudkan kredit (value)alias kemanfaatan guna-guna intern semangat manusia.
  4. Asumsi Hakekat Manusia
    Asumsi hakekat manusia lega prinsipnya sosok diatur oleh pola mendunia, sehingga karakteristik dan subyektivitas khalayak tidak diperhatikan.

Baca Juga Kata sandang Yang Mungkin Gandeng : Metode Pendalaman Syariat – Denotasi, Macam, Normatif, Empiris, Pendekatan, Data, Analisa, Para Pandai


Macam Metode Penelitian Kuantitatif

  • Experimental Research (Penelitian Eksperimen)
  • Penelitan Korelasi (Correlation Research)
  • Penelitian Komparasi (Causal-Comparative Design)
  • Riset Survey (Survey Research Design)

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Penelitian – Ciri, Sikap, Syarat, Pamrih, Varietas, Jenis, Para Tukang


Penerapan Penelitian Kuantitatif

1. Kapan Metode Kuantitatif Digunakan

Metode kuantitaf nan dimaksud dalam kertas kerja ini adalah metode survey dan eksperimen. Metode kuantitatif digunakan apabila:

  • Bila ki aib nan merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Penyakit adalah merupakan penyimpangan antara nan seharusnya dengan nan terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan.
  • Bila peneliti ingin mendapatkan permakluman yang luas dari suatu populasi.
  • Bila cak hendak diketahui pengaruh perlakuan/treatment tertentu terhadap yang bukan.
  • Bila peneliti berniat menguji premis penelitiannya.
  • Bila peneliti mau mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan bisa diukur.
  • Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan komoditas tertentu.

2. Kompetensi Penyelidik Kuantitatif

  1. Memiliki wawasan nan luas dan mendalam akan halnya bidang pendidikan yang akan diteliti.
  2. Bernas berbuat kajian masalah secara akurat sehingga dapat ditemukan ki aib riset pendidikan nan betul-betul komplikasi.
  3. Bakir menggunakan teori pendidikan yang tepat sehingga bisa digunakan untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan menyusun dugaan penelitian.
  4. Memahami beraneka ragam jenis metode penelitian kuantitatif, seperti mana metode survey, ekperimen, action research, expost facto, evaluasi dan R&D.
  5. Memahami teknik-teknik sampling, seperti mana probabiliti sampling dan nonprobabiliti sampling, dan kaya menghitung dan memilih jumlah sampel yang representatif dengan sampling error tertentu.
  6. Mampu menyusun instrumen baik tes atau non pembuktian lakukan mengukur berbagai variabel yang diteliti, mampu menguji validitas dan kredibilitas gawai.
  7. Gemuk mengumpulkan data dengan kuesioner, ataupun dengan temu ramah observasi, dan dokumentasi.
    h. Bila penumpukan data dilakukan oleh tim, maka harus berpunya mengorganisasikan tim peneliti dengan baik.
  8. Berpunya menyajikan data, menganalisis data secara kuantitatif buat menjawab rumusan keburukan dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan.
  9. Bakir memberikan terjemahan terhadap data hasil studi maupun hasil pengujian premis.
    k. Mampu membentuk siaran secara sistematis, dan mengemukakan hasil penelitian ke pihak-pihak yang terkait.
  10. Berharta membuat abstraksi hasil penajaman, dan membuat artikel untuk dimuat ke privat jurnal ilmiah.
    m. Berharta mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas.

3. Proses Penelitian Kuantitatif

Penyelidikan kuantitatif bertolak darii studi pendahuluan berusul sasaran nan diteliti (preliminary study) kerjakan mendapatkan nan benar-benar masalah. Masalah tidak dapat diperoleh dari birit meja, makanya karena itu harus digali menerobos studi pendahuluan melangkahi fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali keburukan dengan baik, maka pengkaji harus menguasai teori melalui mmbaca berjenis-jenis referensi. Selanjutnya meski masalah boleh dijawab maka dengan baik masalah tersebut dirumuskan secara spesifik, dan lega umumnya dibuat intern bentuk kalimat tanya.


Lakukan menjawab rumusan keburukan yang sifatnya sementara (berhipotesis) maka, peneliti dapat membaca referensiteoritis yang relevan dengan penyakit dan berfikir. Selain itu reka cipta penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan umpama bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan kebobrokan penyelidikan (dugaan). Jadi kalau jawaban terhadap rumusan problem yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian secara empiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis.


Bagi menguji hipotesis tersebut pendalaman boleh mengidas metode/ strategi/ pendekatan/ desain penggalian yang sesuai. Pertimbangan ideal buat memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan setia yang dikehendaki. Sementara itu pertimbangan praktis, adalah tersedianya dana, waktu, dan akomodasi yang lainnya. Dalam penekanan kuantitatif metode yang bisa digunakan ialah metode survei, expost facto, eksperimen, evaluasi, action research, policy research (selain metode naturalistik dan rekaman).


Radas yang digunakan laksana perangkat pengumpul data bisa berbentuk tes, jajak pendapat/ kuesioner, lakukan pedoman waawancara atau observasi. Sebelum radas digunakan untuk penimbunan data, maka peranti penelitian harus terlebih lampau diuji validitas dan realibilitasnya.


Reklamasi data dilakukan pada objek tertentu, baik nan berbentuk populasi ataupun sampel. Bila peneliti cak hendak membuat rampatan terhadap penemuannya maka spesimen yang diambil harus representatif (mengambil alih).
Sesudah data terpusat, maka selanjutnya dianalisis bakal menjawab rumusan ki aib dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau dituruti ataupun apakah kreasi itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tak.


Penali adalah persiapan terakhir dari satu hari penelitian nan berupa jawaban terhadap rumusan keburukan.
Bersendikan proses penelitian kuantitatif di atas maka terbantah bahwa proses pendalaman kuantitatif berkarakter linier, di mana langkah-langkahnya jelas, mulai berpunca rumusan ki aib, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data, dan mewujudkan inferensi dan saran.

Proses Penelitian Kuantitatif


Baca Pun Artikel Nan Mungkin Berhubungan : Perbedaan Kualitatif Kuantitatif – Signifikasi, pendekatan, tipe, Penelitian, Desain


Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah lalu mentradisi sebagai metode studi. Metode kuantitatif sebagai metode ilmiah karena n kepunyaan pendirian – kaidah ilmiah yakni empiris, obyektif, terhitung, makul dan sistematis. Metode kuantitatif kembali disebut metode discovery karena dengan memperalat metode ini ditemukan dan dikembangkan metode baru. Sedangkan disebut kuantitatif karena data penelitian berupa angka – skor dan kajian menggunakan perangkaan.


Penggunaan metode kuantitatif tidak dapat dilepaskan pecah pemikiran positivisme. Keagamaan asal berpokok paradigma positivisme berakar pada reseptif ontologi faktualisme yang menyatakan bahwa realitas berada
(exist) privat kenyataan dan bepergian sesuai dengan hukum liwa (natural law). Investigasi berupaya mengungkap validitas relitas yang suka-suka, dan bagaimana realitas tersebut sebenarnya berjalan.


Fry (1981, dalam Ahmad Sonhadji, et al, 1996) membedakan nisbah antara paradigma penenelitian kualitatif dan kuantitatif , seperti boleh dilihat dalam Tabel berikut.

Tabel Perbandingan eksemplar kualitatif dan kualitatif

             Konseptual Kualitatif

       Konseptual Kuantitatif

Menyarankan eksploitasi metode kualitatif Menyorongkan eksploitasi metode kuantitatif
Fenomelogisme dan
verstehen
dikaitkan dengan pemahaman perilaku orang dari
frame of reference
aktor itu sendiri
Ilmu mantik positivisme:”Melihat fakta atau kasual fenomena sosial dengan kurang melihat bakal pernyataan subyektif individu-individu”
Observasi tidak terkontrol dan naturalistik Pengukuran terkontrol dan menonjol
Subyektif Obyektif
Dekat dengan data:merupakan perspektif “insider” Jauh dari data: data yaitu perspektif “outsider”
Grounded,
orientasi diskoveri, eksplorasi, ekspansionis, deskriptif, dan induktif
Tidak
grounded, orientasi tes, konfirmatori, reduksionis, inferensial dan deduktif-hipotetik
Orientasi proses Orientasi hasil
Kredibel: data “betulan, “rich, dan “deep” Reliabel:data bisa direplikasi dan “hard
Enggak bisa digeneralisasi:studi kasus khusus Dapat digeneralisasi:studi multi kasus
Holistik Partikularistik
Asumsi realitas dinamik Asumsi realitis stabil

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif

Pengaruh Penerapan Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan

Terhadap Prestasi Sparing Petatar Papan bawah 4,5,6 SDN Aengtongtong

Kecematan Saronggi Kabupaten Sumenep Tahun 2009 M


A. Latar Belakang Masalah

Allah menciptakan hamba allah dengan dibekali berbagai macam diversifikasi pikiran (feeling). Salah satunya yakni perasaan “Mau Adv pernah (idle courocity)” dan perasaan “Tidak Plong” terhadap sesuatu yang ia miliki. Dengan rasa keingintahuannya ia berusaha untuk mendapatkan berbagai rupa macam informasi yang banyak, dan dengan rasa ketidakpuasannya ia ingin n kepunyaan sesuatu nan lebih. Manusia adalah makhluk nan dinamis, dan bercita-cita kepingin meraih usia yang cemerlang, sejahtera, dan bahagia internal guna yang luas, baik jasmaniah maupun bathiniah, duniawi dan ukhrawi.


Namun cita-cita tersebut tidak mungkin tercapai dan terwujud takdirnya makhluk itu sendiri tidak berusaha seoptimal mungkin internal meningkatkan kemampuannya melalui proses kependidikan, karena proses kependidikan yakni satu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan nan matang lakukan mencapai harapan alias cita-cita tersebut.


Pendidikan yakni yang utama dan terutama didalam hayat era masa sekarang ini. Sejauh kita memandang maka sepanjang itu pulalah kita harus memperlengkapi diri kita dengan bermacam rupa pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bahkan mutlak bagi manusia dalam bagan merubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik dan melekat. Tanpa pendidikan terkadang tidak-tidak mereka dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) buat maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandang semangat mereka.


Internal kaitannya dengan pendidikan, Lodge (dalam Zuhairini, 2004:10) mengemukakan pengertian pendidikan privat faedah yang luas, merupakan
“life is education,
and education is life“, akan berarti bahwa seluruh proses hidup dan semangat khalayak itu adalah proses pendidikan. Jadi pendidikan bagi manusia adalah kebutuhan sepanjang hidupnya yang dapat menyerahkan pengaruh baik dalam menata masa depan yang cemerlang, sejahtera dan bahagia.


Selanjutnya internal arti yang sempit Lodge menjelaskan pengertian pendidikan sebagai berikut :

“ in the narrower sense, education is restricted to that functions, its background, and its outlook to the member of the rising generations. In practice identical with schooling, i.e. stereotip instruction under controlled conditions “.


Dalam fungsi yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang kurang, yaitu menyerahkan dasar-dasar dan sikap hidup ke generasi yang menengah tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam keadaan dan kondisi serta mileu belajar yang serba terkontrol.


Dengan signifikansi pendidikan diatas, bisa kita pahami bahwa pendidikan formal di sekolah hanyalah bagian boncel saja mulai sejak pada pendidikan informal secara awam, tapi pendidikan formal merupakan pendidikan inti yang sangat urgen dan tidak bisa lepas kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan formal n kepunyaan beberapa kelebihan dibandingkan dengan pendidikan informal intern lingkungan batih.

  • Permulaan,
    pendidikan formal di sekolah n kepunyaan jangkauan isi pendidikan nan kian luas, bukan belaka berkenaan dengan pembinaan segi-segi moral saja juga hobatan pengetahuan dan keterampilan.

  • Kedua,
    pendidikan di sekolah dapat memberikan pengetahuan yang kian tinggi, lebih luas dan sungguh-sungguh. Sejarah pendidikan sekolah diawali karena ketidakmampuan keluarga mengasihkan maklumat dan kelincahan yang lebih strata dan benar-benar.


  • Ketiga,
    karena memiliki rancangan ataupun kurikulum secara formal dan termasuk, pendidikan di sekolah dilaksanakan secara berencana, sistematis, dan lebih mendasar. (Sukmadinata, 2009:2). Jadi pendidikan formal lebih bersifat sistematis dan patuh berdasarkan berbagai rukyah teoritikal dan praktikal sejauh perian sesuai dengan kebutuhan peserta jaga. Sehingga  secara publik pendidikan dapat menyasarkan pesuluh bimbing terhadap kenaikan pemilikan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, peluasan sikap dan ponten-skor dalam kerangka pembentukan dan peluasan diri siswa didik tersebut, dan tujuan pendidikan yang meliputi keistimewaan, kemaslahatan dan kesejahteraan peserta didik dan masyarakat bahkan petisi lapangan kerjapun akan mudah terjangkau.


Pendidikan juga suatu proses pengajian pengkajian. Sebab lega kenyataannya proses pendidikan nan dilaksanakan diberbagai lembaga pendidikan banyak dilakukan bahkan enggak belas kasihan berpunca apa yang namanya proses berlatih mengajar. Internal keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar yakni kegiatan yang paling pusat. Situasi ini berarti bahwa berakibat tidaknya pencapaian maksud pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses membiasakan mengajar yang dirancang dan dijalankan secara professional (Fathurrahman, 2007:8). Sehingga boleh dikatakan bahwa belajar mengajar tak bisa disepelekan dan diabaikan kerumahtanggaan dunia pendidikan.


Salah satu propaganda lakukan kondusif tercapainya tujuan pendidikan perlu dibuat sebuah kurikulum pendidikan yang nilai relevansinya tinggi, atau kesesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. Kurikulum (curriculum) merupakan satu rencana yang memberi pedoman ataupun pegangan n domestik proses kegiatan belajar mengajar (Sukmadinata, 2009:5). Kurikulum mempunyai kursi kunci dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum juga merupakan onderdil pendidikan yang menujukan apa susuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan dan seumpama arketipe dalam setiap asongan pendidikan. Karena kurikulum ini sifatnya urgen maka dibutuhkan pikiran idiosinkratis dalam pelaksanaan dan pengembangannya sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah, sosial budaya masyarakat dan karakteristik pelajar. Upaya ekspansi kurikulum yang senantiasa dilakukan oleh pemerintah dari tahun ke masa berputra sebuah kurikulum yunior yang merupakan ekspansi kurikulum sebelumnya, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).


KTSP adalah suatu ide tentang peluasan kurikulum nan diletakkan sreg posisi yang minimal dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan eceran pendidikan (Mulyasa, 2007:21). Paradigma mentah ini memberikan otonomi luas lega setiap ketengan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam lembaga mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah.


Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ini seorang guru dituntut cak bagi produktif memungkiri sumur pembelajaran (Learning Resource) menjadi bahan ajar (Teaching Material), sehingga materi yang diajarkan kepada peserta pelihara  tak monoton pada sosi yang menjadi pegangan di sekolah tersebut serta peristiwa ini akan mengurangi kejenuhan siswa momen berlatih. Dengan demikian proses pembelajaran akan berlanjut dengan baik, hawa bisa memberikan latihan dengan sasaran ajar dan metode yang variatif sehingga petatar didik merasa nyaman dan materi yang diajarkan menarik cak bagi dipahami yang puas akhirnya peserta didik bisa terhindar berasal kejenuhan. Jika kejadian ini terjadi disetiap proses belajar mengajar diberbagai lembaga pendidikan maka intensi penataran bisa terulur pun, yakni kesadaran optimal, penguasaan, aplikasi yang akurat sehingga tatanan kognitif, afektif dan psikomotorik akan stabil sebagaimana yang diharapkan tenaga edukatif pada umumnya.


Ketiga sunyi penilaian tersebut ialah faktor determinan untuk menentukan sukses tidaknya prestasi belajar pesuluh kerumahtanggaan sebuah pembelajaran yang mengacu pada sistem pembelajaran KTSP. Kurikulum Tingkat Ketengan Pendidikan (KTSP) merupakan strategi pengembangan kurikulum lakukan mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. (Mulyasa, 2007:20).


Performa merupakan hasil yang memuaskan dari barang apa manuver nan dicapai orang secara maksimal. Sedangkan berlatih adalah serangkaian kegiatan jiwa fisik untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku bagaikan hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya nan menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Djamarah, 2008:13).


Sementara yang dimaksud dengan prestasi belajar yaitu penyerobotan pengetahuan maupun ketangkasan yang dikembangkan maka dari itu mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan ponten tes ataupun poin biji yang diberikan oleh guru (Tu’u, 2004:75). Padahal menurut W.J.S Purwadarminto (1976:767) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sesegak-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap peristiwa-hal yang dikerjakan atau dilakukan. Berdasarkan pendapat tersebut, dalam penelitian ini prestasi membiasakan siswa bisa diketahui berpunca angka raport siswa didik nan meliputi ketiga aspek diatas sebagai hasil dari sebuah pembelajaran di sekolah.


Kaprikornus pertambahan prestasi belajar siswa nan meliputi ketiga nyenyat tersebut (serebral, afektif, psikomotorik), yakni orientasi yang diprioritaskan kerumahtanggaan ekspansi kurikulum tingkat satuan pendidikan diberbagai sekolah. Sehingga penulis merasa tertambat bagi melakukan penelitian lebih mendalam dengan mengangkat kop “Pengaruh Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terhadap Prestasi Sparing Siswa Kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong Kecamatan Saronggi Masa 2009 “.


B. Rumusan Masalah

Merujuk sreg paparan diatas, maka diambil beberapa rumusan masalah kepentingan pembahasan bagaikan batasan penelitian, antara tidak :


  1. Apakah penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan berpengaruh terhadap performa belajar siswa kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong?
  2. Sejauhmana otoritas penerapan kurikulum tingkat asongan pendidikan terhadap prestasi berlatih siswa kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong?

C. Maksud Penelitian

Tujuan penelitian yakni rumusan mengenai hal nan akan dicapai oleh kegiatan penelitian (Dhofir, 2000:21).
Berdasarkan persoalan diatas maka tujuan yang mau dicapai privat penulisan skripsi ini yaitu :


  1. Mau mengetahui ada tidaknya kontrol penerapan kurikulum tingkat ketengan pendidikan terhadap prestasi belajar petatar inferior 4,5,6 SDN Aengtongtong.
  2. Kepingin memafhumi sejauhmana pengaruh penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan terhadap penampilan belajar siswa kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong.

D. Kegunaan Riset

Kegunaan riset adalah follow up penggunaan informasi nan tertera kerumahtanggaan kesimpulan (Dhofir, 2000:21)
Dari setiap penelitian yang dilakukan dipastikan dapat memberi manfaat baik cak bagi bulan-bulanan, atau pemeriksa khususnya dan juga bagi seluruh onderdil nan terlibat didalamnya. Kepentingan alias nilai guna yang dapat diambil dari penulisan skripsi ini adalah :


  1. Segi Teoritis
    a. Bagi ekspansi ilmu laporan khususnya dalam disiplin pendidikan bahwa penerapan dan ekspansi kurikulum sangat dibutuhkan intern proses berlatih mengajar nan efektif di lembaga pendidikan sesuai dengan kompetensi nan mau dicapai.
    b. Bagi memperketat teori bahwa penerapan dan pengembangan kurikulum nan baik boleh memicu kreatifitas siswa dalam berprestasi.


  2. Segi Praktis
    a. Dengan adanya penerapan dan pengembangan kurikulum yang baik bisa membuat lembaga pendidikan yang efektif, produktif, dan berprestasi, serta dapat meningkatkan kreatifitas siswa dalam berprestasi khususnya di SDN Aengtongtong.
    b. Sebagai bahan munaqosyah dan sasaran dokumen kerjakan penelitian selanjutnya.


E. Alasan Pemilahan Judul

Alasan penulis mengangkat judul ini ialah karena n kepunyaan dua alasan, adalah :

  1. Secara Subjektif
    a. Lokasi penggalian yang boleh dijangkau dengan mudah
    b. Pada tahun ini kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) telah diberlakukan disetiap runcitruncit pendidikan termasuk di SDN Aeng tongtong
    c. Judul penelitian sesuai dengan ketaatan ilmu yang diambil makanya peneliti yakni Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

  2. Secara Objektif
    a. Sejauh pengamatan carik, judul ini belum pernah cak semau nan meneliti
    b. Keberhasilan dalam berlatih yakni idaman setiap orang, karena itulah wajib kejelasan kaidah meraih sukses melalui penelitian
    c. Penelitian ini akan bermanfaat sekali untuk peluasan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan terhadap kreatifitas peserta berprestasi n domestik belajar di SDN Aengtongtong


F. Postulat atau Postulat

Asumsi alias anggapan sumber akar disebut sekali lagi postulat. Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad M. Sc., Anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran nan kebenarannya diterima maka itu pemeriksa (Dhofir, 2000:23). Namun kejadian ini masih membutuhkan penelitian selanjutnya. Sebelum penelitian ini dilakukan ada bilang anggapan dasar yang muncul baik berpangkal diri peneliti pribadi atau bermula orang lain ataupun berbunga pegiat pendidikan.


  1. Kurikulum Tingkat Rincih Pendidikan (KTSP) ialah salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan kemandirian kepada sekolah dan rincih pendidikan bikin berekspansi kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan dan kebutuhan masing-masing (Mulyasa, 2007:21).


  2. Kurikulum Tingkat Asongan Pendidikan (KTSP) ialah strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi (Mulyasa, 2007:20).


  3. Kinerja belajar adalah situasi yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan berlatih, karena kegiatan membiasakan merupakan proses, sedangkan prestasi ialah hasil berpokok proses membiasakan (http://sunartombs.wordpress.com /2009/05/15/PAKEM Science fu).


  4. Menurut perekam, penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berdasarkan puas karakteristik dan potensi petatar di sekolah, memungkinkan dapat memicu dan menyegerakan terhadap performa belajar petatar secara optimal.


G. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan seumpama suatu gambaran yang berperangai provisional terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melangkahi data yang terkumpul (Arikunto, 1998:67).
Karena problem nan diteliti ini adalah propaganda bakal mencari suka-suka tidaknya pengaruh, maka ada dua hipotesis yang muncul, ialah :


  1. Hipotesis Kerja (Ha)
    Adanya pengaruh penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan terhadap manifestasi membiasakan siswa kelas bawah 4,5,6 SDN Aengtongtong
  2. Hipotesis Zero (Hi)
    Tidak ada pengaruh penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan terhadap penampilan belajar siswa kelas 4,5,6 SDNAengtongtong

H. Ruang Cak cakupan Penelitian

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami isi skripsi ini, maka penulis perlu membatasi ruang lingkup penajaman sebagai berikut :


1. Ruang Lingkup Materi
Adapun yang menjadi pokok persoalan internal penggalian ini yaitu penerapan kurikulum tingkat eceran pendidikan (KTSP) terhadap penampakan berlatih siswa kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong kecamatan saronggi kabupaten sumenep.


Maka bagi mempermudah pencatat kerumahtanggaan membahas penelitian ini, wajib kiranya penulis membuat batasan ruang skop materi. Mengenai persoalan yang menjadi kajian pokok privat penelitian ini adalah terdiri dari dua variable, ialah :

Variabel X : Penerapan Kurikulum Tingkat Ketengan Pendidikan (KTSP)

No

Sub Elastis

Indikator

01 Penerapan KTSP 1.      Prinsip Pelaksanaan

2.      Prinsip Ekspansi KTSP

3.      Pengembangan Program

02 Pelaksanaan Penelaahan 1.      Pre Test

2.      Pembentukan Kompetensi

3.      Post Test

Variable Y : Prestasi Belajar

No

Sub Variabel

Indikator

01 Hasil raport –          Dicari angka dalam raport

2. Ruang Lingkup Subjek
Subjek penelitian yaitu sesuatu yang menjadi kajian sosi penelitian. Maka bermula ini nan menjadi subjek ialah pesuluh kelas bawah 4,5,6 SDN Aengtongtong kecamatan saronggi kabupaten sumenep.


3. Ira Skop Lokasi
Lokasi adalah tempat sesuatu berada. Maka dalam hal ini adalah tempat subjek berada. Jadi lokasi penekanan ini adalah di desa Aengtongtong kecamatan saronggi kabupaten sumenep.


4. Ruang Lingkup Waktu
Hari yakni masa kapan terjadinya sesuatu. Dalam hal ini tahun penelitian adalah plong tahun 2009 M.


I. Batasan Istilah intern Judul

Judul penekanan ini adalah “Pengaruh Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terhadap Penampakan Berlatih Pesuluh Kelas 4,5,6 SDN Aengtongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Musim 2009 M “. Sedangkan untuk memperjelas harapan dari judul tersebut dan dalam upaya buat pergi kesalahpahaman serta kekeliruan penafsiran tentang judul tersebut, maka penyadur ketengahkan arti kata alias istilah yang terwalak dalam judul yang berdasarkan lega pengertian internal kamus dan barometer denotasi awam yang bertindak dengan batasan-batasan.
Prolog dan istilah yang perlu penulis ketengahkan sebagai berikut :


  1. Supremsi : Sentral yang ada ataupun yang ketimbul dari sesuatu (basyar, benda dsb) yang berwenang atau nan berkemampuan (ghaib dsb). (Purwadarminto, 1976:731).
  2. KTSP : Adalah kurikulum operasional nan disusun oleh dan dilaksanakan dimasing-masing ketengan pendidikan (BNSP, 2006:10).
  3. Prestasi : Adalah hasil nan telah dicapai (dilakukan, diselesaikan dan sebagainya) (Purwadarminto, 1976:768).
  4. Belajar : Merupakan serangkaian kegiatan spirit raga untuk memperoleh satu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari camar duka insan dalam interaksi dengan lingkungannya nan menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Djamarah, 2008:13).

J. Analisis Pustaka

1. Tinjauan Teoritis akan halnya Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
a. Signifikansi Kurikulum dan Kurikulum Tingkat Ketengan Pendidikan
Pengertian Kurikulum
Sebelum pencatat memaparkan denotasi kurikulum tingkat runcitruncit pendidikan bukan main lebih baiknya apabila dabir membentangkan pengertian kurikulum nan dikemukakan oleh para tukang pendidikan. Plong zaman yunani bersejarah, kurikulum dianggap sebagai koleksi mata-mata kursus yang harus disampaikan guru atau dipelajari maka dari itu siswa. Tambahan pula dalam ligkungan atau wasilah tertentu pandangan lama ini masih dipakai sampai sekarang. Banyak ibu bapak bahkan kembali guru-master kalau ditanya tentang kurikulum akan mengasihkan jawaban selingkung bidang studi maupun mata-mata kursus. Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan sekadar sebagai isi tuntunan.


Pendapat-penadapat yang muncul seterusnya dari sebagian tukang yang mengartikan kurikulum privat signifikasi yang lebih luas, merupakan “Segala apa aksi yang dilakukan maka dari itu sekolah buat memperoleh hasil yang diharapkan n domestik kejadian didalam maupun diluar sekolah”, alias sejumlah pengalaman nan potensial dapat diberikan oleh sekolah dengan harapan agar anak dan pemuda dibiasakan nanang dan berbuat menurut gerombolan atau masyarakat tempat ia usia”, yang kemudian lebih dipersingkat seumpama “Satu pendirian mempersiapkan momongan-momongan lakukan berpartisipasi sebagai anggota nan congah dalam umum”, atau “segala kegiatan dibawah barang bawaan jawab sekolah nan mempengaruhi anak asuh intern pendidikannya” (Alipandie, 1984:117).


Pengertian diatas boleh dipahami bahwa pendidikan tidak hanya tekor plong dinding-dinding kelas belaka, melainkan lebih diperluas lagi pada luar sekolah. Bahkan suka-suka pula yang berpendapat bahwa segala sesuatu yang memiliki dampak positif terhadap tingkah laku peserta didik baik yang nomplok dari sekolah, batih maupun mahajana dapat dipandang bagian dari kurikulum.


Hal ini selaras dengan penafsiran Ronald C. Doll (Dalam Sukmadinata, 2009:4) yang menyatakan :
The commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of courses of study and list of subjects and courses to all the experiences which are offered to learners under the auspices or direction of the school…


Definisi Doll ini tidak tetapi menunjukkan adanya persilihan eksplorasi dari isi kepada proses ataupun lebih memberikan tekanan pada asam garam, hanya juga menunjukkan adanya perubahan radius bersumber konsep yang habis sempit kepada yang makin luas. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud asam garam siswa dalam belajar yang diajarkan atau menjadi tanggug jawab sekolah mengandung makna yang cukup luas, yaitu mencakup berbagai ragam upaya guru kerumahtanggaan mendorong terjadinya camar duka tersebut dan memfasilitasinya.


Dalam kaitannya konsep kurikulum yang ditegaskan maka dari itu Ronald Doll, Mauritz Johnson masih dalam kancing nan sama mengajukan keberatan terhadap apa yang dikemukakan oleh Doll. Kemudian Johnson membedakan dengan tegas antara kurikulum dengan pengajaran. Semua yang berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan, sama dengan perencanaan isi, kegiatan belajar-mengajar, evaluasi, termasuk pengajaran. Sedangkan kurikulum hanya berkenaan dengan hasil-hasil sparing yang diharapkan oleh peserta.


Berlainan dengan Hilda Taba, dia berpendapat bahwa ada perbedaan antara kurikulum dan pencekokan pendoktrinan, menurutnya bukan terletak pada implementasinya tetapi lega keluasan cakupannya. Kurikulum berkenaan dengan cakupan maksud isi dan metode yang makin luas atau bertambah masyarakat, sedangkan nan lebih sempit dan kian khusus menjadi tugas pengajaran (Sukmadinata, 2009:6).


Bagaimanapun rumusan-rumusan pengertian kurikulum diatas, jelaslah bahwa kurikulum harus dipandang misal suatu program nan direncanakan dan dilaksanakan lakukan hingga ke maksud pendidikan dan indoktrinasi.
Sedangkan menurut BSNP (Jasmani Standar Kewarganegaraan Pendidikan), definisi kurikulum adalah semberap rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan alamat kursus serta cara yang digunakan sebagai pedoman tata kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BNSP,2006:7).
Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Dalam Regulasi Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan pasal 1 ayat 15, kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan dimasing-masing ketengan pendidikan (Muslich, 2008:4).


KTSP adalah singkatan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan nan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/negeri, karakteristik sekolah/negeri, sosial budaya mahajana setempat, dan karakteristik pesuluh bimbing.


KTSP juga ialah eksemplar dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (kognitif, psikomotorik, dan afektif) intern seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Disamping itu pengembangan kurikulum ini diupayakan dapat mengasihkan wawasan baru terhadap sistem nan bepergian selama ini, dan juga dapat membawa dampak terhadap peningkatan tepat guna dan efektivitas performa sekolah, khususnya n domestik meningkatkan kualitas pembelajaran diberbagai sekolahan.
Penerapan kurikulum 2006 (KTSP) ini menuntut pengorganisasian dan kerja sama para pelajar jaga yang lebih banyak dalam proses pembelajaran. Struktur kurikulum tingkat ketengan pendidikan berbeda dengan kurikulum sebelumnya, KTSP dirancang sedemikian rupa, sehingga tidak ada juga jam efektif yang begitu mencolok banyaknya. Kurikulum sebelumnya, sebagian alat penglihatan pelajaran memiliki waktu yang banyak, sebagian mata pelajaran yang lain memiliki tahun sedikit dengan alasan urgen dan padatnya materi.


Penekanan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bukan mengejar sasaran materi belaka mengintensifkan proses dalam pendedahan dan mengembangkan kompetensi peserta didik, apalah kepentingan bila materi teraih dengan proses yang lain maksimal akan hanya dengan proses pembelajaran yang maksimal akan membuahkan hasil (out put) nan berkualitas.


Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ini sengaja disusun maka itu tiap-tiap satuan pendidikan kendati terasa lebih familiar dengan temperatur, karena mereka banyak dilibatkan dan akan merasa mempunyai muatan jawab nan memadai.  Dalam KTSP pengembangan kurikulum ini dilakukan maka itu master, pengarah sekolah, serta komite sekolah dan dewan pendidikan. Dan dalam pengembangannya harus berdasarkan rencana dasar kurikulum dan kriteria kompetensi lulusan (SKL), tanpa lepas dari Supervisi Dinas Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab dibidang pendidikan tersebut.


b. Keterkaitan antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Penyempurnaan kurikulum yang membenang merupakan prakondisi semoga sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif (Mulyasa, 2007:9).


Kurikulum tingkat eceran pendidikan merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang diterapkan sejak hari 2004, sehingga belum lama KBK diterapkan mutakadim diganti dengan KTSP yang dianggap sebagai kurikulum baru waktu 2006 ini. Karena itu muncul istilah plesetan dikalangan aktivis dan pelaku pendidikan di sekolah, sebagaimana KBK abreviasi dari kurikulum berbasis kebingungan dan lainnya. Dan terkait dengan kurikulum KTSP ini Badan Standar Kewarganegaraan (BSNP) sudah merumuskan panduan penyusunannya tersebut. Sedangkan KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan akan halnya kompetensi dan hasil belajar, serta memberdayakan sumber ki akal pendidikan. Kurikulum ini disebut KBK karena menggunakan pendekatan kompetensi, dan kemampuan minimal yang harus dicapai oleh pesuluh tuntun pada setiap tingkatan inferior dan pada akhir eceran pendidikan dirumuskan secara eksplisit. Disamping itu, dirumuskan pun materi standar cak bagi mendukung pencapaian kompetensi dan penanda bagaikan tolak ukur terhadap pencapaian hasil pembelajaran.


Berdasarkan pemaparan diatas, perbedaan esensial antara KTSP dan KBK tak terserah. Kedua-duanya adalah selengkap rencana pendidikan yang berorientasi pada kompetensi dan hasil berlatih murid asuh. Namun perbedaan nampak sreg teknis pelaksanaannya hanya. KBK disusun oleh pemerintah pusat yang n domestik keadaan ini merupakan Depdiknas, padahal KTSP disusun oleh tingkat satuan pendidikan masing-masing, yakni sekolah yang berkepentingan walaupun masih didasarkan pada tonggak-rambu nasional panduan penyusunan KTSP yang disusun oleh Raga Independen, merupakan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dengan harapan, jikalau pada perian-hari sebelumnya tiap-tiap runcitruncit sekolah tercantol sesak didikte dari atas, maka dengan otonomi yang luas ini penerapan dan ekspansi kurikulum tingkat eceran pendidikan puas berjenis-jenis sekolahan berharta memberikan nuansa-nuansa hijau sesuai dengan karakteristik sekolah itu seorang, sehingga dapat babaran keunggulan-keunggulan kompetitif dan komparatif.


c. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Runcitruncit Pendidikan (KTSP)
N domestik Mulyasa (2007:247) dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, kurikulum tingkat asongan pendidikan sedikitnya memperhatikan tujuh prinsip, diantaranya :

  • 1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, jalan dan kondisi peserta bimbing untuk memecahkan kompetensi nan berguna cak bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan peladenan pendidikan nan bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara nonblok, dinamis dan menyenangkan.

  • 2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu :
    a. Belajar bagi beriktikad dan bertakwa kepada Tuhan Nan Maha Esa,
    b. Belajar untuk memahami dan menjiwai,
    c. Membiasakan untuk mampu melaksanakan dan mengamalkan secara efektif,
    d. Belajar bikin kehidupan bersama dan penting cak bagi bani adam tidak,
    e. Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melintasi proses penataran yang efektif, aktif, bakir, dan menyenangkan.


  • 3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan murid jaga membujur peladenan yang berperilaku reformasi, pengayaan, dan ataupun akselerasi sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan kukuh kecam keterpaduan pengembangan pribadi pelajar bimbing yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.


  • 4. Kurikulum dilaksanakan kerumahtanggaan suasana perikatan siswa didik dan pendidik nan saling menerima dan menghargai, erat, terbuka, dan pesam, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun kehendak, ing ngarsa sung tulada (di belakang mengasihkan daya dan kebaikan, di tengah membangun atma dan prakarsa, di depan memasrahkan contoh dan teladan).


  • 5. Kurikulum dilaksanakan dengan menunggangi pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi nan memadai, dan memanfaatkan mileu selingkung bagaikan sumber belajar.


  • 6. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi kalimantang, sosial dan budaya serta kekayaan daerah bakal keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh korban amatan secara optimal.


  • 7. Kurikulum yang mencengam seluruh onderdil kompetensi mata tutorial, tanggung domestik dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keadilan, keterkaitan, dan kesinambungan yang seia dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.


d. Prinsip Peluasan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kompleks, dan melibatkan berbagai komponen, yang menuntut keterampilan teknis dari pihak pengembang terhadap pengembangan heterogen onderdil kurikulum. Disamping itu dalam peluasan KTSP ini harus mencela tujuh prinsip pengembangan, diantaranya (Privat Muhaimin, 2008:21) :


  • a. Berpusat puas potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kebaikan peserta didik dan lingkungannya.
  • b. Beraneka ragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan pluralitas karakteristik peserta ajar, kondisi provinsi, jenjang dan macam pendidikan, serta menghargai dan tidak hati-hati terhadap perbedaan agama, suku, budaya, tradisi, martabat sosial ekonomi, dan jender.
  • c. Tanggap terhadap jalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas radiks kesadaran bahwa ilmu permakluman, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis.
  • d. Relevan dengan kebutuhan hidup. Ekspansi kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kemujaraban (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, teragendakan didalamnya usia kemasyarakatan, dunia propaganda dan dunia kerja.
  • e. Menyeluruh dan terus-menerus. Gana kurikulum mencengam keseluruhan format kompetensi, bidang kajian saintifik dan mata tutorial yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua panjang pendidikan.
  • f. Sparing sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan pesuluh jaga yang berlangsung selama hayat nan berkaitan dengan unsur-zarah pendidikan formal, nonformal, dan informal.
  • g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan menaruh perhatian guna nasional dan kemujaraban distrik bagi membangun roh bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • e. Pengembangan Programa

Upaya pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai macam ekspansi program. Internal (Mulyasa, 2007:249) dijelaskan bahwa pengembangan KTSP mencakup peluasan program tahunan, program semester, acara modul (pokok bahasan), acara mingguan dan harian, pengayaan dan remedial, serta program pimpinan dan konseling.


  • a. Program Tahunan
    Acara tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran di setiap inferior yang dikembangkan maka dari itu temperatur mata kursus tersebut. Acara ini perlu disusun dan dipersiapkan serta dikembangkan sebelum waktu ajaran, karena acara ini yaitu pedoman lakukan peluasan program berikutnya.


  • b. Program Semesteran
    Program semesteran berisikan garis-garis tentang hal-situasi nan akan dilaksanakan dan dicapai kerumahtanggaan setiap semester. Acara ini merupakan penjabaran berasal programa tahunan.


  • c. Program Mingguan dan Harian
    Program ini yaitu penjabaran dari program semesteran. Melangkaui program ini kita dapat mengarifi tujuan-tujuan yang telah dicapai dan nan perlu diulang, serta dapat mengidentifikasi kemajuan peserta tuntun dalam berlatih dan kesulitannya. Sehingga nantinya kita dapat menemukan solusi pemecahannya dan kesulitan nan dihadapi pelajar tuntun dapat tertanggulangi.


  • d. Program Pengayaan dan Remedia
    Acara ini dilaksanakan sebagai media apendiks dan tindak lanjut dari analisis yang dilakukan guru indra penglihatan tuntunan untuk peserta didik kerumahtanggaan proses pembelajaran sekolah dan guru perlu memberikan perlakuan khusus buat peserta jaga yang mengalami kesulitan belajar dengan melalui kegiatan remedial. Dengan ini siswa bimbing akan konsisten berbintang terang kesempatan untuk memaklumi pelajaran dengan makin baik. Sedangkan pengayaan diberikan kepada siswa nan memiliki kemampuan cemerlang privat menangkap pelajaran serta bagi mempertahankan kecepatan belajarnya.


  • e. Programa Pimpinan dan Konseling
    Program ini merupakan suatu program yang disediakan sekolah bakal membantu mengoptimalkan urut-urutan petatar (Sukmadinata, 2004:233). Program ini yakni teknik didikan yang menjadi sasarannya bukan namun terjadinya perubahan tingkah laku, sahaja situasi nan lebih mendasar dari itu, yaitu perubahan sikap. Disamping itu arahan dan konseling ini berusaha kondusif pelajar jaga dalam memaklumi dirinya, mengenal dan menunjukkan arah perkembangan dirinya, menyetimbangkan diri dengan tuntutan lingkungan serta memintasi problema-problema yang dihadapinya.


  • f. Pelaksanaan Pembelajaran
    N domestik proses pendidikan, pengajian pengkajian adalah kegiatan nan dahulu kancing. Sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya intensi pendidikan banyak mengelepai kepada proses penerimaan yang dirancang dan dijalankan secara profesional. Penataran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara siswa ajar dengan lingkungannya, sehingga terjadi transisi perilaku kearah nan lebih baik (Mulyasa, 2007:255). Keberhasilan suatu proses sangat didukung oleh faktor-faktor penunjang nan berada disekitar (lingkungan) proses, demikian juga sebaliknya lingkungan seputar proses nan lain baik bisa mengganggu proses itu bekerja maksimal (Yamin, 2007:60). Proses interaksi antara peserta ajar dengan pendidik (guru), dan lingkungan dulu menentukan terhadap lancarnya pelaksanaan di sekolah. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Master yakni komponen utama nan sangat berwibawa privat mengkondisikan lingkungan pembelajaran yang nenunjang terjadinya perubahan perilaku untuk peserta pelihara. Dan pelaksanaan penerimaan berbasis KTSP mencangam tiga keadaan, yakni pre tes (tes awal), pembentukan kompetensi, dan post test.


a. Pre Konfirmasi (pemeriksaan ulang mulanya)
Pre pengecekan merupakan kegiatan pendahuluan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Pre validasi ini punya banyak kegunaan selain kerjakan mengetahui kadar kemampuan dan pemahaman peserta bimbing pada materi yang habis. Dalam Mulyasa (2007:255), dikemukakan bilang kegunaan dari pre tes tersebut, diantaranya:


  • 1. Untuk menyiagakan siswa didik n domestik proses belajar, karena dengan pre pemeriksaan ulang maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-tanya yang harus mereka kerjakan.
  • 2. Buat mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Situasi ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre pengecekan dengan post test.
  • 3. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta ajar tentang kompetensi dasar yang akan dijadikan topik internal proses pendedahan.
  • 4. Untuk mengetahui berpangkal mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai pelajar asuh, serta kompetensi sumber akar mana nan mesti mendapat penggalian dan perhatian khusus.
    Untuk mencapai hasil nan ketiga dan yang keempat dari hasil pre verifikasi, maka harus buru-buru dilaksanakan pemeriksaan secara cepat dan cermat sebelum proses penerimaan dilaksanakan.

b. Pembentukan Kompetensi
Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses penerimaan, merupakan bagaimana kompetensi dibentuk pada peserta pelihara, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan (Mulyasa, 2007:256).
Dalam pembentukan kompetensi ini harus dilakukan dengan mati dan menyenangkan. Dan peristiwa ini memaui keaktifan dan kekreatifan master kerumahtanggaan menciptakan suasana yang kontributif. Kualitas pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dapat dikatakan berhasil dari segi proses apabila seluruh atau sebagian osean peserta tuntun dapat terlibat secara aktif baik fisik, mental dan sosial kerumahtanggaan proses pembentukan kompetensi sumber akar. Sementara itu bersumber segi hasil boleh dikatakan berakibat apabila terjadi perubahan perilaku pada diri peserta ajar secara keseluruhan alias sebagian segara.  Proses pembelajaran yang dilakukan hendaknya disampaikan dengan menunggangi metode dan strategi pembelajaran yang kontributif, sebaiknya peserta didik dapat mengembangkan kompetensi dasar dan potensinya secara optimal. Sehingga akan dengan mudah siswa jaga menyesuaikan diri dengan masyarakat setelah meruap bermula jenjang pendidikan tertentu.


c. Post Test
Setelah pembentukan kompetensi terlampiaskan, maka langkah yang harus dilakukan oleh suhu yaitu melaksanakan post test bagi mengetahui sejauh mana tingkat kognisi peserta tuntun dalam menyerap ilmu selama berlangsungnya suatu pengajian pengkajian. Kerumahtanggaan melaksanakan post test seorang pendidik/guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan secara serempak kepada peserta ajar ataupun dengan kaidah mempresentasikan pun apa-apa yang sudah dijelaskan alias diterangkan selama proses penataran berlangsung. Dibawah ini terdapat beberapa fungsi post test yang dikemukakan oleh Mulyasa (2007:257) seumpama berikut :


  • 1. Cak bagi mencerna tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang sudah lalu ditentukan, baik secara individu maupun kerubungan. Kejadian ini dapat diketahui dengan membandingkan antara hasil pre tes dan post tes.
  • 2. Kerjakan mengetahui kompetensi dan maksud-intensi yang dapat dikuasai maka itu pesuluh ajar, serta kompetensi dan tujuan-pamrih yang belum dikuasainya. Sehubungan dengan ini, apabila sebagian besar murid didik belum menguasainya maka dilakukan pengajian pengkajian juga (remedial teaching).
  • 3. Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial, dan yang perlu menirukan kegiatan pengayaan, serta bagi mengetahui tingkat kesulitan berlatih yang dihadapi.
  • 4. Sebagai mangsa komplet untuk melakukan pembaruan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan atau evaluasi.

2. Tinjauan Teoritis mengenai Prestasi Belajar
Umpama landasan untuk memafhumi tentang signifikasi prestasi belajar, disini terlazim penulis paparkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pengejawantahan, dan barang apa yang dimaksud dengan belajar, serta berbagai rupa definisi tentang performa belajar nan dikemukakan makanya para ahli pendidikan (akademikus).


  • a. Pengertian Prestasi
    Kebutuhan untuk berprestasi merupakan yaitu maksud dan cita-cita setiap pelajar didik dalam sebuah pembelajaran.
    W.J.S Winkel Purwadarminto (1976:768) memahamkan, “Prestasi yaitu hasil yang dicapai”. Sedangkan sebagian pakar mendefinisikan prestasi adalah hasil nan mutakadim dicapai seseorang internal mengamalkan kegiatan.
    Dari pendefinisian penampakan diatas, dapat penyadur simpulkan bahwa prestasi yaitu barang apa usaha yang dicapai seseorang secara maksimal dan memuaskan umpama hasil dalam melakukan suatu kegiatan.


  • b. Denotasi Berlatih
    Terkait dengan pengertian belajar, banyak para juru nan mendefinisikannya. Salah satunya adalah Cronbach dalam (Djamarah, 2008:13) berpendapat bahwa belajar misal suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku bak hasil berpunca asam garam. Sedangkan Howard L. Kingskey mengatakan bahwa membiasakan yakni proses dimana tingkah larap (n domestik kebaikan luas) ditimbulkan maupun diubah melangkaui praktek atau pelajaran. Dua pendapat tersebut serujuk dengan segala nan dikatakan makanya Ahmadi (2005:17), bahwa berlatih adalah proses perubahan perilaku membujur pengalaman dan pelatihan. Padahal M. Sobry Sutikno (Dalam Fathurrohman, 2007:5) memahamkan belajar yakni suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh satu persilihan yang bau kencur sebagai hasil camar duka sendiri internal interaksi dengan lingkungannya.
    Dari beberapa penafsiran tentang berlatih yang dikemukakan oleh oleh para pakar pendidikan diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses usaha seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari camar duka dan praktek (pelatihan) didalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tentunya peralihan tersebut menyangkut ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.


  • c. Pengertian Prestasi belajar
    Sebelum notulis paparkan definisi prestasi berlatih, terlebih dulu akan dipaparkan definisi manifestasi akademik. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh berpokok kegiatan pembelajaran di sekolah atau di universitas yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian (Tu’u, 2004:75). Darurat masih dalam kunci yang sama, prestasi sparing yaitu penguasaan pengetahuan atau ketangkasan yang dikembangkan oleh mata les, lazimnya ditunjukkan dengan angka tes ataupun angka nilai nan diberikan oleh guru. Sedangkan menurut W.J.S Purwadarminto (1976:767) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-situasi yang terjamah atau dilakukan. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam pengkhususan ini adalah hasil yang telah dicapai peserta bimbing dalam proses pembelajaran.


  • d. Aneh-aneh Penampakan
    Prestasi belajar yang diperoleh pelajar didik yakni hasil membiasakan yang dicapai pada waktu-tahun tertentu intern sebuah pendedahan yang meliputi beberapa aspek yang berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pesuluh didik sendiri.
    Benyamin Bloom intern (Sudjana, 2009:22) mengklasifikasi hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni sirep kognitif, afektif, dan psikomotoris.
    Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri pecah enam aspek, yakni permakluman atau ingatan, pemahaman, permohonan, amatan, sintesis, dan evaluasi.
    Mati afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri berpokok lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
    Sirep psikomotoris, berkenaan dengan hasil sparing keterampilan dan kemampuan bertindak, nan terdiri dari heksa- aspek, yakni usaha refleks, kesigapan gerakan pangkal, kemampuan perseptual, kehangatan atau kelestarian, gerakan keterampilan kompleks, dan manuver ekspresif dan interpretatif.


  • e. Upaya Meningkatkan Manifestasi Belajar
    Dalam upaya meningkatkan manifestasi membiasakan, perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi manifestasi sparing adalah segala rencana aktivitas yang dilakukan oleh seseorang baik konkret dorongan ataupun hambatan. Intern Ahmadi (2005:105) disebutkan bilang faktor yang dapat mempengaruhi prestasi sparing peserta didik, diantaranya :


1. Faktor Kerumahtanggaan
Faktor privat adalah faktor yang kulur berpunca intern diri sosok itu sendiri, peristiwa ini meliputi :

  • a. Kecerdasan (intelegensi)
    Kecerdasan adalah kemampuan berlatih disertai kecakapan bagi menyeimbangkan diri dengan keadaan yang
  • dihadapinya.
    b. Talenta
    Darah adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang seumpama kecakapan pembawaan.
  • c. Minat
    Minat ialah kecenderungan nan mantap kerumahtanggaan subjek lakukan merasa terpincut puas bidang tertentu.
  • d. Motivasi
    Motivasi yaitu kondisi psikologis yang menyorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Sutikno, 2007:19).

2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yakni faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar nan sifatnya mulai sejak luar diri murid bimbing (murid), yang menghampari :


  • a. Kejadian Batih
    Tanggungan seringkali disebut misal lingkungan pertama, sebab dalam mileu inilah mula-mula-tama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, aklimatisasi, dan latihan. Keluarga bukan hanya menjadi wadah anak asuh dipelihara dan dibesarkan saja juga tempat momongan arwah dan dididik pertama siapa (Sukmadinata, 2004:6)


  • b. Situasi Sekolah
    Sekolah burung laut disebut andai lingkungan kedua selepas keluarga. Disamping itu sekolah merupakan rajah pendidikan formal pertama nan terlampau penting privat menentukan kejayaan sparing siswa. Karena bukan sebagai halnya dalam lingkungan keluarga, di sekolah ada kurikulum laksana buram pendidikan dan pengajaran, cak semau master-guru nan bertambah profesional, suka-suka ki alat-prasarana dan fasilitas pendidikan idiosinkratis sebagai simpatisan proses pendidikan, serta ada manajemen pendidikan yang khusus pula yang semua itu bisa menyegerakan dan memicu petatar bakal belajar nan lebih giat lagi.


  • c. Lingkungan Umum
    Mileu masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah tanggungan dan sekolah. Mileu masyarakat juga ialah salah satu faktor nan tidak tekor pengaruhnya terhadap hasil berlatih siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan. Sebab dalam kehidupan sehari-musim anak makin dominan bergaul dengan lingkungan alam sekitar dimana anak fertil, sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi momongan.


K. Metode Penelitian

1. Rancangan Investigasi
Internal kegiatan penekanan, kerangka alias rancangan penelitian merupakan unsur pokok yang harus suka-suka sebelum proses penyelidikan dilaksanakan. Karena dengan sebuah rancangan yang baik pelaksanaan penelitian menjadi terpatok, jelas, dan maksimal.  Tersapu dengan eksplorasi ini, maka penyadur menunggangi jenis penyelidikan korelasional kuantitatif, yaitu sebuah penelitian yang menunggangi biji, start dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data, serta manifestasi dari hasilnya yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel (Arikunto, 2006:270).


2. Teknik Penentuan Subjek Pengkhususan
Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana seluruh populasi yaitu sample.
Populasi adalah keseluruhan subjek investigasi nan mencakup semua elemen dan unsur-atom (Dhofir, 2000:36). Padahal percontoh masih internal ki akal yang sebabat, adalah sebagian subjek eksplorasi yang n kepunyaan kemampuan mengaplus seluruh data (populasi). Privat keadaan ini yang menjadi subjek pengkajian yakni siswa papan bawah 4,5,6 SDN Aengtongotong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Tahun 2009 M.

No Kelas bawah Populasi Percontoh
01 I 8
02 II 16
03 II 11
04 IV 14 14
05 V 13 13
06 VI 16 16

3. Teknik Akumulasi data
Teknik pengumpulan data ialah cara yang dipakai kerjakan mengumpulkan data dengan menggunakan metode-metode tertentu. Metode-metode nan akan digunakan dalam studi ini, antara bukan :

  • a. Metode Angket
    Jajak pendapat merupakan suatu teknik ataupun alat penghimpun data yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tercantum pula (Sukmadinata, 2004:271). Metode ini digunakan buat mencari dan menyaring data yang bersumber dari responden.

  • b. Metode Wawancara
    Wawancara ataupun interview yaitu suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara tatap muka, cak bertanya diberikan secara lisan dan jawabannyapun masin lidah secara lisan pula (Sukmadinata, 2004:222). Dengan metode ini peneliti dapat langsung mengerti reaksi yang terserah pada responden dalam waktu yang relatif pendek.


  • c. Metode Dokumentasi
    Metode dokumentasi yaitu “berburu data tentang kejadian-kejadian ataupun variabel yang substansial goresan, transkrip, ki akal, pertinggal publikasi, majalah, prasasti, notulen, rapat, legger, agenda dan sebagainya” (Arikunto, 1998:236).
    Metode dokumenter ini digunakan untuk memperoleh data di SDN Aengtongtong, baik dari segi kuantitas petatar, nilai raport, struktur sekolah, denah sekolah, yang kesemuanya itu menunjang terhadap proses penelitian ini.


4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah pengelolaan data dari data-data yang sudah terkumpul. Diharapkan berpangkal penyelenggaraan data tersebut dapat diperoleh bayangan yang akurat dan konkrit bersumber subjek penelitian. Penulis juga menggunakan statistik keistimewaan mendukung analisa data bagaikan hasil terbit investigasi ini.
Dalam penelitian ini yang menjadi Elastis X adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sedangkan Fleksibel Y adalah Prestasi Belajar Siswa Kelas bawah 4,5,6 SDN Aengtongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Tahun 2009 M. Adapun rumus korelasi yang digunakan yakni Product Moment, dengan alasan karena penelitian ini terdiri dari dua variabel nan interval.


Rumus product momentnya yakni bagaikan berikut :

     ∑xy

π
xy =

√(∑x²) (∑y²)

Maklumat :

  • π
    xy  =  Kofisien korelasi antara gejala X dan gejala Y
  • ∑xy  =  Jumlah product X dan Y
  • ∑x²    =  Jumlah gejala x kecil kuadrat
  • ∑y²    =  Kuantitas gejala y kecil kuadrat

DAFTAR Pustaka

  • Bambang Prasetyo & Lina Miftanul Jannah (2005). Metode Penyelidikan Kuantitatif. Jakarta: Raja Grafindo.
  • Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:Alfabeta
  • Widodo, T. (2008). Metode Penggalian Kuantitatif. Surakarta.:LPP UNS Press
  • Ahmadi, Serbuk; 2005. Politik Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia
  • Alipandie, Imansjah; 1984. Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Surabaya: Usaha Kebangsaan
  • BNSP; 2006. Panduan Penyusunan KTSP
  • Dhofir, Syarqowi; 2000. Pengantar Metodologi Eksplorasi Denagn Spektrum Islami, Prenduan: Iman Bela
  • Djamarah, Syaiful Bahri; 2008. Psikologi Membiasakan, Jakarta: Renika Cipta
  • Fathurrohman, Pupuh; 2007. Strategi Sparing Mengajar, Bandung: Refika Aditama
  • Http://sunartombs.wordpress.com /2009/05/15/PAKEM Science fu
  • Muhaimin et. Al; 2008. Pengembangan Lengkap KTSP Lega Sekolah & Madrasah, Jakarta: Rajawali Press
  • Mulyasa, E; 2007. KTSP Suatu Panduan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya
  • Muslich, Masnur; 2008. KTSP Dasar Kesadaran dan Pengembangan, Jakarta: Bumi Aksara
  • Purwadarminto, W.J.S Winkel; 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Aula Pustaka
  • Sudjana, Nana; 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Akil balig Rosdakarya
  • Sukmadinata, Nana Syaodih; 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Akil balig Rosdakarya
  • Sukmadinata, Nana Syaodih; 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Cukup umur Rosdakarya
  • Tu’u, Tulen; Peran Kesetiaan Lega Perilaku Dan Prestasi Murid, Jakarta: PT. Grasindo
  • Yamin, Martinis; 2007. Desain Penelaahan Berbasis KTSP, Jakarta: GP Press
  • Zuhairini; 2004. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Barangkali Dibawah Ini yang Anda Cari