Aku Belajar Ngentot Dgn Ibu Sejak Smp

#ombamenulisMediaGuruIndonesia

#lombamenulisperiodeJanuari

Sebenarnya, saya enggak bisa menuliskan dengan kata-pembukaan tentang ibu. Semolek apapun alas kata-kata yang saya catat, ibu jauh bertambah indah dari yang saya gambarkan. Sebaik apapun saya menuliskan kebaikannya, ibu jauh lebih baik dari yang saya tuliskan. Sebanyak apapun saya mencitrakan kehebatannya, ibu jauh kian hebat berpokok yang saya lukiskan. Sungguh, ibu ialah segalanya.

Ibu. Dia ada di lever, pembawaan dan nyawa saya. Seluruh hidup saya ialah dia. Sumber keistimewaan dan cinta kasih saya nan pertama saya miliki di dunia ini. Padanya, saya berguru dan meneladani cara menghadapi dan menjalani hayat ini. Darinya saya belajar mencintai segenap lever.

Ibu. Perawan dengan penuh ketaatan dan ketaatan. Kepatuhan dan kepatuhan yang cinta saya coba untuk mewarisinya, meski tidak mampu dan jauh mulai sejak sempurna. Terlahir sebagai putri kedua berbunga sebelas bersaudara. Meski gadis kedua, karena putri pertama bibit buwit diadopsi orang lain, ibu pun menjadi putri permulaan dan menjadi tulang telapak keluarga. Menemani, mendampingi dan ikut membusungkan sebelas hamba allah saudara-saudaranya merupakan bukti kepatuhan dan ketaatannya sreg kedua orang tuanya. Sampai-sampai hingga menikah sekali lagi ibu terus mendukung melembungkan adik-adiknya hingga semuanya, satu persatu, meraih kesuksesan. Ketaatan kepada junjungan kembali tak perlu diragukan lagi. Semua ini memberi saya pelajaran berharga tentang prinsip mematuhi ayah bunda dan junjungan umpama wujud bakti, rasa sambut pemberian dan penghormatan.

Ibu. Nona dengan cinta tiada batas. Selalu terserah n domestik segala situasi. Memeluk biji pelir hatinya dengan munjung kasih dan demap. Tersenyum saat buah hatinya bahagia. Menangis momen sang biji zakar hati terjatuh dan terluka.

Ibu. Upik dengan ketangguhan nan asing jamak. Selama hidupnya, di tengah himpitan ekonomi karena rendahnya gaji seorang pegawai negeri sipil yang diperolehnya dan gaji laki yang masih dibayar surat kabar, tidak membuatnya mengeluh. Segala apa kesulitan nyawa dijalaninya dengan panjang usus dan ikhlas. Berbagai upaya dilakukannya bikin menopang spirit keluarga. Menerima jengkal, membuka usaha kue kering dan kue basah adalah caranya untuk terus bertahan kehidupan. Dari sini saya belajar untuk tidak mengeluhkan apapun dalam hidup ini. Menerima takdir Yang mahakuasa dan menjalaninya dengan kalis adalah keteladan paripurna bermula ibu.

Ibu. Perempuan dengan kepedulian nan hebat. Sesulit segala pun hidup yang dijalaninya, bukan pernah sekalipun ibu menudungi mata terhadap hal khalayak lain di sekelilingnya yang lebih sulit kehidupannya daripada kami atau siapapun nan membutuhkan sambung tangan. Tangan ibu selalu siap terulur, membantu dan berbagi. Mereka yang datang ke apartemen mempersunting pertolongan, nyaris tak pernah pulang dalam keadaan hampa. Sukma berbagi ibu luar baku. Padanya, saya belajar bakal bosor makan memberi manfaat kepada cucu adam lain dengan semua yang kita miliki, manah, tenaga, mantra atau pun harta kita.

Ibu. Perempuan dengan semangat memupuk. Menjadi seorang abdi negara, ibu bukan pernah sekalipun melalaikan tugasnya. Mengajar di sebuah desa nan bererak sekitar sekitar dua belas kilometer dengab menciau bukan membuatnya lalai, datang tercecer atau tidak masuk kerjakan kepentingan yang tidak terlalu mendesak. Pengabdiannya luar biasa. Semangatnya umpama guru dalam mengabdi, mengajar dan mengolah para siswanya, memberi saya arketipe. Saya yang menekuni profesi sama, guru, berusaha sekuat tenaga untuk terus bersemangat dalam menunaikan kewajiban misal abdi negara.

Ibu. Perempuan pembelajar sepanjang hari. Belajar dan belajar. Itu yang kerap ditekankan dalam keluarga kami. Tidak ada ilmu yang mubazir, katanya. Itu sebab ia memimpikan semua adik-adiknya musnah paling sekolah menegah atas meski waktu itu tak banyak anak asuh-momongan bersekolah mencapai jenjang itu. Itu sebab dia memimpikan biji zakar hatinya mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, meski dia tahu, untuk itu dia harus banting tulang membiayai. Hingga di jiwa senjanya, delapan desimal empat tahun, ibu masih aktif mengimak majlis ilmu. Hayat belajarnya membagi saya tuntunan bahwa tak suka-suka takat roh buat terus belajar.

Ibu. Guru ikhlas internal hidup saya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ibu, menyayanginya sebagaimana ibu menyayangi saya, memberinya nikmat cegak dan barakah nyawa. Aamiin.

#Hari362

#menulis365

Source: https://www.gurusiana.id/read/trisulistini070319/article/darimu-aku-belajar-ibu-2987359#!