Aktivitas Praktik Pada Pembelajaran Kecepatan Dan Debit

Pendayagunaan Metode Penilaian Sebelum dan Sesudah Bimbingan buat MeningkatkanKeterampilanPesertaDiklat Mendekati Persilihan Keterampilan Petugas Mikroskopis Makmal Tuberkulosis.

Banyak metode yang diterapkan dalam kegiatan kediklatan diantaranya, Ceramah Soal jawab (CTJ),  siram pendapat (brainstorming), bermain peran (role playing), sawala kelompok,  simulasi, demonstrasi, praktik dan tak sebagainya. Untuk diklat penyelenggaraan,  metode yang cinta dan paling banyak dipakai ialah ceramah di kelas. Ceramah dilakukan dengan harapan peserta diklat boleh menjelaskan kembali teori yang sudah diperolehnya sehingga siswa akan awet dalam teori yang nanti akan diterapkan plong bidang kerjanya masing-masing. Namun diketahui dalam syarah di kelas masih banyak peserta diklat yang menghadap kurang termotivasi untuk belajar, hasilnya hasil belajar lain optimal.sehinggauntuk membandingkan antara teori yang diperoleh saat diklat dengan kenyataan di lapangan atau memaklumi hal yang mereka pelajari dalam dunia nyata akan dilanjutkan dengan kegiatan Praktik Kerja Lapangan. Bagaimana dengan pelaksanaan pembelajaran sreg diklat teknis?Sebelumnya  kita selidik sedikit lampau tentang segala itu Diklat teknis.Diklat teknis kesehatan adalahpendidikan dan pelatihan kerjakan tenaga kesegaran yang dilaksanakan bagi mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan kerjakan pelaksanaan tugas ( Kemenkes RI, 2022).

Lega diklat teknis, proporsi penyampaian teori secara kuliah berbanding praktik   merupakan 20% : 80%(Kemenkes RI, 2022), perlu stabilitas penerapan metode pembelajaran praktik dalam rajah menerimakan camar duka, keterampilan dan meningkatkan motivasi belajar bagi peserta.Apa dan bagaimana pembelajaran praktik kesigapan itu? Penataran praktik merupakan suatu proses untuk meningkatkan ketangkasan pesuluh dengan menggunakan berbagai metode dan peralatan bertujuan kiranya peserta diklat  secara bersistem dan terpatok  subur  melakukan suatu keterampilan.

Kebanyakan plong pengajian pengkajian praktik, widyaiswara/fasilitator/pembimbing praktikdalam penyampaiannya tak tetapi  menggunakan metode  praktik saja melainkan terlebih dahulu dengan role play, simulasi, demonstrasi dan ataupun penayangan video bak komplemen praktik.

Praktik merupakan upaya buat memberi kesempatan kepada peserta mendapatkan pengalaman langsung. Ide dasar sparing berdasarkan pengalaman langsung ini akan menjorokkan siswa pelatihan untuk merefleksi atau melihat pula segala apa nan sebelumnya telah dilakukan kemudian  praktik langsung dibandingkan dengan teori yang diperoleh, jika ada masalah pasti akan diperoleh pendirian mengatasinya  pada detik praktik baik mandiri maupun di bawah bimbingan inversi sesama peserta diklat maupun instruktur praktik.Masing-masing peserta pelatihan membawa mualamat dan pengalaman nan mutakadim dimiliki sebelumnya detik memasuki diklat baru.Keefektifan pelatihan tergantung sreg bagaimana peserta pelatihan melakukan refleksi mengkaitkan antara pengetahuan dan asam garam serta praktik bakal memperbaiki pembelajarannya seterusnya.Kemampuan mengerjakan refleksi berasal praktik yang didasarkan pada pengalaman dan pengumuman menentukan pencapaian kompetensi profesional.Pentingnya pengalaman langsung terhadap proses belajar sudah lalu dikaji makanya Knowles, Malcom S. (1980). Knowles mengatakan bahwa pembelajaran basyar dewasa akan bertambah efektif jikalau pembelajar lebih banyak terlibat serempak ketimbang belaka pasif menerima terbit pengajar.

.

Berikut beberapa alasan dan keistimewaan memperalat metode praktik:

  1. Dengan praktik pesuluh diklat akan lebih mengaplikasikan teori nan diberikan oleh widyaiswara/fasilitator/instruktur
  2. Siswa akan fertil membuktikan/ mempercayai teori nan mutakadim didapatkan setelah praktik.
  3. Peserta menjadi jelas terhadap teori nan didapatkan dengan melaksanakan praktik.

Berpangkal uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran praktik tinggal perlu dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan siswa diklat. Nah, bikin mengetahui  apakah pembelajaran praktik yang diberikan berada meningkatkan  kelincahan peserta diklat  diperlukan suatu evaluasi hasil berlatih n domestik bentuk satu penilaian hasil praktik. Dalam kesempatan ini akan dibahas penilaian nan mutakadim diterapkan pada salah satu diklat teknis yaitu Pelatihan  Mikroskopis Bagi Petugas Makmal Tuberkulosis.Selama kurun perian masa 2002 sebatas 2022 ini( ..16 masa )…dalam penilaian praktik lab mikroskopis TB      sudah lalu 3 kali mengalami perbaikan (tepatnya peyempurnaan) instrument penilaian praktik. Sreg tahun 2002- 2005, kala itu materi  mikrosopis TB  menjadi satu pada Modul Penanggulangan Nasional Tuberkulosis ( ….Modul 3…).Puas kurun waktu tersebut di seluruh Wilayah di Indonesia,  masih berjenis-jenis kaidah penilaiannya walaupun hal yang dinilai sama yaitu kegesitan pembuatan 10 sediaan dan panel testing 10  mikroskopis pasokan BTA, skor kelulusan teori dan praktik  belum diatur dalam kurikulum. Tahun 2005 – 2009, berdasarkan hasil pelatihan yang diadakan di BBPK Cilandak-Jakarta melintasi revisi modul, materi

mikroskopis TB tetap pada modul 3 hanya privat penilaian ketangkasan hanya dilakukan perubahan pada penilaian pembuatan sediaan TB disepakati menggunakan sarang kawa-kawa dengan penilaian 6 point suplai TB, saat itu batas miskram belum sekali lagi ditetapkan. Syukurlah, meminjam kalimat dari RA. Kartini..’’Terlampau gelap terbitlah kilauan’’….pada periode 2009, para pembimbing praktik yang merupakan tenaga fungsional laboratorium yang kesehariannya mengerjakan mikroskopis BTA berusul seluruh Indonesia bersatu…bertarung intern 3  angkatan puas  Training Of Trainer Mikrosopis TB bagi Petugas Puskesmas yang diselenggarakan kerjasama GF ATM- JICA- RIT-KNCV -Perguruan tinggi Airlangga (Fakultas Medis Airlangga). Tiga hal terdepan berusul pelatihan tersebut, materi  bahasan mikroskopis TB bukan kembali merupakan modul nan berintegrasi dengan pedoman penanggulangan Nasional TB tetapi dituangkan dalam buku pedoman sensor Laboratorium Tuberkulosis partikular, cak semau petunjuk teknis penyelenggaraa pelatihan mikroskopis TB bikin instruktur praktik (..buku saktinya para penatar lab TB…..) dan  buku Preparasi Sediaan Dahak BTA Yang Baik (misal bahan ajar pelengkap modul…… ). Saat itu, terbukalah wawasan dan pikiran para instruktur dan penyuluh praktik makmal mikrosopis TB (tertera penyalin,  kala itu penulis merupakan seorang fungsional Pranata Laboratorium Kesehatan di ruang mikrobiologi yang bergabung dalam wadah  fasilitator provinsi)  adapun penilaian praktik yang tepat….. Praktik  pembuatan dan pewarnaan sediaan lendir BTA  terbagi dalam 3 tahapan yang harus dinilai dengan formulir penilaian praktik kriteria merupakan Latihan awal sebelum bimbingan, Latihan 1 fase bimbingan  dan Tuntunan 2 fase sesudah bimbingan Pelatihan juga dilengkapi dengan penilaian praktikum Ketrampilan Pembacaan Mikroskopis  Sediaan  Dahak  BTA.

 Pada praktik   pembuatan dan pewarnaan cadangan dahak BTA,  puas fase mulanya, setiap peserta diminta membuat 10 sedian lendir dan mengecat sediaan rahak tersebut dengan metode
Ziehl Neelsen
tanpa diberikan  contoh dan petunjuk supaya dapat diketahui kelemahan setiap peserta latih. Semua sediaan yang mutakadim dibuat dan diwarnai dikumpulkan kemudian dievaluasi oleh fasilitator dengan menggunakan enam
check point
meliputi kualitas spesimen dahak, pewarnaan, kebersihan, ketebalan , ukuran dan kerataan. Sumber akar dan alat sokong evaluasi yakni Lembar Kerja Penilaian simpanan, Lembar Kerja Skala Sediaan Dahak nan Baik . Hasil dari penilaian tersebut ditampilkan dengan menggunakan  Lembar Umpan Balik Penilaian Sediaan Dahak dengan Sarang Kawa-kawa, sediaan yang dibuat peserta disimpan internal suatu medan atau penyimpan sediaan nyata album sediaan.  Pada fase bimbingan (Cak bimbingan 1), terlebih sangat diberikan deklarasi tentang teori  pembuatan dan pewarnaan tandon dahak BTA yang baik dan ter-hormat di dalam ruang kelas serta dibahas kelemahan ataupun kekurangan nan ditemukan pada detik praktikum fase tadinya oleh pelajar dan pengajar. Pada bagian praktikum hari ke dua ini, para peserta latih sebelum mengulangi membuat 10 sediaan dahak BTA, diberikan petunjuk dan arahan  dengan kegiatan  demonstrasi pembuatan pasokan dahak yang baik dan bersusila maka itu fasilitator praktikum laboratorium.Pada praktikum ini,   para petatar didampingi terus oleh fasilitator sehingga persoalan yang dihadapi berbarengan dipecahkan lega saat itu pun.  Semua

sediaan yang telah dibuat dan diwarnai dikumpulkan kembali kemudian dievaluasi maka itu fasilitator dengan menunggangi heksa-
check pointpendirian. Hasil dari penilaian tersebut ditampilkan kembali  dengan Sarang Lawah-lawah.Pada Pengunci praktikum fase didikan ini, setiap peserta mengevaluasi kelemahan atau kehabisan  dalam pembuatan sediaan. Pada Fase sehabis bimbingan, peserta kembali membuat 10 sediaan dahak secara mandiri.Semua sediaan nan telah dibuat disimpan secara berturutan berasal fase awal sampai selepas bimbingan n domestik album sediaan. Skor Praktik Pembuatan Sediaan memuaskan bila poin intiha terbit fase sesudah bimbingan ≥ 90 (Akiko Fujiki, 2009).

Kegiatan dalam praktikum keterampilan mikroskopis adalah pembacaan panel  ujian sebagai berikut: setiap peserta akan mendapatkan suplai Panel testing terdiri atas 10 sediaan nan telah diberi nomor khusus ( visiun sesuai Formulir B). Hasil pembacaan mikroskopis akan dicatat peserta latih pada formulir A Lembar Kerja Pemeriksaan Mikroskopis  kemudian semua hasil disalin maka dari itu penyedia ke formulir B Makao Kerja Ikhtisar Hasil Pemeriksan Mikroskopis.Fasilitator akan membandingkan hasil yang diperoleh peserta latih dengan hasil standar menggunakan  tabel korelasi( Formulir C Makao Umpan Kencong pada Tabulasi Korelasi)  amati tipe kesalahan. Fasilitator menghitung  jumlah kesalahan dengan scoring (Formulir D. Makao Umpan Balik dengan Sistem Skoring).Setiap tandon yang etis bernilai 10 point, dari 10 tandon jikalau hasil pembacaan benar berarti  skor total 100. Nilai negatip dan positip terlarang adalah 0 sedangkan skor kesalahan hitung adalah 5. Biji lenyap merupakan 90 tanpa ada 1 kesalahan mayor atau  2 kesalahan minor(Akiko Fujiki, 2009).

.

Semua penilaian tersebut dinilai telah tepat hingga  masih berlaku hingga saat ini….namun tak bisa dipungkiri, penilaian tersebut meletihkan peserta, fasilitator/instruktur praktik,panitia dan pengendali diklat ….rasa minta-harap merayang  disetiap tahap atau fase tuntunan cinta muncul….mengharapkan  ada perubahan….kendati terasa suka-suka hasil dari capek yang dirasa….dan saat itu… diakhir pelatihan semua peserta fasilitator dan panitia mesem puas…lega akan hasil yang diperoleh. Peserta berpretensi  akan kembali ke jalan yang bermoral intern pembuatan  dan pembacaan sediaan BTA sesuai barometer.Bintang sartan jelas bahwa penilaian yang tepat akan kreatif memberikan gambaran hasil belajar nan diinginkan dan berlambak merubah keterampilan petugas kearah perlintasan yang pasti apalagi kalau dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi Pasca Pelatihan yang nasibnya dalam kurun waktu  telah berputih tak pernah dilaksanakan karena terbentur dana, tergores tinta  biram dalam setiap pengajuan prediksi.

Oleh :  A.A Candik Agung Trisnawati, SSi., M.Pd  Widyaiswara Ahli Muda Bapelkes Mataram


Source: https://dinkes.ntbprov.go.id/berita/bapelkes/penilaian-dalam-pembelajaran-praktik-keterampilan-pada-diklat-teknis-kesehatan/