Analisis Tujuan Mata Pelajaran Penjas Smp


Amatan Maksud PEMBELAJARAN KURIKULUM PAI DI SMP




Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur

Mata Kuliah Kurikulum PAI di SMP


lega Jurusan Pendidikan Agama Islam Semester V



Disusun Oleh:

Kelompok 6

Moh. Rofiq Rahman(1414113139)

Siti Zuhrotul Azizah
(1414113156)

PAI-D

Dosen Penanggung jawab:


Drs. H. Nawawi , M.Pd






FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)






SYEKH NURJATI CIREBON


2016



KATA PENGANTAR



Segalapujidansyukurkamipanjatkankepada Tuhan SWT.
yang telahmemberikan kamikesempatansehinggadapatmenyelesaikanmakalahini yang berjudul “ Kajian Tujuan Pembelajaran Kurikulum PAI di SMP”. Dengansegalapertolongan-Nyakamidapatmenyelesaikannyadenganbaik. ShalawatsertasalamsemogatecurahkankepadabagindatercintaNabi Muhammad SAW.Makalah ini diajukanuntukmemenuhitugasterstruktur mata khotbah Kurikulum PAI di SMP.


N domestik penyusunan makalah ini, lain sedikit kendala yang kami hadapi. Karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan uluran tangan, galakan, dan pimpinan kepada kami, khususnya Bapak Drs. H. Nawawi , M.Pd selaku dosen pengasuh, yang hasilnya kami boleh menyelesaikan tepat tahun.

Kami menyadari bahwa kertas kerja ini jauh dari kesempurnaan. Karena itu kami memimpikan saran dan celaan pembaca bagi perbaikan pembuatan makalah kedepannya. Semogamakalahinidapatmemberikanpengetahuan yang lebihluaskepadaparapembaca khususnya Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Cirebon, Oktober 2022



Penyelenggara


DAFTAR ISI


Sekapur sirih………………………………………………………………………..
ii


DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..
iii


PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………
1


A.


Denotasi Tujuan Pengajian pengkajian…………………………………………………..
1


B.


Komponen-onderdil Tujuan Pengajaran……………………………………..
3


C.


Ekspansi Tujuan Pembelajaran……………………………………………
4


D.


Rumusan Tujuan Penataran…………………………………………………….
7


KESIMPULAN………………………………………………………………………………….
10


Daftar bacaan…………………………………………………………………………
11


PEMBAHASAN



A.




Pengertian Maksud Penataran

Terdapat sejumlah definisi mengenai harapan pembelajaran, diantaranya sebagai berikut:


1.


Menurut Roestiyah NK, suatu tujuan pencekokan pendoktrinan adalah deskripsi tentang manifestasi perilaku (perfomance) pesuluh-siswa nan kita harapkan pasca- mereka mempelajari incaran pelajaran yang kita ajarkan.


2.


Menurut Oemar Hamalik, tujuan indoktrinasi yaitu suatu diskripsi tentang perilaku nan diharapkan terengkuh maka dari itu pelajar setelah berlantas pengajaran.


3.


Menurut Darwyn Syah, tujuan indoktrinasi adalah harapan adapun gambaran perilaku siswa yang menirukan aspek psikologis, apektif, maupun psikomotorik setelah mempelajari bahan kursus yang diajarkan oleh master.



[1]





Bintang sartan, tujuan pembelajaran adalah terbinanya seluruh darah dan potensi siswa sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam baik dalam aspek kognitif, apektif dan psikomotorik.

Beberapa istilah lain juga menggambarkan hal nan sekufu dengan ketiga domain tersebut diantaranya begitu juga yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yakni: cipta, rasa dan karsa. Selain itu, pun dikenal istilah penalaran. Penghayatan dan pengalaman.

Pecah setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi sejumlah kategori dan sub kategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai bersumber tingkah larap yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan mengikutsertakan kembali tingkah laku dari tingkat yang lebih cacat, seperti misalnya intern nyenyat kognitif, untuk mencecah “pemahaman” yang berada di tingkat kedua sekali lagi diperlukan “pengetahuan” yang ada lega tangga pertama.



[2]





Tujuan pengajaran nan sudah lalu dirumuskan makanya guru akan sangat berguna untuk:


1.


Pedoman ataupun model dalam membuat bentuk pengajaran. Karena dalam merencanakan indoktrinasi temperatur harus menyusun tujuan beserta langkah-awalan yang akan dilaksanakan bagi mencapai tujuan indoktrinasi nan sudah lalu ditetapkan.


2.


Pedoman dan acuan untuk guru dalam mengerjakan langkah-anju pengajaran.


3.


Menilai tingkat kesuksesan pengajaran, merupakan untuk menakar tercapainya tujuan pengajaran dengan tolak ukur penyerobotan materi les dan perubahan perilaku sreg diri siswa.


4.


Membimbing pelajar intern sparing yaitu dimana siswa boleh mengetahui tingkah laku apa yang harus sira kuasai pada momen melakukan proses belajar dengan pencekokan pendoktrinan yang dilakukan maka dari itu guru.


5.


Media komunikasi baik dengan petatar maupun dengan rekan-rekan guru lainnya serta kepala sekolah.



[3]





Didalam Permendiknas RI No. 52 Musim 2008 tentang Patokan Proses disebutkan bahwa harapan penerimaan memasrahkan petunjuk bikin melembarkan isi mata latihan, mengeset urutan topik-topik, mengalokasikan perian, ramalan dalam melembarkan alat-instrumen bantu pencekokan pendoktrinan dan prosedur indoktrinasi, serta menyediakan dimensi (standar) untuk mengukur prestasi sparing pelajar.



[4]







B.




Suku cadang-suku cadang Tujuan Pengajaran

Menurut Oemar Hamalik, komponen-komponen harapan pengajaran meliputi:


1.


Tingkah Larap Terminal

Tingkah laris terminal faktual semberap perilaku yang harus ditunjukkan ataupun dikuasai petatar setelah kegiatan berlatih mengajar selesai dilaksanakan. Kerjakan dapat mengetahui tingkah laku alias perilaku penutup pasca- mengikuti kegiatan belajar mengajar, harus digunakan kata-kata operasional (kata-perkenalan awal yang dapat menunjukkan perilaku pelajar nan diukur maka dari itu guru maupun pihak lainnya.

Diantara alas kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk mengamati atau bakal menyukat perilaku siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung antara bukan:


e.


Mengerjakan, dan;


2.


Kondisi-kondisi Tes

Kondisi tes yang dimaksudkan disini yaitu peristiwa bilamana dilakukan evaluasi atau tes terhadap pamrih indoktrinasi baik diakhir kegiatan proses belajar mengajar maupun pada saat diadakan ulangan harian, ulangan blok, maupun testimoni formatif maupun tes sumatif. Kondisi bilamana dilakukan evaluasi ataupun konfirmasi harus bermoral-benar dipersiapkan maka itu guru nan meliputi aspek-aspek:


a.


Alat atau mata air nan harus dimiliki dan dipergunakan petatar sebagai sumber membiasakan berupa daya sumber, coretan dan sebagainya yang boleh dipergunakan siswa untuk menyelesaikan verifikasi ulangan jurnal, ulangan blok, tes formatif ataupun verifikasi sumatif.


b.


Tantangan yang dihadapkan kepada siswa semoga disediakan tahun yang terbatas buat murid bisa tanggulang validasi.


c.


Cara penguraian informasi dengan goresan atau dengan mempergunakan media pengajaran.


3.


Dimensi-matra Perilaku

Ukuran-ukuran perilaku adalah ukuran-matra yang dijadikan standar atau patokan kerjakan menimbang perubahan tingkah laku siswa selama atau setelah menirukan kegiatan berlatih mengajar. Ukuran perilaku berisi tentang standar paling perilaku yang harus dikuasai dan diperlihatkan oleh siswa selama mengikuti kegiatan membiasakan mengajar.

Ukuran-matra yang digunakan dirumuskan kerumahtanggaan bentuk perilaku, baik aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotorik nan boleh mengukur ketercapaian tujuan pengajaran yang tampak plong diri pesuluh maupaun hal-situasi yang belum ataupun tidak tercapai oleh siswa.



[5]







C.




Pengembangan Tujuan Penataran


1.


Berdasarkan sempit luasnya maksud nan ingin dicapai dalam Kurikulum pendidikan pangkal menengah dikenal dengan kategori tujuan seumpama berikut:


a.


Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan Nasional ialah tujuan jangka panjang, harapan ideal pendidikan nasion Indonesia. Tujuan pendidikan di Indonesia sama dengan tercantum dalam Undang-Undang RI tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 yaitu: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat n domestik lembaga mencerdaskan kehidupan nasion, bertujuan lakukan berkembangnya potensi pelajar pelihara agar menjadi manusia yang berkeyakinan dan bertaqwa kepada Almalik Yang Maha Esa, berakhalk sani, afiat, kebal, cakap, makmur mandiri dan menjadi penghuni negara nan demokratis serta bertanggungjawab.


b.


Maksud Institusional ( Tujuan Lembaga/ eceran Pendidikan)

Maksud Institusional yaitu tujuan yang diharapkan, nan dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Misalnya tujuan pendidikan tingkat SD, SLTP SMU, SMK, PT.


c.


Harapan Kurikuler/ Harapan indoktrinasi (Maksud mata Kursus)

Tujuan kurikuler merupakan penjabaran bermula intensi Institusional yang weduk acara-programa pendidikan yang menjadi mangsa suatu lembaga study alias, mata kuliah yang disusun berdasarkan pamrih Institusional. Misalnya: tujuan mata tutorial Agama.


d.


Tujuan Intrusksional (Tujuan Pengajian pengkajian)

Komponen harapan yaitu salah satu komponen yang sangat penting internal pengembangan kurikulum. Sebab, setiap rencana harus memiliki tujuan agar dapat ditentukan segala apa nan harus dicapai, serta segala yang harus dilakukan bikin mencapai maksud tersebut.


2.


Tujuan Penelaahan yang Kepingin dicapai berdasarkan perilaku nan akan dikembangkan pada diri murid

Pamrih pencekokan pendoktrinan serebral adalah tercapainya kemampuan intelektual yang terdiri dari heksa- aspek, yakni: pengetahua, kesadaran, aplikasi, amatan, sintesis dan evaluasi. Ranah serebral rata-rata bertambah menekankan kemampuan berfikir mantiki dan konsekuen. Contoh siswa dapat membandingkan perkembangan ilmu pengetahuan pada musim kerajaan Abasiyah di Bagdad dan pada masa kerajaan Umayah di Damaskus (Syria).

Tujuan pengajaran afektif ialah anugerah kesigapan suatu proses dan hasil sparing yang menekankan sreg bagaimana siswa bersikap dan berkelakuan didalam lingkungan dan masyarakatnya. Dan bilang pakar lebih menekankan kepada perkembangan kedewasaan moral dan sosial anak jaga. Perkembangan sosial dan tata susila siswa yaitu proses urut-urutan fiil siswa selaku seorang anggota umum dalam berhubungan dengan orang enggak. Mnurut Nana Sudjana, ranah afektif berkaitan dengan sikap nan terdiri berbunga panca aspek, yaitu: penataran, jawaban ataupun reaksi, penilaian organisasi dan internalisasi. Teoretis pesuluh dapat mengutarakan perilaku sebagai khalifah bumi sebagai halnya terkandung internal QS. AL-Baqarah: 30.


c.


Tujuan Psikomotor

Tujuan psikomotor laksana proses dan hasil sparing murid bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta lakukan terampil mengerjakan sesuatu dengan menggunakan motor yang dimilikinya. Kerumahtanggaan ilmu jiwa, introduksi motor digunakan ibarat istilah yang menunjuk plong keadaan keadaan dan kegiatan yang menyertakan urat-otot dan kampanye-gerakannya, kembali kelenjar-kelenjar dan sekresinya (pengeluaran cairan getah). Secara sumir motor juga dapat dipahami sebagai keadaan yang meningkatkan maupun menghasilkan stimulan/ rangsangan terhadap kegiatan orang awak.

Bikin memperoleh keterampilan raga (motorik skill) perlu dipelajari melalui aktivitas tutorial langsung yang disertai dengan pengudakan-pengajaran teori-teori manifesto yang berbeda
dengan motorik skill itu sendiri. Sementara itu, aktivitas latihan perlu dilaksanakan dalam bentuk praktek-praktek yang berulang-ulang makanya siswa, termasuk teoretis gerakan-gerakan praktek yang sangat dibutuhkan, sehingga siswa dapat mengarifi bagian mana yang keliru.

Menurut Nana Sudjana terserah enam aspek senyap psikomotorik, yakni: propaganda reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan ataupun ketetapan, gerakan kerterampilan mania dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Eksemplar: pesuluh dapat mempraktekan kegiatan berwudhu dengan baik dan benar.



[6]







D.




Rumusan Tujuan Penataran

Seiring dengan pergeseran teori dan mandu pandang dalam pendedahan, ketika ini sudah lalu terjadi pergeseran dalam formulasi tujuan pembelajaran. W. James Popham da Eva L. Baker (2005) memajukan pada zaman dulu master diharuskan menuliskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk bahan yang akan dibahas dalam tutorial, dengan mengklarifikasi topik-topik atau konsep-konsep yang akan dibahas selama berlangsungnya kegiatan penerimaan. Pamrih pembelajaran lega masa lalu ini tampak lebih mengutamakan pada pentingnya pemilikan mangsa bagi pesuluh dan puas lazimnya dikembangkan melangkaui pendekatan pengajian pengkajian yang berpusat pada guru (teacher centered). Namun, seiring dengan pergeseran teori dan pendirian pandang n domestik pembelajaran, tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasaan bahan, selanjutnya mengesot menjadi perebutan kemampuan pesuluh atau sahih dikenal dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performansi. Intern praktik pendidikan di Indonesia, pergeseran tujuan pengajian pengkajian ini terasa lebih mengemuka sejalan dengan munculnya gagasan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Selanjutnya, W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) mengistimewakan bahwa koteng guru profesional harus memformulasikan tujuan pembelajarannya dalam kerangka perilaku siswa yang dapat diukur, yaitu menunjukkan barang apa yang bisa dilakukan oleh siswa tersebut selepas mengikuti pelajaran. Berbicara tentang perilaku pesuluh sebagai harapan belajar, ketika ini para ahli pada rata-rata sepakat cak bagi menggunakan pemikiran dari Bloom (Gulo 2005) bagaikan harapan penataran. Bloom mengklasifikasikan perilaku individu kedalam tiga mati ataupun kawasan, yaitu:


1.


Daerah kognitif, yaitu negeri yang berkaitan aspek-aspek intelektual alias berfikir/ nalar, didalamnya mencakup butir-butir (knowledge), pemahaman (comperhension), penerapan (application), penguraian (analysis), memadukan (synthesis), dan penilaian (evaluation).


2.


Kewedanan afektif, ialah wilayah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti pikiran, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Didalamnya mencakup: penelaahan (receiving/attending), pemberontakan (responding), penilaian (valuing), pengerahan (organization) dan perwatakan (characterization).


3.


Distrik psikomotor, yaitu kawasan nan berkaitan dengan aspek-aspek kesigapan yang mengikutsertakan fungsi sitem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan keefektifan psikis. Area ini terdiri dari: ketersediaan (set), peniruan (imitation), belajar (habitual), aklimatisasi (adaptation) dan menciptakan (origination). Taksonomi ini ialah tolok yang dapat digunakan makanya suhu mengevaluasi mutu dan efektvitas pembelajarannya.

Dalam sebuah perencanaan pembelajaran tertulis (written plan/ RPP), bakal menyusun pamrih pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus menetapi beberapa cara atau barometer tertentu. W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) mensyurkan dua tolok yang harus dipenuhi kerumahtanggaan memilih tujuan pembelajaran, yakni:


·


Preferensi nilai suhu adalah cara pandang dan keagamaan guru mengenai apa yang terdepan dan mudah-mudahan diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya.


·


Analisis taksonomi perilaku seperti yang dikemukakan oleh Bloom diatas. Dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, hawa akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan spesies pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor.

Berkenaan dengan perumusan tujuan performansi, Dick dan Carey mengatakan bahwa tujuan pembelajaran terdiri atas:


·


Tujuan harus menguraikan apa yang akan bisa dikerjakan ataupun diperbuat makanya anak didik


·


Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi alias kejadian yang menjadi syarat nan hadir plong waktu momongan didik mengamalkan


·


Menyebutkan barometer yang digunakan lakukan memonten muncul ragam anak didik nan dimaksudkan sreg intensi mutakadim dikemukakan diatas bahwa tujuan penelaahan yang harus dirumuskan secara jelas.

Dalam hal ini Hamzah B Uno menekankan pentingnya pendudukan guru adapun pengelolaan bahasa, karena dari rumusan tujuan penerimaan itulah dapat tergambarkan konsep dan proses berfikir guru yang berkepentingan internal menuangkan idenya mengenai pengajian pengkajian.

Sreg bagian ini, Hamzah B Uno menyodorkan akan halnya penyusunan tujuan penelaahan dalam format ABCD

A= Audience (petatar, siswa, mahasiswa, petatar dan sasaran ajar lainnya

B= Behavior (perilaku yang dapat diamati seumpama hasil belajar)

C= Conditio (persyaratan yang perlu dipenuhi mudahmudahan perilaku nan diharapkan dapat terengkuh)

D= Degree (tingkat penampilan nan dapat dipedulikan)



[7]






Konklusi


1.


Harapan penataran yaitu terbinanya seluruh bakat dan potensi siswa sesuai dengan biji-nilai ajaran Selam baik dalam aspek kognitif, apektif dan psikomotorik.


2.


Menurut Oemar Hamalik, komponen-suku cadang harapan pengajaran membentangi:


a.


Tingkah laku terminal


b.


Kondisi-kondisi tes


c.


Ukuran-ukuran perilaku


3.


Pengembanga Harapan Pembelajaran, diantaranya:


a.


Berdasarkan sempit luasnya tujuan yang ingin dicapai intern Kurikulum pendidikan dasar menengah dikenal dengan kategori maksud umpama berikut:Tujuan Pendidikan Nasional, Harapan Institusional, Maksud Kurikuler/ Tujua pengajaran dan Tujuan Instruksional.


b.


Tujuan Pembelajaran nan Ingin dicapai berdasarkan perilaku yang akan dikembangkan pada diri siswa, yakni: Tujuan Kognitif, Tujuan Afektif dan Tujuan Psikomotor.


4.


Intern sebuah perencanaan pembelajaran tertulis (written plan/ RPP), untuk merumuskan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara merodok, tetapi harus menepati beberapa kaidah ataupun patokan tertentu. W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi kerumahtanggaan memilih tujuan pembelajaran, yaitu:


a.


Preferensi angka guru yaitu cara pandang dan keagamaan hawa mengenai apa yang penting dan semoga diajarkan kepada petatar serta bagaimana cara membelajarkannya.


b.


Analisis taksonomi perilaku sebagaimana nan dikemukakan maka dari itu Bloom diatas. Dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menggarisbawahi bagan dan macam pengajian pengkajian yang akan dikembangkan, apakah seorang temperatur hendak menitikberatkan pada penerimaan psikologis, afektif ataukah psikomotor.


DAFTAR Teks

Darwyn, Syah. 2007. Perencanaan sistem pengajaran pendidikan agama Islam. Jakarta: Gua Perdana Press

Oemar, Hamalik. 2009.
Perencanaan Pengajaran Berlandaskan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Abjad

http://karnain 1991.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://analisistujuanpembelajaran.blogspot.com/2016/04/amatan-tujuan-pembelajaran-kurikulum.html?m=1









[1]





Syah, Darwyn,
Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Terowongan Perdana Press, 2007),hlm. 100.






[2]






http//karnain 1991.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html






[3]





Hamalik, Oemar,Perencanaan Pengajaran Beralaskan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Abc 2009), hlm. 111






[4]





http://mcdens.blogspot.com/2010/03/pengembangan-intensi-pembelajaran-dan.html






[5]






Baginda Darwin,Op.Cit., hlm. 108






[6]






http://analisistujuanpembelajaran.blogspot.com/2016/04/kajian-tujuan-pembelajaran-kurikulum.html?m=1






[7]






http://mcdens.blogspot.com/2010/03/pengembangan-harapan-pembelajaran-dan.html

Source: https://paidendelepetsmtr5.blogspot.com/2016/10/analisis-tujuan-pembelajaran-kurikulum.html