Analisis Penggunaan Konvergensi Media Di Kalangan Pelajar Smp

DINAMISASI Pemakai MEDIA DI ERA KONVERGENSI Wahana : Penekanan KASUS STASIUN RADIO INTERNET PAMITYANG2AN QWERTY RADIO DI YOGYAKARTA

Portal I : Meres BELAKANG

1.1
Meres Belakang Konvergensi Media

Perkembangan teknologi dewasa ini memberikan andil yang besar untuk perkembangan manjapada komunikasi. Kesanggupan internet telah memberikan fasilitas dan keleluasaan kerjakan cucu adam, lain hanya dalam kejadian mendapatkan informasi tetapi lagi kemudahan dalam berinteraksi. Internet memberikan akses yang sanding lain abnormal bagi para penggunanya. Untuk Indonesia seorang pengguna internet mengalami pertambahan yang signifikan setiap tahunnya. Dalam 2 perian keladak terjadwal bahwa perangkaan pemakaian internet di Indonesia pada masa 2010 sebanyak 30 juta manusia dengan tingkat penetrasi sebesar 12.3% sementara statistik per 31 Desember 2022 menampilkan fakta bahwa pengguna internet di Indonesia menyentuh 55 juta makhluk dengan tingkat penetrasi sebesar 23%. [1] Internet menjadi salah satu media yang paling banyak diakses oleh awam Indonesia.

Kehadiran internet membawa manusia beranjak berpokok era telekomunikasi membidik era komunikasi interaktif (Rogers, 1986: 25). Internal era komunikasi interaktif mewujudkan internet tidak sahaja dapat digunakan sebagai alat angkut mencari permakluman, tetapi kembali seumpama sarana bikin berinteraksi. Salah satu urat kayu yang diberikan oleh internet yakni melintasi situs jejaring sosial Situs jejaring sosial memungkinkan basyar untuk menciptakan jaringan komunikasi dengan individu lain melalui sebuah sistem yang mempunyai karakteristik tersendiri, bergantung plong karakteristik situs tersebut. Boyd (2007) mengklarifikasi bahwa jejaring sosial memiliki keunikan buat memungkinkan individu berbagi informasi didalamnya dan membuat jejaring sosialnya tampak nyata. Penjabaran tersebut menjelaskan bahwa momen ini telah tercipta sebuah kebiasaan baru khalayak dalam berinteraksi. Momen ini manusia enggak sekali lagi harus bertemu secara awak untuk bisa berinteraksi. Internet dan jejaring sosial telah memasrahkan sebuah sarana cak bagi manusia untuk dapat berinteraksi. Hal ini mewujudkan internet menjadi sangat populer di Indonesia dan pun di seluruh dunia.

Selain menawarkan akomodasi akal masuk bagi siapapun, kesediaan internet juga membawa kecondongan gerakan konvergensi media. Henry Jenkins (2006) menjelaskan bahwa nan dimaksud dengan konvergensi media ialah: “Aliran konten di platform beberapa media, kolaborasi antara industri bilang media, dan perilaku migrasi anak adam media”. Diartikan secara singkat bahwa konten apapun boleh dikonsumsi oleh manusia kerumahtanggaan berjenis-jenis jenis platform media. Jenkins (2006) juga menguraikan bahwa konvergensi media ini menyatukan 3C merupakan computing
(memasukkan data melalui komputer), communication (komunikasi), dan content (materi isi/ konten). Lebih lanjut, ia kembali berpendapat bahwa konvergensi sarana merupakan hal yang lebih dari hanya pergeseran teknologi. Konvergensi mengubah susunan antara teknologi yang ada dengan pabrik, pasar, genre, dan audiens. Konvergensi berkaitan dengan sebuah proses, lain sebuah titik akhir. Berkat proliferasi channel dan portabilitas berpokok teknologi komputer serta telekomunikasi bau kencur, kita mencapai era bahwa media akan ada dimanapun dan kita akan menggunakan berbagai macam variasi media dalan berbimbing dengan sesama.

Contoh konvergensi kendaraan yang terjadi di Indonesia adalah nan terjadi sreg harian Kompas, salah satu surat makrifat terbesar di Indonesia. Fenomena konvergensi media membuat Kompas menelurkan sertifikat siaran digital dengan nama Kompas.com, Detik.com bahkan telah menidakkan format penerbitannya menjadi format digital. Semata-mata pada karya tulis ini, penulis bukan akan membahas sarana konglomerat mainstream semacam itu. Penulis melembarkan topik yang sebenarnya telah perekam alami jauh-jauh hari sebelum menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tepatnya detik masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan saat itu penulis masih belum memahami apa itu konvergensi alat angkut.

Fenomena ini juru tulis alami momen pertama mana tahu rumah penulis n kepunyaan perantaraan internet sendiri dan perekam madya asyik-asyiknya beramah-tamah dengan dunia lelembut. Perekam momen itu silam hobi menirukan pelecok satu channel radio yang menurut pencatat silam spesifik. Keunikan dan banyak faktor pengimbang yang dimiliki inilah yang membuat penulis melembarkan hal ini untuk dijadikan sebagai topik bahasan.

1.2
Latar Pinggul Kasus

Pamityang2an Qwerty Radio yakni sebuah radio berbasis internet nan berdiri di Yogyakarta lega 12 September 2010. Radio ini enggak memiliki jam menanang yang tetap, mereka mengudara sesuai dengan kehendak penyiarnya maupun nan normal disebut dengan DJ (Disc Jockey ). Dalam setiap programnya radio ini hanya memutar lagu per-sisten dengan tema yang lagi-kembali disesuaikan dengan keinginan dan suasana hati penyiarnya. Program berjudul KONTIL yang merupakan kependekan semenjak “Komposisi Nostalgia Inggris Lama” misalnya khusus mengarun lagu-lagu berbahasa Inggris yang tersohor di era 80-an, ataupun programa berjudul NGADANG BIS (kependekan dari “Nglaras Dangdut Bisa Disini) yang partikular memutar lagu-lagu dangdut.

Keadaan yang menghela dari radio ini yaitu mereka berkomunikasi secara penuh dengan pendengarnya menggunakan jejaring sosial twitter[2] sementaralagu-lagu nan diputar bisa didengarkan melalui situs pribadi mereka (www.pamityang2an.com) nan sekali lagi bisa ditautkan pada telepon selular dengan perincisan Blackberry, Android dan iPhone.

Konsep “Qwerty Radio” yang diusung maka dari itu Pamityang2an mengacu pada metode interaksi yang digunakan oleh DJ kepada audiensnya. Radio ini menginformasikan setiap lagu yang mereka mengot melalui twitter, pendengar pula bisa memesan lagu melintasi twitter, perbincangan antara DJ dengan pendengarnya pun dilakukan melalui twitter dengan nama akun @pamityang2an. Pendengar layak mengikuti ( mem-follow ) akun mereka dan segala keadaan yang ditulis makanya sang DJ akan muncul dalam linimasa si pendengar. Sekarang akun @pamityang2an memiliki 24.100 pengikut (followers) [3]dan diperkirakan akan terus bertambah. Fitur nan memungkinkan mustami menyimak kenyataan mereka melalui telepon seluler menciptakan menjadikan radio ini plastis untuk didengarkan dimana semata-mata. Jika tidak ingin mendengarkan lagu-lagu nan disiarkan sekali lagi pendengar bisa berinteraksi dengan DJ-nya menerobos twitter. Konsep “Qwerty Radio” tersebut takhlik DJ Pamityang2an bisa melakukan aktivitas permakluman dimana saja. Audiens juga boleh mengakses permakluman mereka dimana saja, dengan syarat mereka memuliki akses jaringan internet dimana mereka fertil.

Pamityang2an merupakan pelecok satu bentuk media baru nan memanfaatkan keberadaan new ki alat. Pamityang2an “keluar” semenjak konsep radio lumrah (yang tercatat dalam old media) dan menciptakan sebuah bentuk radio baru yang adalah konvergensi antara situs web dengan jejaring sosial twitter. Pendengarnya bisa mengakses kedua jenis media tersebut maupun dapat memilih salah satu media tetapi intuk boleh menyimak aktivitas pemberitahuan radio ini. Berangkat berusul fenomena tersebut penelitian ini berupaya bagi mengaram praktek konvergensi wahana Pamityang2an Qwerty Radio dan juga pola komunikasi nan terjadi anatara radio ini dengan pendengarnya.

— — — — — — — — — — — —

BAB II : PEMBAHASAN DAN ARGUMEN

2.1 Pergantian Eksemplar Ki alat Lama ke Media Bau kencur

Pada tahap semula jalan teori dan model komunikasi dikenal adanya hipotetis S-M-C-R. S merupakan singkatan dari Source. M singkatan berasal Message, C singkatan dari Channel dan R merupakan kependekan semenjak
Receiver. C maupun
Channel
mengandung kemujaraban sebagai saluran ataupun sarana. Komponen tersebut menurut Edward Sappir begitu juga yang ditulis oleh Onong Uchjana Effendy dalam bukunya berjudul Ilmu, Teori dan Makulat Komunikasi (Sappir, hal. 256 internal Effendy, 1993) mengandung 2 pengertian, yang mula-mula adalah media sebagai saluran primer yaitu lambang-lambang nan digunakan spesifik privat komunikasi tatap muka seperti bahasa, gambar atau rona. Sedangkan definisi yang kedua adalah media seumpama sungai buatan sekunder, merupakan media nan riil media massa
sebagaimana sahifah kabar, televisi, radio, atau telepon. Akan tetapi media tersebut memiliki kelemahan yaitu bukan memungkinkan audiensnya lakukan memberikan tanggapan alias umpan balik (feedback) secara sederum. Bahkan pola komunikasi media tersebut bisa dikatakan satu sebelah.

Pola komunikasi timbal balik dimana komunikan bisa memberikan feedback secara langsung dengan menggunakan sarana lama bisa digunakan melalui media seperti telepon, dimana sifat media tersebut adalah sebagai media komunikasi interpersonal, artinya tidak memungkinkan lakukan berbuat komunikasi secara massif. Karakteristik alat angkut lama tersebut berbeda dengan karakteristik nan dimiliki makanya sarana hijau. Ketika kendaraan lama hanya bisa menerapkan abstrak komunikasi nan linear, alat angkut baru dapat menerapkan abstrak komunikasi yang interaksional antara komunikator dengan komunikannya. Sebuah teori yang diungkapkan oleh Wilbur Schramm menjelaskan mengenai model komunikasi tersebut.

Pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis media baru yaitu pendekatan Convergence Theory. Rogers dan Kincaid (1981) dalam Communication for Social Change : An Integrated Model for
Measuring the Process and Its Outcomes [4]menguraikan bahwa Convergence Theory melukiskan komunikasi seumpama proseshorizontal antara dua individu atau lebih dalam sebuah social networks. Abstrak ini mengklarifikasi komunikasi sebagai proses yang berkesinambungan dimana antara partisipan terdapat proses ubah tukar informasi dalam upaya menyentuh sebuah mutual understanding.

Konvergensi ki alat menciptakan ketidakstabilan tersebut, tidak ada satupun jago dalam proses konvergensi alat angkut karena semua pihak mempunyai guna yang sebanding dalam mengakses ki alat. Akibatnya kita terkungkung privat sebuah situasi dimana kita berpunya ditengah-tengah berbagai keberagaman maslahat. Jenkins menambahkan bahwa ketika ini makhluk arwah privat sebuah era dimana setiap pergantian manifesto baik secara konten ataupun bagan akan mempengaruhi setiap aspek jiwa. Jenkins menambahkan bahwa era Digital Renaissance bisa berarti saat yang baik atau buruk dalam sejarah nasib manusia.

2.2 Dinamisasi Pengguna Media : Dari Audiens ke User

Danah M. Boyd (2007) menjelaskan tentang situs jejaring sosial media sebagai berikut:

“We define social network sites as web-based services that
allow individuals to (1) construct a public or taruk-public profile
within a bounded system, (2) articulate a list of other users with
whom they share a connection, and (3) view and traverse their
list of connections and those made by others within the system.
The nature and nomenclature of these connections may vary from
site to site.”

Penjelasan Boyd tersebut menggambarkan bahwa situs jejaring social memungkinkan setiap individunya lakukan menciptakan jaringan komunikasi dengan individu lainnya menerobos sebuah sistem nan memiliki karakteristik tersendiri yang gelimbir pada karakteristik situs tersebut. Andrew Dewdney dan Peter Ride privat bukunya berjudul “The New
Sarana Handbook” (2006) menyebutkan bahwa kata “Interaktifitas” menjadi prinsip internal media baru. Dewdney dan Ride mengistilahkan bahwa media baru menyangkal hubungan antara komunikator dan komunikan sehingga menawarkan kebebasan berekspresi nan baru kerjakan manusia. Dewdney dan Ride memberi kamil kerumahtanggaan pemograman
komputer, dimana pengguna koputer bisa mengubah susunan informasi yang mutakadim diprogram, baik mengubah susunan teks, rajah maupun suara miring. Konsumen komputer dapat memilih sendiri bagaimana gayutan informasi yang mereka diskriminatif, dan hal tersebut boleh dilakukan secara langsung. [5] Dalam kasus media plonco, ketika informasi dilontarkan, audiens bebas memilih pesiaran mana yang akan mereka terima, setelah itu audiens bisa memberikan tanggapan/umpan genyot (feedback) secara langsung bilamana itu pun. Era telekomunikasi telah bergeser kepada era komunikasi interaktif.

2.3 Analisa Studi Kasus dengan Konvergensi Kendaraan

Kecenderungan konvergensi alat angkut mulai deras bermunculan sejak munculnya internet yang membawa transisi penting internal hal teknologi komunikasi. Salah suatu produk bersumber konvergensi media nan sepan akrab dengan masyarakat adalah radio internet.

Pamityang2an Qwerty Radio adalah keseleo satu radio internet nan takut di Yogyakarta puas 12 September 2010 di Yogyakarta. Radio ini diinisiasi maka itu sekerumun anak muda yang terkumpul n domestik komunitas Yayasan Umar Kayam di Yogyakarta. Radio ini menunggangi beberapa jenis sarana hijau sebagai system operasional pendakyahan mereka dan juga sebagai instrumen untuk menyirat interaksi dengan pendengarnya. Media yang pertama adalah website. Ki alat yang kedua merupakan server Shoutcast dan media yang ketiga adalah jejaring sosial twitter.

Media website digunakan oleh Pamityang2an Qwerty Radio sebagai pusat data mengenai radio ini. Website ini digdaya seluruh informasi tentang identitas dan rayapan radio internet ini. Audiens yang cak hendak memafhumi segala
macam mengenai Pamityang2an Qwerty Radio boleh merujuk lega website

ini. Didalamnya terjadwal data-data mengenai radio ini mencakup sejarah
terbentuk, mualamat akan halnya program laporan, aktivitas offline nan kekeluargaan dan akan dilaksanakan, katalog cinderamata sah yang hasil penjualannya
digunakan sebagai modal nasib radio ini, dan slot promosi kerjakan acara-acara
music ataupun acara-acara kesenian dan rayapan anak-momongan akil balig di
Yogyakarta dan sekitarnya. Selain hal-keadaan tersebut didalam website tersebut
juga tercatat link nan dapat diakses audiens jika ingin menikmati siaran
radio ini.

Pamityang2an Qwerty Radio memperalat server bernama Shoutcast bak pemancar amanat mereka. Shoutcast dapat diakses maka dari itu siapapun dan dimanapun asalkan mempunyai kemudahan koneksi internet lakukan melakukan streaming. Siaran radio ini hanya berupa lagu-lagu yang diputar terus menerus. Server ini dapat diakses melalui berbagai macam podium media. Audiens dapat mengaksesnya memperalat personal computer (PC), laptop, komputer tablet, maupun dengan menggunakan perangkat telepon seluler pintar (smartphone) mereka nan menunggangi sistem operasional berjenis Android, IOS ataupun Blackberry. Server shoutcast ini memungkinkan audiens cak bagi boleh menikmati pemberitaan radio internet ini dimana namun. Takdirnya audiens ingin berinteraksi dengan para penyiar Pamityang2an Qwerty Radio mereka bisa menggunakan jejaring sosial twitter.

Sementara Shoutcast digunakan oleh Pamityang2an Qwerty Radio sebagai media bakal memancarkan siaran mereka. Jejaring sosial twitter digunakan sebagai media untuk menggetah interaksi dengan audiens. Melalui akun twitter @pamityang2an para DJ memandu program takrif. Melampaui akun tersebut para DJ menginformasikan kepada audiens mengenai programa nan sedang disiarkan, lagu-lagu nan medium diputar, bertepatan menganyam interaksi dengan audiens. Bentuk interaksi yang terjadi dengan audiens dapat berupa aplikasi (request) lagu, komentar-komentar terhadap lagu nan diputar atau namun menyapa DJ nan semenjana mengerjakan aktivitas takrif. Teori pendayagunaan media yang dikemukakan oleh Shannon & Weaver dan Schramm dapat dikolaborasikan buat menganalisis kemampuan media baru untuk dijadikan sebuah ki alat yang berlambak menggenangi pesan secara cepat, efektif, dan tepat alamat sehingga sarana yunior sekali lagi berkesempatan untuk tunak bisa digunakan oleh bentuk tidak yang membutuhkan media penyampai pesan yang memiliki karakter sama dengan media lama.

Dalam implementasinya, Pamityang2an ini memperalat jejaring sosial Twitter kurnia berinteraksi dengan audiensnya. Pemilik akun ini berusaha untuk mengajak para audiensnya untuk menentukan lagu apa nan akan diputar, tema segala apa yang akan dibahas, sehingga menyajikan dan menawarkan sensasi yang berlainan dalam mendengarkan radio karena para pendengar akan terbabit aktif. Pemilihan twitter sebagai serokan media menurut penulis merupakan salah satu tindakan yang cerdas karena didalamnya Twitter menyediakan fitur trending topic, adalah sebuah fitur yang mampu mendeteksi mengenai topik ataupun isu apa nan paling banyak
diperbincangkan oleh masyarakat. Menurut analisis yang dilakukan oleh Pear Analytics isi kicauan yang terserah di twitter mencakup berita, spam, promosi diri, konversasi, dan kicau yang tidak berarti.

Sampai waktu ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh semiocast.com cak semau sejumlah 383 miliun akun twitter yang dibuat per Januari 2022. Berdasarkan statistik tersebut Indonesia menempati peringkat kelima konsumen twitter terbanyak didunia dengan besaran pengguna twitter mencapai angka 20 juta pengguna. Kini twitter terhidang kerumahtanggaan bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Twitter juga tersedia dalam fitur mobile nan memungkinkan kita lakukan mengaksesnya melalui telepon seluler.

Menurut penelitian nan dilakukan oleh Website-Monitoring.com pada waktu 2010, sebagian besar pengguna twitter yakni mahajana yangberusia 18–34 tahun dengan persentase sebesar 45%. Sebanyak 24% pengguna berusia 35–49 waktu, pengguna berusia 50 tahun keatas berjumlah 14% dan pengguna berusia 13–17 tahun berjumlah 14%. Jika dilihat berdasarkan variasi kelamin, wanita lebih banyak memperalat twitter, yaitu dengan persentase sebesar 55% dari total pemakai twitter diseluruh dunia. Satu situasi yang menarik dari twitter adalah bagaimana jejaring sosial ini “membuka diri” dan beradaptasi dengan situs tak bikin memudahkan penggunanya.

Mary Cross privat Bloggerati, Twitterati : How Blogs And Twitter Are
Transforming Popular Culture (2011) menyatakan bahwa pada awal kemunculannya tidak ada satupun nan menduga bahwa jejaring sosial dengan konsep yang sederhana ini mampu memberikan “pencerahan” bagi individu, perusahaan ki akbar maupun perusahaan kecil untuk menampilkan wanti-wanti mereka secara efektif kepada cucu adam luas. Bahkan seorang Dalai Lama sekali lagi sempat membuat akun twitter.

Mary Cross menjelaskan bahwa twitter menciptakan instant audienceuntuk penggunanya yang sering mendengar dan membaca setiap aktivitas yang mereka tulis di twitter, dengan feedback nan tinggal cepat. Twitter adalah sebuah pangsa chatting raksasa dimana kita bisa berhubungan dengan banyak pihak, mengetahui apa yang sosok lain lakukan ataupun pikirkan. Sesuai dengan pertanyaan yang termaktub pada kolom penulisan gengsi di twitter, “What’s Happening?”. Sifat-sifat tersebut menciptakan menjadikan twitter waktu ini menjadi pelecok satu alat angkut untuk promosi yang paling efektif bakal banyak pihak.

Mary Cross menambahkan bahwa twitter memiliki kekuatan word of
mouth yang mengumpulkan ide-ide dan komentar berpokok banyak anak adam dimana hal tersebut secara niaga dapat membuat perusahaan mendapatkan feedback secara sederum dan cepat terbit para konsumennya. Para perusahaan dapat memahami rekasi berpunca para pengguna terhadap suatu produk nan diluncurkannya. Keadaan tersebut karuan kian efektif daripada melakukan sebuah pol atau survey pelan untuk mengetahui rekasi awam. Akomodasi trending topic juga boleh membuat sebuah firma dengan mudah dapat mengetahui apa nan sedang banyak
diperbincangkan atau disukai oleh masyarakat.

Selain itu pemilahan Pamityang2an dalam memilih internet sebagai saluran radio mereka juga ialah persiapan yang cukup cerdas, untuk dimensi media yang lahir puas waktu 2010 dimana tidak banyak pilihan radio internet detik itu. Dengan memilih platform internet, dibandingkan monolog AM-FM, pihaknya dapat kian leluasa mengeset siarannya.

2.4 Radio Internet : Sarana Hijau dan Pengaruhnya Terhadap Ki alat Lama

Henry Jenkins privat “Technology Review” (2001) mengatakan bahwa kendaraan lama enggak akan persaudaraan sunyi. Pernyataan tersebut berlaku sreg kasus radio dan internet. Kehadiran internet tidak kemudian membentuk radio hilang, akan tetapi sampai-sampai mengangkut inovasi bau kencur sreg perkembangan radio melalu konvergensi kedua ki alat tersebut.

Plong perkembanggannya kemudian munculah radio streaming. Terlampau lakukan
menikmati radio kita harus mendengarkannya melalui pesawat radio yang tentunya hanya memiliki satu faedah, yairtu untuk mendengarkan proklamasi tersebut. Dengan kehadiran internet kita bisa mendengarkan radio dengan cara streaming melintasi bervariasi tipe platform seperti telepon seluler ampuh (smartphone) jenis iPhone, Blackberry, Android, ataupun perangkat seperti laptop alias komputer tablet.

Secara teknis aktivitas mendengarkan radio (yang tentu hanya sebelumnya sudah lalu mudah) menjadi bertambah mudah. Kita cuma terbiasa mengangkut satu perangkat (device) bakal mendengarkan radio. Sejak internet menginjak tersohor di umum dan perangkat komunikasi seperti laptop, komputer tablet dan smartphone beredar luas di awam dengan harga tercapai maka banyak stasiun radio mengembangkan metode penyiarannya melalui internet dengan metode streaming. Tentu sahaja stasiun-stasiun radio tersebut tidak meredam emosi model penyerantaan dengan sinyal analog (AM dan FM) karena model penyiaran tersebut taat memiliki segmen pendengarnya koteng, misalnya bagi para pengendara mobil dikota-kota yang erat dengan kemacetan seperti Jakarta. Radio kemudian boleh dinikmati dengan beraneka rupa variasi platform baik analog atau digital.

Interaksi yang terjadi antara penyiar dan pendengar radio juga mengalami
perubahan. Seperti yang mutakadim dijelaskan sebelumnya bahwa radio biasa tidak mengasihkan banyak peluang lakukan pendengarnya untuk menerimakan feedback. Kehadiran internet radio dapat bertransformasi menjadi sebuah wahana
massa yang memberikan peluang besar kepada para pendengarnya untuk menyampaikan feedback dan memungkinkan terjadinya dialog antara penyiar
dan pendengar. Melangkahi radio streaming pendengar bisa melakukan chatting

dengan banyak pendengarnya. Ketika jejaring sosial seperti twitter berangkat populer di awam, cermin interaktivitas antara pendakwah dan mustami juga
semakin lautan. Pada kasus yang terjadi pada Pamityang2an Qwerty Radio yang khusus mengarun programa-program musik, pendengarnya melaukan interaksi secara langsung kepada DJ/penyiar melalui twitter dan lagu-lagu yang diputar
disiarkan melalui website mereka.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

BAB III : Kesimpulan DAN ARGUMEN PENUTUP

Konvergensi alat angkut menyerahkan seleksian nan dilematis antara benteng industri media dengan kubu konsumen. Kongloremasi industri media baru mendambakan dominasi pada setiap industri entertainment, tercantum industri radio. Jenkins (2004) mengatakan bahwa memahami pergantian dan partisipasi yang akan membentuk waktu depan kendaraan memerlukan analisis kultural dan kognisi ulang atas asumsi dasarnya. Beberapa pergantian terjadi dari irisian antara produksi dan konsumsi. Perusahaan media belajar bagaimana memperluas channel untuk pendapatan, pemperluas pasar, dan menjaga komitmen viewer. Sedangkan konsumer belajar bagaimana menggunakan beragam teknologi media bakal dikontrol mumbung oleh mereka dan memperjuangkan hak mereka dalam berpartisipasi n domestik kebudayaan, untuk mengontrol perputaran sarana dalam semangat mereka. Williams (1974) berpendapat bahwa studi atas dampak terbit perkembangan teknologi dapat menjadi cetek apabila kita tidak melihat gagasan dari sebab dan akibat, antara teknologi dan awam, teknologi dan tamadun, teknologi dan psikologi, yang mana mendasari tanya kita dan seringkali menentukan jawaban kita.

Dalam pendalaman kasus ini, penulis memilih mengangkat Pamityang2an Qwerty Radio yang merupakan salah suatu radio internet nan kabur di Yogyakarta puas 12 September 2010 di Yogyakarta. Radio ini diinisiasi maka dari itu sekelompok anak akil balig yang terpumpun dalam kekerabatan Yayasan Umar Kayam di Yogyakarta. Radio ini menggunakan sejumlah spesies media bau kencur sebagai system operasional penyiaran mereka dan juga ibarat alat bagi menjalin interaksi dengan pendengarnya. Ki alat yang pertama adalah website. Media yang kedua adalah server Shoutcast dan media yang ketiga adalah jejaring sosial twitter.

Dalam era konvergensi sarana, tindakan yang diambil oleh Pamityang2an terkait keputusan menggabungkan media Twitter dan Radio Internet merupakan tindakan nan cerdas bagaimana ia bernas memprediksi kebutuhan konsumen yang mulai bergeser menjadi prosumer di kelak. Walau konsumen radio tersebut tidak bertepatan berubah menjadi produsen, namun setidaknya Pamityang2an menerimakan ira bagi para audiens untuk menyuarakan suaranya internal memberikan saran atau masukan terkait dengan programa yang dijalankan oleh stasiun radio tersebut.

Analisa dalam karya tulis ini juga mencakup bahasan apakah kanal-kanal semacam ini akan mematikan siaran radio konvensional? Hal tersebut telah dijawab oleh Henry Jenkins dalam “Technology Review” (2001) mengatakan bahwa sarana lama tidak akan pernah hening. Masih ada segmentasi eksklusif dimana public masih membutuhkan media konvensional serupa itu.

Di akhir bahasan, dabir mau mengemukakan bahwa hasil kajian ini membuktikan bahwa konvergensi wahana sudah mengaburkan banyak definisi, baik berbunga definisi penghasil dan konsumen itu seorang, definisi akan media, dan yang terpenting adalah mengubah tesmak dan cara pandang masyarakat dalam melihat dan mengunakan media. Audiens yang awalnya statis dan linear mulai berubah menjadi user yang dinamis.

— — — — — — — — — — — — — — — — —

DAFTAR PUSTAKA

Kunci

Cross, Mary. 2022
.Bloggerati, Twiterrati : How Blogs And Twitter Transforming
Popular Culture.
California. Praeger

Dewdney Andrew and Ride Peter. 2006.
The New Media Handbook.
New York:
Routledge

Dwyer, N. 2010.
Media Convergence: Issues in Cultural and Media Studies, London: McGraw Hill & Open University Press (1 & 4)

Effendy, Onong U. 2000. IImu Teori & Makulat Komunikasi.
Bandung: PT Citra Aditya Bakti

Figueroa Maria, Kincaid,D.Lawrence, Rani, Manju, Lewis, Gary. 2002
Communication For Social Change: An Integrated Model for Measuring the Process and Its Outcomes.
New York: The Rockefeller Foundation

Green, Leila. 2010.
The Internet. An Introduction to New Sarana.
New York: Berg
Jenkins, Henry 2006.Convergence Culture: Where Old and New Kendaraan Collide.
New York: New York University Press.

Liverouw, Leah A dan Livingstone, Sonia.2006.
The Handbook of New
Media.
London: Sage Publications Ltd.

Martin, Royston dan Creebe,Glen.2009.Digital Cultures Understanding New Ki alat.

Paxson, Peyton.2010. Mass Communication and Media Studies: An Introduction.
New York: Sheridan Books, Inc.

Rogers, Everett M. 1986. Communication Technology: The New Alat angkut in Society.

Kronik

Boyd, M. Danah. 2007. Social Networks Sites: Definition History and Scholarship. University of California-Berkeley.

Jenkins, Henry. 2001
Convergence? I Diverge.
Technology Review

Jenkins, H. (2004).
The cultural logic of kendaraan convergence, International

Journal of Cultural Studies, Volume 7(1): 33–43.

Jurriens, Edwin 2009. From Monologue to Dialogue: Radio and Reform In
Indonesia.
Leiden: KITLV Press

Univerity of Copenhagen.
Media Convergence,Mediated Communication,and the Transformation of the Public Sphere

Source: https://medium.com/@dimasputp/dinamisasi-pengguna-media-di-era-konvergensi-media-studi-kasus-stasiun-radio-internet-1f62e5e46a91