Angket Aktivitas Belajar Siswa Smp Doc

Pengertian

Banyak para pandai dalam parasan pendidikan yang mengemukakan tentang belajar. Menurut Heinich dkk. (dalam Pribadi, 2009)), berlatih diartikan sebagai “…development of new knowledge, skills, or attitudes as unik interact with learning resources.”(p.6). Sparing merupakan sebuah proses pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terjadi manakala seseorang melakukan interaksi secara intensif dengan perigi-sumur membiasakan. Proses belajar dapat terjadi baik secara sengaja ataupun tak sengaja dan berlangsung sepanjang waktu yang bermuara lega perubahan tingkah laku, keterangan dan sikap dari cucu adam nan menengah sparing. Belajar akan punya suatu kemustajaban ketika laporan yang diperoleh mempunyai makna. Menurut Suparno (2007), belajar yang berjasa adalah :

1.
Belajar berarti membentuk makna, makna diciptakan dari segala nan dilihat, didengar, dirasakan dan dialami oleh pelajar.

2.
Gedung khasiat itu dipengaruhi oleh signifikansi yang telah ia punyai. Konstruksi arti merupakan proses yang terus menerus kerap kali bersemuka dengan fenomena atau persoalan nan baru, dan disini akan terjadi pula proses pemulihan.

3.
Berlatih bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, doang lebih misal urut-urutan pemikiran dengan menciptakan menjadikan pengertian nan baru.

4.
Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi nan baik bagi memacu sparing.

5.
Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman petatar dengan marcapada fisik dan lingkungannya.

6.
Hasil belajar seseorang tergantung terbit segala apa yang mutakadim diketahui sang pelajar.

Sehaluan dengan pendapat di atas, Dahar (privat Trianto, 2007) mengemukakan bahwa belajar bermakna adalah “satu proses dikaitkannya pesiaran baru sreg konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.” Banyak kejadian nan merupakan suatu proses membiasakan, contohnya ketika seseorang beriteraksi dengan lingkungan dan mengalami perubahan mulai sejak tidak boleh menjadi dapat alias berasal tidak tahu menjadi tahu, maka sebenarnya khalayak tersebut sedang belajar. Maka itu karena perubahan berlanjut sepanjang umur bani adam, maka peralihan laksana hasil belajar haruslah kasatmata dan memiliki makna bagi yang mengalaminya, sehingga dapat bersitegang lama privat manah.

Di bawah ini beberapa rukyat mengenai konsep aktivitas belajar, seperti nan dikemukakan oleh Hamalik (2003), diantaranya :

1.
Murid adalah suatu organisme kehidupan, di dalam diri beraneka rupa peluang dan potensi nan arwah yang sedang berkembang. Di dalam diri terdapat mandu aktif, keinginan kerjakan berbuat dan bekerja sendiri. Pendirian aktif inilah yang mengendalikan tingkah larap siswa.

2.
Setiap siswa memiliki beraneka rupa kebutuhan, menutupi kebutuhan tubuh, rohani dan sosial. Kebutuhan menimbulkan galakan untuk berbuat. Setiap saat kebutuhan dapat berubah dan makin, sehingga variasinya semakin banyak dan beraneka ulah pula.

Aktivitas membiasakan merupakan kegiatan yang berwatak bodi atau mental. Dalam kegiatan belajar mengajar, kedua aspek harus buruk perut berkaitan. Dengan begitu apapun nan dilakukan tidak terlepas berpangkal harapan belajar yang selayaknya karena aktivitas dan keduanya akan membuahkan aktivitas belajar yang optimal. Privat aktivitas belajar, seseorang tidak dapat pergi diri dari kejadian. Situasi akan menentukan aktivitas segala apa yang akan dilakukan privat buram belajar. Tambahan pula kejadian itulah yang mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar segala apa yang dilakukan kemudian.

Menurut beberapa pengertian aktivitas di atas, maka penulis dapat mengikhtisarkan bahwa aktivitas ialah inti bermula suatu proses belajar, karena belajar merupakan suatu kegiatan. Dapat dikatakan bahwa aktivitas merupakan asas nan terpenting karena belajar yaitu suatu kegiatan. Tanpa kegiatan atau bergerak tak barangkali seseorang dikatakan belajar. Aktivitas belajar dulu dibutuhkan, boleh dilihat berasal salah satu mata pelajaran yang sangat membutuhkan aktivitas belajar ialah matematika.

Kata matematika berasal bersumber pengenalan
mathaein
yang punya kepentingan berlatih (berpikir). Banyak orang yang berpendapat tentang arti kata matematika. Ada nan mengartikan matematika arti segi makulat, ada yang mengartikan dari segi keilmuan dan terserah yang mengartikan dari segi pengalaman sehari-hari.

Arini (2008) berpendapat bahwa matematika secara estimologi berarti proklamasi yang diperoleh secara bernalar. Arti berasio disini bisa diartikan sebagai logika (pemikiran yang jelas dan tepat disertai dengan argument-argumen). Menurut Arini (2008), ciri utama matematika ialah penalaran deduktif, yakni kebenaran suatu konsep maupun pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan intern matematika berwatak tegar. Sedangkan n domestik latar keilmuan, ilmu hitung berperan sebagai bahasa karena sebagai komunikasi. Sejalan dengan pendapat Arini, Sujono (dalam Hamzah, 2007) juga mengemukan denotasi matematika, yaitu “misal silang ilmu pengetahuan nan eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika yaitu ilmu publikasi tentang penalaran yang logik dan masalah yang gandeng dengan bilangan. Sampai-sampai dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu n domestik menginterpretasikan beraneka ragam ide dan deduksi.”.

Untuk mengenal matematika lebih lanjut kembali, kita mesti mengerti ciri-ciri ataupun mengenal rasam-sifat ilmu hitung itu sendiri. Ciri dari matematika yang mula-mula yaitu memiliki bahan yang sangat abstrak dan kedua adalah deduktif dan teguh. Signifikasi pecah ciri yang mula-mula adalah matematika lain mempelajari obyek secara langsung (sesuatu yang dapat ditangkap maka itu panca cingur). Dalam hal ini kita wajib ketahui bahwa subtansi berpangkal matematika itu sendiri adalah pola pikir. Kemudian signifikansi berpangkal ciri matematika nan kedua adalah suatu kesimpulan nan didapatkan dari pengalaman yang bertabiat tegar.

Dari beberapa denotasi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam aktivitas belajar matematika adalah satu kegiatan yang merubah tingkah laku dalam pengembangan pengetahuan, ketangkasan dan nan diperoleh secara bernalar dan berhubungan dengan bentuk baik bersifat fisik (berhubungan dengan ganjaran) dan mental (penalaran logika). Dan dapat disimpulkan definisi aktivitas belajar ilmu hitung secara oprasional adalah kegiatan yang dilakukan siswa di dalam kelas atau selama proses pembelajaran berlanjut seperti memperhatikan, menanya, mengerluarkan pendapat, mengingat-ingat/menyalin, menggambar, membuat kontruksi, melakukan percobaan dan memecahkan masalah.

Aktivitas-aktivitas Belajar

Kegiatan/aktivitas belajar, master teradat menimbulkan aktivitas membiasakan petatar dalam berbuat dan nanang. Hal ini perlu diperhatikan karena pada dasarnya pengetahuan bukanlah hasil transfer mantra. Makrifat disusun dan dilaksakan makanya pelajar itu sendiri (aktif) dan bimbingan makanya guru (scoffolding). Aktivitas yang dilakukan makanya pesuluh dan hawa ini akan menciptakan menjadikan kesan dalam proses belajar. Bila keduanya berpartisipasi aktif, maka siswa memiliki aji-aji/pesiaran dengan baik. Menurut Bahri, aktivitas berlatih adalah “mendengar, memandang, meraba, membau dan menicip/mengecap, menggambar ataupun mencatat, membaca, membuat ringkasan/ringkasan, mengamati (diagram, grafik, rangka), menyusun paper, mengingat, berfikir, pelajaran dan praktek” (Bahri, 2004).

Momen belajar, seseorang tidak akan dapat menghindarkan diri berbunga situasi. Situasi akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam gambar berlatih. Apalagi situasi itulah nan mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar apa yang dilakukan kemudian. Hasil investigasi Dierdrich (dalam Rohani, 2004) menyimpulkan bahwa terletak 177 macam kegiatan siswa didik yang meliputi aktivitas awak dan aktivitas spirit, antara lain sebagai berikut:

a.

Visual activities, seperti : membaca, mencela: gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang enggak dan sebagainya.

b.

Oral activities, begitu juga : menyatakan, memformulasikan, menyoal, membagi saran, membebaskan pendapat, mengadakan interview, diskusi, penghentian penangguhan dan sebagainya.

c.

Listening activities, mendengarkan: uraian, konversasi diskusi, musik, pidato dan sebagainya.

d.

Writing activities, menulis: cerita, garitan, laporan, tes, survei, menyalin dan sebagainya.

e.

Drawing activities, menggambar, membentuk diagram, denah, diagram, pola dan sebagainya.

f.

Pengambil inisiatif activities, melakukan percobaan, membuat bangunan, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara dabat dan sebagainya.

g.

Mental activities, menganggap, mengingat, memecahkan cak bertanya, menganalisis, melihat hubungan, mencekit keputusan dan sebagainya.

h.

Emotional activities, mengedrop minat, merasa bosan, gembira, gagah, tenang, gugup dan sebagainya.

Mandu aktivitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan kognitif bahwa segala pemberitahuan harus diperoleh menerobos pengamatan dan pengalaman siswa sendiri. Guru mempunyai tugas sensual keaktifan dengan menyajikan korban tutorial, sedangkan nan mengelola dan mencerna adalah siswa itu sendiri sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat dan latar pinggul masing-masing. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses dari keaktifan petatar.

Penilaian Aktivitas dalam Pembelajaran

Pengajaran nan efektif adalah pengajaran nan menyediakan kesempatan belajar seorang atau melakukan aktivitas sendiri. Menurut Hamalik (2003) dengan berbuat aktivitas siswa dapat memperoleh informasi, kognisi, dan aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang berharga untuk arwah di awam. Penggunaan asas aktivitas osean nilainya untuk pengajaran para peserta, maka itu karena:

1)
Para siswa mencari pengalaman seorang dan langsung mengalami koteng.

2)
Melakukan seorang akan meluaskan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.

3)
Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan pesuluh.

4)
Para murid bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.

5)
Memupuk ketaatan kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.

6)
Memperkuat hubungan sekolah dan masyarakat, dan jalinan antara bani adam jompo dengan guru.

7)
Pengajaran diselenggarakan secara realitas dan kasatmata sehingga melebarkan pemahaman dan berpikir dalam-dalam reaktif serta menghindarkan verbalitas.

8)
Pengajaran di sekolah menjadi semangat sebagaimana aktivitas n domestik kehidupan di masyarakat.

Penilaian proses berlatih mengajar terutama adalah menyibuk sepanjang mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar dan bagaimana pesuluh memperoleh pengetahuan tersebut. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal:

1.
Memperhatikan penjelasan guru momen proses belajar mengajar,

2.
Mengemukan pendapat,

3.
Terlibat dalam pemecahan masalah,

4.
Bertanya kepada hawa atau pelajar bukan apabila tak memahami permasalahan yang dihadapi,

5.
Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru,

6.
Berusaha mengatasi soal atau problem yang sepersaudaraan,

Referensi :

Bahri, S. (2002). Ilmu jiwa Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Hamalik, O. (2003). Proses Berlatih Mengajar. Jakarta: Bumi Abc.

Rohani, A. (2004). Pengelolaan Indoktrinasi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hamid, T. (2011).
Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Melampaui Pendekatan Konstruktivisme. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Aji-aji Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak Diterbitkan.

Source: https://materikelasmp.blogspot.com/2019/10/aktivitas-belajar-matematika-siswa.html