Perlukah menghadiahi anak moga lebih majuh belajar dan berprestasi?

  • Tiffanie Wen
  • BBC Worklife

anak

Sumber gambar,

Getty Images

Pemberitahuan rajah,

Baik Guay dan McGeown mengatakan fokus pada nilai harus dikurangi dan yang harus diperhatikan adalah proses.

Kehausan cak bagi membiasakan didorong keingintahuan alami dan kehausan untuk mendapat imbalan. Cuma mana yang bertambah baik untuk memotivasi anak-anak belajar?

Mungkinkah membentuk anak asuh-anak belajar demi ilmu pengetahuan, dan bukannya membiasakan demi nilai A, agar tidak dapat biji F? Terdengar seperti fantasi, enggak? Kali tidak.

Dari ketika anak-anak masih balita, mereka secara alami tertarik menjelajahi mileu mereka.

Mulai sejak mengamati sehelai rumput sebatas bermain dengan hewan peliharaan, balita ingin luang bagaimana cara kerja suatu peristiwa.

  • Mengapa ada anak asuh yang tega ‘membully’ anak lain dengan kejam?
  • Momongan-anak Orang islam India nan mengalami perundungan di sekolah
  • Sripun, David Beckham, dan lima fakta tentang ‘bullying’

Menurut para pakar, baru ketika anak agak lebih besar, mereka belajar bahwa mereka bisa melakukan sesuatu lakukan mendapatkan anugerah ataupun pergi hukuman, misalnya bagaimana harus duduk diam di meja camilan.

Dua pendorong perilaku ini dikenal sebagai ki dorongan intrinsik (keingintahuan alami) dan cemeti ekstrinsik (tersapu dengan pemberian hadiah).

Tetapi mana nan lebih baik lakukan membantu anak-anak sparing? Dan dapatkah Engkau memupuk kesenangan momongan untuk membiasakan tanpa menyerahkan hadiah?

Nilai keingintahuan alami

“Cambuk intrinsik ada sejak semula. Anak-momongan bertindak proaktif. Mereka pada dasarnya penasaran,” pembukaan profesor Frédéric Guay, seorang pandai cemeti di Perserikatan Laval di Quebec.

“Suhu dan sistem nan diterapkan di sekolah perlu memupuk motivasi ini.”

Guay dan rekan-rekannya melakukan meta-analisis, yang akan buru-buru diterbitkan, tersapu motivasi intrinsik. Mereka meneliti lebih semenjak 20.000 orang, menginjak terbit tingkat sekolah dasar hingga institut dan lebih berasal 344 meres penajaman.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan rancangan,

Dua pendorong perilaku ini dikenal ibarat cemeti intrinsik (keingintahuan alami) dan tembung ekstrinsik (terkait dengan kasih anugerah).

Siswa menyelesaikan kuesioner nan dirancang bakal berbagai jenis motivasi, dan nilainya mereka laporkan sendiri maupun dilihat dari rapor mereka.

Para peneliti menemukan bahwa siswa nan lebih menggemari mata kursus tertentu memiliki prestasi yang lebih tinggi pula menunjukkan kegigihan dan kreativitas pada bidang-bidang tersebut.

Penajaman lain mendukung gagasan bahwa momongan-anak nan termotivasi secara intrinsik lebih baik kerumahtanggaan belajar.

Satu studi bermula Jerman menemukan bahwa siswa berumur tujuh hingga sembilan tahun yang merasa ‘tergenang’ privat cerita yang mereka baca, punya tingkat pemahaman membaca nan lebih pangkat ketimbang mereka yang didorong oleh keinginan adu cepat dengan siswa enggak.

Penekanan Jerman lainnya menemukan hubungan timbal benyot antara motivasi membaca secara intrinsik dan prestasi membaca sreg murid berumur delapan hingga 10 tahun. Tapi enggak ada susunan begitu juga itu ketika motivasi itu yaitu secara ekstrinsik.

Dan kekuatan pecut intrinsik tidak kurang puas anak-momongan.

Satu penggalian yang meneliti cemeti cukup umur di akademi militer West Point menemukan bahwa mereka yang sejati termotivasi secara intrinsik lebih cenderung menjadi perwira dan mendapat habuan promosi awal daripada mereka nan termotivasi secara intrinsik dan ekstrinsik.

Jadi, mengapa kita memberikan karunia pada momongan-anak?

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Maslahat cambuk intrinsik tidak terbatas sreg momongan-momongan.

Terlepas dari bukti adapun pentingnya memelihara motivasi intrinsik, budaya penghargaan meluncur ke dalam kelas sejak dini.

Momongan-momongan mendapatkan hadiah begitu juga stiker lakukan menyorong perilaku yang baik.

Suatu studi menemukan bahwa guru-guru dari TK setakat kelas 5 SD yang diteliti menggunakan hadiah, sebagaimana apresiasi, pada para siswa.

Dempang 80% juga menggunakan hadiah nyata setiap minggu, seperti token lakukan membeli hidayah.

Lembaga hadiah umum lainnya termasuk hak istimewa kelas bawah, seperti mana memutuskan satu kegiatan atau tahun ekstra untuk kegiatan yang menyabarkan.

Perigi bentuk,

Getty Images

Keterangan lembaga,

Bentuk hadiah masyarakat lainnya termasuk peruntungan istimewa inferior, sebagai halnya memutuskan suatu kegiatan atau hari ekstra untuk kegiatan yang menyenangkan.

Christine Dewart, yang telah mengajar anak-anak berusia panca setakat enam waktu di California selama sembilan musim, mengatakan detik dia mempelajari perkembangan anak di institut, ada penelitian pada pentingnya motivasi intrinsik dan menghindari bersisa banyak pemberian.

Belaka dalam pengalaman profesionalnya sehari-tahun, ia melihat manfaat menggunakan hadiah untuk mengelola kelasnya. Dia menemukan bahwa “memberi pengakuan bahwa sendiri siswa telah berwatak baik, akan mendukung murid lain melakukan kejadian yang sama”.

Dewart mengutip kasus seorang petatar nan n kepunyaan masalah keresahan dan agresi fisik.

“Saya bukan ingin menunjuknya karena perilaku itu, jadi saya mengasihkan imbalan. Untuk setiap 15 menit ia berlambak mengamankan dirinya, ia berkat satu menit waktu sempat buat digunakan esok.”

Persyaratan 15 menit itu kemudian menjadi 30 menit dan balasannya merentang ke seluruh pelajaran di mana ia bisa kukuh tenang dan munjung perhatian, sebuah proses nan dimulai dari rahmat.

Bisakah Ia meningkatkan motivasi intrinsik?

Jika mengolah anak-momongan adalah relasi dari memelihara rasa ingin tahu dan memberi mereka penghormatan bikin mengatasi tugas-tugas yang mungkin rendah menarik, dapatkah kita melakukan bertambah banyak cak bagi menjadikan tugas itu koteng sebagai belas kasih?

Sarah McGeown, dosen senior psikologi perkembangan di University of Edinburgh, mengatakan ada hal-keadaan nan dapat dilakukan master dan orang tua bakal meningkatkan motivasi intrinsik anak asuh.

Riuk suatu abstrak ialah membaca bikin tujuan rekreasional.

Sendang gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Satu penekanan menemukan bahwa suhu-guru dari TK hingga kelas 5 SD yang diteliti menunggangi hadiah, seperti pujian, plong para siswa.

“Mendukung anak-anak menemukan genre alias pencatat yang mereka sukai sangat penting,” katanya.

Guay percaya bahwa sangat terdahulu buat mendukung anak-anak dengan kaidah yang membuat mereka merasa memiliki seleksian dan mengamalkan peristiwa-hal sesuai keinginan mereka sendiri.

“Tinimbang berfokus pada penghargaan, fokuslah pada kualitas afiliasi dengan siswa,” katanya.

“[Itu] berarti mendengarkan anak asuh-anak dan justru mengakui perasaan lain demen anak asuh yang normal.”

Sira mensyurkan mencari perian untuk menyelesaikan ingatan tidak suka anak terhadap suatu kegiatan dan menjelaskan kok kegiatan itu penting supaya tidak terlalu menyenangkan.

“Siswa yang menganggap sparing itu penting, bahkan sekiranya mereka tidak menikmatinya, akan menghasilkan hasil positif yang sebabat seperti yang diperoleh mereka yang mempunyai motivasi intrinsik tataran.”

Apakah masukan mengalahkan ponten?

Baik Guay dan McGeown mengatakan titik api pada nilai harus dikurangi dan yang harus diperhatikan adalah proses.

Saja beberapa guru ingin melangkah lebih jauh.

Aaron Blackwelder, seorang guru bahasa Inggris sekolah menengah, berpartisipasi mendirikan grup Facebook “Teaching Going Gradeless” (mengajar tanpa memberi nilai) tiga perian lalu.

Grup itu kini memiliki kian dari 5.000 anggota.

Dia terinspirasi oleh serangkaian penelitian pada 1980-an di mana pesuluh berumur 10-12 dibagi-bagi bagi menerima ponten sekadar, nilai dan masukan, atau belaka masukan saja.

Minat dan kinerja tertinggi ditunjukan maka dari itu siswa yang hanya menerima pemerolehan, temporer nilai dan kredit plus masukan membuat minat dan prestasi mereka menurun, kata studi itu.

Sumber lembaga,

Getty Images

Deklarasi gambar,

Alih-alih menyerahkan kredit, Blackwelder mendukung siswa tanggulang keterampilan yang mereka butuhkan dan salih memberikan akuisisi pada mereka.

Alih-alih menyerahkan kredit, Blackwelder mendukung pesuluh menuntaskan kelincahan yang mereka butuhkan dan suci memberikan masukan pada mereka.

Bilang guru skeptis dengan metodenya, sahaja sira yakin itu berhasil.

“Mereka percaya kepada saya kerjakan memberi akuisisi yang konstruktif karena tindakan saya tidak dianggap ibarat aniaya, “katanya.

“Siswa saling mempercayai karena tidak suka-suka sayembara bakal mendapatkan ponten terbanyak dan mendapatkan nilai terala di inferior. Alih-alih, siswa mengandalkan kekuatan satu proporsional bukan untuk menjadi sukses.”

Sendang tulang beragangan,

Getty Images

Meski begitu Blackwelder masih diharuskan mengasihkan ponten pada akhir semester.

Namun, Laki-laki Tyner, peneliti Institut Thomas B. Fordham, yang fokus sreg restorasi pendidikan, mengatakan nilai sekolah memang mempunyai harapan praktis.

“Manfaat utamanya ialah untuk menyaring kinerja siswa menjadi angka tunggal nan dapat dipahami sosok tua lontok dan siswa. Guru bisa memasukkan hasil akademik dan perilaku sehari-hari ke kerumahtanggaan nilai siswa, yang berarti bahwa mereka dapat memperhitungkan ‘kesigapan non-kognitif’ sebagai halnya seberapa baik murid bekerja sebanding dan berkolaborasi. “

Haruskah menjatah hadiah?

Tyner merujuk ke Program Kesiapan Perguruan Tinggi cak bagi meres studi Ilmu hitung dan Sains di AS, yang memberi insentif cak bagi murid dan guru SMA yang sukses.

“Evaluasi ketat oleh ekonom Universitas Northwestern Kirabo Jackson menemukan bahwa program ini meningkatkan inventarisasi di jamiah sebesar 4,2 tip.

Beberapa efek subkelompok juga mengejutkan. Siswa terbit grup Hispanik mengalami peningkatan penghasilan 11% detik terpapar program ini.”

Sumber gambar,

Getty Images

Pengetahuan gambar,

Namun, Adam Tyner, peneliti Institut Thomas B. Fordham, yang fokus pada reformasi pendidikan, mengatakan nilai sekolah memang mempunyai tujuan praktis.

Tyner menambahkan bahwa meskipun motivasi ekstrinsik dapat merusak tembung intrinsik tinggi yang sudah suka-suka, itu tidak selalu terjadi, dan momongan-anak asuh tidak selalu termotivasi secara intrinsik untuk memulai sesuatu.

“Suatu hal nan peneliti sampaikan adalah bahwa cemeti ekstrinsik mungkin berbahaya ketika senawat intrinsik sudah lalu sangat tinggi dan insentif menyimpai ulang pengalaman itu perumpamaan sesuatu nan harus dibayar, bukan sesuatu yang dilakukan untuk bersenang-senang,” katanya.

“Saya ragu bahwa untuk sebagian ki akbar tugas sekolah remaja, terutama dalam mata pelajaran yang sulit dan teknis seperti matematika, ada banyak senawat intrinsik siswa nan mesti kita khawatirkan.”

Beliau berketentuan kedua motivasi itu bisa silih mendukung.

“Ada legenda bahwa motivasi intrinsik dan ekstrinsik adalah dua situasi yang berlawanan. Doang, jika motivasi ekstrinsik mewujudkan petatar sparing, dan sparing dapat memberdayakan pelajar, maka motivasi ekstrinsik dapat secara tidak langsung memberdayakan petatar.”